Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 9. PERDEBATAN MARK DAN DARA TERULANG KEMBALI


"Tumben kalian terlihat akrab?" Emma memicingkan ke dua matanya menatap ke dua nya yang tengah asik bermain ular tangga di lantai.


Kontan saja Dara dan Mark menoleh ke arah Emma. Dara hanya mengangkat ke dua sisi bahunya ke atas.


"Katanya dia ajak genjatan senjata," balas Dara.


"Wah! Ada acara begituan?" kagum Emma melirik si manja.


Mark yang merasa di tetap pun mengulas senyum tipis.


"Dia terlihat kasihan sih, kayak anak kelinci kecebur got," ucap Mark seenak jidat nya.


Dara melotot."Hei! Ngajak perang lagi, huh!" teriak Dara kesal.


Mark mengangkat ke dua tangan nya ke atas pertanda menyerah. Ia terkekeh pelan. Sebelum mengalungkan tangannya di bahu Dara.


"Aku mau jadikan dia bast friend pertamaku!" Ucap Mark dengan mengeratkan rangkulannya di leher Dara. Sembari tersenyum lima jari.


"Eh?" Emma tercengang,"teman terbaik saja? Bukanya girl friend mungkin!" sambungnya menggoda ke duanya.


Dara dan Mark saling menoleh. Gadis berkacamata itu tampak menatap lama wajah Mark. Begitu pula dengan Mark. Sebelum ke duanya melepaskan diri masing-masing dengan tubuh bergindik ngeri.


"Itu tidak mungkin!" tukas Dara dengan nada meremehkan.


"Benar, kita ini lebih cocok menjadi teman terbaik saja. Tidak seru menjadikan dia sebagai pacar. Lihatlah! Dadanya rata! Pantat belakang nya teposs... Kayak jalan aspal!" Ledek Mark dengan menunjuk satu persatu yang di ejek.


Emma menatap dengan kepala mengangguk pelan."Iya, sih ya!" jawabnya menyetujui perkataan Mark.


Bug!


"Akh! Sakit!" Kesal Mark membuang kesal bantal sofa yang di timpuk ke mukanya.


Wajah Dara memerah."Hei! Dada siapa yang kau bilang datar? Bokong siapa yang tepos?" kesal Dara.


"Lah! Bener kan?" tukas Mark dengan wajah mengesalkan di mata Dara.


Pandangan mesum itu lagi. Ah! Benar-benar tidak bisa menegang janji Mark Felton. Pria ini katanya tadi malam mau genjatan senjata. Tapi ini apa? Malah perkataan nya ngajak perang.


"Ini itu tidak rata! Gak lihat ini ada sisinya!" Tunjuk Dara pada dadanya.


Senyum mesum itu terbit di wajah Mark."Hem...aku tidak yakin ada isinya. Sebelum di pegang dengan tangan mana tau itu cuma cangkang saja yang gede. Isi kosong!" goda Mark.


Tawa Emma mengelegar. Wanita cantik itu tak bisa untuk menahan tawa jika Mark dan Dara sudah adu argumentasi. Seperti pagi hari ini. Jika mereka sedang syuting film saat ini. Sudah pasti ada asap di atas kepala Dara. Gadis culun itu mengerang kesal.


"Kau benar-benar mesum!" geram Dara.


"Hei! Hei! Jangan marah dulu Dara. Aku tidak mesum, otak lelaki memang di program seperti ini. Kami tidak pernah jauh-jauh dari yang begituan. Kalaupun ada itu tanda tak normal," balas Mark dengan senyum iblis yang semakin mengembang.


Wah! Dara tidak bisa tinggal diam, tidak ada yang boleh merendahkan dirinya. Yeah, walaupun miliknya tidak sebesar milik wanita Eropa. Ia berdiri cepat berkacak pinggang.


"Hei! Milik gadis Asia memang rata-rata seperti itu. Tidak besar dan tidak kecil. Dan punyaku sudah termasuk ukuran pas tau!" bantahnya menggebu-gebu,"dari pada burungmu itu. Kalau di ibaratkan burung Eropa itu burung elang. Kau itu burung puyuh!" ledeknya.


Burung puyuh? Burung kecil itu??? TIDAK.


Mark ikut berdiri. Menatap kesal ke arah Dara. Emma menjadi penonton setia yang telah terbatuk-batuk di lantai. Perutnya terasa sakit, tawanya tak bisa berhenti untuk di keluarkan. Hanya untuk meminta ke duanya berhenti saja sangat sulit bagi Emma.


"Kau tidak bisa bilang begitu dong. Punyaku itu burung kakak tua, enak saja bilang burung puyuh!" protes Mark dengan wajah memerah.


"Hah!" remeh Dara dengan wajah congkak,"burung kakak tua? Ya, sih. Itu pantas memang. Karena sekali coba langsung loyo.. loyo..loyo...." Ledeknya dengan memeletkan lidahnya.


Mmmbeekk...!!!


Mark menoleh ke bawah. Dengan pandangan tak percaya. Bodoh! Harusnya dia bilang miliknya adalah burung Garuda. Kenapa harus bilang burung kakak tua? Malah di ejek seperti ini.


"Kurang ajar kau!!! Gadis mesum!"


"Kau pria mesum."


"Gadis mesum!"


"Pria mesum!"


"Gadis——"


"Tidak bisakah kalian berhenti berteriak di pagi hari, Hem?" Potong suara bariton itu di undak anak tangga terakhir.


Glek!


Baik Dara maupun Mark membeku. Meskipun Mark adalah si manja yang di sayang. Tetap saja ia memiliki rasa takut pada sang kakak. Jujur saja, Alex Felton baginya adalah kakak paling gila di dunia ini. Pria itu benar-benar tak waras. Masih melekat di ingatan nya, saat salah seorang temannya memanfaatkan diri nya. Hanya di jadikan ATM berjalan.


Saat itu di ketahui oleh Alex. Pria itu membunuh orang itu tepat di depan matanya. Bahkan membantai seluruh keluar temanya itu. Semenjak itu, Mark tidak pernah mau berteman. Ia merasa tidak ada yang tulus padanya. Dari pada melihat kemarahan Alex. Lebih baik untuk tidak miliki teman.


Sedangkan untuk Dara. Gadis ini dari awal sudah sangat takut dengan Mafia kejam ini. Emma bahkan langsung berdiri menghentikan tawanya. Ke tiga nya memantung. Sembari menunggu Alex mendekati mereka.


...***...


Alan mengangkat minumnya. Menyesap perlahan red wine nya. Bunyi suara musik terdengar cukup nyaring.


"Dia tidak terlalu cantik. Hanya saja, dia cukup membuat aku penasaran dengan identitas nya. Kau tau sendiri bukan jika Alex bukan pria yang mudah membawa wanita di sisinya," balas Alan setelah meletakkan gelasnya di atas meja.


Wanita cantik itu mengangguk mengiyakan perkataan Alan. Ia tau dengan pasti, Mafia kejam itu tidak pernah mau membawa satupun wanita untuk berada di sisinya. Bahkan semua wanita yang di sodorkan oleh sekutu pria itu maupun petinggi yang ingin menjilat Alex. Semuanya mati mengenaskan.


Lalu, anehnya kemarin. Pria itu malah membawa wanita untuk di gandeng.


"Harusnya aku datang saat itu, sayang sekali aku tidak bisa datang. Aku jadi ikutan penasaran dengan nya," balas Jenni tersenyum sinis.


Alan mengerutkan dahinya."Rencana terakhir kali gagal. Dia malah menghabisi polisi itu. Bagaimana dengan rencana ke duanya?" desak Alan.


Jenni menghela napas pelan."Cukup sulit untuk menjatuhkan Alex. Pertahankan yang di miliki nya benar-benar susah untuk kita hancur kan. Koneksi yang dia punya begitu banyak. Dan itu membuat aku cukup kesulitan, mantan kakak ipar!"


Alan berdecak sini."Jangan memanggilku seperti itu saat seperti ini, Jenni!" peringat Alan yang terlihat tidak suka dengan panggilan Jenni padanya.


Jenni hanya mengulas senyum hambar. Tangan lentik itu meraih Putung rokok sebelum megosokannya di atas asbak rokok. Pandangan matanya nanar.


"Hah! Baiklah saat ini aku tidak akan memanggilmu seperti itu, Alan. Sampai semua nya rencana kita sukses." Jenni mengalah.


Alan tidak menjawab. Pria ini memilih kembali menegak minuman nya hingga tandas.


...***...


Dara mengusap dadanya setiap bunyi tembakan menggema di ruangan kedap suara itu. Di depan sana, Alex terus melayangkan tembakannya pada target yang bergerak. Hingga peluru tak lagi di tempat nya.


"Yang baru!" teriak Alex.


Dara dengan cepat berlari mendekati Alex. Sehari memberikan pistol yang baru dengan isian peluru.


Hap!


"Eh?"


Dara menatap aneh Alex kala pria itu menggenggam pergelangan tangannya. Ke dua matanya membulat kala tubuh nya di tarik masuk ke dalam pelukan Alex. Aroma peluh bercampur dengan aroma permen karet membuat jantung Dara bertalu-talu.


"Belajarlah menembak. Kalau kau ingin membuat aku jatuh cinta. Maka jadilah wanita yang mempesona dengan kekuatanmu," ujar Alex di sela hembusan napasnya.


Dara bersusah payah menelan air liur nya. Berkali-kali hati kecilnya menegaskan. Jika kerja jantung nya tak normal lantaran bunyi pistol tadi. Bukan karena di peluk dari belakang oleh pria gila dan kejam ini.


Tangannya di angkat oleh Alex. Pria itu memasang posisi yang pas untuk Dara menebak. Membenahi jari jemari Dara. Membawa masuk ibu jari Dara pada tempat yang pas. Tangannya tak diam.


"Lihat target dengan teliti Dara. Aku akan membantumu. Jadi, lihat lah ke depan!" Titah Alex sembari merapatkan dada bidang nya pada punggung belakang Dara.


Gadis culun ini dapat merasakan punggung belakang nya basah karena peluh Alex.


"Bidik!" titah Alex dengan nada deep voice nya.


Door!


Meleset. Alex menghela napas kasar, hingga menggelitik leher Dara. Gadis ini dapat mencium aroma mentol dari mulut Alex.


"Fokus Dara!" peringatnya.


"Ah? Iya! Fo——fokus!" jawabnya tergagap.


"Lihat dan bidik dengan nalurimu!"


Dara mengangguk kecil."Jantungku! Tolong berhenti berdetak keras. Jangan sampai pria gila ini tau kalau kau jadi gila karena dia!!!" seru hati kecil Dara sebelum melakukan apa yang di minta oleh Alex.


Sulit fokus saat napas hangat Alex terus menggelitik lehernya.


Door!


Lagi! Meleset. Alex mendekatkan bibir nya di daun telinga Dara.


"Tidak ada kesempatan ke empat Dara. Jika kau masih meleset membidiknya. Maka malam ini aku akan membuatmu bercinta sampai pingsan di ranjangku!" bisiknya seduktif.


TIDAK.


Dara masih ingin mempertahankan mahkota nya. Di tariknya napas dalam-dalam. Sebelum di hembusan perlahan. Ke dua mata madunya fokus menatap target yang bergerak. Terlihat sangat fokus, hingga membawa bulir keringat di dahinya. Satu kesempatan lagi. Hanya satu.


Door!


God! Senyum Dara mengembang kala ia tepat sasaran.


"Aku membidiknya dengan tep..." Dara menoleh kebelakang hingga hidungnya hanya memiliki jarak satu cm dari hidung mancung milik Alex.


Kata-kata di mulut nya terhenti. Ia tercetak. Jantung nya semakin menggila. Alex benar-benar mempesona di balik sifat gila, kejam dan dinginnya itu.