
Malamnya Stella mulai beraksi sesuai perintah, saat tengah membantu memasak di dapur, dia menuangkan sebuah obat tidur ke dlm makanan yg dimasak. Dan ia hanya perlu menunggu sampai obat itu bekerja dan ia menyelesaikan misinya kemudian pergi jauh.
Stella hanya mengawasi dari kejauhan, dan setelah semuanya selesai dia menunggu di kamarnya.
" Ini sudah jam 11, harusnya mereka sudah tidur pulas. " gumamnya.
Ia pun keluar dari kamarnya diam-diam, dan pergi ke kamar Cassandra, karena kamarnya ada di pintu pertama saat ia naik ke lantai tiga. Ia membuka pintu yg tdk di kunci itu diam-diam sambil mengawasi keadaan, setelah masuk ia kembali menutup pintu itu agar tdk ada yg curiga.
Ia pun melangkah mendekati Cassandra yg tidur sambil membawa pisau ditangannya. Suasana di kamar Cassandra sangat gelap, tapi beruntung lampu di meja dekat Cassandra menyala, dgn begitu dia bisa melihat dimana Cassandra tidur.
" Maaf, ini demi kebebasan ku. " ucap Stella.
Saat ia akan menancapkan pisau itu, Cassandra tiba-tiba bangun dan itu membuatnya terkejut. Cassandra pun langsung menangkis tangan Stella dan menjatuhkan nya serta membuang pisau yg dibawanya.
" Ka... Kau masih sadar?? " tanyanya gugup.
" Kenapa aku harus tdk sadar, apa karena kau meletakkan obat di dlm makanan kami?? " tanya Cassandra, sambil mengunci pergerakan Stella yg berbaring di lantai.
" Ka... Kau tahu.. "
" Aku tahu, kami semua tahu. "
Tiba-tiba saja lampu di kamar itu menyala, dan sekarang nampak lah semua terget nya ada di dlm sana, dlm keadaan yg baik tanpa ada yg tidur satupun.
Wajah Stella memucat, dia seharusnya sudah tdk kaget lagi dgn hal ini. Tapi tetap saja dia tdk bisa menyembunyikan ketakutan nya itu.
" Kau pikiran kami tdk tahu semua yg kau lakukan, Alexandra. Ah bukan, Stella. " ucap Veronica.
" Haha.. . Kalian sudah tahu, ya. Kenapa kalian tdk membunuh ku saja dari awal. " tanya Stella.
" Mana mungkin kami akan melakukan hal yg akan membuat kami tdk mengetahui sesuatu yg lebih penting. " ucap Kriss.
" Apa yg lebih penting dari pada nyawa kalian?? "
" Anastasia. Dia orang yg membuat kami bisa seperti ini, kami bersumpah utk melindungi nya menggunakan nyawa kami sebagai taruhan nya. " ucap Cavita.
" Haha... Begitukah."
" Sekarang aku ingin tahu, apa rencana dari orang bernama Haris ini. " ucap Adrian. " Dan sebaiknya kau mengatakan nya. " lanjutnya.
Stella bungkam, dia tdk tahu apa-apa tentang pria itu, meski ia sempat tinggal di sisinya utk beberapa saat, utk dijadikan alat yg berguna utk ambisinya.
" Aku tdk tahu. " jawab Stella.
" Apa?? Kau yg bekerja sama dgnnya tapi kau tdk tahu?? " tanya Jeffry.
" Benar-benar aneh. " ucap Katania.
" Aku benar-benar tdk tahu. Yg kutahu dia hanya seorang psiko gila yg terobsesi dgn Anastasia, hanya itu. "
" Sebaiknya kita lanjutnya dgn tuan Damian saja. " usul Stev.
" Aku setuju " sahut Kriss
" Ti... Tdk, kumohon lakukan apapun asal jgn bawa aku padanya. Jika kalian ingin membunuhku pun lakukan saja. " pinta Stella, tubuhnya mulai gemeter saat Stev mengatakan nama Damian.
" Ck. Ck. Sayang sekali, tapi itu tdk bisa dilakukan. " ucap Cassandra yg masih menahannya.
Stella tetap menolak meski saat dia dibawa oleh dua orang anak buah Anastasia, dia tdk mau bertemu dgn Anastasia ataupun Damian. Alasan nya sudah pasti dgn apa yg akan dilakukan mereka kpdnya nanti nya, dia sudah dengar kekejaman mereka bedua dari anak buah Haris. Juga apa yg dilakukan Anastasia kpd ayahnya, Ronald Akashia. Dia tdk ingin berakhir seperti itu, mati dgn cara yg mengenaskan.
Tapi kata-kata apapun yg ia ucapkan tdk berpengaruh kpd Mereka semua, loyalitas mereka benar-benar hanya utk Anastasia dan Damian.
" Haah... Akhirnya, bisa tidur juga. " ucap Jeffry sambil meregangkan tubuhnya.
" Kau sih kerjaan nya tidur mulu. " ucap Veronica.
" Siapa bilang?!! "
" Apa?!! Ngajak berantem?!! "
" JIKA KALIAN INGIN RIBUT JGN DISINI!! KELUAR!! . " usur Cassandra, ia menendang Jeffry dan Veronica keluar kamarnya.
" Hei, kau jahat sekali!! . " ucap Veronica tdk kalah kesal.
" Apa kau tdk bisa memperlakukan kami dgn lembut apa?!! " ucap Jeffry ikut kesal.
" DIAM DAN PERGI KE KAMAR KALIAN, CEPAT!! " teriak Cassandra.
Mendapatkan teriakan itu Jeffry dan Veronica pun langsung lari kalang kabut, mereka tdk mau berurusan dgn Cassandra yg sedang marah seperti itu.
" Haah.... " Cassandra menghela nafas nya.
" Ya ampun, mereka kekanakan sekali. " ucap Cavita.
" Kau benar. " sahut Cassandra.
" Ya sudah, kami pergi ya Cas." ucap Katania.
Cassandra hanya membalas dgn anggukan kecil, setelah mereka pergi ia langsung mengunci pintu dan ia pun kembali ke ranjang nya dan tidur dgn nyaman.
Dan setelah pagi menyambut mereka, Stev langsung menelpon Damian tentang rencana penangkapan mereka yg berhasil.
" Halo. " ucap Damian disebrang sana.
" Tuan, kami sudah menjalankan nya. Dia sudah ditangkap, tapi tdk mau memberikan informasi. " ucap Stev.
" Hemmm..... Baiklah, aku akan datang sebentar lagi. "
" Baik tuan. "
Setelah itu Stev pun memutuskan telpon nya, ia keluar dari kamarnya dan kembali mendiskusikan tentang kejadian semalam dgn yg lainnya sambil menunggu Damian datang.
***
Sedangkan Damian, saat Stev menelpon nya dia sedang sarapan dgn Anastasia.
" Ada apa?? " tanya Anastasia.
" Stev bilang dia menangkap tikus yg ada di rumah. " ucap Damian.
" Tikus, ehh?? Di sana tdk ada tikus, bahkan satu ekor semut pun tdk ada. "
Damian terkekeh mendengar jawaban itu, sudah pasti yg ia sebut buka hal semacam itu.
" Sayang, kau tahu pasti apa yg ku bicarakan, kan?? "
" Iya, Iya. Jadi kau tdk akan ke perusahaan lagi?? "
" Iya, seperti nya begitu. "
" Duh, kasihan ayah. Dia mengurusnya sendiri. "
" Tdk sendiri, Ryu dan yg lain kan juga di sana. Jordan juga ada. "
" Eh, Jordan berkerja di perusahaan?? "
Damian hanya mengangguk mengiyakan. Sedangkan Anastasia terkejut karena Jordan yg seperti itu bekerja di perusahaan.
Setelah sarapan selesai Damian pun segera berangkat ke tempat Vero dkk, dia juga bilang kalau Violetta akan datang dan menemani nya di rumah. Iya Anastasia sering kesepian dirumah itu, karena biasanya dia yg selalu dikelilingi oleh orang-orang seperti Veronica yg cerewet, sekarang hanya ditemani oleh beberapa pelayan saja. Jadi kadang Damian meminta seseorang utk menemaninya di sana.
Anastasia hanya mengiyakan nya saja, ia tahu apa yg selalu dilakukan Damian karena tahu dia selalu bosan sendirian di sana.
Sedangkan disuatu tempat, seorang pria tersenyum dgn lebar karena semua rencana nya berhasil.
" Akhirnya semuanya akan berakhir, dan aku yg akan menang. " ucap pria itu.