Mafia Girl

Mafia Girl
eps 100


Pagi harinya, Anastasia dibangunkan oleh sinar matahari yg menyusup masuk ke kamarnya. Hari ini terasa lebih spesial baginya, semua beban yg ia pendam selama ini hilang semuanya. Ia terbangun dgn perasaan yg sudah lama tdk ia rasakan, perasaan ringan dan penuh dgn kebahagiaan.


Ia pun segera bangkit dari tempat tidur nya dan pergi ke kamar mandi. Ia berendam menggunakan air hangat dan bersantai sejenak, setelah 25 menit berlalu ia pun keluar dari kamar mandi hanya dgn menggunakan handuk.


Ia keluar dgn bersenandung riang dan senyum lebar, hingga tdk menyadari seseorang yg ada di kamar nya. Sampai suara seseorang itu membuatnya terkejut.


" Woww.."


Anastasia otomatis menoleh kearah asal suara itu, ia terkejut melihat Damian yg ada di sofa kamarnya.


" Kyaaa..... "


Anastasia langsung berteriak dan berlari kembali ke kamar mandi. Sedangkan Damian tertawa geli melihat tingkahnya.


" Apa yg kak Ian lakukan di sini?? " teriak Anastasia dari kamar mandi.


" Tadinya aku ingin membangunkan mu, tapi malah melihat pemandangan bagus. "


" Dasar Mesum!!! "


Pipi Anastasia terasa panas, wajahnya pasti memerah saat ini. Damian baru saja melihat nya hanya menggunakan handuk, ia benar-benar malu. Anastasia mendengar suara ketukan dari pintu di belakangnya.


" Nana sayang, ayo keluar. Apa yg sedang kau lakukan?? "


" Aku tdk akan keluar sebelum kak Ian keluar dari kamar ku. "


" Hei, apa kau mengusir ku?? "


" Tentu saja tdk, tapi bagaimana aku mengganti pakaian ku jika kak Ian di sini. "


Damian kembali tertawa mendengar gerutuan Anastasia, iya jika di pikiran lagi itu bukan hal yg bagus. Bisa-bisa dia tdk mampu mengendalikan diri nantinya, tapi ia ingin menggoda Anastasia sebentar lagi.


" Padahal sebelum nya kau melihat ku tanpa pakaian. " goda Damian.


" Itu kan beda lagi ceritanya, kak. " keluh Anastasia.


Anastasia semakin malu karena Damian membicarakan hal itu lagi.


" Tapi bukankah itu sama saja, kau tdk melihat ku menggunakan pakaian. "


" Ihhh, kak Ian nyebelin. Pergi sana, setelah ini aku akan pergi. "


" Ke mana?? "


" Menemui seseorang, kalau kak Ian mau ikut sekarang pergi dulu agar aku bisa berpakaian. "


" Hemm... Kalau aku gak mau gimana?? "


" Aku suruh kak Ren usir kakak. "


Benar, itu mungkin akan terjadi, jika Anastasia bisa menghubungi nya. Tapi Damian jadi tdk yakin karena telpon Anastasia ada di kasurnya.


" Gimana jika aku berikan saja bajumu, yg mana yg akan kau pakai?? "


Anastasia tampak berpikir sebentar, itu bukan ide yg buruk baginya. Setidaknya Damian tdk akan melihat nya, kan.


" Kalau begitu bawakan pakaian yg ada di tempat tidur ku. "


Damian pun mengambil pakaian itu dan berjalan kembali ke arah kamar mandi.


" Buka pintunya, bagaimana aku akan memberikan pakaian mu?? "


Anastasia pun membuka sedikit pintunya dan menjulurkan tangannya, meminta Damian utk memberikan pakaian nya. Tapi Damian malah memikirkan ide bagus utk mengerjainya. Ia memegang tangan Anastasia dan membuka pintu kamar mandi.


Setelah itu ia langsung menarik Anastasia dan memeluknya. Tentu saja wajah Anastasia semakin memerah karena nya, saat ini Damian memeluknya yg hanya menggunakan handuk.


" Kak... Kak Ian. "


" Sstttt... Atau aku melihat tubuhmu. "


Anastasia semakin gelagapan, jika ia diam saja maka tdk akan pernah berakhir. Tapi jika ia melepaskan diri, Damian pasti melihat tubuhnya.


" Kak Ian, tutup matamu saja sampai aku kembali ke kamar mandi. "


" Jika aku tdk mau?? "


" Aku akan marah. "


" Oh ya, bagaimana?? "


Baik, Anastasia sekarang benar-benar kesal karena Damian tdk berhenti menjahilinya. Ia pun menginjak kaki Damian, membuat nya mengaduh kesakitan dan melepaskan pelukan nya.


Hal itu di manfaat Anastasia, ia langsung menyambar pakaian nya dan kembali menutup pintu kamar mandi.


" Nana, kau keterlaluan. " keluh Damian.


" Salah sendiri mengerjai ku, huh. "


" Jadi kau benar-benar marah?? "


" Iya. "


" Oke, Oke. Jgn marah, ya. Kau mau ke mana, biar aku yg antar. "


" Iya tunggu aja, dia pasti senang kak Ian datang. "


" Baiklah. "


Beberapa saat kemudian, Anastasia pun selesai mengenakan pakaian nya. Ia memoles sedikit lipstik di bibirnya kemudian keluar bersama dgn Damian. Saat mereka turun yg lainnya sedang sarapan bersama.


" Kau mau sarapan dulu?? " tanya Damian.


" Nanti di luar saja. " sahut Anastasia.


Damian hanya menganggukan kepalanya, mereka pun melewati yg lain yg sedang makan.


" Nana, kau mau ke mana?? " tanya Prensais.


" Aku mau ke luar dulu dgn kak Ian. "


" Tdk sarapan dulu?? " tanya Cassandra.


Ucapan itu membuat Cassandra tersipu, wajahnya ikut memerah kerena malu.


" Apa sih, Nana?? "


" Ciee... Kak Sandra tersipu. " ucap Leo menggoda Cassandra.


" Diam, Leo!! "


" Dih, ngambek. " Jordan pun ikut menggodanya.


Cassandra tambah kesal kerena terus di goda seperti itu, membuat yg lainnya tertawa karena itu. Anastasia pun ikut tertawa, kemudian ia pun pergi setelah berpamitan.


Anastasia pergi menggunakan mobil Damian, sesuai yg di katakan olehnya. Hari ini Damian yg jadi sopir pribadi nya, dan menemaninya seharian.


" Jadi kita mau ke mana, Nona?? " tanya Damian.


Anastasia tersenyum geli ketika mendengar Damian menirukan suara sopir Anastasia.


" Ke pemakaman. " jawab Anastasia.


" Hah, kenapa ke sana?? "


" Tentu saja mengunjungi kakek. "


Damian pun mengangguk ketika mendengar itu, benar juga mereka belum mengunjungi nya sejak datang ke negara K. Sebelum sampai ke tempat pemakaman, Anastasia menyempatkan utk datang ke toko bunga tempatnya selalu membeli bunga dulu.


" Permisi. " ucap Anastasia sopan.


" Iya, ah... Ya ampun, Anastasia?!! " ucap pemilik toko itu, ia terkejut melihat Anastasia.


" Halo nyonya, sudah lama tdk bertemu. "


" Ya ampun, ya ampun. Anastasia, aku tdk menyangka kau akan datang ke sini. Sudah lama sekali, sekarang kau sudah tumbuh menjadi gadis yg sangat cantik. "


" Terima kasih, nyonya. "


" Aku juga ikut sedih melihat penderitaan mu, Anastasia. "


Anastasia hanya tersenyum mendengar itu, tdk ada artinya lagi bagi Anastasia mengenang masa-masa itu.


" Tdk perlu khawatir, semuanya sedah lebih baik sekarang. " ucap Anastasia.


" Tentu saja, Kau gadis yg baik Anastasia. Aku masih ingat ketika kau kacil, kau selalu datang ke sini. Gadis yg polos dan lembut seperti mu, akhirnya tumbuh jadi lebih dewasa. Apa kau datang sendiri?? "


" Tdk, aku datang bersama dgn tunangan ku. Dia ku suruh diam di mobil, karena aku tdk mau perempuan-perempuan yg kegatelan mendekati nya. "


Mereka berdua tertawa bersama, tahu jika candaan Anastasia itu benar. Mereka sudah akrab seperti ibu dan anak, sejak dulu kakek Lin selalu membawa Anastasia datang ke sana. Bahkan setelah kakek Lin tiada pun Anastasia selalu datang utk membeli bunga, atau hanya sekedar bercerita.


" Jadi, Anastasia sayang. Bunga apa yg kau mau?? "


" Seperti biasa saja, satu buket bunga amarilis."


" Baiklah, tunggu sebentar ya sayang. "


Anastasia hanya mengangguk, tdk lama kemudian bunga yg ia inginkan datang. Bunga kesukaan kakek Lin, ia selalu memberikan bunga itu kpd kakek Lin, dan kakek Lin bilang kalau itu akan jadi bunga kesukaan nya selamanya.


" Apa kau ingin mengunjungi tuan Lin?? "


" Iya, aku akan mengunjungi nya. Sudah tiga tahun aku tdk datang ke sana. "


" Lalu, apa kau ingin meminta restu begitu."


Anastasia tertawa " Tdk juga, kakek pasti merestui kami meski aku tdk memintanya. "


" Benarkah?? Kenapa?? "


" Apa anda ingat anak laki-laki yg waktu itu saya bawa, nyonya?? "


Pemilik toko itu berpikir sebentar, mencoba mengingat-ngingat siapa yg Anastasia maksud. Setelah beberapa saat ia pun ingin anak laki-laki yg datang bersama Anastasia dan Kakek Lin dulu.


" Ah, anak itu. Kalau tdk salah namanya Ian, kan?? "


" Iya, Nama aslinya Damian. Dia tunangan ku. " ucap Anastasia tersenyum manis.


Wanita itu tercengang, siapa yg tdk tahu nama Damian di kota itu. Pengusaha yg sukses dan memiliki wajah tampan.


" Damian, yg CEO perusahaan terkenal itu?? "


" Iya. "


" Astaga, kau beruntung sekali sayang. Dia orang yg sangat tepat utkmu. "


" Terima kasih, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa, nyonya. "


" Hati-hati di jalan, sayang. " Wanita itu melambaikan tanganya kpd Anastasia.


Saat ia kembali ke mobil, Anastasia melihat Damian yg wajahnya sedikit cemberut. Sepertinya is terlalu lama meninggalkan pria itu.


" Ada apa, kak?? "


" Kau lama sekali, apa yg kalian bicarakan sampai melupakan ku yg menunggu ini?? "


" Hahahaha... Jgn marah kak, lagipula yg kami bicara itu kau. "


" Apa?!! "


" Tenang saja, kami tdk membicarakan hal buruk kok. "


Damian menghela nafas nya, meski sekesal apapun dia, ia tdk mungkin membuat Anastasia yg baru saja selesai marah padanya kembali marah.


" Oke, kalau begitu kita lanjutkan perjalanan atau makan dulu?? "


" Ke pemakaman dulu saja, ini tdk akan lama. "


" Baiklah. "


Akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan ke pemakaman kakek Lin.