Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 31. BUJUKAN JENNI


Senyum miring tercetak jelas di wajah wanita cantik ini. Sedangkan gadis yang berada di depan nya tampak menscroll layar ponsel ke bawah. Ada begitu banyak foto pria tampan berambut piring itu. Mulai dari diri pria itu sendiri sampai bersama dengan gadis Asia


Yang menggandeng tangan Alex Felton. Pria yang sudah sangat lama tidak pernah ia temui.


"Kenapa kau memperlihatkan ini padaku? Kami sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi," imbuh Tessa.


Wanita cantik bermata hijau itu menyodorkan kembali ponsel yang ia genggam pada tangan Jenni. Jenni Brown rela terbang dari Texas ke Singapura hanya untuk menjemput wanita satu ini. Jenni akan membujuk Tessa untuk kembali ke Texas bersamanya.


Sudah cukup semua yang ia lakukan agar Tessa bisa kembali ke Texas. Wanita cantik ini selalu memiliki banyak alasan untuk menolak kembali ke Texas. Jenni menyandar kan punggung belakang nya ke sandaran sofa. Melipat ke dua tangannya dengan ponsel di genggaman nya.


"Kau yakin tidak memiliki perasaan untuk Alex lagi?"


"Ya, tentu saja."


"Aku tidak yakin akan satu hal ini."


"Maksudnya?"


"Jika kau tidak memiliki perasaan pada Alex Felton. Lalu kenapa kau tidak bisa kembali ke Texas?"


Tessa membeku sesaat. Perasaan? Bagaimana caranya ia bisa memperjelas perasan nya pada Bos Mafia kejam itu. Pria itu pasti nya tidak ingin lagi bertemu dengan nya. Tidak akan mau lagi setelah apa yang terjadi pada mereka. Apa lagi melihat Tom. Tessa benar-benar tidak ingin berurusan dengan Alex dan Tom. Meskipun perasan itu masih ada. Sayangnya, ia masih sayang nyawa.


"Aku tidak ingin kembali kesana hanya karena aku merasa Texas bukan lagi tempat aman bagiku," jawab Tessa pada akhirnya.


Jenni Brown mengulum bibir merah itu dengan gerakan lambat. Sebelum menghela napas berat.


"Aku akan melindungimu apapun yang terjadi. Yang terpenting kau mau kembali ke Texas. Tidak hal yang tidak bisa aku lakukan Tessa. Apa lagi untuk membalas Alex. Semua nya akan aku kerah kan. Kau tau apa yang lebih menarik saat aku mengamati Alex?" ujar Jenni terdengar mengiurkan.


Tessa diam-diam merasa jantung berdebar ingin mendengar perkataan Jenni.


"Apa itu?" tanya Tessa dengan raut wajah penasaran.


"Kau tau? Alex Felton masih mencintaimu. Aku dengar ia masih menyimpan lukisan wajahmu di salah satu kamar di rumahnya. Bukankah itu sangat menguntungkan?" ujar Jenni,"begini saja. Kau ikut aku kembali ke Texas. Aku akan mengurusi semua keperluanmu. Jika kau masih merasa keberatan. Aku akan membiayai semua keperluanmu dan memberikanmu banyak uang serta perlindungan tentunya. Asalkan kau mau ikut kembali ke Texas. Aku tau kau tidak mencintai Alex. Yang aku inginkan darimu adalah bantuan agar aku bisa memberikan ia penyiksaan," sambung Jenni.


Wanita bermata sipit itu bukanlah orang sembarang. Ia berasal dari keluarga kaya. Yang tidak perlu memikirkan uang daj uang. Karena Jenni Brown tumbuh dengan bergelimang harta, kasih sayang dari ke dua orang tuanya serta orang-orang terkasih. Kehilangan Zein Lewis pria yang sangat ia cintai adalah pukulan terbesar bagi nya.


Karena itulah Jenni akan mengucurkan siapa saja yang menghancurkan mimpi indahnya. Alasan kenapa Alex tidak bisa hancur di tangan nya adalah karena pertahanan Alex yang begitu kuatnya. Hingga ia tidak mampu menyentuh pria itu untuk mencabik nya.


Tessa mengedip kan ke dua matanya cepat. Tawaran Jenni begitu mengiurkan.


Tessa dengan pelan mengangguk cepat. Jenni mengulas senyum lebar nya pertanda ia tertarik dengan tawaran Jenni. Setidaknya ia bisa mendapatkan banyak uang dari Jenni sebelum ia kabur dari gadis ini. Meskipun di dalam hatinya ia tak rela dengan semua yang telah terjadi.


Jika boleh jujur kehilangan Alex Felton tidak lah setimpal dengan harta yang di tawarkan oleh Jenni. Akan tetapi, setidaknya saat ini tawarkan Jenni sudah sangat mengiurkan. Tentu saja Tessa akan menerima nya dengan cepat. Yang terpenting itu ia mendapat uangnya terlebih dahulu. Sebelum melakukan apa yang di pinta oleh Jenni.


...***...


Hidangan makanan Indonesia terhidang di atas meja. Aroma makanan khas rempah-remapah negara paru-paru dunia itu mengguar di udara bersamaan dengan asap sup sapi yang mengepul di udara. Dara terlihat begitu sibuk meletakan peralatan makan di atas meja. Derap langkah kaki terdengar mendekati meja makan. Hidung Mark terlihat kembang kempis mencium aroma masakan yang terasa sangat menggugah selera makan.


"Wah...banyaknya makan," seru Mark ceria.


Dara mengangkat pandangan matanya menatap raut wajah Mark yang terlihat ingin meneteskan air liur. Ia terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Mark.


Kaki kursi terdengar berderit kala di tarik kebelakang oleh Mark. Ia dengan cepat duduk di kursi, bahkan tangannya bergerak menyentuh perkedel buatan Dara. Pria ini baru tau jika makanan Indonesia sangat enak. Hingga rasanya selalu membuat lidah merindukan nya lagi untuk kembali menyantap makan Indonesia.


Puk!


Tuk!


Punggung telapak tangan Mark Felton di tepuk kasar oleh Dara hingga perkedel yang ada di tangan Mark kembali meluncur jatuh pada piring kosong di depannya. Mark mengerang kesal karena ulah Dara. Gadis culun itu tampak berkacak pinggang membalas tatapan kesal dari Mark. Mata coklat itu tampak begitu tajam, Dara Margaretha terlihat seperti sosok ibu-ibu yang tengah memarahi anak-anak.


"Sebelum menyentuh makanan di atas meja. Pergilah cuci tanganmu yang kotor itu, Mark!" omel Dara.


Ke dua bola mata Mark berotasi malas mendengar Omelan Dara. Ia mengerucut kan bibir merah tebal miliknya.


"Tanganku ini bersih Dara. Tidak ada kuman yang mau hinggap di tanganku. Seharian hanya di kantor, dan di kantor selalu di bersihkan. Jadi sudah dapat di pastikan tidak ada kuman yang menempelkan," terocos Mark Felton terdengar kesal.


Sebelah alis mata Dara menungkik ke atas."Kau menyentuh banyak benda di luar sana Mark. Mau di bersihkan seringkali pun. Masih akan ada kuman di sana. Karena semua orang menyentuh nya. Kalau mau makan makan yang aku buat maka patuhlah pada omonganku!" balas Dara dengan gaya sok dewasa.


Mark menatap lambat wajah Dara. Sebelum terkekeh kecil, gadis culun ini terkadang seperti anak kecil, kadang seperti gadis bodoh, kadang-kadang terlihat pintar dan terkadang ia terlihat


Seperti sosok ibu di matanya.


"Ya, Mom!" seru Mark terdengar lucu.


Dara mengeleng kan kepala nya mendengar jawaban Mark. Namun ia mengulas senyum kemudian saat Mark melangkah menuju wastafel mencuci tangan nya seperti yang diperintahkan oleh Dara. Gadis culun itu tersenyum penuh kebanggaan saat melihat makan yang ia buat sudah terhidang di atas meja.


Sekarang saatnya ia menuju kamar Alex untuk meminta Alex turun untuk makan. Semoga Alex menyukai masakannya lagi. Seperti kemarin-kemarin.