Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 13. PERASAAN YANG TELAH ADA


"Kenapa kau melihat dia sebegitu nya?" tanya Mark ikut melirik gadis dengan tubuh montok di depan Alex.


Dara menoleh ke samping. Dimana Mark malah ikut mengintip dengan nya.


"Kenapa kau ikut-ikutan ngintip, sih?"


Mark membawa atensi nya kembali ke arah Dara. Dahinya berlipat, sebelum senyum mesum terlihat.


"Haruskah aku ke sana?" bukan menjawab Mark malah ikut bertanya.


Bola mata Dara berotasi malas. Kembali ia menatap ke depan. Bibirnya terbuka melihat wanita dengan nada besar itu menempel kan tubuh nya pada Alex. Seolah-olah tengah menggoda Bos Mafia Dragon itu. Dara diam-diam mendengus jengkel melihat nya.


"Cih! Dada wewegombell aja bangga," sinis nya. Sebelum menatap dadanya yang terlihat rata.


"Wewegombell? Apa itu?" tanya Mark penasaran.


"Setan khas Indonesia," jawab Dara jujur.


"Wah! Berarti setan Indonesia cantik dong ya. Kalau kayak dia!" Ujar Mark menunjuk wanita dengan bibir merah tebal itu.


Dara kembali berdecak kesal."Ya, cantik. Kalau di lihat dari belakang. Kecuali kuyang!"


"Kuyang? Siapa lagi itu?" Mark kembali bertanya dengan wajah lucu.


"Hantu Indonesia yang suka sama pria yang badan gede otak bayi!" cibir Dara cepat.


"Hah? Aku tidak begitu. Badanku besar otakku juga besar!" tukas Mark tidak terima.


Dara melirik Mark dari atas sampai bawah. Sebelum menggeleng pelan.


"Kalau otakmu besar kepalamu itu bakal besar juga, dasar bodoh!" cemooh Dara.


Mark mendelik kesal."Wah! Kau dada jeruk Mandarin. Benar-benar mengesalkan!" Mark menghentak kan ke dua kakinya ke lantai.


Kontan saja Dara mendelik. Menatap kesal Mark. Pria ini selalu saja memanggilnya dengan nama itu kalau sudah kesal.


"Sudah aku bilang berapa kali. Jangan ungkit-ungkit itu!"


"Kau sendiri kan yang duluan meledek aku!"


"Hei! Kau itu mengesalkan. Kalau kau baik aku juga akan baik padamu!"


"Dari mana datangnya aku mengesalkan, huh!"


"Cih! Dasar kekanak-kanakan!" Dara menoleh kembali ke depan.


Erangan tertahankan di kerongkongan nya terdengar samar. Dara jadi kehilangan jejak Alex dan wanita bibir yang di sengat tawon itu. Mark yang merasa di abaikan semakin kesal.


"Kau suka dengan Alex?" tanya dengan nada penasaran.


"Eh?"


"Benarkan kau suka dengan Alex?" kembali ia bersuara.


"Husstt!!" Dara menempelkan jari telunjuk nya di bibir nya."Anak kecil tidak boleh tau urusan orang dewasa," sambungnya dengan wajah mengesalkan di mata Mark.


"Hah! Padahal aku mau membantumu mendapatkan Alex. Tapi karena kau semenyebalkan ini, aku nggak jadi deh bantuin kamu." Mark cemberut.


Wajah Dara berubah dalam seperkian detik. Wajah yang tadinya menatap Mark dengan pandangan kesal. Berubah menjadi pandangan penuh keramahtamahan. Senyum lima jari di umbar, hingga memperlihatkan deretan gigi putih rapi milik nya.


"Jangan gitu dong. Kemarin katanya kita teman," bujuk Dara dengan nada semanis mungkin.


Mark mempoutkan bibir nya dengan wajah kesal. Dia membalik kan tubuh nya membelakangi tubuh Dara. Pria tampan ini cukup kesal dengan Dara. Teman nya ini selalu bikin dirinya kesal.


"Hei! Mau kemana?" Dara setengah berlari mengejar Mark yang melangkah meninggalkan dirinya.


"Aku merajuk!"


"Jangan merajuk dong. Aku tidak punya uang untuk membujukmu. Katanya kan kita teman, sesama teman baik tidak boleh marahan, loh."


Gadis culun ini benar-benar gadis yang mampu membujuk orang. Buktinya pria itu berhenti melangkah. Hampir saja dahi Dara menghantam punggung belakang Mark yang berhenti mendadak. Bibir tipis Dara menyumpah pelan pria gila ini. Mark membalikkan tubuhnya dengan cepat. Dara mengulas senyum lebar.


"Aku punya uang. Di dompet ini ada banyak kartu ATM. Kamu mau satu?" Mark dengan bodoh nya mengeluarkan dompet kulit dari saku celana jinsnya.


Memperlihatkan deretan kartu ATM tanpa limit. Oho! Ke dua mata Dara berbinar-binar. Orang kaya memang berbeda. Di dalam dompet tidak ada satuperserpun uang. Namun ada banyak kartu yang cukup di gesek mampu membeli banyak barang-barang bermerek.


"Itu semua bisa di gesek?" tanya Dara dengan wajah menyeramkan.


Dengan polosnya Mark mengangguk antusias. Pantas saja Mark Felton tidak punya banyak teman. Alex pasti khawatir dengan adik nya satu ini. Karena terlalu polos dan mudah di bujuk.


"Tentu saja. Kau bisa pilih yang mana saja untukmu. Karena kita teman, uangku juga uangmu!" Mark menjawab dengan nada penuh semangat.


"Lalu uangku juga uangmu?" Dara balik bertanya.


Kepala Mark menggeleng kecil."Tidak. Uangmu tentu saja bukan milikku."


"Hah? Sebenarnya siapa yang mengajarkanmu berteman seperti itu?" Dara bertanya dengan wajah benar-benar penasaran.


Dara menggeleng kecil."Kau jika seperti ini. Tentu saja mudah di manfaatkan oleh orang-orang. Aku memang mata duitan, sih. Cuma saja aku tidak suka memanfaatkan uang orang lain. Hampir saja aku khilaf melihat kartu ATMmu. Tutup lagi dompetmu. Kita bikin es krim sendiri saja. Aku tidak punya uang, itu memang benar. Tapi di rumah yang seperti istana ini semuanya ada. Jadi tinggal masak kalau kau mau makan. Cukup sampai di saja saja kesenangan nya," ujar Dara pelan.


Mark mengerutkan dahinya."Kau tidak ingin punyaku ini?" Mark kembali bertanya menggoyang kan dompet nya.


"Tidak. Tutup kembali dan masukan ke sakumu. Ayo, masuk. Aku masakan makanan untuk menyuapmu!" balasnya.


Dara melangkah meninggalkan Mark. Mark tersenyum. Ia memasukkan kembali dompet nya. Sebelum setengah berlari mendekati Dara.


...***...


"Pasang kuda-kuda kakimu lebih kuat lagi!" perintah Alex.


Dara langsung memasang kuda-kuda kakinya. Wajahnya tampak bersemangat.


"Siap?" tanya Alex.


"Ya!" Dara mengangguk kan kepalanya dengan kuat.


"Serang!" titah nya.


Dara melangkah cepat. Dengan gerakan mencoba menyerang Alex dengan pedang kayu di tangannya.


Hyat!


Prak!


Pedang kayu itu berbenturan. Dara menyerang dengan sekuat tenaga. Mencoba terus menyerang. Alex bertahan dari serangan. Bos Mafia itu terlihat seakan tengah bermain-main pertarungan dengan anak-anak. Kekuatan yang Dara keluarkan tidak sebanding dengan tenaganya.


Prak!


Kembali pedang Dara menghantam pedang Alex. Pria itu beberapa kali maju untuk bertahan. Dara bergerak menendang kaki Alex. Sayangnya pergerakan kaki Dara dapat di baca dengan mudah. Hingga serangan Alex melayang.


Krek!


Pedang kayu di tangannya patah. Dara mundur beberapa langkah. Kaca mata di Dara merosot. Hembusan napas Dara memburu, senyum miring di wajah Alex terlihat begitu memukau. Dara di sela hembusan napas yang memburu itu menatap lama wajah Alex.


"Kau masih harus banyak latihan. Jika ingin tetap berada di sisiku. Kau harus menjadi perempuan yang tangguh. Dragon memiliki banyak musuh dan aku tidak ingin di repot kan oleh satu orang pun. Jika kau dalam bahaya," ujar Alex dengan nada serak.


"Tenang saja Bos! Aku bukanlah wanita yang lemah. Walaupun aku lemah sekali pun, aku memiliki kelebihan. Aku adalah wanita yang gigih, tidak akan berhenti sebelum aku berhasil melakukan apa yang bagiku sulit untuk aku lakukan!" balas Dara dengan kepercayaan diri yang kuat.


Alex mengulas senyum."Ya, harus nya begitu. Karena dengan begitu aku merasa keputusan mempertahankanmu di sisiku adalah keputusan yang benar."


Dara hanya mengulas senyum. Kepalanya mengangguk pelan.


"Kita bisa melakukan nya lagi besok. Sekarang beristirahatlah!"


Alex melangkah meninggalkan area latihan. Dara masih menatap punggung belakang Alex dengan pandangan tak biasa. Sebenarnya seberapa keras kehidupan yang di jalankan oleh Alex. Hingga pria itu benar-benar terlihat tampak tak tersentuh.


...***...


Kreat!


Pintu di buka perlahan. Dara mengedarkan pandangannya menatap kamar Alex. Kepala di selipkan di sela pintu yang di buka. Senyum lebar itu tercetak jelas. Kala ia dapat melihat Alex tertidur di atas ranjang. Bibirnya di gigit pelan, ia masuk dengan perlahan. Tidak lupa mengunci pintu dari dalam. Dara Margaretha, hanya ingin menatap Alex yang tengah tertidur.


Ke dua kaki nya melangkah mendekati ranjang. Bergerak sangat pelan duduk di bibir ranjang. Wajah Alex yang tertidur terlihat sangat damai.


"Dia terlihat sangat tampan dan polos kalau lagi tidur ternyata," monolog Dara dengan nada suara nyaris berbisik.


Kecamatan tebal itu merosot kala dia menundukkan kepala nya. Jari tangan Dara membenahi kaca tebal itu. Alis mata hitam tebal yang tersusun rapi. Alis mata lentik tebal itu menambah ketampanan wajah Alex Felton.


Jari lentik itu bergerak menyentuh hidung mancung Alex. Menyusuri garis hidung yang tinggi. Sebelum mendarat ke alis mata kanan yang berjejer rapi.


"Andaikan wajah ini lebih sering tersenyum. Aku yakin ada banyak orang yang akan terpesona." Dara masih mengusap alis mata Alex.


Gadis culun itu tersenyum geli kala ke dua manik mata madunya menatap bibir merah seksi Alex. Kepala nya menggeleng pelan. Ia seperti gadis mesum saja. Dara menghela napas pendek dan berdiri. Ada baiknya ia keluar dari kamar Alex. Sebelum pria ini terbangun karena ulahnya.


HAP!


Bruk!


"Akh!" Dara syok.


Tarikan tangan Alex menjatuhkan nya pada tubuh kekar Alex. Ke dua matanya membuat sempurna saat ke dua kelopak mata Alex terbuka. Memperlihatkan ke dua manik mata hijau elang itu.


"Setelah menyentuhku. Kau mau pergi begitu saja, huh!" Alex berseru dengan nada serak.


Hembusan napas Alex menerpa wajah Dara. Gadis itu berdebar keras. Ke dua tangan Alex memeluk erat pinggang nya. Dadanya dan dada keras Alex menempel tanpa jarak.


"I——itu..."


Cups!


Mata sipit itu semakin melebar kala kecupan dari bibir tebal kering Alex menyentuh bibir pink basah miliknya. Gila! Wajah Dara memerah hingga menjalar di telinga.


"Kau mau tidur denganku?" ucap Alex dengan nada seduktif.