Mafia Girl

Mafia Girl
eps 80


Di ruang siksa yg saring di gunakan Anastasia, kembali terdengar suara yg sangat membuat orang lain merasa iba, sekaligus ketakutan. Iya disana Damian membuat orang-orang yg hampir membunuh Anastasia merasa lebih baik mati dari pada ada di genggaman nya.


Ia melakukan berbagai macam hukuman yg tdk sepantasnya diterima manusia, jika di bandingkan Anastasia jauh lebih baik daripada Damian, atau mungkin tdk. Jika Anastasia selalu menggunakan alat-alat yg sewajarnya meski sama sadisnya. Jika Damian lebih dari itu, ia bahkan menggunakan mesin penggiling, mobil, dll.


Ia sudah membereskan orang-orang nya terlebih dahulu, dan sekarang ia tengah menangani bos mereka yakni Haikal. Damian baru saja melindas lengan dan kaki pria itu dgn mobil dan kembali menggantung di tembok.


" Bagaimana? Apa sakit? " tanya Damian dingin.


Haikal tdk bisa menjawab pertanyaan itu, ia merasakan sakit yg luar biasa di sekujur tubuhnya. Bahkan lengan dan kakinya tdk bisa ia gerakkan, tapi pria di hadapan nya itu terlihat belum puas menyiksa nya.


" Bu..nuh aku. " pintanya.


" Jgn buru-buru, aku tdk sedang ada rapat jadi kau tenang saja. " ucap Damian.


" Tdk ada palamu, rapat pagi ini kau tunda karena melakukan hal mengerikan ini. " batin Ryuzen.


" Cih, apa kau tdk berani melakukan itu? " ucapnya memprovokasi.


Namun sayangnya hal itu tdk berguna bagi Damian, ia tahu apa yg dimaksud oleh pria itu.


" Iya, jika itu yg kau inginkan maka kita lakukan yg terakhir dulu. " jawab Damian.


" Kuliti dia. " ucapnya lagi.


Mata pria itu membelalak mendengar itu, tdk cukup kah membuatnya dilindas mobil. Sekarang pria itu mau menguliti nya.


" Dasar gila!!, apa kau belum puas membuat ku jadi seperti ini!! " ucap Haikal.


" Tdk, ini bahkan belum seberapa jika kau ingin tahu. " ucap Damian dgn tdk merasa kasihan.


Semua orang yg ada di sana pun hanya bisa menelan ludahnya, mereka tdk pernah melihat penyiksaan yg lebih sadis dari Lady mereka Anastasia. Tapi saat melihat calon tuan mereka, mereka kembali melihat hal yg lebih mengerikan.


Saat Haikal kan segera di kuliti, terdengar suara sepatu seseorang menggema dia sana. Orang-orang langsung melihat asal suara itu dan membungkuk hormat saat melihat yg memiliki nya.


Anastasia masuk ke sana dgn pakaian sekolah nya yg sudah lengkap, meski dgn beberapa pernah yg ada di tubuhnya, ia bahkan tdk terkejut melihat tumpukan mayat yg ada di sana dgn tubuh yg tdk beraturan itu. Ia terus berjalan kearah Damian tanpa mempedulikan orang-orang yg ada di sana.


" Kak Ian. " panggilnya.


" Kau sudah ingin berangkat? " tanya Damian melihat kearah Anastasia.


Anastasia hanya menganggukkan kepalanya, kemudian melihat Haikal yg sedang ingin di kuliti.


" Kau belum menyelesaikan nya, padahal kau sudah mulai dari jam 4 pagi. " ucap Anastasia.


" Hanya sedikit bersenang-senang dgn mereka terlebih dahulu. " ucapnya tersenyum.


Anastasia juga ikut tersenyum mendengar itu, itu terdengar sedikit seperti sindiran baginya yg selalu bermain-main, tapi yah itu adalah kenyataan nya.


" Kalau begitu aku pergi dulu. " ucapnya


Kemudian mengecup pipi Damian, ia tdk mempedulikan orang-orang yg menatap nya. Ia pun kembali berjalan pergi dari sana.


" Bye, Ryu. " ucapnya.


" Hei, Anastasia!! Apa kau tdk ingin menyiksa ku juga?!! Seperti yg kekasih mu ini lakukan!! " teriak Haikal.


Itu membuat Anastasia menghentikan langkah nya tepat sebelum ia benar-benar keluar dari sana. Ia pun menatap pria itu menggunakan ekor matanya dgn dingin.


" Kau yg membuatnya marah, maka kau yg harus menenangkannya. " ucap Anastasia dingin.


Ia pun kembali melanjutkan langkah nya meninggal Haikal yg masih berteriak kpdnya.


" Sudah cukup berteriak nya, sekarang kuliti dia. " ucap Damian.


Salah satu bawahan pun melaksanakan perintah itu, Haikal hanya bisa berteriak putus ada mendapatkan perlakuan seperti itu. Jika saja ia membunuh Anastasia lebih cepat, maka ia tdk akan tertangkap oleh pria iblis di hadapan nya itu.


** Royal Garden Highschool


Anastasia baru saja sampai di sana, tentu dgn Vero dan juga yg lainya. Hanya saja kali ini mereka juga kedatangan orang baru, iya siapa lagi kalau bukan Cavita dan Kriss. Sebenarnya Cavita sudah bersikeras menolak keputusan Anastasia utk membuatnya sekolah lagi. Tapi apa yg ia bisa lakukan, keputusan Anastasia benar-benar tdk bisa di ganggu gugat.


Kriss hanya mematuhi apa yg diinginkan kakak barunya itu, ia sudah tahu apa yg akan terjadi jika ia menolak. Mereka pun pergi ke kelas mereka dan Cavita dan Kriss juga memperkenalkan diri mereka kpd orang-orang di kelas.


Mereka juga menerima mereka dgn baik, namun ada satu yg mengganggu. Selama di berjalan dari perkiraan ke kelasnya, bahkan di dlm sana pun ia mendapatkan tatapan penuh pertanyaan dari mahluk yg ada di sekolah itu.


Iya bagaimana tdk tubuh nya penuh dgn perban begitu, siapa yg tdk akan menyadari nya. Tapi seperti biasa dia menghadapi nya dgn datar dan dingin. Karena merasa risih di perhatian pun, ia memutuskan bolos ke atap, iya sudah bisa sih.


" Apa dia sering bolos seperti itu? " tanya Cavita berbisik kpd teman sebangku nya, Layla.


" Kau belum tahu, ya? " tanya balik Layla.


Cavita hanya memiringkan kepalanya tdk tahu, Anastasia yg dia tahu tdk akan pernah bolos sekolah.


" Dia itu pemimpin di sekolah ini, tdk ada yg berani mengganggunya. Tapi dia di idolakan oleh semua yg ada di sini, karena jika dia ada Merlia dkk tdk akan berulah. " jelasnya panjang lebar.


" Memangnya dia pernah melakukan hal apa sampai ditakuti seperti itu? " tanya Cavita lagi.


" Kalau begitu kau harus janji tdk boleh menyebarkan nya diluar sekolah, ya. " ucap Layla.


" Jgn khawatir, aku teman masa kecilnya. " Ucap Cavita.


" Ouh, ternyata begitu. Baiklah jadi, Anastasia pernah mengamuk di sini. Dia marah karena seseorang bernama Luna menghancurkan kalung peninggalan kakeknya. Dia bahkan menyiksa nya di kantin menggunakan pisau. "


Cavita sangat terkejut mendengar itu, Anastasia yg selama ini ia ketahui adalah orang yg baik dan lemah lembut. Tapi yg ia dengar di sana, dia benar-benar berubah menjadi orang yg kejam.


Tapi ia mengerti kalau Anastasia berubah karena keluarga itu, ia juga sangat membenci mereka karena telah membuat hidupnya menderita dan membuat orang tua nya meninggal.


Saat jam istirahat tiba mereka pun pergi ke kantin bersama, tapi ngomong-ngomong soal masalah Sherly. Ia masih terus di bully oleh Merlia dkk setiap ia sendirian, meski pun begitu ia beruntung karena mereka tdk melakukan hal yg mencolok seperti melukai atau menghilangkan barang-barang yg penting jika membully nya.


Dgn begitu ia bisa merahasiakan nya dari Anastasia dan yg lainnya, ia masih belum bisa membalas mereka dgn bela diri yg ia pelajari. Ia masih belum yakin dgn kemampuan nya utk melakukan itu, mengingat Yuna adalah mantan anak mafia, sudah pasti dia bisa melakukan beladiri.


Ia pun hanya pasrah dan menunggu waktu yg tepat membalas mereka, Anastasia pun sebenarnya sudah tahu dgn hal itu. Ia pernah memeriksa CCTV yg ada di sekolah dan melihat mereka membully adiknya, tapi ia menghormati keputusan Sherly yg ingin mengatasi sendiri.


Ia juga marah melihat itu, tapi ia akan menunggu. Ia ingin membuat Sherly lebih dewasa dan bisa melindungi dirinya sendiri, itu karena ia tdk akan bisa selalu ada di sampingnya. Tapi jika Merlia dkk mencoba melukai Sherly labih dari itu, ia tdk akan tinggal diam lagi. Ia juga sudah mempunyai bukti utk melawan mereka, bukan hanya CCTV tapi hal lainnya.


Ia hanya menunggu waktu yg tepat.