
"Tidak apa-apa!" seru Dara dengan gerakan jari jemari mengusap pelan punggung telanjang Alex dengan gerakan pelan.
Deru napas berhembus lambat. Hingga Alex menjatuhkan kepala nya pada bahu Dara. Alex Felton berharap jika ini adalah percobaan yang terakhir. Sejauh ini sangat sulit untuk menyentuh dan menguasai tubuh lawan mainnya.
"Sejauh ini sudah ada perkembangan nya. Tidak apa-apa," seru Dara mencoba membesarkan hati Alex.
Pria itu menarik kepalanya. Dan berguling kesamping. Membawa tubuh mungil Dara masuk ke dalam dekapan tubuh nya. Ke dua manik matanya menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan yang tak mampu di jelaskan dengan sebuah kata-kata.
"Ya, rasanya masih sangat jauh dari apa yang di inginkan." Alex berucap lirih.
Dara mengulum senyum tipisnya. Ia menyandarkan dagunya di dada bidang keras milik Alex. Menatap mata indah Alex. Mata tajam bak elang yang selalu membuat dirinya terjebak di dalam pesona Alex. Sumpah mati, Dara Margaretha sangat mencintai pria kejam ini. Jari telunjuk Dara bergerak mencolek dan sebelum mendorong ke dalam. Hingga membuat lubang kecil di pipi Alex. Pria itu mengulas senyum.
"Nah! Kalau tersenyum begini lebih tampan," puji Dara dengan nada lucu.
Alex terkekeh kecil. Hingga lesung di salah satu pipinya terlihat dalam. Telapak tangannya mengusap pelan sebelah sisi pipi Dara dengan lembut. Sebelum jatuh memencet pelan pangkal hidung Dara. Gadis culun itu berteriak kesal sebelum melayang kan pukulan pada dada telanjang Alex yang begitu keras. Alex tergelak keras.
Di balik pintu kamar Alex, si manja Mark Felton saling adu tatap dengan Emma Young.
"Apakah mereka tidak jadi lagi bikin keponakan untuk aku?" tanya Mark dengan nada sedih.
Emma tersenyum geli mendengar nya."Tuan muda pikir semudah itu membuat anak? Tapi, kenapa tuan muda ingin memiliki keponakan?" Emma bertanya dengan nada tidak percaya.
Mark yang tadinya kembali menempelkan sebelah daun telinga nya di daun pintu. Ia menoleh ke arah bawahan sang kakak.
"Memangnya apa susahnya? Hanya bikin saja. Cetak sekali dua kali bisa langsung jadi. Dan aku membayangkan ada seorang bayi lucu di gedonganku. Dan memanggilku paman, sangat menyenangkan hanya dengan membayangkan nya," jawab Mark dengan wajah berseri-seri.
Emma terkanga mendengar jawaban Mark Felton. Pemuda tampan ini berpikir semuda itu mencetak anak. Kalau bikin untuk membuat mungkin mudah. Tapi untuk mencetak menjadi bayi ini sulit. Kepala Emma mengeleng kecil.
...***...
Senyum mesum terbentuk di bibir merah merekah itu. Ke dua manik mata Dara berotasi malas melirik calon adik iparnya. Ke dua alis mata tebal beberapa kali di naik-turun kan.
"Hei! Ada masalah apa pada ke dua alis matamu itu, huh!" ujar Dara terdengar kesal.
Mark Felton mengulum senyum mesum. Garpu di tangan bergerak acak di atas piring. Alex ikut melirik wajah tampan sang adik.
"Kau...hehehe," ia malah terkekeh aneh,"kapan selesainya dengan Alex?" sambungnya.
"Apaan sih?" balas Dara dengan wajah kesal.
"Itu loh, itu!" Ujar Mark sembari membuat gerakan tangan yang membuat Alex hampir menyemburkan nasi goreng yang tengah ia kunyah.
Ke dua kelopak mata Dara berkedip cepat. Ia syok dengan gerakan tangan si manja. Ke dua pupil mata Dara melebar.
"K——kau...apa maksud kodemu itu?" suara Dara terdengar aneh.
Senyum mesum itu lagi yang di kembangkan. Tangan Mark mengusap pelan bibirnya dengan serbet. Dagu runcing itu di angkat tinggi.
Wajah Dara merah padam. Hingga menjalar di ke dua daun telinga nya. Sungguh memalukan, Alex si Mafia kejam malah membungkam bibir seksi yang selalu membuat dia kewalahan menghadapi benda lunak tak bertulang itu.
"Alex! Berjuanglah lebih keras lagi. Adikmu ini menunggu keponakan yang imut. Tidak masalah mau perempuan ataupun anak lelaki. Karena keturunan Felton selalu mengagumkan dan imut."
Dengan kurang ajar nya Mark menepuk-nepuk pelan bahu sang kakak. Alex melirik dari ekor matanya. Wajah Dara benar-benar sangat merah saat ini. Ia hanya mampu menyimpan senyum di balik wajah dingin nya.
...***...
"Aku sudah menyiapkan semua rencana kita dengan matang."
"Lalu kapan kau akan bertindak?" tanya Jenni.
"Hari ini. Aku akan memulainya," jawab Tessa dengan senyum sumringah.
Kepala Jenni mengangguk kecil. Sudah saatnya semua nya di mulai.
"Kau harus ingat, jangan pernah membuatnya curiga. Bermainlah yang mulus. Ia masih mencintai dirimu. Dan aku dapat merasakan perasaan itu!"
"Kau tenang saja Tessa. Alex akan kembali dalam pelukanku. Aku sudah berjanji membalas semua dendammu pada Alex. Jadi, percayakan saja semua nya pada aku!"
Kepala Jenni mengangguk pelan."Ya, tentu saja aku mempercayaimu."
Tessa mengulas senyum lembut. Tidak ada yang tau kelicikan apa yang ada pada gadis satu ini. Bukankah ia bisa melakukan ke duanya dalam satu waktu. Sekali dayung dua sampai tiga pulau terlampaui. Dan lempar batu sembunyi tangan. Sangatlah mudah.
Hanya Jenni saja yang terlalu bodoh dan buta. Wanita cantik ini tidak tau saja kesalahan apa yang telah di lakukan Tessa. Jika dia tau, maka Tessa sudah pasti mati di tangannya.
...***...
Langkah kaki lebar itu menyusul gadis berambut sebahu dengan kaca mata membingkai hiding sederhana itu terlihat cukup cepat. Hingga ia dapat menyusul langkah kaki Dara. Gadis itu menoleh sedikit menengadahkan kepala nya.
"Pagi!"
"Oh...ya, pagi juga, Pak Dosen!" Dara membalas dengan senyuman.
"Sudah aku katakan jika hanya berdua saja. Cukup panggil, Juan saja."
"Eh? Tapikan ini masih di lingkungan kampus."
Juan hanya terkekeh kecil."Kau benar-benar menyebabkan gadis Indonesia." Juan bergurau.
"Yeah! Aku memang begini." Balas Dara di sela langkah kakinya.
Juan mengulum senyum. Dara menatap lurus ke depan. Ke duanya melangkah beriringan. Juan menatap diam-diam ke arah Dara. Gadis berambut sebahu ini adalah gadis yang menyenangkan. Setelah beberapa bulan ia mengajar dan mengamati Dara dalam diam. Gadis berkacamata ini terasa berbeda. Aura yang di pancarkan juga berbeda.
Ia terkadang terlihat sangat tangguh. Dan terkadang juga terlihat sangat lugu di mata Juan. Dokter sekaligus Dosen muda ini lambat laun malah terperosok pada pesona Dara Margaretha.