
"Ini!" Emma menyodorkan segelas air ke arah Dara.
Gadis culun itu meraih gelas berisikan air mineral. Ke dua tangannya mendekap gelas kaca. Terlihat bergetar hebat. Dara Margaretha syok dengan apa yang terjadi. Peluru yang melesat ke arah mobil Alex itu di arahkan benar-benar untuk dirinya. Gadis ini tidak tau apa yang membuat timah panas itu menjadikan dia sebagai targetnya? Padahal ia tidak memiliki masalah dengan siapapun.
Emma Young menatap kasihan pada Dera. Gadis yang selalu terlalu kuat itu gemetar hebat. Bahkan gelas yang berada di bibir nya menumpahkan isi air yang di minum.
"Hati-hati!" Seru Emma dengan tangan menahan gelas yang di bibir Dara.
Baju kaus pink berlengan pendek di depan itu basah sudah karena ketidak kuatnya Dara menahan gelas. Emma membantu Dara minum secara perlahan. Dara menarik gelas dari tangan Dara saat gadis berambut sebahu itu telah selesai minum.
"Jadi basah ini," seru Emma kembali. Ia menarik tisu yang ada di samping nakas tempat tidur.
Ia mengusap baju depan Dara yang basah. Tangan gadis itu masih terlihat bergetar hebat.
"Te——terima kasih, Emma!" seru Dara terbata-bata.
Emma mengangguk pelan. Ia duduk di bibir ranjang. Mengusap pelan punggung belakang Dara. Gadis mana yang tidak akan syok dengan yang terjadi. Seandainya mobil milik Alex tidak kebal peluru. Sudah pasti gadis ini menjadi sasaran pasti bersama Alex Felton.
"Tidak apa-apa. Selama kau bersama kami, tidak akan ada yang bisa menyakitimu, Dara!" Ujar Emma mencoba menenangkan Dara. Di sela usapan punggung belakang gadis manis ini.
Kepala Dara mengangguk patah-patah. Sedangkan di ruangan lain, tubuh pria itu tampak tidak berdaya. Seluruh tubuh nya benar-benar terlihat mengenaskan. Tidak ada yang bisa lolos dari tangan Alex Felton saat pria itu marah. Yang datang secara langsung menyelinap masuk ke dalam rumah besar Dragon. Tentu saja mereka sudah siap dengan kematian. Itu adalah hukuman paling ringan. Hukuman paling berat dari seorang Alex Felton bukanlah kematian. Ataupun saat organ tubuh di ambil dan tubuh di cincang-cincang menjadi dua belas bagian. Akan tetap yang paling menakut adalah hukuman di mana kita merasa lebih baik mati dari pada tetap hidup. Karena hukuman sejati dari seorang Alex sang Bos Mafia kejam ialah menyiksa dengan perlahan-lahan. Alex tersenyum miring melihat hasil karya nya.
Ada beberapa belas sayatan di wajah dan beberapa tempat di tubuh pria ini. Darah segar mengalir sedikit demi sedikit. Ada banyak luka memar di wajah dan tubuh pria yang tertangkap karena melayangkan timah panas ke mobilnya.
"Masih tidak mau berbicara siapa yang mengutusmu ke sini, Hem?" ujar Alex dengan nada berat serat akan ancaman.
Pria itu menatap sayu ke arah Alex. Pria itu benar-benar menakutkan. Tom melangkah mendekati Alex yang menekuk lutut nya untuk mensejajarkan tubuh nya dengan pria yang terikat di kursi pendek.
Alex mendengus kesal. Telapak tangannya di buka. Tom bergerak cepat memberikan buah asam yang yang telah di sayat.
"Aku tau kau begitu setia pada tuanmu. Tapi jangan salah paham, aku bukanlah pria yang suka dengan orang yang bungkam sepertimu. Aku memang salut dengan kesetiaanmu. Sayang nya, kesetiaan yang bukan untukku. Sangat aku benci," ujar Alex lagi.
Pria yang berusia empat puluhan itu membungkam bibir yang terlihat pecah karena hantaman keras dari kepalan tangan. Tangan Alex meremas asam meneteskan air di luka yang menggangga di paha yang robek karena ulah pria ini.
Aaaaaakkkkkk!!!!!!!!!
Teriakan keras memekakkan telinga mampu menyayat hati. Alex Felton tertawa keras melihat tubuh pria itu memekik keras. Benar-benar menakutkan. Bahkan tangan yang kosong itu merah pisau kecil yang tergeletak berdarah di atas lantai.
Jleb!
Cret!
Pisau itu di tusuk di paha yang tadinya di tetesi air buah jeruk di tarik ke belakang. Hingga daging paha terlihat bergerak-gerak dan berdarah. Kembali tetesan demi tetesan jatuh ke luka yang semakin di kangga lebar oleh sang Bos Mafia.
Beberapa orang memalingkan muka dari kegiatan sang Bos. Berbeda dengan Tom yang memang mendapat pelatihan besar akan hal seperti ini. Bola mata pria itu bahkan bergerak ke atas. Manik mata hitam menghilang dari mata. Warna putih mendominasi. Buku-buku tangan nya memutih, saat ia mencengkram ke dua telapak tangan nya dengan keras. Saat rasa pedih menghantam diri.
...***...
"Tuan Lewis, dia tertangkap." Seruan keras di belakang tubuh Alan membuat kan ke dua matanya.
Bagaimana bisa? Kenapa orang-orang yang di suruh oleh nya tidak ada yang becus dalam melakukan perintah nya. Alan mengeraskan ke dua sisi rahang tegasnya.
"Apakah dia bisa menjaga rahasia untuk tetap diam sampai akhir hayatnya?" tanya Alan dengan nada serak.
Tangan bergerak mengguncang cairan rad wine di dalam gelas kristal mahal miliknya.
"Ya, Tuan. Tuan Lewis jangan khawatir. Pembunuh bayaran tidak akan membuka mulutnya apapun yang terjadi. Karena sudah memiliki ikrar setia pada kelompok nya," jelas pria bermata biru laut itu.
Alan menyesap perlahan cairan red wine miliknya dengan perlahan.
"Urus semua nya dengan mulus," titah Alan kembali terdengar.
"Baik Tuan," balasnya. Ia melangkah pergi meninggalkan Alan sendiri di ruangan kerja pria itu.
Alan berdiri dari posisi duduknya. Meletakan kembali gelas kristal di atas meja kerja nya. Melangkah mendekati jendela yang langsung terhubung dengan balkon ruangan kerjanya. Manik mata hijau itu mengedar menatap kolam berenang yang berada di bawah sana.
"Kau tenang saja Zain. Aku akan memberikan dia hukuman atas apa yang telah ia lakukan padamu," monolog Alan. Ke dua telapak tangan nya meremas pagar balkonnya.
...***...
"Bagaimana keadaanmu?" seru Alex kala mendudukkan body belakang nya dia atas ranjang Dara.
Gadis yang memiliki banyak keberanian ini malah berakhir demam karena syok. Ia merasa panas pada pagi hari setelah kejadian kemarin.
"Sudah jauh lebih baik," jawab Dara pelan.
Alex mengangguk paham. Telapak tangan nya bergerak menyentuh dahi Dara. Dingin. Seperti nya demam Dara sudah turun setelah mengonsumsi obat penurun panas.
"Bagaimana dengan pria itu?"
"Dia sudah di amankan."
"Apakah dia sudah mengatakan siapa yang menyuruhnya melakukan itu?"
"Tidak. Dia belum mengatakan nya. Cepat atau lambat kita akan tau."
Dara merubah raut wajahnya menjadi khawatir. Alex mengulum bibir merah milik nya.
"Jangan khawatir aku akan melindungimu. Selalu," ujar Alex membuat hati Dara menghangat dan damai seketika.