Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 34. TIDAK IKHLAS


Jari jemari panjang kokoh itu menyisir perlahan rambut hitam legam sebahu itu dengan perlahan. Senyum Dara Margaretha merekah karena tindakan Alex padanya. Telapak tangan besar Alex mengusap pelan puncak kepala Dara.


"Aku pergi dulu, belajarlah yang rajin. Tunjukkan jika kamu bisa mendapatkan nilai terbaik dari pada yang terbaik," ujar Alex. Sebelum menarik tangan nya dari atas kepala Dara.


Kepala Dara mengangguk cepat. Dengan senyum lebarnya. Di ke dua manik matanya dapat di lihat Dara bahagia dengan perhatian Alex.


"Siap! Aku akan melakukan yang terbaik. Aku siap memukau dirimu. Nantikan saja," ujar Dara ceria.


Alex menarik segaris senyum. Pipi Dara menjadi sasaran ibu jari dan telunjuk Alex. Pria gagah ini mencubit pipi Dara karena gemas. Gadis itu malah terkekeh kecil karena cubitan Alex Felton.


"Sana! Turunlah. Nanti akan aku jemput. Ada banyak yang berjaga di sisimu. Jika ada apa-apa langsung berikan kode yang telah aku ajarkan," ujar Alex kembali mengingatkan Dara pada kode mereka.


"Iya. Aku sudah pasti aman jika di mana sudah di tempatkan orang-orang dari Dragon," balas Dara.


Alex mengangguk.


Cups!


Dara bergerak cepat mengecup pipi Alex. Sebelum keluar dari mobil sport merah metalik itu. Alex tertegun dengan kecupan yang Dara layangan kan pada pipi kirinya. Pintu mobil di bukan dan di tutup cepat. Kaca mobil di seberang kemudi terbuka.


Dara melambaikan tangan dengan ke dua pipi merona. Gadis ini cukup aneh. Dia yang memberikan kecupan dia yang malu-malu kucing. Ke dua sisi bibir Alex di tarik ke atas melengkung membentuk senyuman.


Pria itu menutup perlahan-lahan kaca mobil. Sebelum melesat keluar dari gedung fakultas kedokteran. Niko melangkah mendekati Dara yang masih tersenyum dengan wajah merona. Manik mata gadis itu masih menatap mobil sport merah yang semakin menjauh.


"Hei Dara!" seru Niko. Pria tampan itu mengembangkan sebuah senyum ramah pada Dara.


Dara membalik kan tubuh nya menghadap Niko Wu. Ia mengulas senyum ramah juga sebagai balasan.


"Oh, Hai juga Niko," jawab Dara.


"Kenapa kau kemari tidak masuk kelas?" tanya Niko penasaran.


Dara memasakkan sebuah senyuman pada pria di depannya ini. Ia tidak tau harus menjawab apa. Selain mengulas senyum. Pandangan matanya jatuh ke lantai.


"Aku tidak enak badan kemarin karena itu aku tidak masuk kuliah," ujar Dara tidak sepenuhnya berbohong.


Niko mungut-mungut tanda paham dengan perkataan Dara.


"Ayo, kita ada kelas sepuluh menit lagi!" Dara memperingati pria ini tentang jawab mereka.


"Oh...iya. Ayo," balas Niko.


Ke duanya melangkah beriring menuju kelas mereka. Tak jauh dari ke duanya sebuah mobil sedan hitam menatap ke duanya dengan berbeda.


"Apakah itu gadis nya?"


Kepala Jenni mengangguk pelan."Ya, itu dia. Bagaimana menurutmu? Apakah dia benar-benar tipe Alex atau tidak?"


"Aku berpikir dia bukanlah tipe Alex. Lihat lah tidak ada yang bisa di anggap sebagai kelebihan. Dari body dia itu nggak banget. Lalu kalau di tanya dari wajah, tentu saja dia benar-benar bukan tipe Alex. Aku tidak yakin Alex mencintai gadis culun itu. Sudah pasti hubungan yang di jalankan oleh mereka bukan hubungan kekasih. Atau bisa jadi hanya gadis culun itu yang mencintai oleh Alex. Dalam kata lain, gadis culun itu hanya di manfaatkan," ujar Tessa dengan senyum miring.


Di lihat depan dan belakang. Ia sangat jauh dari pada gadis culun yang terus melangkah bersama Niko Wu. Tessa jelas tau bagaimana selera seorang Alex Felton. Bos Mafia kejam itu termasuk pemilih orangnya.


Jenni mengangguk dengan senyum iblis. Seperti yang ia tebak. Sudah pasti begitu yang terjadi. Di balik kemudi, Tessa mengepalkan ke dua tangannya. Sisi hatinya merasa tidak rela dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa Alex bersama gadis culun itu. Ia masih mencintai Alex Felton. Anggap saja perselingkuhan tiga tahun yang lalu hanyalah kekhilafan yang ia lakukan.


Saat bercinta, Tessa tidak melakukan nya dengan hati. Karena ia sungguh mencintai Alex. Tapi ia tidak mendapatkan kehangatan dari pria itu. Meskipun Alex Felton terlihat lebih keren dari Zain mampu Juan. Dan romantis sewaktu-waktu padanya. Apa gunanya semua nya itu?


Di saat wanita seusianya sudah tidak ada lagi yang perawan. Di usi tujuh belas tahun mereka sudah tidak lagi tersegel. Dan di Eropa masih perawan di usia dua puluhan bukan lah hal yang menegangkan. Itu adalah hal memalukan. Berbeda dengan negara Asia.


Karena terbawa suasana Tessa dan Zain melakukan nya begitu saja. Bukankah melakukan hubungan intim tidak butuh cinta di dalamnya. Siapa saja bisa melakukan nya. Yang di butuhkan hanyalah api nafsu yang berkobar. Hanya itu saja.


"Tessa!" Tepukan di bahu di sertai oleh Jenni.


"Iya, ada apa, Jen?"


Jenni membuka bibir nya. Namun di tutup kembali. Kepala nya mengeleng pelan.


"Tidak ada," jawabnya pada akhirnya.


...***...


"Dia mati?" suara berat itu terdengar begitu dingin.


"Ya, Bos. Dia menggigit lidahnya sampai mati saat di siksa," balas Tom dengan nada tenang.


Alex menutup ke dua kelopak matanya. Ia tengah menekan perasaan marah yang tengah menggerogoti darah nya. Ia merasa benar-benar marah saat ini. Bagaimana bisa pria itu mati dengan informasi yang ia butuhkan kan.


"Apakah ada petunjuk?" ujar Alex kembali dengan nada pelan tanpa membuka ke dua kelopak mata nya.


"Tidak, Bos. Seperti nya mereka bergerak begitu bersih," balas Tom pelan.


Ke dua sisi rahang keras itu mengetat begitu saja. Ke dua kelopak matanya terbuka cepat. Ia berdiri dari posisi duduknya. Melangkah di ikuti oleh Tom dari belakang.


"Mutilasi semua tubuhnya. Dan buang ke sungai Amazon." Ujar Alex dengan nada menakutkan.


"Baik, Bos!" Tom menjawab cepat.


...***...


Mobil sedan hitam berhenti tepat di depan tubuh Dara. Gadis itu menoleh ke arah kaca mobil. Perlahan kaca mobil terbuka. Emma tersenyum dan memberikan kode pada Dara untuk masuk ke dalam mobil.


Dara menunduk sedikit.


"Mana Alex?" tanya Dara pada Emma dengan nada keras.


"Bos ada keperluan mendadak. Karena itu aku lah yang menjemputmu. Ayo cepat naik," balas Emma.


Dara mengembangkan ke dua sisi pipinya. Sebelum menarik pintu mobil. Masuk dan menutup kembali pintu mobil. Kaca hitam itu naik dengan perlahan. Gadis culun itu meliput ke dua tangan nya di depan dada. Wajahnya terlibat bete.


"Jalan!" titah Emma.


Pria itu menghidupkan mesin mobil. Sebelum melesat. Di belakang Dara masih terlihat uring-uringan.


"Tadi katanya dia mau jemput," dumel Dara


Emma mengulas senyum tipis."Bos bukanlah orang yang suka melanggar janjinya. Jika ia ingkar berati ada hal besar di balik nya."


"Ah? Benarkah?" tanya Dara terdengar terkejut.


"Ya, tentu saja. Dan Bos juga bukan orang yang mudah mengumbar janji, loh!"


Wajah merenggut itu berubah seketika ceria.


.


.


.


bersambung...


maaf gak bisa update karena lagi sakit. Sekali lagi maaf...