
Tubuh mungil itu terjerembab ke belakang karena saking kagetnya. Debaran jantung begitu menggila di dalam tubuh nya. Ke dua kakinya terasa sangat lemas karena sosok di balik kaca di terpa bohlam lampu temaram. Ke dua mata nya tampak berkilat. Derap langkah kaki setengah berlari di dapat di tangkap oleh Indra pendengaran Dara. Gadis culun itu mengelus dadanya berulang-ulang kali hanya untuk mendiamkan debaran yang begitu keras.
"Ya, God! Buyung, eh!" Dara menepuk pelan mulutnya."Burung nya gede sekali," sambungnya lirih.
Klik!
Lampu utama menyala menerangi rumah besar. Di sana ada Alex dan Mark berdiri tak jauh dari ke tubuh Dara yang terduduk lemah di lantai dapur. Yang kini menghadap ke arah jendela kaca transparan. Terlihat jelas bayangan hitam besar itu. Ternyata yang membuat Dara syok nyaris serangan jantung mendadak adalah burung raja wali. Kepalanya bergerak ke ke kiri dan ke kanan. Melihat ketiga manusia yang ada di dalam sana. Wajahnya tampak seram belum lagi bentuk tubuh yang besar setinggi lelaki dewasa.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alex dengan tangan di ulur membantu Dara untuk berdiri.
"Ya. Tidak apa-apa," jawab Dara lemah. Sebelum meraih telapak tangan Alex yang terulur padanya.
Kepala mengasah. Mark Felton melangkah menuju jendela transparan itu.
Srak!
Mark membuka kaca bening itu. Dengan menarik ke satu sisi. Dara meringis melihat bagaimana Mark membelai burung besar itu. Ke dua mata burung rajawali itu terpejam kala elusan tangan Mark di tubuh nya.
"Bagaimana Dara? Kau terkejut bukan dengan burungku?" ucap Mark terdengar aneh di telinga Dara.
Oke, ralat. Ambigu di telinga gadis culun ini. Burung yang mana yang kira-kira di katakan besar.
"Burung yang mana?" Tanya Dara sembari membenahi kaca mata nya yang merosot.
Tubuh nya telah berdiri berisisan dengan tubuh kekar Alex Felton si Bos Mafia kejam itu.
"Ya, burungku!" jawab Mark lagi. Yang masih belum peka dengan pertanyaan nya.
Manik mata madu itu bergerak dari burung besar yang kini masih di elus penuh kasih sayang oleh Mark. Sebelum beralih ke bawah sana.
"Hei!!! Kemana lari matamu itu?" Mark sontak menarik tangan kanannya yang mengelus burung rajawali itu berpindah menutupi harta pusaka miliknya.
Dara terkekeh kecil karena isi otaknya yang tidak beres. Alex mengeleng kecil melihat ke duanya. Kini ia tau kenapa Emma sangat jarang bergabung dengan ke duanya. Hanya karena ke duanya sangat suka berdebat hal-hal aneh.
"Hehe...aku sedikit terkejut dengan nya. Dia hampir membunuhku karena serangan jantung," ujar Dara sedikit mendumel karena ulah Mark.
"Masukan burung itu ke kandangnya. Kenapa dia bisa di sini?" ujar Alex pada sang adik.
Mark melirik burung jinak itu dengan pandangan penuh kasih sayang.
"Biarkan dia sesekali bebas Alex! Dia juga butuh jalan-jalan di malam hari," tukas Mark dengan wajah lucu.
Alex memangku ke dua tangannya di depan dada melihat sang adik dengan pandangan yang membuat Mark Felton menciut.
"I——iya, aku bawa ke kandang nya," ucap Mark lagi dengan tergagap.
Setelah nya Mark membawa burung rajawali itu menuju hutan terlarang. Anehnya burung besar itu mengikuti Mark dengan begitu patuhnya. Mata Dara masih menatap ke duanya yang menjalan menuju hutan.
"Itu burung baru beli?" tanya Dara penasaran tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tidak. Itu burung sudah dari kecil bersama Mark. Itu hadiah ulang tahun nya yang ke-17," jelas Alex,"lalu kau mau minum ke sini?" tanya Alex.
Dara baru ingat apa yang membuat nya turun dari lantai atas ke lantai bawah. Karena terlalu syok ia jadi melupakan apa yang dia ingin lakukan di dapur.
"Ya." Dara mengangguk.
Ia melangkah menuju lemari pendingin mengeluarkan botol air dingin. Menuangkan ke dalam gelas. Sebelum meminum nya perlahan. Alex masih memperhatikan gadis culun itu dengan pandangan yang tak lepas dari punggung kecil itu.
...***...
Buram.
Saat pertama kali kelopak mata itu terbuka. Ke dua matanya tidak mampu melihat dengan jelas ruangan temaram itu. Ia berusaha untuk ke dua kalinya. Manik mata coklat itu terbuka lagi. Retina matanya bekerja dengan keras untuk bisa memperjelas penglihatan nya.
Tenggorokan itu nya terasa sangat kering. Untuk mengeluarkan suar saja ia tak mampu. Jari jemari tangannya sangat kaku untuk bergerak. Ke dua kaki nya terasa membeku. Yang mampu berfungsi dengan benar saat ini hanyalah ke dua matanya.
Ke dua manik mata indah itu bergerak melirik sekeliling nya. Aroma obat-obatan menusuk hidung mancung itu.
Kepalanya terasa pening seketika. Derap langkah kaki menuju ruangan rawat intensif itu terdengar samar-samar. Sebelum benar-benar terdengar jelas kala jarak yang terbentang tidak terlalu jauh. Bunyi alat detak jantung terdengar stabil. Tetes demi tetesan air cairan infus berfungsi dengan normal.
Klik!
Pintu ruangan di buka perlahan. Manik mata coklat itu melirik ke arah pintu. Meskipun ia ingin mengeluarkan suara. Ia tidak mampu melakukan nya. Karena tenggorokan nya benar kering.
Wanita berambut pirang itu masuk dengan membawa beberapa data di tangannya. Untuk mencatat rekap medis pria yang tergolek lemah di atas ranjang pesakitan itu.
"Owh!!! Astaga!!" Ia berteriak keras kala mata hijau itu berbenturan dengan manik mata coklat lemah yang untuk pertama kalinya terbuka.
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Telapak sepatu high heels itu mengetuk lantai ruangan rawat. Ke dua kaki jenjang itu semakin mengikis jarak di antara mereka.
"Tuan muda Lewis sudah sadar?" tanyanya dengan nada tak percaya.
Ke dua kelopak mata itu berkedip pelan. Erangan serak di kerongkongan pria itu terdengar jelas. Senyum lebar tercetak di wajah wanita cantik itu.
"Oh, thanks God!" serunya penuh syukur,"tuan Alan pasti akan sangat senang!" serunya lagi. Sebelum dengan tangan gemetar mengeluarkan ponsel dari saku rok pendek nya.
...***...
Alex memutar malas ke dua bola mata indah nan tajam itu. Tubuh nya terus menerus di timbun dengan tangah oleh ke dua manusia yang tengah asik dengan kegiatannya.
"Apa yang ingin kalian lakukan padaku?" Alex bertanya.
Bodoh bukan? Bagaimana seorang Bos Mafia kejam tidak tau dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Mark terlihat antusias menumpuk pasir semakin besar mengubur separuh tubuh sang kakak. Sedangkan Dara tak kalah sama, gadis culun satu ini tersenyum licik.
"Kau tenang saja. Ini adalah suatu ritual yang menyenangkan saat kita ke pantai. Benarkan Mark?" Sahut Dara masih asik di sela kegiatan nya.
"Ya. Benar sekali!" jawab Mark. Sebelum menupuk dua gundukan di ke dua sisi dada Alex.
"HEI!!! APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU???" Alex berteriak keras kala Mark tergelak keras kala dua gundukan itu terlihat begitu lucu pada Alex.
Pria yang hanya tunggal kepala itu terlihat begitu lucu. Bukan hanya Mark yang tertawa keras. Dara pun juga sama.
"Gedong!!" Goda Dara dengan ke dua alis di naik turunkan.
Bahahahhah!!!
Ke dua manusia gila itu tertawa keras setelah nya kala dengan jahil nya Mark menggenggam pasir itu dengan senyum mesum ke arah Alex.