
**Di kamar Damian
Saat ini ia sedang berunding dgn Cassandra dan juga Clara, masalah Stella yg tiba-tiba keluar dari penjara. Karena tdk mau ada yg tahu selain beberapa orang saja, mereka memutuskan utk bicara bertiga. Clara adalah orang yg paling tahu selain Aria dan Damian, sedangkan Cassandra adalah pihak Anastasia yg paling bisa memegang rahasia.
Iya, meski yg lainnya juga bisa, tapi kadang-kadang mereka membicarakan itu tanpa lihat situasi atau pikir panjang. Sejauh ini hanya 4 orang yg tahu tentang info itu.
" Jadi... Apa yg akan kita lakukan?? " tanya Cassandra. " Bukankah lebih baik kita cari dia langsung, jika tdk kita tdk akan tahu dia ke mana dan siapa yg membebaskan nya. "
" Soal orang yg membebaskan nya sih, sudah ku cari tahu. Hanya saja motif dia membebaskan Stella itu utk apa?? " ucap Damian.
" Tapi kita juga tdk bisa menyembunyikan ini dlm waktu yg lama dari Nana. "
" Apakah tdk ada jejek dia pergi ke mana?? " tanya Clara.
" Sayang sekali tdk, mh. " jawab Damian.
" Tapi kenapa para polisi itu membiarkan nya saja, sudah jelas perempuan itu bersalah masih di keluarin. " ucap Cassandra kesal.
Ia benar-benar kesal ketika mendengar itu, sudah cape-capa membuatnya terkurung di dlm jeruji besi malah berhasil keluar begitu saja.
" Kau tahu kan beberapa orang bisa di beli begitu saja, Itu juga yg dilakukan orang itu. Membebaskan Stella dgn membuat bukti palsu dgn bantuan orang dalam. " ucap Damian.
" Benar-benar licik, apa ada kemungkinan dia balas dendam kpd Nana?? " tanya Clara.
" Tentu ada, bibi. Stella pasti sangat membenci Nana saat ini, dia sudah kehilangan semua yg ia bangun selama ini. " sahut Cassandra.
" Tapi kenapa orang itu membantunya?? "
Saat mereka sedang berpikir keras tentang alasan orang itu membebaskan Stella, mereka dikejutkan dgn suara benda jatuh di balik pintu kamar Damian.
Mereka saling pandang utk beberapa saat, sampai akhir Damian berjalan kearah pintu itu dan membukanya. Dan lagi-lagi mereka di kejutan dgn kehadiran Anastasia di sana.
" Nana... " ucap mereka terkejut.
Anastasia masih diam sambil menatap mereka tdk percaya, sampai akhirnya dia bertanya.
" Apa maksud kalian?? Stella bebas...?? "
" Nana... Soal itu... Biar kami jelaskan dulu. " pinta Cassandra.
" Apa maksud kalian?!! Bagaimana dia bisa bebas?!! "
Mereka masih diam mendengar pertanyaan Anastasia, sedangkan Anastasia sendiri sudah pasti marah.
" Kenapa? Padahal semua buktinya sudah ada, bagaimana dia bisa bebas begitu saja?? " ucap Anastasia tdk percaya.
" Nana, tenang dulu oke. " ucap Clara, ia menghampiri putrinya dan memegangi tangannya.
" Benar, aku harus tenang... Ah, tdk tunggu.. " Sanggah Anastasia. " Kak Ian, aku mau seminggu lagi kita menikah!!." ucapnya.
" Apa?!! " Clara dan Damian.
" WTF?!! " Cassandra.
Dan sekali lagi mereka dikejutkan dgn pernyataan itu, atau mungkin lebih terkejut dari sebelumnya. Iya, mereka pasti bingung dgn Anastasia yg meminta menikah secara mendadak ini.
Sedangkan Anastasia, wajahnya seperti sedang dikejar sesuatu yg ingin ia hindari. Ada perasaan sedikit takut, Kesal, dan terganggu di wajahnya. Membuat mereka semakin bingung dgn apa yg terjadi.
" Wow, wow. Ada apa ini?? Bukan kah sebelumnya kau yg bilang tdk mau buru-buru?? " tanya Damian.
Belum ia menjawab, Anastasia malah langsung memeluk Damian dgn erat.
" Dia kembali, pria aneh itu kembali. Aku tdk mau di teror lagi. " ucap nya.
Damian semakin bingung, dan penasaran. " Siapa? " tanyanya.
" Haris Leonardo. " Anastasia mengangkat wajahnya menghadap wajah Damian. " Dia terus meneror ku selama setengah tahun lalu, saat aku mulai membentuk 'DA'. Dia bahkan mengancam akan membunuh Diana saat itu, jika saja Adrian tdk datang membantuku. "
Damian mengerutkan alisnya setelah mendengar itu, ia merasa pernah mendengar nama yg di sebutkan Anastasia. Tapi yg membuatnya semakin bingung adalah Anastasia saat ini, jelas di sedang takut. Bukan takut tdk bisa menghadapi orang itu, tapi takut jika keluarga dan teman-temannya jadi terlibat atau bahkan terluka karena itu.
" Kenapa kau tdk mengatakan nya padaku? "
" Waktu itu kita belum bertemu, kak. Dan sebelum aku menemui mu, ia berhenti meneror ku. Kupikir dia mungkin menyerah karena aku tdk memperdulikan nya. Tapi tadi... saat Nina membawa sebuah buket bunga dan sepucuk surat, aku tahu itu dari pria itu. " ucap Anastasia dgn agak cemas.
" Tunggu... Maksudmu bunga yg kau buang itu?? " tanya Cassandra, Anastasia hanya menganggukkan kepalanya. " Haha... Pantas kau membuangnya dgn ekspresi kesal gitu. " lanjutnya.
" Aku tdk mau diteror pria gila itu lagi!. "
" Pria gila?? Apa maksudmu sayang?? " tanya Clara.
" Mamah... Pria itu memang gila, dia seorang psikopat gila, mamah... "
Clara dan Cassandra melongo mendengar itu, iya pantas saja Anastasia benar-benar merasa gelisah. Orang yg mendekati nya saja tdk waras, eh tapi beberapa saat kemudian mereka malah mengubah raut wajah mereka jadi datar.
" Lah, bukannya kau juga sama?? " batin mereka.
Sedangkan Anastasia bingung dgn perubahan itu.
" Ekhm... Baiklah, jika itu yg kau inginkan. Mamah akan bicara pada Claudia tentang ini, sekarang istirahat lah. Mamah dan Cassandra pergi ke bawah dulu. " ucap Clara.
Anastasia hanya mengangguk, setidaknya di berharap jika dia menikah pria itu berhenti mengganggunya.
" Kalau begitu tidurlah sekarang. " ucap Damian sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur.
" Tapi... "
Anastasia pun tersenyum, ia langsung berbaring di sisi Damian dan memeluknya. Damian juga tersenyum melihat tingkah Anastasia.
" Kak Ian tdk akan membiarkan dia membawa ku, kan?? " tanya Anastasia melihat wajah Damian.
Damian tersenyum, " Tentu saja tdk, kau hanya milikku. Tak kan ku biarkan siapa pun memilikimu. Nah, sekarang tidur. " ucapnya kemudian mengecup kening Anastasia singkat.
Anastasia benar-benar senang di manjakan oleh Damian, membuat nya lupa semua kekhawatiran nya. Tdk lama kemudian ia pun terlelap di pelukan Damian.
Setelah memastikan Anastasia benar-benar tidur, Damian segera turun dari ranjangnya dgn hati-hati. Ia tdk ingin membuat Anastasia terbangun, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ia pun keluar dari sana dan turun ke lantai dua, ia menuju sebuah kamar yg di tempati oleh seseorang.
Siapa hayooo......???
Iyap, dia adalah Jordan. Damian ingin meminta bantuan nya utk melakukan sesuatu. Dan saat pintu kamar yg tdk di kunci terbuka, ternyata di kamar itu tdk hanya Jordan saja sendiri.
Para pria ada di sana, sambil menonton sebuah film horor. Bahkan lampu di kamar itu di matikan utk membuat suasana seperti di bioskop. Damian menatap mereka datar, ia pun masuk dan menutup pintu itu dgn sangat pelan. Ia pun mulai berjalan mendekati mereka.
Dikarenakan terlalu fokus mereka pun tdk sadar dgn kedatangan Damian, apa lagi saat ia membuka pintu dan berjalan ke arah mereka.
" Woy, hantunya mana ini?? " tanya Leo sambil memakan cemilan yg ada di sana.
" Iya nih, gak muncul-muncul. " lanjut Jordan.
" Giliran muncul aja kalian teriak kaya tikus keinjek. " sahut Zaroon.
" Masa sih?? " tanya Stev, Adrian, dan Prensais serempak.
" Mana ada. Kak Zaroon mh, ngada-ngada. " ucap Jordan.
" Bener kok. " ucap Ryuzen datar.
" Buahahaha.... Kakaknya aja gak ngebelain. " tawa Justic.
Jordan pun menjadi kesal karena Ryuzen tdk membelanya, iya padahal adiknya itu dia tapi sikap datar dan jawab seadanya itu tdk pernah hilang.
Ia kemudian malah fokus sama Jeffry yg kebetulan duduk dilantai di depannya.
" Lah, kau kenapa diem aja Jeff?? " tanya nya.
" Iya, kesambet baru tahu rasa kau. " ucap Adrian.
" Hemmm.... Gimana ya, kalau kita nonton film ginian. Terus lampu di matiin, tiba-tiba ada tangan yg memegang pundak kita. Tapi itu bukan tangan salah satu dari kita. " ucap Jeffry tiba-tiba.
Jordan menelan ludahnya ketika mendengar itu, jujur pernyataan itu membuatnya merinding. Begitu pun dgn Leo, sedangkan yg lain mulai menatap Jeffry dgn serius.
" Kau jgn bercanda, Jeff. " ucap Prensais.
" Kan ini cuma andaikan, lalu apa yg terjadi pada kita ya?? "
" He.. Hei.. Itu tdk lucu. " ucap Leo.
" Kenapa?? Kau takut?? "
" Bu.. Bukan begitu. Hanya saja, itu tdk terdengar seperti candaan bagiku. "
Dan tanpa mereka sadari, ada sebuah tengan yg memegang pundak Leo.
" Jordan, jauhkan tangan mu dari pundakku. " bisik Leo dgn mata yg masih fokus ke depan.
" Tangan siapa?? Yg ada kau yg jauh kan tangan mu. " Jordan balas berbisik dgn Leo.
" Bukan aku. "
" Lah terus tangan siapa, dan yg di pundak mu juga siapa?? "
Mereka jadi gugup dan takut, tdk mungkin tangan yg lain. Karena posisi mereka cukup berjauhan. Mereka duduk di atas kasur Jordan, sedangkan yg lain ada di sofa di sana dan ada yg di lantai.
Mereka pun memutuskan utk menoleh ke belakang bersama, meski ragu dan takut setidaknya mereka akan tahu apa yg memegang pundak mereka.
Mereka menolah secara bersamaan, dan saat melihat ke belakang mereka melihat wajah datar Damian yg berdiri di belakang mereka yg terlihat sedikit menyeramkan karena suasana yg ada di sana.
" Setaannnnnnnn!!..... "
Teriakan mereka membuat yg lain ikut terkejut dan menoleh kearah mereka. Dan saat itu terjadi, Damian menghadiahi mereka pukulan yg cukup keras di kepala.
" Siapa yg kalian sebut setan, bocah curut. " ucap Damian.
" Auch... Apa yg kakak lakukan?? " tanya Leo sambil memegangi kepalanya.
" Memukul kalian, apa lagi?? "
Ia pun ikut duduk bersama dgn yg lainnya, sedangkan Leo kesal dan Jordan masih belum sembuh dari keterkejutan nya.
" Aduh benar-benar, kalian membuat kami sangat terkejut. Kanapa kalian berteriak seperti itu?? " tanya Stev.
" Salah itu kakak gak ada akhlak, masuk ke kamar orang bukannya salam dulu. Ini malah main masuk aja, udah bikin kita hampir kena serangan jantung lagi. " gerutu Leo.
" Ehh... Salah sendiri terlalu fokus. " ucap Damian. " Oh, benar juga. Jordan, aku punya pekerjaan utkmu. " lanjutnya.
" Pekerjaan?? " tanya Jordan.
Yg lainnya pun di buat penasaran dgn pekerjaan apa yg mana di berikan Damian kpd Jordan.
" Cari info tentang pria bernama Haris Leonardo. "