Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 6.MASIH MERAGUKAN DAN CURIGA


Bola mata coklat bening itu bergerak liar menghindari tatapan mata penuh amarah yang menggelora. Pemandangan di atas ranjang king size itu benar-benar membuat bibir tak berhenti di tarik ke atas. Bagaimana tidak? Selimut tebal itu di ikat ujung ke atas.


Wajah pria tampan itu tampak memerah. Dokter baru selesai memberikan penanganan untuk Mark. Milik pria itu membengkak besar karena di capit kepiting. Yang tidak tau datang nya dari mana. Penjaga rumah kecil tempat Mark mandi mengakui jika di tempat mereka memang beberapa kali di datangi oleh kepiting. Sayangnya, Mark Felton tidak mudah percaya dengan pengakuan itu. Pria itu yakin jika kepiting yang masuk ke celana dalam nya adalah ulah gadis culun yang berdiri di samping Alex saat ini.


Mark menatap Dara penuh rasa dendam. Apa lagi di bawah sana terasa berdenyut-denyut. Ugh! Benar-benar sakit.


"Istirahatlah. Nanti Tom akan membawakan salep dan kebutuhanmu yang lainnya," suara Alex terdengar mengisi nada yang sempat kosong.


Mark hanya menghela napas. Sudah berapa kali ia menuding Dara akan insiden yang menimpanya. Sayangnya, Alex tidak mempercayai Mark tanpa bukti. Mengingat pantai tempat adik manjanya ini snorkeling memang sangat banyak kepiting yang naik di daratan.


Dara cukup beruntung. Dengan otak cerdasnya, ia terhindar dari tuduhan Mark. Yang sesungguhnya adalah fakta.


"Ya," jawab Mark dengan nada malas.


Dara tersenyum tipis. Melihat lawan nya K.O karena balasan yang ia berikan.


"Kau tidak keluar?" Alex menatap Dara dengan pandangan dingin milik nya.


"Ah?" Dara tersentak,"ya, aku keluar!" jawabnya cepat.


Dara melangkah mengikuti Alex dari belakang. Sebelum menoleh kepala sedikit pada Mark di ranjang. Senyum lima jari terukir di bibir Dara. Mark membalas Dara dengan jari tengahnya. Mau marah pun percuma. Karena adik kecil nya yang menggembung membuat nya tertahan.


...***...


Emma mengawasi gerak geriknya Dara. Gadis berkaca mata itu terlihat begitu ahli memotong daun seledri, daun bawang dan wortel. Emma tidak menyangka jika gadis Indonesia ini memiliki kemampuan memasak yang begitu ahli. Asap di panci mulai mengepul ke atas. Membawa aroma sup berterbangan di dapur.


"Mau coba?" tawar Dara kala melirik Emma yang terlihat penasaran dengan masakannya.


"Ya!" Kepala Emma mengangguk.


Wanita cantik itu turun dari minibar. Melangkah mendekat ke arah Dara. Dengan cekatan Dara meraih mangkok kecil. Memasukan sup kepiting ke dalam mangkok. Berserta sendok sebelum menyodorkan nya pada Emma.


Emma menerima nya dan kembali melangkah ke tempat duduk nya. Api kompor di matikan. Senyum menakutkan mengembang di pipi Dara. Oh, sungguh demi Tuhan. Gadis ini benar-benar gadis pendendam. Bayangkan saja, jelas-jelas Mark Felton sudah sangat tersiksa karena denyutan pada adik kecilnya. Ia malah berencana membuat Mark kesal dengan memasak kan pria itu sup kepiting.


Sudah pasti Dara Margaretha tau, jika Mark pasti phobia pada binatang bercapit itu. Tapi tetap memaksakan nya. Dara bergerak meraih mangkok satu lagi. Mengisi mangkok dengan dua kepiting yang memerah. Sebelum meraih sendok.


"Wah! Rasanya benar-benar segar dan lezat. Kepiting nya tidak berbau anyir!" puji Emma keheranan.


Dara membalik tubuh nya. Gadis itu tersenyum."Tentu saja, rempah-rempah negaraku adalah rempah-rempah terbaik di dunia ini." Dara berbangga diri.


Negaranya yang kaya akan rempah-rempah membuat banyak negara iri. Jika saja bukan karena kekayaan rempah-rempah Indonesia. Mungkin negara Belanda dan Jepang tidak akan memutuskan menjajah negaranya.


Kepala Emma mengangguk kagum. Wanita cantik itu kembali memasukan kuah sup ke dalam mulutnya. Dara kembali mengisi mangkok ke dua untuk si Mafia gila itu. Yeah, hitung-hitung sebagai bujukan. Makan dan tinggal di sini. Siapa tau nanti Alex beralih hati. Meskipun dia gagal membuat seorang Alex Felton jatuh cinta. Setidaknya, jadi koki di kediaman Mafia Dragon tidak lah buruk, bukan?


"Itu mau di bawa kemana?" suara Emma kembali terdengar kala membawa nampan berisikan dua mangkok sup kepiting.


"Ke tempat Bos Alex satu dan satu untuk Mark," jawab Dara dengan senyum mengembang.


Dahi Emma berkerut."Kalau untuk Bos Alex, mungkin bisa di maklumi. Tapi kali untuk Mark, dia bakal memecahkan mangkok nya. Tom bilang, Mark memerintahkan membeli semua kepiting dan membakar nya hidup-hidup. Sebagai bentuk pembalasan," ucap Emma dengan nada lucu. Wanita itu terkekeh kecil karena mengingat perkataan Tom.


Pria berkulit hitam itu di susahkan oleh si manja. Dara hanya mengulas senyum sok polos.


"Hehe...sup kepiting ini bisa juga untuk kesembuhan. Di Indonesia sup kepiting ini berguna untuk mempercepat pemulihan luka," dusta nya.


Emma hanya mengangguk kecil. Sebelum kembali menikmati sup nya. Dara melangkah meninggalkan Emma. Tidak ada yang tau gadis culun ini mengambil dua puluh ekor kepiting yang di bawa oleh Tom. Gadis ini merasa sayang melihat kepiting yang lezat itu di bakar percuma tanpa bumbu. Lebih enak di buat sup, selain mengenyangkan. Ia bisa membuat Mark jengkel. Anggap saja menyelam sambil minum air.


Dara melangkah dengan girang menuju kamar Mark. Ternyata melakukan aksi balas dendam juga menyenangkan. Membuat diri terasa lebih bersemangat.


...***...


Dara mengusap perutnya yang terasa keram karena terlalu banyak tertawa. Seperti yang dia duga, Mark mengamuk membuang mangkok hingga pecah. Di luar pintu terdengar pria itu mengomel Tom.


"Kau mau aku memakan kepiting yang mencapit adik kecil kebangganku, huh!" suara Mark kembali terdengar.


"Itu..."


"Aku perintahkan kau membunuhnya bukan membuat sup kepiting!!!!"


Kembali suara Mark menggelegar sampai keluar kamar.


Dara kembali melangkah meninggalkan pintu kamar Mark. Sudah cukup puas mendengar erangan kesal dan luapan ke marahan dari seorang Mark Felton. Sekarang saatnya Dara menghadapi kakak pria itu.


Tok!


Tok!


Tok!


Tiga ketukan di layangkan oleh tangan Dara ke daun pintu.


"Masuk!" suara Alex terdengar cukup keras dari dalam.


Klik!


Kreat!


Pintu ruangan kerja Alex terbuka. Dara memasang wajah polosnya. Tersenyum pada Alex. Sayangnya pria berwajah dingin itu sama sekali tidak mengulas senyum. Wajahnya masih tampak datar. Diam-diam Dara menyumpahi pria tampan yang jarang tersenyum itu di sela langkah kakinya.


Manik mata hijau itu memperhatikan apa yang tengah di lakukan oleh Dara. Gadis itu meletakan nampan di atas meja. Dahi putih Alex mengerut melihat sup kepiting.


"Tom membawa terlalu banyak kepiting pulang. Aku minta beberapa ekor untuk di buatkan sup. Aku pikir, Bos akan menyukainya," seru Dara membuka pembicaraan.


Wajah nya terlihat penuh manipulasi. Lidahnya bergerak lincah untuk membuat sebuah alasan. Alex tidak menjawab, pria itu masih mengamati sup sebelum manik mata elang itu berpindah ke wajah Dara, si gadis culun.


"Tidak ada racun, kok!" ucap Dara lagi kala melihat ekspresi aneh Alex.


Helaan napas terdengar. Tepukan di ke dua pahanya membuat Dara mengulas senyum cengo.


"Duduk dan suapi aku!" Titahnya sembari memberikan kode pada Dara.


"Oh, iya!" jawabnya penuh keterpaksaan.


Gadis itu melangkah mendekati kursi Alex.


"Kalau aku duduk di sana akan sulit menyuapimu, Bos. Aku duduk di sini saja, ya!" Ujar Dara menunjuk meja kerja pria ini.


Alex melirik meja yang di tunjuk Dara. Sebelum mengangguk kecil. Ia pikir harus melihat sampai mana gadis ini mampu bertahan. Siapa yang percaya dengan alasan bodoh Dara!


Jatuh cinta pada pria yang di temukan menggagahi seorang gadis yang telah mati? Yang benar saja. Alex Felton bukan lah pria bodoh.


Sendok berisi sup dan daging kepiting di sodorkan di bibir nya. Alex membuka mulutnya. Dara tersenyum.


...Hap!...


...Prang!...


...Cups!...


Kejadian terjadi begitu cepat membuat Dara terkejut dengan apa yang terjadi. Tarikan Alex yang kasar membuat mangkok terjun bebas dan pecah. Dara terduduk di pangkuan Alex. Pria itu menciumnya, ah bukan. Lebih tepatnya pria itu menyalurkan makan yang di suapi oleh Dara ke mulut Dara. Gadis itu meronta-ronta karena perbuatan Alex padanya.


...Huk!...


Dara terbatuk-batuk kala ciuman penuh paksaan itu terlepas. Makan tertelan. Ke dua matanya memerah dan basah.


...Bruk!...


Tubuh Dara di dorong dari pangkuan nya. Untung saja pecahan kaca yang berserakan di bawah lantai tidak mengenai tubuh nya. Alex turun dari kursinya, tangannya mengapit keras ke dua sisi rahang Dara.


"Kau! Jangan terlalu merasa puas dengan apa yang kau dapatkan saat ini. Kesempatan yang kau milik hanya sekali, gadis Asia! Aku bukan pria lunak dan bodoh, jadi cobalah bergerak lebih ahli lagi," bisiknya di daun telinga Dara,"jika tidak kau akan hancur di tanganku!" lanjut nya.


Jantung Dara bertalu-talu. Dara bukan gadis bodoh. Ia tau maksud dari perkataan Alex. Pria ini masih menaruh ketidak percayaan kepadanya. Kepala Dara mengangguk cepat. Sebelum rahangnya di lepaskan dengan kasar.


Alex berdiri dan melangkah menuju pintu keluar tanpa kata. Tubuh Dara bergetar hebat. Setangguh apapun dirinya, ia tetaplah seorang gadis yang memiliki banyak kelemahan. Air matanya mengalir deras. Telapak tangannya bergetar menyeka ke dua pipi nya yang basah.


"Aku harus cari jalan dan rencana lain, agar bisa lepas dari mereka. Dasar Mafia gila!" ujar Dara dengan suara seraknya.