Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 55. Kehidupan Kedua


Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa ini adalah tahun ke-sepuluh Luna pergi selamanya dari dunia. Rasa rindu yang tak pernah bertepi kini dialami oleh Valko.


Setiap hari lelaki itu menunggu sesuatu yabg tidak pasti. Ya, setiap detik dalam harinya dia menanti kehidupan kedua Luna berlangsung. Ketika tidak memiliki kegiatan, Valko memilih untuk berdiam diri di kamar seraya menatap puncak pohon pinus yang ada di hutan La Eterno.


"Val, besok bisa antarkan pesanan Nyonya Margaret?" tanya Alarick seraya menyesap kopi dalam cangkir yang dia genggam.


"Bisa, Yah.


Alarick meletakkan cangkir kopi tersebut, lalu ikut menatap pepohonan pinus yang ada di hadapannya. Sesekali Alarick melirik sang putra yang sekarang lebih banyak diam dibanding dulu.


"Val, apa kamu tidak berniat mencari pendamping hidup?" Alarick berusaha membuka lagi perbincangan mengenai pernikahan.


Namun, Valko selalu menanggapinya dengan cara yang sama. Valko mendengus kesal seraya melemparkan tatapan sinis kepada sang ayah.


"Sudah berapa kali ayah menanyakan hal sama? Dan jawabanku akan tetap sama. Aku tidak ingin menikah sampai bertemu dengan Luna di kehidupan keduanya!"


"Aku hanya takut kamu merasa kesepian jika tidak segera menikah," ucap Alarick prihatin.


"Lalu, kenapa Ayah juga tidak menikah lagi setelah ibu tiada?" Dalam hitungan detik Valko dapat membalikkan keadaan.


Alarick pun bungkam. Dia membuang napas kasar kemudian kembali menatap langit yang mulai berubah menjadi gelap. Valko pun kembali bergelung dalam rasa rindunya kepada sang kekasih.


Keesokan harinya, Valko pun berangkat ke Kota Flor dengan mengendarai motor. Dia hendak mengantarkan obat tradisional yang dipesan oleh Margaret. Setelah menempuh perjalanan sehari penuh, akhirnya lelaki itu sampai di Kota Flor.


"Ini Nyonya." Valko meletakkan sekarung bahan obat-obatan tradisional di depan toko Margaret.


"Wah, terima kasih, Valko! Berapa totalnya?" tanya Margaret seraya tersenyum lebar.


"Untuk pengiriman kali ini, totalnya segini." Valko menyodorkan nota yang sudah dibuat oleh Alarick untuk Margaret.


"Baiklah, tunggu sebentar!" Margaret masuk ke toko, dan mengambil uang.


Sambil menunggu, Valko mengedarkan pandangan ke jalanan. Kenangan masa lalu bersama Luna pun melintas dalam memorinya. Sebuah senyum tipis terukir di bibir lelaki itu.


"Apa kabar, Sayang?" gumam Valko sambil meraba liontin bulan sabit yang menggantung pada lehernya.


Sedetik kemudian, ekor mata Valko menangkap sosok hadis yang sangat mirip dengan Luna. Dia sedang berjalan bersama seorang teman sambi bersenda gurau. Suara gadis itu pun sangat mirip dengan Luna.


Valko hendak melangkah mengejar dua perempuan itu. Namun, baru saja berjalan beberapa langkah, Margareta memanggilnya. Mau tidak mau Valko pun mendatangi perempuan itu untuk mengambil uang yang sudah dibungkus di dalam amplop.


"Saya buka dulu, ya, Nyonya?" Valko membuka amplop berwarna cokelat tersebut, kemudian menghitungnya.


Setelah memastikan uang yang diterima sesuai, Valko pun berpamitan. Dia segera mengendarai motor menuju tempat terakhir kali melihat dua gadis yang sedang berjalan tadi. Dia turun dari motor dan berusaha menanyakan keberadaan mereka kepada orang-orang yang melintas.


Akan tetapi, Valko tidak mendapatkan jawaban. Dia hanya bisa mengusap wajah kasar. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia berharap apa yang tadi dilihat bukan hanya halusinasi.


"Astaga, Luna. Aku benar-benar merindukanmu, Sayang."


Baru saja Valko menutup kalimatnya, matanya kini kembali melihat gadis yang sama persis dengan paras sang kekasih. Kali ini dia melihat Luna sedang duduk di dalam bus.


Valko mengerjap berulang kali untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak keliru. Setelah mengedipkan netra bahkan menguceknya berulang kali, akhirnya dia yakin kalau sedang tidak salah lihat. Gadis itu memang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Luna.


Valko pun segera melajukan motor kesayangannya untuk mengejar bus tersebut. Begitu kendaraan itu berhenti di halte, Valko langsung masuk dan mendatangi gadis dengan mantel berwarna merah terang tersebut.


Namun, ketika ia menoleh, ternyata gadis itu sama sekali tidak mirip dengan Luna. Gadis tersebut mengerutkan dahi seraya melemparkan tatapan aneh kepada Valko. Akhirnya dengan berat hati Valko turun dari bus.


"Sepertinya aku sudah gila!" Valko tersenyum kecut lalu mengusap wajah kasar.


...----------------...


Langit hari itu sedikit mendung. Angkasa berwarna jingga pertanda hari akan segera berganti malam. Valko sedang berburu di hutan bagian selatan.


Lelaki tampan yang kini tak lagi berusia muda itu berusaha menghabiskan waktu dengan berburu, dan ke kota seminggu sekali seperti biasa. Suasana hutan hari itu sangat hening. Hanya terdengar embusan angin musim gugur yang merontokkan dedaunan.


Langkah kaki Valko terdengar lebih jelas karena menginjak dedauan kering. Di depannya kini sudah ada seekor rusa jantan yang sedang minum di tepi sungai.


"Dapat!" seru Valko lirih.


Valko pun segera mengarahkan senapan laras panjangnya ke arah rusa tersebut. Valko mengintai target melalui pisir (alat optik yang berfungsi untuk memandu pandangan mata pada alat bidik pada senjata api atau alat lainnya).


Ketika hendak menarik pelatuk, tiba-tiba kepala bagian belakang Valko dipukul oleh seseorang. Sontak lelaki itu menoleh. Matanya membulat seketika saat mengetahui siapa orang yang telah berani memukulnya.


"Dasar pemburu liar!" seru gadis itu.


Seorang gadis dengan tas ransel di punggungnya itu menatap Valko penuh amarah. Dia memakai mantel bulu berwaramna merah terang. Gadis cantik itu juga sepatu boot serta topi rajut berwarna hitam.


"Luna?"


"Eh, bagaimana bisa Paman mengetahui namaku?" Gadis itu pun sama terkejutnya dengan Valko.


Tak terasa muncul kaca-kaca di mata Valko. Gadis di depannya ini terlalu mirip dengan sang mantan kekasih. Melihat Valko yang seperti akan menangis, gadis itu mengerutkan dahi.


"Halo, Paman! Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Paman mengetahui namaku?" tanya gadis itu lagi.


"Luna, apa benar ini kamu?" Kini Valko mendaratkan kedua tangannya pada lengan atas gadis itu.


"Lepas! Dasar Paman mesum!" teriak gadis itu setelah berhasil menghempaskan lengan Valko.


"Jangan menyentuhku! Kita tidak saling mengenal!" seru gadis itu waspada seraya menyilangkan lengan di depan dada.


"Aku tanya sekali lagi, kenapa Paman bisa mengetahui namaku?" Gadis itu menyipitkan mata menuntut penjelasan dari Valko.


"Kamu sangat mirip dengan kekasihku yang sudah meninggal," ucap Valko dengan suara gemetar menahan tangis.


"Omong kosong! Dasar lelaki cabul!"


Ternyata gadis itu memiliki nama yang sama. Dia juga bernama Luna. Selain itu penampilannya juga begitu mirip. Rambut ikal kecoklatan, dengan manik mata berwarna hazel. Terlebih lagi dia juga suka sekali memukul kepala Valko setiap tidak menyukai tindakan yang dilakukan lelaki tersebut.


Rasa rindu itu sedikit terobati karena kehadiran gadis itu. Pertemuan kedua mereka juga ada di tempat yang sama seperti sebelas tahun lalu. Hanya saja dengan situasi yang berbeda.


Valko tersenyum lebar, kemudian mendekap tubuh gadis itu penuh cinta. Lelaki tampan itu tak lagi mempedulikan Luna yang terus meronta minta dilepaskan.


"Luna, aku sangat merindukanmu!"


......-TAMAT-......