Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 41. PERASAAN ALAN


"Tessa?" seru Alan terdengar tersendat di kerongkongan nya.


Tessa masuk ke dalam. Tak lupa ia mengulas senyum pada Alan. Ke dua kaki jenjang itu tak berhenti melangkah mendekati Alan dan Jenni yang duduk saling berhadapan. Jenni tersenyum ke arah Tessa yang semakin mendekati mereka.


"Bukankah ini sebuah kejutan untukmu?" ucap Jenni lagi terdengar samar di pendengaran Alan Lewis.


Mata hijau tajam itu melirik pergerakan Tessa yang kini telah berpindah duduk di samping Jenni.


"Apa kabar, Alan?" sapa Tessa dengan senyum manis.


Pria gagah itu ikut mengulas senyum lembut pada Tessa. Gadis berambut pirang sudah sangat lama tidak pernah tampak di depan matanya.


"Baik, seperti yang kau lihat. Bagaimana dengan dirimu sendiri? Kenapa tidak pernah datang ke Texas?" tanya Alan kembali.


Tessa mengangkat ke dua sisi bahunya ke atas. Pertanda ia sendiri pun tidak mengerti dengan hal itu.


"Entahlah," balas Tessa terdengar sangat menyejukkan di telinga Alan.


Jenni Brown melirik Alan Lewis dan Tessa berganti-gantian. Senyum tercetak di bibir merah merekah itu. Sebelum ia menyadarkan punggung belakang nya di kursi. Jenni dapat menangkap dengan jelas bagaimana cara Alan menatap Tessa. Sudah cukup lama, sangat lama.


Jenni merasakan bagaimana perasaan Alan pada gadis di sampingnya ini. Sayangnya, saat itu hubungan Tessa dan Alex masih sangat harmonis. Mereka saling mencintai. Alan hanya mampu memendam perasaan nya pada Tessa.


"Kapan kau datang kembali ke sini?" tanya Alan terlihat antusias.


"Sudah satu Minggu kurang lebih. Ini semua berkat Jenni. Dia meyakinkan aku untuk kembali ke Texas. Meminta bantuanku untuk membalaskan dendam kematian Zain pada Alex," jawab Tessa jujur.


Senyum yang sempat melekat di bibir Alan begitu saja memudar mendengar perkataan Tessa. Bagaimana bisa wanita itu berkata ia datang hanya untuk balas dendam pada Alex. Alan tidak akan pernah membiarkan wanita yang ia cintai dalam diam ini kembali masuk ke dalam hidup Alex. Saat itu ia mengalah dari Alex karena pria itu adalah sahabat Zain, adik kandung nya.


Alan tidak ingin merusak hubungan persahabatan adiknya. Hingga ia mengalah. Tidak ingin bersaing dengan Alex. Sekarang berbeda, Zain dan Alex tidak memiliki hubungan apa-apa saat ini. Bahkan hubungan Zain dan Alex tidak akan pernah seperti dulu lagi.


"Aku tidak setuju!" tukas Alan cepat.


Ke dua wanita di depan pria gagah bermata hijau kelam ini menatap Alan dengan pandangan tidak mengerti.


"Kenapa?"


"Apa alasannya?"


Dua seruan serentak dalam waktu yang sama terlontar dari ke dua wanita cantik itu.


"Kita sama-sama tau Alex bukan orang bodoh. Bagaimana jika dia mencium rencana kita. Tessa akan dalam bahaya," ujar Alan dengan nada khawatir.


"Tenang saja Alan. Aku akan baik-baik saja kok, aku sudah sangat lama berpacaran dengan nya. Tentunya aku tau dia lebih baik dari pada siapapun," jawab Tessa cepat.


"Benar. Tessa yang bisa melakukan hal seperti ini Alan. Jika Tessa dalam bahaya aku akan dengan cepat bergerak. Di sini ada kamu dan aku. Kita akan mengeluarkan Tessa dari cengkraman Alex." Jenni ikut menimpali.


"Tapi..."


"Jangan khawatir. Semua nya akan berjalan baik-baik saja, Alan!" ujar Tessa turut meyakinkan.


Alan menghela napas pelan. Sebelum mengangguk pelan.


"Jika kamu merasa perubahan kecil dari Alex cepat keluar dari sana," ujar Alan pelan.


Kepala Tessa mengangguk kecil. Jenni tersenyum tipis. Setidaknya setelah balas dendam ini terlaksana maka, ia akan menjalankan hidup barunya tanpa beban. Tidak ada yang menyadari jika semua nya berawal dari wanita itu. Wanita yang akan menjadi pedang bermata dua. Bisa menyakiti Alex atau malah akan menyakiti mereka. Karena semuanya tidak seperti yang Alan dan Jenni tau.


...***...


"Apa apa dengan wajahmu itu," tegur Alex tanpa melirik wajah Mark di samping tubuh nya.


"Tidak ada," jawab si manja dengan nada ketus.


"Kau marah karena tidak di bawa ke lantai?" Dara mengeluarkan suara pada akhirnya.


Wajah yang di tekuk itu terangkat. Menatap wajah manis Dara yang duduk di depan nya.


"Tidak!" sahut Mark terdengar sangat ketus.


"Ah...benar begitu ternyata," balas Dara.


"Aku bilang tidak. Ya, tidak!" ketus Mark.


Alex menghentikan kegiatan nya memotong daging steak milik nya.


"Mau pergi besok?" tawar Alex.


Kontan saja wajah masam itu berubah ceria. Bak anak kecil yang di bujuk dengan permen lollipop.


"Benarkah??" tanya dengan nada heboh.


Alex melirik wajah adik tersayang sekilas sebelum mengangguk pelan.


"Kalau begitu kalian berdua selamat bersenang-senang di pantai besok," ucap Dara.


"Eh???" Mark menoleh ke depan dengan cepat."Kamu nggak ikut?" tanyanya.


Kepala Dara mengeleng kecil."Ad kelas besok."


"Nggak menyenangkan kalau hanya pergi dengan Alex. Dia akan menjadi pohon bakau saat pergi ke pantai bersamaku. Aku nggak mau hanya pergi berdua dengan Alex!!!" Mark merengek dengan nada lucu.


Dara terkekeh kecil mendengar perkataan Mark. Tidak ada yang salah dengan perkataan Mark. Alex memang begitu. Jika ia tidak memulai dahulu, maka Alex akan memilih diam dan menikmati angin pantai.


"Kau mau aku juga ikut?" tanya Dara.


"Iya!" Jawab Mark dengan kepalanya mengangguk antusias.


Dara mengerutkan dahinya seolah-olah tengah berpikir keras.


"Lewatkan saja kuliah besok Dara. Hanya satu hari saja, Hem?" bujuk Mark. Tak lupa ia mengeluarkan ekspresi wajah memelas pada Dara.


Dara diam-diam mengulas senyum geli melihat ekspresi Mark. Sebenarnya pria yang duduk di depannya ini adalah orang yang kesepian. Haus akan kasih sayang dari orang-orang terdekat nya. Apa lagi ke dua orang tuanya telah tiada saat ia kecil. Karena itulah ia memiliki sifat manja dan semena-mena. Sedangkan Alex Felton. Pria ini menjadi pribadi yang keras dan kejam untuk melindungi Mark.


Diam-diam hati Dara terenyuh melihat ke dua kakak beradik Felton ini. Ah, ia benar-benar gadis yang mudah merasakan perasaan simpati pada banyak orang.


"Oke!" jawab Dara.


"Hore!!!!!" Mark berteriak keras seperti anak kecil berusia lima tahun.


Manik mata tajam itu melirik sang adik. Wajah cerah Mark Felton adalah kebahagiaan secara tak langsung yang Alex rasakan. Ia tersenyum tipis melihat ekspresi Mark.


...***...


Dara melangkah pelan menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai dasar. Ke dua matanya terlihat terkatup meskipun tak dapat. Kerongkongan nya terasa kering. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ke dua kelopak matanya terbuka perlahan saat sampai di mini bar.


"Dimana air putihnya?" seru Dara pelan.


Kepalanya mengedar. Sebelum terbentur dengan kaca besar yang tak lagi bening.


...Aaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!...


Dara berteriak keras membangunkan seluruh penghuni rumah yang tertidur. Tubuh gadis culun itu bergetar hebat. Ke dua tungkai kakinya melemah melihat apa yang ada di sana.