Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 17.KELEBIHAN DARA


Sebelah tangan Dara menyisir perlahan rambut pendek nya. Ia mengulas senyum di depan kaca. Wajahnya di poles dengan make up tips. Bibir pink nya tampak sedikit di beri pemerah. Dara merapikan kaca mata yang bertengger di hidung sederhana nya. Gadis culun ini tidak menyentuh lesan mata yang di berikan oleh Emma. Bagi Dara Margaretha lebih nyaman memakai kaca mata dari pada softlens.


"Sudah cantik," pujinya pada dirinya sendiri.


Sebelum terkikik geli mendengar pujian nya sendiri. Bagi Dara lebih baik mendengar pujian dari pada dirinya sendiri dari pada pujian dari orang lain. Yang belum tentu tulus.


"Dara!" seruan di luar kamar terdengar cukup nyaring.


Kepala Dara bergerak menoleh ke arah pintu kamarnya. Ia melangkah cepat mendekati pintu kamar. Tangan kanannya memutar kunci pintu. Sebelah tangannya lagi menekan engsel pintu.


Klik!


Kreat!


Pintu terbuka perlahan. Emma tampak begitu cantik dengan gaun merah darah yang melekat di tubuh nya. Memperlihatkan setiap lekuk tubuh nya yang sempurna.


"Kenapa kau malah pakai kaca mata?" tegur Emma Young melihat penampilan Dara.


"Kenapa memangnya dengan kaca mataku?" balas Dara terdengar tak mengerti.


Emma berdecak pelan. Sebelum ia mendorong kecil Dara masuk kembali ke kamar. Wanita cantik itu menarik pergelangan tangan Dara. Hingga ke duanya berhenti di depan meja rias.


"Lihatlah! Kaca matamu itu merusak penampilanmu, Dara. Katanya ingin menikah Bos Alex. Kau harus terlihat cantik, Dara!" Ujar Emma menunjuk wajah Dara dengan wajah penuh semangat.


"Memangnya aku harus mempermak semua nya hanya untuk membuat tuan Alex tertarik padaku?" imbuh Dara pelan,"tuan Alex bilang ia hanya ingin aku memukau dengan kemampuanku. Bukan dengan wajahku," sambungnya.


Emma mengeleng pelan."Dara Margaretha! Semua lelaki itu tertarik dengan wajah cantik. Itu adalah poin pertama yang di lihat oleh seorang pria. Tanpa terkecuali. Setelah itu, barulah mereka akan melihat kepribadian orang tersebut. Begitulah urutannya," tukas Emma.


"Benarkah?" Dara bertanya dengan pangkat hidung mengerut.


Kepala Emma mengangguk pelan. Dara menghela napas. Ia tak tau akan hal ini. Ia hanya tau belajar dan belajar sedari dulu. Kaca mata yang membingkai wajah Dara di tarik perlahan. Kaca mata itu di letakan di atas meja rias. Sebelum tangan Emma meraih kotak lensa. Menyorotkan nya pada Dara. Mau tak mau, Dara menerima nya dengan wajah kecewa.


"Ini semua demi Bos Alex!" seru Emma lagi.


"Oh! Demi tuan Alex!" Balasnya sembari mengangguk kan kepalanya.


Emma mengulas senyum. Pesta yang kali ini di adakan oleh Bos mereka cukuplah besar. Ada banyak orang yang datang. Dan gadis manis ini akan menjadi pendamping Alex Felton. Emma harus memastikan semuanya terlihat sempurna. Agar tidak membuat Alex Felton sang Bos Mafia kejam menjadi murka pada nya.


Gaun biru dengan aksen pita di pinggang nya tanpa begitu pas di tubuh Dara. Potong dada yang rendah, membuat volume dada Dara lebih terlihat berisi, dan kaki Dara terlihat lebih jenjang. Gadis Asia itu terlihat lebih manis dan menawan. Emma suka sekali dengan penampilan Dara kali ini.


...***...


Tangan Alex di gandeng oleh Dara. Beberapa orang menatap penuh rasa penasaran ke arah Dara. Pasalnya, ini kali ke dua Alex Felton mengandeng tangan seorang gadis. Tubuh mungil itu tampak bergerak bersisian dengan Alex. Langkah kaki Alex berhenti mendadak. Itu membuat Dara mau tidak mau juga ikut menghentikan langkah kakinya.


Pandangan mata Alex lurus ke depan. Dimana tiga orang tengah berdiri tak jauh dari meja yang berisi minuman red wine yang berjejer di atasnya. Mata Dara memicing, mencoba memperjelas siapa yang tengah di tatap oleh Alex. Satu orang dari ketiganya tak asing di mata Dara. Pria bermata hijau itu tampak tersenyum menyeringai pada Alex. Dua orang di antara nya adalah wanita dan pria dengan perawakan seperti wanita dan pria Asia. Melihat bentuk mata yang sempit itu. Dengan mudah siapapun bisa menembak siapa mereka.


"Bos!" Seruan pelan dengan langkah kaki setengah berlari mendekati mereka.


"Kapan mereka datang?" tanya Alex dengan nada berat.


"Baru saja, Bos. Berita kedatangan nya pun juga baru di dapatkan setelah aku melihat wajahnya," ujar Tom dengan nada pelan.


Alex mengeraskan rahangnya. Ekspresi yang dikeluarkan oleh Alex tidak luput dari pandangan mata Dera. Ada apa dengan ke tiga orang itu? Kenapa Alex Felton merasa gelisah dengan kehadiran mereka. Gadis ini dapat melihat dari getaran di ke dua mata Alex.


Alex menunduk menatap wajah Dara. Gadis itu tampak menatapnya dengan pandangan khawatir. Kepala Alex mengeleng kecil.


"Tidak. Mereka tidak berbahaya," jawab Alex pelan.


"Benarkah?" tanya Dera mencoba mencari lebih dalam lagi lewat ekspresi wajah Alex.


"Ya." Alex menjawab dengan singkat."Dimana Mark?" sambungnya. Pria ini menyapu lapangan belakang yang di sulap menjadi tempat pesta yang bagus.


"Tuan muda seperti nya akan datang terlambat," jawab Tom seadanya.


Alex menghirup perlahan udara sebelum menghembuskan nya perlahan pula.


"Pantau pesta ini dengan baik, jangan biarkan sesuatu yang aneh terjadi di sini!" ujar Alex pada Tom,"dan, Ayo! Kita menghampiri mereka." Alex melangkah kembali.


Dara mau tak mau mengikuti langkah kaki Alex. Wanita cantik itu tersenyum sinis melihat Alex melangkah mendekat ke arah mereka.


"Apakah itu gadis yang kau katakan tempo hari, Alan?" tanya Jenni dengan nada penuh penghinaan.


"Ya, jangan menatapnya dengan pandangan remeh Jenni. Meskipun ia terlihat begitu rapuh, gadis itu bukanlah lawan yang bodoh. Bahkan dia sempat membuat aku malu saat itu," balas Alan dengan nada jengkel. Padangan mata mereka berdua masih menatap ke arah Alex dan Dara.


"Apakah gadis itu kekasih Alex?" tanya Juan dengan nada tak percaya.


"Katanya begitu," balas Alan,"kenapa dengan raut wajahmu Juan. Kau terlihat tidak percaya dengan apa yang kau lihat," lanjut Alan dengan nada berat.


"Ini terasa aneh. Alex tahun lalu jatuh cinta pada wanita cantik. Dia itu terlihat sangat jauh dari tipe Alex. Aku meragukan jika dia adalah kekasih Alex yang sekarang," ujar Juan mengeluarkan isi hatinya.


"Aku setuju dengan Juan. Jika gadis itu menjadi kekasih seorang Alex Felton. Itu terasa sangat tidak mungkin. Seakan ada yang mengganjal di dalamnya. Di lihat dari sisi mana pun, gadis itu tidak mungkin membuat Alex jatuh hati. Tessa dan dia terlihat sangat jauh berbeda," timpal Jenni dengan wajah penuh keyakinan.


Jika wanita yang di gandeng oleh Alex adalah perempuan cantik dengan tubuh seksi. Maka Jenni akan percaya saja jika itu adalah kekasih Alex. Jenni bahkan lupa kapan terakhir kali Alex dan Tessa bersama. Tessa adalah wanita yang sangat menggoda. Dari segi wajah cantik dan tubuh nya yang begitu seksi. Aura yang di pancarkan oleh Tessa terasa begitu memikat. Sedangkan gadis itu terlihat terlalu polos untuk seorang Alex.


Ke duanya sampai di depan Alan, Jenni dan Juan. Senyum dingin tercetak di wajah Alex. Juan menatap lambat sahabat nya ini. Ia masih tak menyangka jika Alex akan menjadi musuh bagi Alan dan Jenni kembaran nya.


"Kau datang," seru suara bariton Alex. Bos Mafia kejam itu menatap Juan.


"Lama tidak bertemu, Alex!" balas Juan dengan nada dingin pula.


Alex tersenyum kecil. Ternyata benar dugaan nya. Juan juga menjadi musuh nya. Sahabat nya yang tidak pernah terlihat hal aneh dengan nya. Malah mempercayai apa yang di katakan oleh saudara kembarnya. Ya, sudah pasti bukan? Jika Juan mempercayai apa yang di tuduhkan Jenni padanya. Karena sakit Jenni juga sakit Juan.


Kepalanya mengangguk kecil."Kau juga hadir Jenni!" seru Alex lagi.


"Ya, aku penasaran dengan gadis di sampingmu itu. Alan bilang dia adalah kekasihmu. Seleramu terasa aneh hari ini, loh?" balas Jenni dengan nada dan pandangan merendahkan.


Oke. Dera yang sempat memuji wajah cantik Jenni menarik kembali pujian nya. Ke dua bola matanya bergerak berotasi malas. Kenapa sih, orang-orang suka sekali menghina nya. Membuat Dara kesal saja.


"Jangan berkata terlalu kasar Jenni. Kekasihku tidak pantas mendapatkan kritikkanmu!" Tukas Alex dengan tangan menarik pinggang Dara semakin merapat pada tubuh nya.


Jenni tersenyum muak."Oke, maaf soal perkataanku," ujar Jenni dengan nada datar,"tapi aku penasaran saja apa dia hanya menjadi pion bagimu!" sambungnya dengan wajah penuh senyum kemenangan.


Dara menghela napas."Mau jadi pion atau pun tidak. Tidak ada sangkut pautnya dengan Anda nona. Karena aku yang menjalin nya. Orang yang suka mengomentari hidup orang lain cenderung adalah orang yang kurang bahagia. Setidaknya seperti itulah yang aku baca di buku," serang Dara telak membuat Jenni mengerang.


Alex tergelak keras. Dara Margaretha benar-benar gadis yang menarik.