
Flashback on!
"Bos!" seru Tom saat Alex keluar dari pintu apartemen Tessa.
Alex menoleh ke samping. Wajah putih itu tampak merah padam, bahkan ke dua daun telinga nya merah. Mata tajam Alex terlihat berkilat menyala serat akan kemarahan. Bibir merah tebal seksi itu di katun dengan rapat. Urat leher Alex tampak mencuat. Pria itu melangkah lebar tanpa menjawab sapaan Tom.
Dahi hitam itu berkerut dalam. Kepala menoleh ke pintu. Dengan perasaan penasaran yang tinggi. Tom memasukkan kode sandi pintu yang memang pria itu tau dengan pasti. Tom melangkah masuk dengan perlahan ke dalam apartemen.
Ke dua Indra dengarnya menangkap bunyi desahan penuh kenikmatan. Kerutan di wajah Tom semakin bertambah. Langkah di ayunkan seringan mungkin menuju arah kamar yang terbuka sedikit. Beberapa potong pakaian bercecer di lantai menuju pintu kamar.
Netra hitam itu kontan saja terbelalak. Saking besarnya, bola mata hitam Tom seakan mau keluar dari tempat nya. Jelas ia tau dengan jelas ke dua orang yang tengah bergumul mengejar kenikmatan dunia.
Alex memang pria brengsek karena melakukan hal menyimpang dengan mayat. Akan tetapi pria itu tidak pernah bermain hati. Karena Alex Felton hanya semata-mata karena kelainan yang di derita. Alex hanya mampu berciuman dengan Tessa. Karena ia khawatir akan menghancurkan Tessa jika mereka melakukan lebih dari itu.
Alex hanya mampu menelan pahit kenyataan itu. Kekasih yang ia jaga, agar tidak naik ke ranjang nya. Tentu Mafia tampan itu memiliki alasan berat di belakang nya. Tapi, Tessa tentu saja wanita cantik itu tidak pantas mengkhianati Alex Felton. Pria yang tulus mencintai nya.
Apa lagi pria yang melolong bak binatang buas dengan wajah puas kala mencapai puncaknya. Tom tersenyum sinis melihat wajah ke dua orang itu. Harus nya Zain tidak mengkhianati dua orang. Apa lagi besok ada wanita yang akan menunggu nya di atas altar dengan gaun pengantin.
"Kalian akan mendapatkan hal setimpal!" monolog Tom geram.
Tom melangkah keluar dari apartemen Tissa. Tom tak habis pikir bagaimana bisa Bos nya keluar begitu saja tanpa memberikan ke duanya pelajaran. Tom baru melihat sisi ini dari Alex. Selama mereka bersama di dunia bawah. Alex Felton adalah lelaki yang tidak terkalahkan.
Pria itu lolos melalui banyak ujian. Sayangnya, Tom kalah saat dua tahap terakhir. Tahap di mana ia di suguhkan mayat untuk di tiduri. Tom menolak, pada akhirnya ia kalah. Alex sangat tangguh dan membuat Tom kagum. Hingga ia memutuskan untuk menjadi tangan kanan Alex Felton dengan sumpah setia.
Tom melangkah menuju lift. Masuk dengan wajah menakutkan. Lantai lift di tekan. Perlahan turun hingga sampai di bawah tanah.
Ting~
Pintu lift terbuka Tom melangkah mendekati mobil Ferrari mahal dengan wajah psikopat. Jika Bosnya engan turun tangan. Maka biarlah dia yang turun tangan untuk memberikan Zain pelajaran.
Bagi dunia Mafia. Berkhianat maka kematian adalah bayaran paling ringan. Tom mengeluarkan pisau cutter dari kantong baju nya. Melangkah menuju kolong mobil.
"Selamat tinggal Zain Lewis!" monolog Tom tersenyum iblis.
Flashback Off
Tom mengusap senjata apinya dengan senyum iblis. Dara sedari tadi memperhatikan wajah Tom yang terlihat bengong dengan raut wajah berubah-ubah. Ia duduk tak jauh dari posisi Tom. Di area menembak Alex tampak mengasah kemampuan nya. Dara memutuskan untuk menemani pria itu berlatih. Sebelum menoleh ke arah Mark.
"Ada apa dengan Tom, Mark?" ujar Dara dengan nada pelan.
Mark melirik Tom. Wajah tangan kanan sang kakak terlihat tersenyum aneh.
"Abaikan saja dia. Tom memang agak aneh," ujar Mark dengan nada pelan.
"Minumlah! Terik mata hari di luar terasa mengigit kulit. Aku pikir kalian pasti merasa haus," ujar Emma. Sebelum duduk di depan ke duanya.
Mark dan Dara meraih botol minum. Membuka dan menyesap minuman masing-masing.
"Dara! Aku dengar kau dari Bos Alex. Kau ingin menjadi seorang psikiater," ujar Emma memberi jeda,"apakah itu benar?" sambungnya terdengar penasaran.
"Oh! Kau ingin menjadi psikiater?" Mark ikut menimpali pertanyaan Emma dengan raut wajah penasaran.
Dara mengembangkan ke dua sisi pipinya. Sebelum menghembuskan napas pelan.
"Ya, aku ingin menjadi seorang psikiater. Memangnya apakah ada masalah?" Dara balik bertanya.
"Tidak sih, hanya saja sebanyak itu jurusan yang bagus. Kenapa harus jurusan itu," imbuh Mark,"misalkan jurusan Dokter kecantikan. Biar mau tau cara membesarkan yang itu tanpa jeruk Mandarin," sambung nya berkelas.
Dara kontan mendelik Mark dengan wajah kesal. Emma terkekeh pelan. Wanita cantik ini jelas tau kenapa Dara tertarik ke sana. Hanya saja ia ingin kembali memastikan hal itu.
"Tau apa kau pada pilihanku, tuan manja Felton!" Ujar Dara terdengar begitu sebal.
Emma tertawa mendengar jawaban sarkas Dara. Mark membulatkan ke dua matanya mendengar jawaban Dara.
"Hei! Aku hanya memberikan masukan tidak kurang dan tidak lebih. Lagipula ini juga demi kamu sendiri!" tukas Mark cepat.
"Aku tak percaya," cibir Dara dengan wajah pongah.
Seperti nya gencatan senjata selama satu bulan runtuh lagi. Wajah Mark memerah. Ia langsung bangkit dari posisi duduknya. Telunjuk tangannya mendakwa Dara dengan urut wajah mengcuat.
"Dasar gadis culun bodoh. Di kasih tau aja ngelunjak. Benar-benar aneh!" ketus Mark Felton. Wajahnya tampak semakin kesal.
Dara membenahi kaca mata nya. Menatap angkuh Mark. Sebelum melayang kan matanya pada wajah Mark Felton. Kontan saja Mark menghela napas kesal.
Gila! Tolong katakan pada Dara dan Mark untuk tidak terus bersiteru. Emma tak tahan perutnya sakit saat ini. Menyesal ia bergabung duduk dengan ke duanya. Jika sudah begini tawa nya akan melambung keras. Mark Felton tidak belajar dari pengalaman. Harus nya dia belajar bersilat lidah dulu. Sebelum melawan Dara Margaretha.
Gadis culun kutu buku, tapi mampu bersilat lidah dengan lincah. Tidak seperti si manja, Mark Felton. Yang pintar hanya di bagian akademik saja. Untuk berdebat dia nol besar.
Emma Young mencoba untuk tetap bertahan untuk tidak tertawa dengan keributan yang ke duanya lakukan. Semua hal bisa menjadi bahan untuk bertengkar. mereka sangat aneh di mata Emma.
"Jangan terlalu sok tuan manja. Jika di bandingkan aku denganmu jelas aku lebih unggul." Dara membela dirinya.
"Heh? Sok sekali kau gadis culun!" Mark Felton mendengus kesal.
Wajah Dara terlihat biasa saja. Ia malah terkekeh membuat Mark semakin kesal saja.