
^^^6 bulan kemudian^^^
Softlens di pasangan perlahan-lahan. Sebelum senyum di bibir Emma tercetak sempurna. Wanita cantik itu melipat ke dua tangannya di depan dada. Senyum bangga tercetak jelas. Dara mengedip cepat ke dua kelompok matanya. Mata bulan sabitnya tampak membesar berkat bantuan riasan. Ke dua softlens berwana senada dengan warna mata aslinya. Tiara di atas kepalanya, make up yang tidak berlebih-lebihan. Rambut hitamnya di warnai menjadi coklat gelap, yang di tata rapi. Gaun pernikahan yang menampakkan bahu telanjang Dara. Di bahu kanannya ada tato mawar hitam. Sebagai bentuk kehidupan baru, sebagai seorang istri Bos Mafia.
"Bagaimana? Cantik bukan?" Emma berseru dengan nada penuh semangat.
Kepala Dara mengangguk patah-patah."Apa ini benar aku?" tanya Dara terlihat kagum dengan penampakan diri nya di cermin.
"Tentu saja ini kamu. Kau tau kau terlihat sangat cantik Dara. bos akan terpukau dengan kecantikanmu ini. Dan ingat untuk memuji aku pada bos," ujarnya dengan nada penuh harap.
Dara hanya terkekeh kecil mendengar perkataan dari Emma.
Tok!
Tok!
Tok!
Tiga ketukkan di daun pintu membuat ke duanya menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat.
"Apa Dara sudah siap?"
Suara Mark terdengar jelas dari balik daun pintu.
"Ya. Dara sudah selesai." Emma menjawab perkataan si manja Mark Felton.
"Bantu aku berdiri," pinta Dara.
Emma mengangguk. Wanita cantik itu membantu Dara berisi dari kursi meja rias. Gaun pengantin yang gadis ini pakai cukup ribet. Dengan bentuk ekor yang cukup panjang. Belum lagi di bagian bawah di penuhi oleh aksen butiran mutiara asli. Emma menurunkan tudung transparans itu. Hingga menutupi wajah cantik Dara.
Ke dua nya melangkah mendekati pintu dengan posisi Emma memegangi ekor gaun pengantin.
Klik!
Pintu terbuka perlahan. Mark terlihat dewasa dengan tuxedo hitam melekat di tubuh atletis nya.
"Wah ... aku tidak tidak tau harus berkata apa. Dara kau seperti Cinderella," puji Mark yang sempat kehilangan kata-kata sesaat.
Dara mengulas senyum malu mendengar pujian adik iparnya.
"Aku tau kalau aku cantik. Sudahlah, tidak usah memujiku Mark!" balas Dara mendapatkan cibiran kesal dari Mark.
"Ini!" Mark menyerahkan buket bunga pada Dara.
Gadis cantik itu menerima nya. Sebelum mengandeng tangan Mark. Si bungsu Felton menjadi pendamping Dara. Mengingat Dara tidak memiliki keluarga. Karena itu Mark menawarkan dirinya untuk pendamping Dara.
"Ayo, kita harus cepat. Alex sudah tidak sabar mengucapkan janji suci pernikahan kalian," peringat Mark.
"Dia selalu tidak sabar. Kita semua tau akan hal ini," timpal Emma Young.
Sebelum ketiga nya terkekeh geli. Bos Mafia satu itu memang agaknya mengesalkan di mata mereka semua. Karena perburuan nya ingin menarik Dara Margaretha naik ke atas altar. Bahkan selalu enam bulan belakangan ini, Dara tidak bisa tenang karena pria itu meneror nya dengan pernikahan.
...***...
"Kau tidak ingin pulang ke Texas?" Juan bertanya dengan wajah penasaran.
Jenni meraih cup gelas miliknya. Menyesap perlahan-lahan cairan berkafein itu. Lidahnya di jajal dengan rasa pahit. Ke dua kakak beradik Brown ini menikmati waktu luang mereka bersantai-santai di kafe.
"Kau sendiri kenapa tidak pulang ke Texas, kembaranku?" Jenni malah balik bertanya kembali kala cup gelas telah di letakan perlahan di atas meja.
"Kau tau dengan jelas perasaanku, Jenni!"
"Lalu kau pikir pikiranku tidak sama. Di sana membuat aku merasa cukup sesak. Lebih baik di sini," ujar Jenni jujur.
Bagi Jenni Brown Texas adalah tempat yang memiliki kenangan manis sekaligus kenangan pahit. Kisah cinta dan pengkhianatan di mulai di sana. Jenni ingin berdamai dengan perasaan nya sendiri. Menerima kenyataan, jika kisah cinta nya tidak berjalan dengan manis. Kesetiaan yang di tawarkan di balas pengkhianatan. Anggap saja wanita cantik ini tengah menata hatinya yang hancur.
Tling!
Bel pintu kafe terdengar samar. Jenni yang duduk menghadap pintu masuk mengulas senyum tanpa ia sadari kala manik mata coklat nya berbenturan dengan manik mata indah pria yang beberapa bulan belakangan ini ia kenal.
Juan menoleh ke belakang kala melihat senyum di bibir sang kakak terbit. Ia ikut mengulas senyum kala pria itu semakin mendekati meja mereka.
"Hei! Kalian juga berada di kafe ini," serunya dengan nada bersahabat. Kala dirinya telah berada di samping meja Jenni dan Juan.
Ke duanya mengangguk serentak.
"Duduklah Herry!" ucap Juan ramah.
Zain mengangguk pelan. Ia mengambil posisi duduk tetap di depan Jenni. Juan melirik ke duanya dengan pandangan menggoda ke arah Jenni.
"Kau mau di pesankan apa?" tanya Jenni.
"Samakan saja denganmu," balas Zain lembut.
Jenni mengangkat sebelah tangannya kala seorang pegawai kafe menoleh ke arah nya.
"Bagaimana kondisi ke dua kakimu, Harry?" tanya Juan.
Juan melirik Jenni yang berbicara dengan pegawai kafe memesan minuman untuk pria di samping nya ini.
"Kau akan menetap di sini?" Juan kembali membawa Zain bicara.
Zain yang tadinya menatap Jenni di depannya kembali menoleh ke samping.
"Entahlah," jawabnya pelan.
Jenni diam-diam memperhatikan kedua pria di depannya ini yang terlihat asik berbincang-bincang. Sesekali matanya dan Zain terbenturan. Ia selalu membuang muka.
...***...
Dara telah terlihat rapi dengan dress putih dengan potongan dada rendah. Beberapa kali ia berputar ke samping kanan dan kiri. Melihat bagaimana penampilan dirinya.
"Cantik nya," puji nya untuk diri nya sendiri.
Dahinya mengerut nyeri. Kala pangkal pahanya nyeri.
"Gila! Sekarang aku tau apa yang di katakan oleh Mark," monolog Dara dengan wajah memerah padam. Senyum mesum tercatak jelas di wajahnya.
Telapak tangan nya menangkup ke dua sisi wajahnya. Warna merah ikut menjalar di ke dua sisi wajahnya. Manik mata coklat nya menoleh ke pintu kamar mandi.
"Kenapa belum keluar sih, katanya mau jalan-jalan ke pantai Kuta!" ujar Dara.
Dahi wanita itu mengerut dalam. Kedua tangannya yang sempat membingkai ke dua sisi wajah nya. Ia melangkah meninggalkan kaca meja rias hotel mewah di Bali itu.
"Alex! Kenapa lama sekali sih!" Dara berseru keras. Dengan tangan mendorong cepat pintu kamar mandi.
Kreat!!!
Pintu terbuka perlahan. Pupil mata Dara membesar melihat bagaimana penampilan Alex saat ini.
Dengan tidak tau malu nya. Ia melangkah masuk ke kamar dengan gaya Eropa di pandu padankan dengan bambu hias. Membuat kamar mandi terasa lebih fresh.
...
...
"Woh! Gede!" seru Dara dengan bibir terbuka.
Alex Felton mengeleng kecil melihat ketidak tau maluan istri nya ini.
"Bukankah tadi malam sudah lihat?" seru Alex dengan wajah pongah Alex.
Dara menutup wajah nya yang memerah mendengar jawaban Alex. Pria itu menyeringai melihat Dara menutupi wajahnya yang memerah.
"Beginilah wanita ya? Sok malu tapi aslinya gak tau malu," goda Alex.
Dara sontak membuka wajahnya yang memerah.
"Si——siapa bilang?" balas Dara terbata-bata.
"Kya!!!!" Teriak Dara kala Alex Felton malah berdiri dari bathub.
Kedua tangannya menutup ke dua wajah nya. Alex tertawa keras melihat kelakuan Dara. Wanita itu kembali berteriak keras, meminta di lepaskan oleh Alex.
Byur!!!!
Air bathtub berserakan karena tubuh Dara masuk dengan Alex.
"Kita bikin lagi, kata Mark mau keponakan sepuluh!" bisik Alex dengan nada seksi.
Sebelum tawa keras melambung dari bibir Alex. Kala tangan kecil itu memukul kesal dada kerasnya.
...~END~...
.
.
.
Terimakasih atas dukungan kakak-kakak semua atas cerita ini. Cerita nya gak bisa panjang karena seperti yang pernah author katakan. Author pindah lapak ke lapak kuning😁 dgn nama pena yg berbeda. Bagi yang mau ikut silahkan. cari nama pena di bawah. Cerita di bawah adalah cerita baru author di sana. Cerita keluarga penuh bawang🙈
author kasih sekilas sekilas pengenalan cerita nya.
"Adella Putri Wijaya yang menjebak cinta pertama nya hanya untuk membebaskan sang ibu dari ayah kandung nya. Ia menukar kebahagiaan nya untuk sang ibu. menjebak Galang Wiguna dengan kehamilan nya. Menghancurkan kisah cinta pria itu. Pernikahan nya penuh dengan air mata. Galang yang tidak tau pengorbanan apa yang Adella lakukan merendahkan nya. Bahkan menyakiti nya. Lebih parah ia sengaja menghamili mantan pacarnya. Hanya untuk menyakiti Adella. Bagaimana kisah Galang, Adella dan Bora sang mantan suaminya??? simak kisahnya di *******"