Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun
BAB 22.PERCAYA


Erangan bak binatang buas mengalun mengisi kekosongan nada. Kala pelepasan menerjang diri. Tubuh polos itu penuh dengan darah segar menempel. Aroma anyir menyentuh Indra penciuman Alex. Pria itu mencoba untuk menstabilkan napasnya. Sebelum melepaskan penyatuan terlarang yang penuh dengan darah. Wanita cantik berpakaian maid itu tampak mengenaskan. Lehernya tercetak bekas cekikan tangan dan perut yang tak mampu di jelaskan dengan kata-kata. Tubuh polos tanpa sehelai benang yang membalut tubuh nya. Ia bergolek ke samping. Di sisi ranjang yang penuh dengan darah yang mengalir. Senyum jijik itu terbit begitu saja. Kepala nya mendongak ke atas. Memperlihatkan ke dua sisi rahang yang tegas. Air mata jatuh bergulir.


Alex Felton, sang Mafia yang di nilai kejam itu memiliki beban berat di dadanya. Semua kesuksesan yang raih memiliki harga mahal untuk mendapatkan nya. Kepuasan sebagai seksual yang hanya mampu di raih dengan cara yang tidak normal. Alex turun dari ranjang meraih pakai nya yang berserakan di lantai. Memunguti nya dengan wajah begitu dingin. Bekas air mata masih tercetak di kedua pipi nya.


Tok!


Tok!


"Masuk!" seru Alex dengan nada dingin.


Tom masuk bersama beberapa orang ke dalam kamar. Pria berkulit hitam itu melangkah mendekati mayat wanita itu. Sebelum melirik Alex. Dengan kode mata bawahan nya menyingkir kan tubuh wanita cantik itu.


"Bos!" panggil Tom pelan.


"Dimana Dara?" tanya Alex pelan.


"Dara seperti nya masih ada di luar," jawab Tom pelan.


Alex menoleh cepat ke arah Tom. Ke dua mata elang itu seakan terlihat bertanya.


"Dia katakan nya menunggu Bod di luar."


"Dia tau?"


"Ya. Dia tau. Sedari awal dia sudah di luar." Tom memberikan penjelasan.


Alex menatap tak yakin pada Tom. Pria itu berdiri dari posisi duduknya melangkah menuju pintu keluar.


Kreat!


Pintu yang terbuka sedikit itu terbuka semakin lebar. Dara menoleh ke arah Alex. Aroma anyir menghantam hidung nya. Paru-paru nya memompa udara berbau amis itu. Ia hanya mampu mengulas senyum kecil pada Alex. Dara membenahi kaca mata tebal yang merosot dari hidung nya.


"Mau mandi?" tanya Dara dengan nada ramah.


Manik mata hijau tajam itu menatap wajah Dara lambat. Seakan tengah menelisik apa ekspresi wajah Dara. Menatap penuh konsentrasi dengan raut yang gadis ini perlihatkan. Tidakkah gadis culun ini jijik dengan apa yang terjadi? Alex yakin seratus persen, Dara mendengar suara kesakitan wanita tadi. Mendengar bagaimana ia bercinta dengan nada paling menjijikan yang pernah ada. Kala wanita itu mengerang dalam kematian. Alex mengerang dalam kenikmatan.


Mata Alex jatuh pada ke dua netra madu indah Dara. Gadis culun itu mendekati Alex. Sebelum meraih pipi dingin Alex. Mengusap pelan jejak air mata yang masih tercetak di sana.


"Kau pasti merasa tersiksa. Tidak apa-apa, kita pasti akan menemukan jalan keluarnya!" Seru Dara sebelum memeluk tubuh Alex yang masih beraroma tak sedap.


Alex Felton membeku. Tom yang menatap ke dua nya dari dalam kamar. Menatap aneh ke arah Dara. Apakah Dara benar-benar mampu menerima Bos nya dengan keadaan tak normal. Atau apakah Dara Margaretha masih normal?


Wanita normal mana yang bisa menerima lelaki gila seperti Alex? Setidaknya itulah yang ada di otak Tom saat ini.


...***...


Ke dua mata Dara menoleh ke arah pria yang berada di samping nya. Pria itu menyapa Dara dengan nada ramah. Senyum di umbar terlihat cukup manis di mata Dara. Mata sipit itu dengan ke dua manik mata hitam legam itu membuat Dara dapat berpikir kalau pria itu adalah pria Asia.


"Hei!" sapa nya dengan nada lembut.


"Oh, hai!" balasnya dengan nada pelan.


"Kau anak baru?" tanya dengan nada pelan.


Kepala Dara mengangguk pelan. Sebelum ikut mengulas senyum canggung. Senyum lebar kembali di umbar pada Dara.


"Satu jurusan denganku," ujarnya tersenyum kecil pada Dara.


Dara hanya mengangguk pelan. Terlihat meringis melihat senyum ramah pria ini. Telapak tangan besar itu di ulurkan pada Dara. Gadis culun itu menatap uluran tangan pria di depan nya ini sebelum melirik wajah pria ini. Dengan ragu gadis ini menerima uluran tangan pria baru ini.


"Dara Margaretha!" balas Dara pelan.


Dengan cepat Dara menarik kembali tangannya.


"Seperti nya kau bukan orang Eropa," ujarnya pelan.


"Ya." Jawab Dara mengangguk pelan.


"Mau daftar ulang?"


"Hem..."


"Kalau begitu mau pergi denganku. Aku sendiri di sini dan baru masuk. Rasanya agak gimana gitu kalau jalan sendiri," ujar pria itu ramah.


Dara terlihat terdiam sejenak. Seolah tengah mempertimbangkan ajakan Niko Wu. Ia mengulum bibirnya. Manik mata coklat itu mengedar melihat beberapa orang yang telah membentuk beberapa kelompok. Mendapatkan beberapa teman yang akan di ajak untuk menjadi teman untuk kedepannya. Seperti nya dia juga harus memiliki teman untuk tahun pertama ini.


"Bagaimana?" tanya Niko kembali memastikan gadis culun ini mau atau tidak.


Senyum segaris terbentuk dengan kepala mengangguk pelan.


"Ya, seperti tidak buruk." Dara berucap ceria.


"Kalau begitu ayo," ujarnya.


Keduanya melangkah menuju gedung selatan. Tempat pendaftaran ulang. Sebelum memulai masa orientasi siswa.


...***...


"Menurutmu bagaimana dengan Dara?" tanya Alex kala membenahi letak penyimpanan sengaja tajam itu.


"Dia cukup bisa di andalkan," jawab Tom pelan.


Alex dengan cepat menoleh ke samping. Dahi putih itu berlipat dalam mendengarkan jawaban Tom. Tangan kanan nya ini adalah orang yang penuh dengan rasa curiga dan mawas diri. Ini kali pertama Alex mendengar jawaban seperti ini dari Tom.


Senyum miring terbentuk di bibir Alex."Kau terlihat menyimpan rasa percaya padanya, Tom!"


Tom terdiam cukup lama. Awalnya Tom merasa Dara Margaretha itu adalah wanita ya aneh. Patut untuk di curigai. Tom tidak ingin ada wanita licik yang mendekati Alex Felton. Hanya memanfaatkan sang Bos, hanya lantaran Alex adalah pria yang berkuasa. Dan kabur saat merasakan keanehan di dalam diri Alex.


Sama seperti hal nya Tessa. Wanita gila itu hampir saja di habisi oleh Tom. Sayangnya, Tessa tidak ikut mobil Zain saat itu. Bodohnya lagi, ia memberikan Tessa waktu untuk kabur dari Texas. Wanita licik itu ketakutan setengah mati saat tau Zain mati karena rem mobil blong. Dan setelah mobil itu ringsek. Dengan sadisnya peluru melubangi jantung nya.


Cukup gila. Tapi ini lah Tom, tangan kanan Alex. Ia pun di didik sama dengan Alex. Kekejaman yang sama, bagi Tom kesetiaan adalah harga mati. Karena itu dia begitu. Karena kesetiaan nya pada Alex Felton.


"Cukup lama melihat tingkah anehnya. Dan tidak ada hal yang gadis itu punya. Tidak ada siapapun di belakang nya. Karena itu aku berpikir kita bisa mempercayai nya," ujar Tom pelan.


"Begitukah?" tanya Alex pemasaran.


"Ya." Tom membalas dengan anggukan pelan.


...***...


Ban mobil berhenti menggelinding. Kaca mobil di turunkan perlahan. Ke dua orang berlainan jenis itu menoleh ke arah pintu kaca mobil yang terbuka.


"Dara! Naik!" serunya dengan nada penuh keceriaan.


Dara mengerutkan dahinya."Kenapa kau ke sini?" tegur Dara pada Mark.


Pria tampan itu tersenyum lebar."Aku ini kan, Bos! Jadi suka-suka aku lah!" Mark berujar sombong.