
Di sebuah pemakaman di kota C, seorang gadis tengah berdiri di depan sebuah makam. Gadis berambut putih panjang dgn menggunakan gaun biru selutut itu menatap sendu makam orang yg ia kasihi. Siapa lagi kalau bukan Anastasia, di tangannya sebuket bunga amarilis. Tdk jauh di belakang nya, Damian menatap gadis itu.
Cukup lama Anastasia menatap makam kakek Lin, ia pun berjongkok dan menaruh bunga kesukaan kakeknya itu di dekan nisannya. Ia pun menutup matanya dan berdoa dlm hati, tdk jarang rambut panjang yg digerai nya terbang tertiup angin.
Setelah selesai berdoa ia kembali membuka matanya, ia tersenyum lembut.
" Sudah lama ya, kakek. Maaf aku baru bisa mengunjungi mu lagi. Aku yakin kakek pasti mengerti dgn apa yg terjadi padaku. " Anastasia menghela nafas, mencoba menahan rasa sesak di dadanya.
" Selama ini aku tinggal di negara S, disana aku kembali bertemu dgn keluarga kandungku. Dan sekarang aku mengerti dgn apa yg kakek katakan. Dan Oh, apa kakek tahu?? Aku kembali bertemu dgnnya, orang yg selalu ku tunggu. Kakek masih ingat kak Ian kan, ternyata nama lengkap nya itu Damian. Menyebalkan sekali ya, dia mempermainkan kita. "
Anastasia terkekeh kecil mendengar curhatan nya sendiri kpd kakeknya. " Dia selalu menemaniku, menjaga ku, memperhatikan ku, membuat ku bahagia, dan kadang membuatku kesal. Dia juga ada di sini sekarang, apa kakek mau bertemu dgnnya lagi?? "
Anastasia berbalik menatap kearah Damian dan mengangguk, Damian pun tersenyum dan langsung menghampiri nya. Ia ikut berjongkok berama dgn Anastasia.
" Halo kakek Lin, lama tdk bertemu. Aku juga minta maaf karena tdk bisa segera menemui mu dan membawa Nana. Aku harap kau memaafkan ku. " ucap Damian.
" Aku dan kak Ian sudah bertunangan, loh. Apa kakek akan merestui kami?? Iyah, meski tdk pun aku akan tetep bersama kak Ian sih. " senyum cerah terlihat di wajah Anastasia, tapi sesaat kemudian wajahnya berganti muram. " Aku sudah membalas mereka kakek, apa kau marah padaku?? Aku membuat putra sulung mu dan seluruh keluarga nya masuk penjara. Sedangkan putra kedua mu aku yg bunuh. "
Damian terus memperhatikan raut wajah Anastasia, ia tahu saat ini Anastasia sedang dlm perasaan yg tdk menentu. Mengingat semua hal yg telah terjadi selama ini.
" Apa aku jadi nakal di mata kakek?? Atau jadi jahat?? Aku jadi seorang mafia kek, apa itu salah??. " tanya Anastasia. " Selama ini aku selalu mengulangi semua pertanyaan-pertanyaan itu dlm kepalaku. Apa aku mengecewakan mu, kek?? "
Mata Anastasia mulai berkaca-kaca, dan akhirnya bulir-bulir bening jatuh dari matanya. Tersirat rasa sakit di mata indahnya, segala yg ia lalui adalah hal berat yg tdk mampu di bayangan orang lain.
Damian menyenderkan kepala Anastasia di bahunya, dan mengusap kepalanya dgn sayang.
" Aku tdk tahu apa kau benar atau salah, tapi aku hanya ingin agar orang-orang yg menindas ku dan orang-orang ku menerima balasan nya. Apa itu juga salah, kek?? " suara Anastasia mulai bergetar, membuat orang yg mendengar merasa hatinya di sayat-sayat.
Anastasia mengusap air matanya yg terus mengalir, menarik nafas utk menenangkan emosi nya. Dan berusaha kembali terdengar ceria seperti sebelumnya.
" Aku juga bertemu dgn orang-orang yg mampu menyayangi ku apa adanya,kek. Ada teman-teman kak Ian, aku juga dapat teman baru yg begitu perhatian. Selain itu aku punya dua saudara, satunya kakak ku, namanya Prensais. Dan yg satunya adik perempuan ku, namanya Sherly. Leo dan Vio juga selalu menghibur ku bersama dgn teman yg lainnya, mereka sangat baik dan perhatian.
Dan masih banyak lagi cerita yg lainnya. Ah, mungkin ada terlalu benyak sampai akan memakan waktu lama jika ku cerita kan. Aku.... Aku hanya berharap kakek masih di sisiku, agar aku bisa menceritakan semuanya. Agar aku bisa terus menghabiskan waktu bersama kakek. "
Tangis Anastasia kembali pecah, ia sangat, sangat, sangaattt merindukan pria tua yg membesarkan nya itu. Ia masuk ke pelukan Damian dan memeluknya dgn erat sambil menangis tersedu. Damian pun mengusap punggungnya dgn lembut, membiarkan Anastasia meluapkan semua kesedihan nya.
Damian pun kembali menatap makam kakek Lin. " Kakek, aku sangat mencintai Nana. Aku harap kakek bisa merestui kami, aku pasti akan menjaga Nana dgn baik. Aku juga akan membuatnya bahagia, seperti yg kakek inginkan.
Kakek, kami harus pulang dulu. Tapi kami pasti akan mengunjungi mu lagi. Ayo Nana. "
Anastasia pun bangkit di bantu Damian, mereka menatap makam itu dgn senyum lembut di wajah mereka.
" Sampai jumpa lagi, kakek. Nana menyayangi mu. " ucap Anastasia.
Mereka pun pergi dari sana, dan berjalan menuju mobil Damian. Saat itu, telpon Anastasia tiba-tiba saja berbunyi. Dan saat melihat siapa yg menelpon ia pun kembali tersenyum.
" Siapa? " tanya Damian.
" Mamah. "
" Kalau begitu angkat saja. "
Anastasia pun mengangguk dan mengangkat telpon dari mamah tersayang nya itu.
" Halo Mah. "
" Nana sayang, kau ada di mana sekarang?? "
" Aku baru saja mengunjungi kakek, mah. "
" Apa kau datang ke sana sendiri, sayang?? "
" Tdk mah, aku pergi dgn kak Ian. " Anastasia menatap Damian yg ada di samping nya, yg terlihat menaikan sebelah alisnya. " Kenapa, mah?? " tanyanya.
" Bisa kau berikan telpon nya kpd Damian sebentar sayang?? "
" Tentu. "
Anastasia pun memberikan telpon itu kpd Damian. Setelah meneriama telpon itu, Damian meminta Anastasia agar menunggunya di dlm mobil. Anastasia hanya mengangguk dan kemudian masih, sedangkan Damian berjalan agak menjauh dari Anastasia.
" Ada apa, mah?? " tanya Damian.
" Damian, apa kau sudah dengar kalau Stella sudah di bebaskan dan mendapatkan jaminan dari seseorang?? "
Damian diam sebentar utk memastikan Anastasia masih di dlm mobilnya. Iya, Damian sudah mendengar berita itu dari orang-orang Anastasia, tapi ia meminta agar dirahasiakan dari Anastasia.
" Apa Nana tahu soal itu?? "
" Tdk mah, apa mamah ingin aku memberitahu nya?? "
" Jgn, sebaiknya jgn beritahu dia. Kita masih belum mendapatkan info kemana perempuan itu pergi, kan?? Itu terlalu beresiko. Dan seperti nya orang yg membebaskan Stella juga punya kekuasaan besar, makanya dia bisa bebas dgn mudah. "
" Baiklah. "
" Setelah semuanya selesai, kembali lah besok bersama dgn yg lainnya. "
" Tentu, kami akan segera pulang. "
" Baiklah, mamah hanya ingin menyampaikan itu. Kita bahas nanti saya ya, jgn sampai Nana curiga padamu. Mamah tutup dulu. "
" Baik mah. "
Setelah itu, telpon mereka terputus. Damian berpikir sejenak, siapa yg kemungkinan membantu Stella utk bebas dan utk tujuan apa??
" Sepertinya aku harus mencari jejak mereka. " batin Damian.
Ia pun kembali dan masuk ke dlm mobilnya, Anastasia sudah menunggunya sedari tadi.
" Lama sekali, aku sudah lapar. " gerutunya.
" Haha... Maaf, mamah membicarakan banyak hal. " ucap Damian.
" Oh iya, apa itu?? "
" Mamah bertanya, kapan kita akan segera menikah?? Kubilang secepatnya. "
Jelas itu bukan apa yg mereka bicarakan, tapi karena mereka tdk mungkin memberi tahu Anastasia, hanya itu yg bisa membuat Anastasia berhenti bertanya.
Wajah Anastasia memerah mendengar itu, kenapa mereka selalu membicarakan pernikahan.
" Jadi kapan?? " tanya Damian.
" Apanya?? " tanya Anastasia dgn kesal.
" Menikah. " tersenyum menggoda.
" Ishh... Jgn bahas itu. " Anastasia memalingkan wajahnya karena kesal.
Damian terkekeh melihat Anastasia yg kesal, apa lagi wajahnya yg memerah itu.
" Ayo jalan, kak. Aku lapar. " gerutunya.
" Baik, baik. Jadi kita sarapan dimana?? "
" Bukankah ini terlalu siang utk di bilang sarapan?? "
" Tdk, karena makan siang masih lama. "
" Ya sudah terserah, aku mau kamar seafood. "
" Oke. "
Mereka pun langsung pergi menuju restoran seafood yg ada di sekitar sana. Selama di perjalanan mereka mengobrol banyak hal, dan Damian yg selalu menggoda Anastasia.
" Ouh, ngomong-ngomong mamah meminta kita pulang besok. " ucap Damian.
" Haah.. Kenapa cepat sekali. " keluh Anastasia.
" Sudah ku bilang karena mamah ingin kita cepat menikah. "
" Itu mah keinginan, kak Ian. "
" Benarkah?? Dari mana kau tahu?? "
" Tahu saja. "
Tdk lama kemudian mereka pun sampai di restoran seafood, mereka langsung masuk ke sana utk memesan makanan.