
Langkah kaki pendek itu terlihat lucu dari jauh. Apa lagi saat kaca mata bulat itu merosot dari hidung minimalis. Gadis culun itu mengedarkan pandangannya saat melewati beberapa pohon Pinus di belakang kediaman rumah Alex. Beberapa orang tampak berjaga di seberang sana. Dara tidak menyangka dengan luas tanah lima hektar lebih ini memiliki gedung besar di hutan Pinus yang tak jauh dari rumah besar Bos Mafia Kejam itu.
"Apa itu?" monolog Dara. Kala langkah kakinya sudah berhenti. Ia bersembunyi di balik batang pohon yang menjulang tinggi.
Manik mata madu itu menelisik. Mempertajam penglihatan nya. Di kotak bening berukuran sedang itu. Terlihat air merah pekat.
Bruk!
Bruss!!!
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Kepala itu menggelinding sampai ke mata kakinya. Ke dua mata Dara membulat sempurna. Bahkan ke dua bola matanya hampir keluar dari tempat nya. Saking syok melihat kotak itu menumpahkan beberapa bagian tubuh manusia yang di potong. Pria yang membawa kotak berisikan dari kepala sampai semua anggota tubuh saat tersandung akar pohon.
"Oh...shit!" umpat kasar pria yang terjatuh itu.
Pria berkulit hitam pekat itu masih menyumpah serapah dirinya yang ceroboh. Dengan kasar ia mungut pergelangan tangan yang terlihat mulai melunak. Dara Margaretha menegang. Air liur di kerongkongan mendadak kering. Aroma busuk dari mayat yang di mutilasi menari-nari masuk ke dalam paru-parunya. Perut Dara bergejolak karena aroma yang tidak sedap. Benar-benar busuk baginya.
Tubuh Dara lemas sangat-sangat lemas. Kala manik mata madu itu di bawa ke kakinya. Ke dua mata yang hampir busuk itu terbelalak menatapnya. Samar-samar ia masih mendengar luncahan kasar dari pria yang memungut tubuh manusia itu.
"Kemana kepala nya?" serunya kebingungan. Ke dua matanya mengedar menatap sekeliling. Hingga ia menangkap rambut pirang itu di dekat pohon.
Bruk!
Bunyi keras itu terdengar jelas. Pria itu dengan cepat mendatangi di mana kepala itu menggelinding. Betapa terkejutnya pria itu kala melihat gadis culun yang selalu bersama sang Bos. Malah pingsan tak sadarkan diri.
"Oh my God!" serunya dengan nada sangat pelan.
...***...
"Berapa banyak senjata yang mereka jual pada kita?" tanya Alex menatap Tom dengan pandangan dingin khas milik nya.
"Sekitar seratus senjata api. Dan lima puluh kotak peluru, Bos. Mereka meminta kita untuk memberikan barang itu sebagai balasan dari apa yang telah mereka berikan pada kita," jelas Tom dengan sangat jelas.
Alex Felton mungut-mungut pertanda mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Tom.
"Siapkan barang yang mereka inginkan. Lagipula itu bukanlah hal yang sulit untuk kita dapatkan,"titah Alex.
"Baik, Bos!" Tom mengangguk pelan.
"Lalu bagaimana dengan keamanan yang di tempatkan pada Dara?"
Dahi Tom mengerut sebelum kerutan itu kembali menghilang."Seperti yang telah Bos perintahkan. Semuanya berjalan sesuai dengan keinginan, Bos!"
Tok!
Tok!
Tok!
Tiga kali ketukan di luar pintu khusus tempat Alex mengerjakan hal-hal kotor di ketuk cepat. Dengan kode tangan Tom melangkah mendekati pintu besi itu. Membukakan nya dengan perlahan. Wajah Emma Young terlihat.
"Apa apa?" tanya Tom.
"Itu...Dara pingsan di hutan Pinus. Katanya dia pingsan karena melihat potongan tubuh pria yang Bos minta untuk di buang ke Sungai Amazon," papar Emma dengan nada sedikit khawatir.
Tom terperangah."Kenapa dia bisa berada di hutan Pinus?"
"Aku tidak tau jelas. Yang pasti seperti nya Dara tidak tau kalau hutan Pinus adalah hutan terlarang."
Tom menghela napas pelan.
"Kenapa hanya berdiri di sana. Masuk ke sini. Apa yang ingin kau katakan padaku, Emma?" suara bariton itu membuat ke duanya langsung menoleh ke arah kursi.
"Ada apa?" tanya Alex mengawali pembicaraan.
Emma tampak kebingungan menjelaskan nya. Ia menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Itu, Bos. Dara masuk ke dalam hutan Pinus. Ia pingsan karena melihat potongan tubuh pria yang melakukan penembakan empat hari yang lalu," ujar Emma.
"Dimana ia sekarang?" tanya Alex terdengar cukup berat.
"Di kamarnya, Bos!"
Alex tertegun sesaat. Ia berdiri dari posisi duduknya. Sebelum melangkah meninggalkan Emma dan Tom yang masih di ruang nya. Ia melangkah bergegas untuk memasuki rumah besar miliknya.
...***...
Segelas red wine di hidangkan di atas meja bar. Tangan lembut itu meraih gelas menggoyangkan nya perlahan sebelum menghirup aroma red wine yang memasuki Indra penciuman nya.
"Bagaimana? Apakah sudah ada sesuatu yang kau dapatkan selama kau bersama dengan gadis culun itu?" tanya Jenni sebelum ia menyesap red wine miliknya dengan perlahan.
Niko Wu memangku ke dua tangannya di dada. Pria yang berpotensi sebagai peracik minuman itu terlihat berpikir keras.
"Apa kau masih belum tau apa kelemahan gadis culun itu, Nik?" kembali Jenni melayangkan pertanyaan.
Niko berdehem sejenak untuk membasahi kerongkongan nya.
"Dia cukup cerdik dan sederhana. Tidak ada banyak hal yang bisa di korek dari dirinya, Jenni!" ujar Niko pada akhirnya
Jenni meletakan gelas di atas meja bar. Raut wajahnya tampak tak suka. Niko menarik kursi duduk di sana dengan wajah serius.
"Kalau begitu terus saja berteman dengan dia. Awasi dia untuk aku, Nik!" ujar Jenni. Ia meraih tangan Niko menggenggam nya dengan erat.
Niko Wu menarik tangannya dari genggaman tangan Jenni. Jenni mengulas senyum kecil nya.
...***...
Telapak tangan besar itu mengusap kepala belakang Dara. Syaraf-syaraf wajahnya menegang kala ia dapat merasakan benjolan besar belakang kepala gadis culun yang terlihat begitu lucu. Dengan perlahan Mark menarik kepala belakang nya.
Bhahahahaha!!!!
Di dalam kamar Dara. Pria itu tertawa keras setelah selesai mengusap benjolan sebesar teluk burung puyuh.
Dara memasang wajah kesal. Kenapa sih kepala belakang nya sampai mengancam urat pohon. Hingga benjol di kepala nya. Ia masih merasa sedikit pusing saat sadar dari pingsan.
Emma ikut tersenyum kecil melihat Mark telak berguling di lantai. Pria ini benar-benar jahat. Bagaimana ia bisa tertawa di atas penderita gadis lemah ini. Dara memasang raut wajah garang. Dengan bibir di poutkan ke depan.
"Berhenti lah tertawa Mark!!!!" tegur Dara dengan suara kesal.
Pria ini tidak menghentikan tawa yang melambung. Emma mengusap perlahan bengkak dengan es batu yang di balut saputangan.
"Owh...astaga... bengkak sebesar telur buyung puyuh!!!" ledek Mark sebisa mungkin mengontrol tawa.
Bibir Dara mencabik mendengar kata cemooh yang keluar dari bibir merah seksi itu. Diam-diam hati Dara menyumpahi Mark agar pria ini merasakan sakit yang di rasakan. Tunggu! Apakah ini karma? Mengingat ia pernah memasukan kepiting di celana dalam pria itu. Bahan membuat sup kepiting hanya untuk membuat Mark Felton marah. Kini ia mendapat hal yang sama. Hanya posisi bengkak nya yang sayang berbeda.
"Cih! Ibu burung puyuh harus diam!" tegur Dara kesal.
Mbeek!!!!
Mark Felton tercekat.
"Sebelum ibunya aku potong dan di cincang sampai habis!" Ujar Dara dengan gerakan tangan menggunting.
Glek!
Mark bergerak cepat menutup buyung puyuh miliknya. Emma mengantub rapat-rapat bibirnya mendengar balasan dari Dara. Ia berusaha kuat untuk tidak tertawa dengan pembicaraan ke duanya. Meskipun sangat berat untuk di lakukan oleh nya.