Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 52. PENUH RAHASIA


Ke dua kelopak mata sempit itu terbuka perlahan. Sebelum kembali tertutup perlahan. Kepala nya terasa sangat pening. Samar-samar ia mendengarkan suara berat yang membuat dirinya merindu. Elusan pelan di dahinya terasa benar-benar nyata.


"Maafkan aku," serunya terdengar bak bisikan samar.


Ingin rasanya Dara membuka ke dua kelopak matanya. Namun apalah daya. Rasanya sangat lengket untuk di tarik paksa. Hembusan napas beraroma mint itu menerpa sisi wajahnya. Hingga kecupan basah di layangkan lama di dahinya.


Sangat lama ia rasakan kecupan itu di layangkan. Hingga tetesan demi tetesan air terasa menghujani dahi panasnya. Dara ingin sekali melihat apakah yang tengah mengecup dahinya adalah Alex Felton?


Apakah pria itu di sisinya? Jika itu benar-benar dia. Dara tidak tau harus bereaksi seperti apa. Jujur saja hatinya sekarang benar-benar lelah dengan banyak hal. Ia mencintai Alex, itu bukanlah sebuah kebohongan. Namun kenapa mencintai seorang dengan tulus sesakit dan selelah ini.


"Tumbuhlah semakin kuat Dara. Aku ingin melihatmu menjadi wanita yang hebat. Jangan sakit terlalu lama, jika bisa bencilah aku seperti apa yang kau inginkan," ucapnya dengan nada serak kala menjauhkan wajahnya dari dahi Dara.


Hembusan napas Dara menderu teratur. Alex mengulas senyum, sebelum mengusap pelan ke dua pipinya yang basah. Hidup Mafia Kejam ini terlalu banyak rahasia. Seperti saat ini, tidak ada yang tau apa yang ada di otak Alex. Apa yang sebenarnya pria ini ingin kan.


Manik mata hijau tajam itu menyendu. Topi hitam yang sempat ia lepaskan saat masuk di dalam ruangan wajar Dara kembali di pasang. Masker hitam menutupi separuh wajahnya. Alex membalik kan tubuh nya. Sebelum melangkah keluar dari ruangan inap Dara dengan pergerakan lambat.


...***...


"Apa yang tengah kau lakukan Jenni?" berang Niko.


Jenni mengangkat sebelah alis matanya."Apa yang kau bicarakan?"


"Kenapa adikmu membawa Dara dariku?" kesal Niko Wu.


"Ah, itu." Jenni mengangguk kecil."Adikku jatuh cinta pada gadis culun itu. Sebagai kakak aku memberikan mainan yang ingin adiku memiliki. Apa masalah nya dengan itu, dan kau jangan lupa tugasmu. Kau itu hanyalah lelaki bayaran. Setelah selesai dengan tugasmu. Silahkan pergi, aku telah mentransfer uang ke dalam rekeningmu. Sesuai dengan apa yang telah kita janjikan," sambung nya dengan entengnya.


Ke dua tangan Niko mengepal sempurna. Ke dua mata yang selalu memberikan tatapan ramah pada banyak orang terlihat begitu menakutkan untuk di lihat saat ini.


"Bukankah kau bilang tidak akan ikut campur lagi setelah aku memisahkan Dara dari Alex?"


"Kapan aku bilang begitu?"


"Saat setelah perjanjian kita di buat!"


Jenni berdiri dari posisi duduknya. Tersenyum kecil, sebelum seringai licik di bibir nya terlihat. Senyum yang begitu menakutkan terlihat. Ke dua tangan Jenni bergerak membebani jaket kulit Niko.


"Jangan terlalu banyak berpikir dan menuntut hal yang tidak harus kau miliki, Niko! Karena bayaran yang akan kau terima akan sangat menyakitkan. Bisa saja, bayarannya adalah nyawamu!" Ucap Jenni sembari menepuk-nepuk pelan pundak Niko setelah membenahi jaket kulit Niko.


Wanita cantik ini tentu saja tengah memberikan peringatan pada Niko. Tidak ada yang tidak bisa di dapat kan oleh seorang Jenni Brown. Wanita ini memiliki banyak yang untuk menjalankan semua rencana nya.


"Jika tidak ada yang ingin kau sampai kan silahkan keluar dari rumahku!" ucapnya lagi dengan nada yang terdengar ramah.


Niko mengeraskan ke dua rahangnya. Sebelum melangkah keluar dari rumah besar kediaman Brown yang yang sangat besar. Tubuh Jenni berbalik ke arah undak tangga. Di atas sana, Tessa termengu melihat betapa menakutkan Jenni Brown. Tessa berpikir Jenni adalah gadis yang hanya terlalu tergila-gila dan cinta mati pada Zain Lewis. Siapa sangka jika Jenni memiliki sisi yang menakutkan. Ke dua sisi bibir Jenni di tarik ke atas kala manik mata indahnya berbenturan dengan manik mata hijau milik Tessa.


"Hai! Kau sudah bangun. Ayo kita sarapan pagi!" serunya dengan nada ramah.


Harus.


Tessa akan membunuh Jenni terlebih dahulu. Lagipula sekarang Alex telah kembali padanya. Apa lagi yang ia butuhkan. Salahkan saja wanita di depan nya ini. Dia yang datang untuk mencabut nyawanya di tangannya. Karena Jenni lah yang mengulurkan tangan padanya terlebih dahulu.


...***...


"Eeghh..." Dara menggerang pelan. Sebelum ke dua manik mata yang telah lama di selimuti oleh kelopak mata itu terbuka perlahan-lahan.


Juan tersenyum lembut kala manik mata madu itu terbuka perlahan. Terlihat sangat indah di mata Juan.


"Bagaimana kondisimu?" seru Juan kala melihat Data memandangi nya lambat.


Tidak ada jawaban di bibir kering itu. Ia menatap Juan lambat.


"Juan?" seru Dara kurang yakin dengan nada serak. Gadis ini tidak bisa melihat wajah seseorang dengan jelas kala jarak di bentang cukup jauh.


Juan terkekeh kecil melihat kerutan halus di dahi Dara. Ia melangkah mendekati Dara.


"Hem...ini aku, Juan. Maaf aku lupa kalau kau tidak bisa melihat dengan jelas kalau tidak memakai kacamatamu!" Ujar Juan dengan nada ramah. Pria itu bergerak meraih kaca mata Dara di atas nakas.


Ia memasang kacamata membingkai kedua mata Dara. Gadis culun itu menghela napas kecewa. Rasanya Dara Margaretha ingin tertawa kesal saat ini. Bagaimana bisa hatinya masih berharap Alex Felton lah yang ada di sini saat ini.


"Kenapa kau malah tersenyum masam seperti itu?" tegur Juan.


Dokter tampan dengan dandanan necis itu duduk di bibir ranjang.


"Jangan pedulikan itu," jawab Dara pelan,"dan kenapa aku bisa di sini?" Dara melempar kan pertanyaan kala ke dua manik mata madunya itu bergerak liar menatap ruangan rawat yang kini ia tempati.


"Kau mendapatkan demam tinggi dua malam yang lalu. Dan kondisi kesehatanmu begitu pesat menurun. Seperti nya kau terlalu tertekan," balas Juan.


"Lalu di mana Niko?"


"Dia...ada keperluan di luar, karena itu dia meninggalkanmu di sini bersamaku," dusta Juan.


Dara menghela napas. Juan memerhatikan Dara dengan manik mata penuh perhatian.


"Bagaimana rasanya kondisimu saat ini?" tanya Juan kembali.


"Lumayan. Kemarin kepalaku rasanya ingin pecah. Tapi hari ini sudah tidak sakit lagi."


Juan mengangguk mengerti. Telapak tangan besar itu sebenarnya ingin meraih telapak tangan kecil Dara. Hanya sekedar menggenggam nya dengan erat.