
"Tembak! Jangan biarkan satu orang pun lolos dari dalam sana!!" Seru Alex dengan nada keras. Telapak tangan nya di gerakkan ke depan.
Hyat!!!!
Door!
Door!
Door!
Akh!!!!
Bunyi suara di dalam gudang mulai ricuh. Teriakan dan pekikan keras terdengar nyaring. Alex ikut masuk melayangkan beberapa timah panasnya.
"Lari ini semua jebakan!!" teriak salah satu anggota pembunuh bayaran itu.
Alex tersenyum setan mendengar teriak keras. Pelatuknya di tarik kala mata hijau tajam itu melirik beberapa orang yang mencoba kabur.
Door!
Akh!
Door!
Dua tembakan tepat sasaran. Manik mata hijau itu mengedar menatap anak buahnya yang berhasil melumpuhkan sasaran. Seperti biasa, Alex selama memiliki prinsip menyelam sembari minum air. Ia harus memanfaatkan apa yang bisa di manfaatkan. Beberapa organ tubuh yang di butuhkan bisa di pergunakan setelah musuhnya di interogasi. Maka setelah nya, organ tubuh nya akan di keluarkan.
"Bos!" seru Tom di belakang tubuh Alex.
"Apa semua nya telah tertangkap?"
"Ada satu yang sedang tidak di tempat Bos. Menurut salah satu dari orang yang telah di tangkap. Orang itu adalah Bos besarnya," ujar Tom menjelaskan.
Ke dua kelopak mata Alex tertutup perlahan. Bos Mafia kejam ini menekan perasaan dongkol nya. Beginilah Alex Felton yang marah saat apa yang dia inginkan tidak sesuai dengan apa yang di harapkan.
"Sial!" desis Alex keras.
Tom mundur beberapa langkah ke belakang. Ia mawas diri, takut-takut Alex Felton menghantam dirinya dengan kepalan tangan karena kesal.
Kelopak mata yang menyelimuti manik mata hijau tampan itu terbuka perlahan.
"Interogasi mereka setelah kita sampai di markas. Setelah itu langsung lacak di mana lokasi Bos besar mereka," titah Alex dengan nada berat.
"Siap, Bos!"
Alex menyimpan pistol kesayangannya di balik jaket hitam tebal itu. Sebelum melangkah keluar dari bangunan tua, tempat mereka menjebak pembunuh bayaran itu. Siapa sangka pembunuh bayaran dunia bawah sangat bodoh. Sampai tidak sadar masuk ke dalam jebakan.
...***...
Dara Margaretha berjalan-jalan mengitari Mall milik Mark. Pria itu sepertinya masih rapat untuk produk baru yang akan mereka jadikan produk utama di Mall.
Buk!
"Ah, maaf!" Seruan lembut itu kala bahunya menabrak bahu Dara.
Gadis culun itu mundur berapa langkah kebelakang karena tabrakan wanita bermasker dan bertopi dengan pakaian serba hitam itu. Gadis culun itu menaikkan kaca matanya yang turun karena benturan.
"Ya, tidak apa-apa kok!" Ujar Dara dengan tangan di ayunkan ke depan. Tak lupa ia tersenyum lebar pada wanita itu.
Manik mata itu bersitatap dengan manik mata madu milik Dara. Gadis culun itu masih mengembangkan senyum lugunya. Dara tidak tau apakah wanita yang menabraknya ini tersenyum atau tidak. Meningkat masker hitam yang ia pakai.
"Sekali lagi maaf nona. Aku tidak sengaja menabrakmu karena terburu-buru," ucapnya dengan aksen British.
"Ya," jawab Dara mengembangkan senyum.
Gadis itu menatap lambat wajah Dara dari dekat. Ia kembali mengulas senyum sinis di balik masker. Sebelum pamit pergi meninggalkan Dara saat ujung ekor matanya menatap orang-orang Alex sepertinya melangkah mendekati gadis culun ini. Ia melangkah kembali terburu-buru.
"Nona!" seruan di belakang tubuh Dara terdengar.
Dara membalikkan tubuhnya menghadap orang bawahan Alex.
"Ya, ada apa?" balas Dara dengan wajah heran.
Perasaan Dara, dua orang pria yang kini berdiri di hadapannya jarang menghampiri dirinya. Hanya berdiri jauh darinya. Mengawasi pergerakan dirinya. Tapi, ini untuk pertama kalinya ke duanya menghampiri dirinya.
"Apa ada yang terjadi tadi?" ujar yang satu lagi.
"Adanya?" Dara malah balik bertanya dengan wajah keheranan.
"Yang tadi, apa dia sedang melakukan sesuatu pada nona?" tanya kepala plontos ikut menimpali.
"Tidak. Dia tidak melakukan apapun padaku. Dia hanya tidak sengaja menabrakku, itu saja!" jawab Dara seadanya.
"Apakah tidak ada yang hilang?" tanya yang satu lagi.
Ah. Dara bergegas merogoh tas kecil miliknya. Hembusan napas lega mengalun.
"Tidak. Tidak ada yang hilang," jawabnya dengan senyum kecil.
Ke duanya mengangguk pelan.
"Dara!!!" seruan dari si manja setengah berlari ke arah Dara.
Ke duanya memilih undur diri dari pada berurusan dengan adik kandung dari sang Bos.
"Sudah selesai rapatnya?" tanya Dara pelan.
"Ya. Baru saja selesai!" Balas Mark dengan tangan merangkul leher Dara membuat gadis culun ini semakin pendek saja karena ulah Mark. Apalagi saat telapak tangan Mark semakin menekan pucak kepala nya.
"Aw! Sakit tau!" Kesal Dara melayangkan pukulan ke dada Mark.
Pria itu terkekeh."Kau pendek sekali seperti kurcaci di dalam film Putri tidur," ledek Mark.
Plak!
"Akh! Sakit!" teriak Mark. Sebelum melepaskan rangkulannya.
Gila. Kecil-kecil cabe rawit. Sakit sekali pukulan telapak tangan Dara pada punggung tangan nya. Punggung tangan yang putih itu sontak memerah dan membekas bentuk cap beberapa jari dari sana.
"Hah! Wanita pendek itu biasa. Dari pada kamu..." balas Dara tak lupa ia melayangkan pandangan nya ke bawah.
Mbek!!!
Sontak saja ke dua telapak tangan Mark mengatup milik nya. Bibir merah merekah itu manyun seketika.
"Dara mah begitu, suka sekali meledek itu," ucap Mark dengan nada merajuk.
Wajah Mark Felton benar-benar lucu saat ini. Dara terkekeh kecil mendengarnya.
"Sudahlah. Aku lapar! Ayo cari makan di lantai atas," ajar Dara.
Mark langsung sumringah. Perutnya juga sudah demo minta di isi. Ia langsung berlari menyusul Dara yang telah melangkah terlebih dahulu.
...***...
Dara bergidik ngeri melihat penampilan Alex Felton. Bos Mafia itu masuk ke dalam rumah dengan keadaan yang benar-benar membuat perut siapa saja yang bergejolak untuk mengeluarkan isi perut mereka. Bajunya penuh dengan darah, begitu pula dengan mukanya.
Emma melirik Dara yang berdiri tak jauh darinya. Bahunya menyenggol Dara.
"Sana bantu Bos mandi," bisiknya dengan nada pelan.
Dara sedikit meringis. Sebelum mengangguk pelan. Ia melangkah mengikuti Alex yang baru saja melewati mereka menuju kamarnya.
"Mau aku siapkan air mandi dengan aroma terapi?" Dara membuka percakapan kala ke dua kaki pendek nya bisa menyusul Alex.
Mati-matian ia menahan untuk tidak mual-mual di depan Alex.
"Boleh!" Alex membalas tanpa harus menoleh ke samping.
Dengan gerakan cepat. Tungkai kaki pendek Dara menuju pintu kamar Alex. Ia lebih dahulu masuk ke dalam kamar. Sebelum melangkah kamar mandi. Gadis culun itu dengan cekatan mengisi air hangat di bathtub. Sebelum meraih beberapa botol sabun cair yang berjejer di rak dengan berbagai aroma.
Ia meraih aroma zaitun menangkan di dalam air. Hingga banyak busa di kulit air. Ia mematikan air hangat. Sebelum menghidupkan air dingin agar tidak terasa terlalu hangat di kulit.
"Sudah selesai?" tanya Alex yang entah kapan sudah berada di belakang tubuh Dara.
Kepala Dara mengangguk pelan. Alex melangkah dan masuk ke dalam bathtub yang telah di isi air dengan aroma zaitun yang menenangkan.
Dara duduk di tepian. Ia mengusap perlahan darah yang menempel di pipi Alex dengan gerakan pelan. Tidak ada yang berbicara. Ke duanya hanya diam. Menyelami pemikiran masing-masing.
"Kau tidak bertanya apa yang aku lakukan?" Alex bertanya dengan nada berat.
Dara menghentikan kegiatannya."Untuk apa?"
"Tidakkah kau penasaran?"
"Tidak. Aku tidak penasaran. Aku jelas tau kau adalah seorang Mafia. Yang tentu saja tidak pernah lepas dari darah dan darah," balas Dara dengan lembut.
Pergelangan tangan Dara di sentuh. Bibir Alex terbuka namun tertutup kembali ia merasa ragu untuk menyuarakan isi hatinya.