
Senyum mengembang terlihat begitu memukau. Rambut pirang di tata serapi mungkin. Beberapa orang menatap takjub pada dua orang visual yang kini tengah melangkah menuju rombongan orang-orang. Yang tentu saja ke duanya tau siapa saja mereka. Jenni melirik angkuh pada ke dua pasangan yang baru saja bergabung.
"Woh! Kalian kembali bersama?" seruan itu meluncur dari bibir wanita berambut sebahu kala ke duanya mendekat.
Tessa mengulas senyum semakin lebar. Ia tak lupa menyandarkan kepalanya di bahu Alex Felton.
"Tentu saja. Kami sudah sangat lama bersama. Putus nyambung adalah hal biasa dalam hubungan asmara, Sis!" balas Tessa lembut. Manik mata hijau itu melirik raut wajah Alex yang ikut tersenyum tipis.
Jenni Brown mengangkat gelas wine miliknya. Menyesap perlahan dengan ke dua sisi bibir tersungging.
"Lalu kemana larinya gadis yang selalu bersamamu, Alex?" Jenni berseru setelah lidahnya di jajal cairan wine.
Manik mata tajam itu melirik Jenni dengan pandangan tak terbaca.
"Kenapa kau harus menanyainya saat aku, membawa gandengan?" Alex berucap dengan nada berat nan seksi miliknya.
Tessa mengangkat ke dua sisi bahunyanya acuh. Alex tidak pernah menaruh kata dendam karena Jenni mengibarkan bendera perang. Siska menepuk permukaan sofa bundar itu. Agar ke duanya duduk.
"Ayo, duduk di sini!" Ujar Siska masih melakukan hal yang sama.
Tessa mengangguk kecil. Sebelum menarik pergelangan tangan Alex. Pria gagah itu duduk di samping teman satu jurusannya. Fakultas mereka mengadakan malam reunian ke lima tahun. Gemuruh ricuh dari bibir orang-orang terdengar. Kala Tessa memilih duduk di paha Alex dengan posisi menyamping. Gaun merah itu sedikit tertarik ke atas. Memperlihatkan ke dua paha mulus milik Tessa.
"Kalian kapan akan melakukan pernikahan?" tanya Siska kembali.
Wanita bermata biru itu cukup penasaran dengan ke dua orang di sampingnya ini. Mengingat, ke duanya dulu adalah pasangan serasi. Tidak ada yang mampu mencuri hati dingin seorang Alex Felton. Yang terkenal sebagai bad boy sejati. Yang dulu sampai saat ini masih di takuti. Tessa mengalungkan sebelah tangannya di leher Alex. Menyandarkan kepalanya di bahu lebar nan kokoh itu.
"Secepatnya," balas Tessa.
Kembali suara ricuh penuh kekaguman itu terdengar. Alex memilih memeluk pinggang Tessa dengan kuat. Hanya untuk menjaga keseimbangan wanita yang ia cintai ini. Jenni mencemooh. Manik mata hitam legam itu menatap keberadaan Dara yang melangkah bersama Niko Wu.
Show time!
Jenni ingin melihat pertunjukan yang mengagungkan. Gadis berambut sebahu itu terlihat sangat marah. Tidak menampik di kedua bola matanya ada rasa sakit yang ikut membakar hati dan jiwanya.
"Alex!" seruan cukup lantang.
Musik slow yang di putar berhenti mendadak. Puluhan pasang mata yang berada di ruangan sontak menatap ke arah sofa bundar. Niko berdiri di belakang Dara. Ke dua tangan Dara terkepal. Hatinya terbakar, melihat bagaimana Alex merangkul pinggang Tessa. Dara akui, wanita bergaun merah terang itu sangat cantik. Berbeda dengannya.
Alex mengerut dahi melihat kehadiran Dara. Ia tidak tau bagaimana bisa Dara ada di pesta kampusnya.
"Kenapa kau di sini?"
Oh ayolah Alex Felton! Apakah hanya kata itu yang bisa di keluarkan di saat seperti ini. Dara menghirup dalam-dalam pasokan udara yang terasa menipis. Lantaran hati dan perasaannya hancur. Ia pikir ia bisa kuat sampai di tempat ini. Akan tetapi, perasaannya benar-benar tak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
"Sebenarnya aku ini apa di mata dan hatimu?" tanya Dara pedih.
Niko menatap punggung belakang Dara yang terlihat bergetar. Tessa mengerakkan tangannya mengusap pelan dada bidang Alex. Sebelum menengadahkan wajahnya menatap Dara dengan pandangan sinis.
"Inilah kenapa lelaki tidak boleh terlalu dekat dengan wanita, Alex. Dia salah paham dengan posisinya di hatimu," ucap Tessa yang semakin membakar dada Dara dengan api kemarahan dan cemburu.
Alex melirik ke dua mata gadis culun itu yang telah berembun di balik kaca mata tebal itu.
"Apakah aku pernah mengatakan kau sebagai kekasihku?"
Jleb!
Bagaimana ribuan pisau menusuk keras dan berulang-ulang dada Dara. Jadi selama ini dia di anggap apa oleh Alex Felton?
Saat semua ia korbankan. Ia rela menjadi kelinci percobaan untuk penyakit penyimpangan seksual Alex. Lalu bagaimana bisa kata-kata itu keluar begitu saja?
"Bukankah aku benar kekasihmu?" bibir Dara menjawab bergetar. Kala dua tetas air mata meleleh di pipi Dara.
Cukup! Dara tak ingin mendengar lebih dari ini. Secara tidak langsung Alex berkata ia hanya di jadikan alat. Tessa dan beberapa wanita di sana tertawa pelan dengan pandangan merendahkan Dara. Niko menyentuh bahu Dara. Tubuh Dara bergetar hebat.
"Lihatlah! Gadis jelek itu mempermalukan dirinya!"
"Aku merasa tidak pernah melihat gadis itu selama masa kuliah?"
"Siapa dia?"
"Apakah dia di buang Alex?"
"Bodoh sekali gadis itu!"
"Hahahah! Kalau aku jadi dia, aku sudah pasti akan bunuh diri!"
Orang-orang mulai berbisik-bisik lirih dengan tawa cemooh. Jenni terkekeh kecil dengan wajah penuh kebahagiaan. Ke dua manik mata madu yang basah itu menatap Alex dengan pandangan penuh kebencian.
Ia membalikkan tubuhnya. Melangkah meninggalkan tempat di ekori oleh Niko. Pria itu sempat melirik ke belakang. Menatap Alex sebelum beralih pada Jenni yang terlihat mengedip sebelah matanya pada Niko. Alex Felton, menatap punggung Dara dengan pandangan tak terbaca. Gadis itu tampak berlari menuju pintu keluar.
...***...
"Kau yakin akan di sini?" tanya Niko pelan. Niko melirik rumah di belakang tubuh Dara.
Kepala Dara mengangguk cepat. Ke dua matanya terlihat sangat bengkak. Ke dua lubang hidungnya tampak memerah. Niko menatap khawatir Dara. Gadis culun itu tampak sangat kacau. Ia bahkan menangis berjam-jam sebelum meminta di antarkan di rumah Sofia.
"Ya. Kau pulanglah!" ujar Dara dengan nada serak.
Niko menghela napas."Aku antar sampai kau masuk ke dalam rumah."
Dara mengangguk kecil. Ia terlalu malas membantah. Keduanya melangkah mendekati rumah Sofia. Dahi Dara berlipat kala melihat pintu rumah Sofia terbuka. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tidak mungkin wanita paruh baya itu membuka pintu rumah nya. Dan membiarkannya terbuka. Langkah kaki pendek itu di percepat.
Niko ikut mempercepat langkah kakinya. Dara mendorong kasar pintu.
"Sofia!!" teriak Dara dengan keras.
Ke dua mata Niko membulat sempurna kala melihat rumah Sofia berantakan. Dara berlari secepat yang ia bisa kala melihat tubuh tua itu tengkurap dengan lantai penuh dengan darah.
"Sofia!!!!!" Dara terpekik keras kala membalikkan tubuh wanita yang telah sangat pucat itu.
Di perutnya terlihat pisau yang tertancap hingga tembus ke belakang. Kelopak mata lemah itu terbuka perlahan. Gadis culun itu memangku tubuh Sofia. Niko dengan cepat merogoh saku celananya. Menelpon ambulans sebelum menghubungi polisi.
"So——sofia!! Hiks...hiks.." Dara kembali menangis. Wajah Sofia tampak babak belur. Dapat di pastikan Sofia melakukan perlawanan sebelum di tikam.
"Ha..ha..Dar...ra...jauh...ah...Al——alex...ah!!!!"
Kepala Dara menggeleng. Air mata yang sempat kering kembali mengalir deras. Kepalanya menggeleng cepat Isak tangisnya mengeras kala kelopak mata itu tertutup sempurna. Ke dua mata terpejam dengan jantung yang berhenti berdetak.
"TIDAK! SOFIA!!!!!!!"
Dara berteriak keras. Memeluk tubuh dingin itu. Niko tercekat melihat bagaimana Dara menangis keras. Sambungan telpon di abaikkan. Sebelum ia memeluk tubuh Dara yang semakin bergetar hebat.
.
.
.
🤣🤣 Cerita nya emang sangat pedih untuk di baca. Tapi percayalah, hidup lebih tidak mudah dari sebuah cerita. Dan percayalah ada pelangi setelah hujan☺️ Beberapa bab menjelang end selalu membuat berdebar.
.