
"Ada apa?" tanya Luna penasaran.
"Satu meter dari sini ada jebakan. Mereka memasang jebakan tali yang dihubungkan dengan sarang lebah beracun!" seru Valko seraya menutup kembali kaca mobilnya.
"Astaga!" seru Azura sembari menutup bibir dengan kedua telapak tangan.
"Paman, pastikan kaca mobil tertutup rapat!" Valko mengingatkan Berto untuk menutup kaca mobil.
"Dalam hitungan ketiga, tolong lajukan mobil sekencang yang paman bisa! Lebah-lebah itu berjumlah sangat banyak. Tetapi, mereka hanya akan mengejar kita sejauh seratus meter saja. Setelahnya mereka akan kelelahan, dan kembali ke sarang."
"Baik!" Berto menggenggam roda kemudi dengan keyakinan penuh.
Tatapan ayah dari Azura dan Clavio itu, kini fokus pada jalanan di depannya. Valko mulai menghitung mundur. Ketika hitungannya berhenti pada angka satu, Berto langsung menginjak pedal gasnya hingga mobil itu melaju dengan kecepatan 180 kilometer per jam.
Benar saja, dalam hitungan detik, mobil yang mereka tumpangi menabrak seutas tali yang tidak begitu besar. Tali itu transparan, tidak begitu besar, tetapi ternyata begitu kuat.
Tak lama kemudian, tersengar suara benda jatuh ke atas tumpukan dedaunan kering. Perlahan terdengar dengung lebah yang sangat ramai. Suaranya beradu dengan deru mesin mobil yang sedang melaju sangat kencang.
"Kalian berpeganganlah!" Berto semakin menambah kecepatan mobil.
Berto melajukan mobil layaknya orang kesetanan. Menerjang apa pun yang ada di hadapannya tanpa ampun. Semua yang ada di dalam mobil terguncang ke kanan dan kiri seiring dengan laju mobil.
Setelah melaju sejauh 100 meter, mereka berhasil lolos dari kejaran lebah beracun itu. Berto pun menghentikan laju mobilnya sementara waktu untuk mengambil napas. Semua yang ada dalam mobil pun mengembuskan napas Lega.
Sialnya, Clavio yang sedari tadi tertidur sekarang menangis. Lelaki itu ketakutan dan terkejut karena melihat sang ayah yang mengendarai mobil begitu kencang.
"Hei, Vio. Tenanglah, kita hampir sampai ke tempat itu." Azura memeluk adik kesayangannya itu sambil menepuk pelan punggungnya.
"A-ayah menakutiku! Di-dia seperti ingin membunuhku!" seru Clavio di antara isak tangis.
Valko berusaha menahan tawanya mati-matian karena melihat tingkah Clavio yang terlihat aneh di matanya. Namun, berulang kali Luna mencubit paha lelaki itu agar menelan lagi tawanya.
"Valko!" seru Luna dengan suara lirih, dan mata membulat sempurna.
"Ah, ya! Maaf! Ampun!" Valko meringis kesakitan sambil merengek memohon ampun kepada sang kekasih.
"Berhenti tertawa!"
"Iya, siap, Bu!" Valko mengambil posisi hormat, dan Luna pun melepaskan cubitan mautnya.
Azura terus membujuk agar Clavio diam. Namun, semua usahanya gagal. Akhirnya, Luna turun tangan. Dia maju ke kursi depan, dan menggenggam tangan Clavio.
"Vio, dengar aku. Ayah terpaksa melakukannya karena kita dikejar lebah yang sangaaat banyak!" Luna menyapu udara di atasnya dengan telapak tangan, untuk memberi gambaran kepada Clavio seberapa banyak lebah yang tadi mengejar mereka.
"Baiklah, tapi A-ayah lain kali jangan begitu, ya? Vio takut," ucap Clavio di antara isak tangis.
"Iya, maafkan ayah, ya?" Berto menoleh kepada sang putra dan mengulurkan kepalan tinju, Clavio pun menyentuh kepalan tangan sang ayah dengan buku-buku jarinya.
"Paman, ayo lanjutkan lagi perjalanannya. Seratus meter lagi kita akan memasuki wilayah pemukiman Smilodon." Valko segera meminta Berto kembali mengemudikan mobil setelah Clavio terlihat lebih tenang.
Setelah mobil mereka melaju sejauh seratus meter, mulai terlihat beberapa pemukiman warga. Rumah-rumah di sana mirip dengan rumah warga Suku Canis di Hutan La Eterno. Rumah berbentuk semi permanen yang terbuat dari kayu dan batu bata.
Jalanan yang membelah pemukiman itu terbuat dari batu bata putih, dan hanya bisa dilewati sebuah mobil. Di bagian tepi jalanan tersebut terdapat beberapa tanaman seperti dandelion, Chamomile, dan beberapa tanaman lain yang dipercaya bermanfaat untuk kesehatan kucing.
"Siapa dia?" tanya Luna seraya menunjuk seseorang yang sedang berdiri di gerbang pemukiman tersebut. Seorang lelaki paruh baya dengan telinga mirip kucing dan berekor panjang sedang bersedekap sambil menatap mobil mereka.
"Paman Catz!" seru Valko dan Azura bersamaan.
"Paman Catz?"
"Maaf, tapi ... bentuk tubuhnya aneh." Luna tersenyum geli melihat Catz yang terlihat mirip Tom Si Kucing dalam sebuah permainan anak-anak.
"Kalau keluar dari wilayah ini, mereka akan berubah menjadi manusia seutuhnya. Meski berpenampilan aneh jika ada di kawasan ini, tetapi kekuatan mereka berkali-kali lipat lebih besar!" jelas Valko.
"Ah, aku jadi ingat ketika ayahmu dan beberapa orang dari Suku Canis yang hadir ke pesta pertunanganku dengan Draco."
Tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan besar di kepala Luna. Dia sempat terkejut bahwa semua suku Canis yang ada di pesta tersebut bisa berubah menjadi serigala, kecuali Valko. Itu artinya mereka memang bisa berubah serigala. Akan tetapi, kenapa hanya Valko yang ingin menjadi manusia seutuhnya?
"Ah, itu ...." Valko menelan ludah dan terlihat berpikir.
"Sebenarnya ...." Ucapan lelaki tersebut terpaksa menggantung di udara karena Berto menunjuk ke arah Catz.
"Dia mendekat!" seru Berto panik. Jari telunjuknya mengarah kepada Catz yang terus berjalan mendekati mobil mereka.
"Aku akan turun, Paman. Kalian tetap di sini! Jangan keluar dari mobil, apa pun yang terjadi." Valko memegang tuas pintu lalu melangkah keluar.
Valko pun mengulurkan tangan kepada Catz, tetapi lelaki berwujud setengah kucing itu hanya melirik uluran tangannya. Catz malah memasukkan tangan ke dalam saku celana sambil tersenyum miring.
"Bagaimana kabar ayahmu?"
"Beliau baik-baik saja, Paman. Paman, apa kabar? Sepertinya Paman hidup bahagia setelah membuat Canis dan Guildayi terpecah?" Valko menyipitkan mata, rahangnya mengeras.
Catz terkekeh, lalu mengajak Valko berjalan beriringan. Keduanya pun berjalan perlahan memasuki kawasan pemukiman bangsa Smilodon. Valko mengikuti langkah lelaki tersebut, tetapi tetap memasang mode waspada.
"Kalian mau ke mana?"
"Bukit Arcoíris, Paman."
"Untuk?"
"Ingin mengambil beberapa tangkai bunga untuk mengembalikan jiwa seorang pemuda yang tersesat."
"Di sini ada, apa kalian mau?"
"Maaf, tidak bisa. Bunga itu harus dipetik dari Bukit Arcoíris."
Berto menghentikan langkah. Dia memegang dada seraya tersenyum miring. "Aku benar-benar sakit hati karena ucapanmu!"
"Kalau begitu, kalian harus memenuhi tantanganku jika ingin keluar dari sini dengan lancar! Saat pulang pun, kalian akan bebas melewati kawasan ini tanpa hambatan lagi. Bagaimana?"
"Apa yang harus kami lakukan?"
Catz tersenyum penuh arti, kemudian membuang muka sekilas. Sedetik kemudian dia kembali menatap Valko, dan senyumannya lenyap.
"Kalian harus ...."
Valko memperhatikan setiap kalimat yang keluar dari bibir lelaki tersebut. Setelah paham dengan aturan main Catz, dia pun mengangguk mantap. Catz mengulurkan tangan, dan disambut oleh Valko
"Baik, aku setuju!"
...****************...
Ampir ke karya sahabatku juga, yuk!