Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 20. Pertunangan


Valko melihat Draco yang sedang membeli caramel macchiato di kedai kopi tempat dia bekerja. Tiba-tiba lelaki tersebut teringat akan Luna. Kopi itu adalah salah satu kopi kesukaan sang kekasih.


Kebetulan siang itu jam kerja Valko sudah selesai. Jadi, dia memutuskan untuk mengikuti mobil Draco menggunakan motor salah satu teman kerjanya. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, mereka berhenti di sebuah gedung yang ada di Kota Hoja.


"Pameran Hoja City?" Valko mengerutkan dahi kemudian mengikuti keduanya yang masuk ke dalam gedung tersebut.


Valko terus membuntuti Luna dan Draco. Hatinya terbakar melihat Draco yang terus mencuri pandang ke arah sang kekasih. Jemari lelaki tampan itu mengepal kuat dan rahangnya mengeras.


"Sabar, Valko. Sabar!" Valko berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Akhirnya, Valko memutuskan untuk keluar gedung, membiarkan Luna dan Draco bersama. Dia tidak mau kalau sampai amarahnya meluap dan menghajar Draco di dalam gedung. Valko menunggu keduanya di taman depan gedung seraya terus menenangkan diri sendiri.


"Kenapa Luna tidak memintaku untuk menemaninya? Dia malah pergi ke sini bersama si pengisap darah itu!" Valko mengusap wajah kasar.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Valko melihat Luna dan Draco keluar dari gedung pameran. Amarahnya sudah mereda. Dia beranjak dari kursi, dan berniat untuk menyapa Luna serta mengajaknya jalan-jalan sebentar.


Akan tetapi, emosi itu kembali membakar hatinya manakala melihat Draco menggandeng jemari Luna. Api cemburu berkobar di hati Valko. Tanpa menunggu lebih lama lagi lelaki itu langsung berlari ke arah Draco, dan mendaratkan sebuah tinju pada rahang vampir tampan itu.


"Tuan Muda!" teriak Luna.


Luna langsung membantu Draco berdiri. Wajahnya terlihat begitu panik. Pipi Draco membiru, tetapi langsung pulih seperti sedia kala dalam satu kedipan mata.


"Jadi, ini yang kamu maksud dengan bekerja?"


Luna dan Draco sontak menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Valko sudah berdiri sambil menggeram. Jemarinya mengepal erat, bersiap untuk kembali menghajar Draco.


"Aku diajak Tuan Muda ke sini untuk melihat pameran lukisan tahunan, Val. Kamu jangan salah paham."


"Jangan salah paham? Melihat kalian saling menautkan jari dengan mata kepalaku sendiri, apa itu pantas disebut salah paham?" Valko tersenyum miring seraya menyipitkan mata.


"Val, tolong percaya padaku. Dia hanya mengisi energi! Aku melihat ...." Luna berusaha menjelaskan apa yang terjadi.


Akan tetapi, semuanya sia-sia. Mata Valko sudah tertutup oleh api cemburu. Dia langsung menghujani Draco dengan pukulan. Draco yang tidak terima dengan perlakuan Valko pun membalasnya.


Baku hantam di depan umum pun tak terelakkan lagi. Keduanya saling melayangkan tinju. Luna hanya bisa berteriak untuk melerai mereka, tetapi hal itu tidak membuahkan hasil.


Sampai akhirnya, Luna meminta bantuan petugas keamanan gedung. Dua lelaki berbadan kekar itu pun dapat dipisahkan. Valko babak belur karena ulah Draco. Akan tetapi, wajah Draco masih sangat mulus tanpa luka sedikit pun.


"Val, aku tegaskan sekali lagi. Aku tidak ada hubungan apa pun dengan Tuan Muda. Aku semata-mata hanya bekerja dan mengabdi kepadanya! Tidak lebih! Kamu tidak usah berlebihan begini!" Luna menatap tajam Valko yang masih berusaha menahan amarah.


Luna langsung menarik lengan Draco, dan mengajaknya pulang. Gadis itu mengabaikan Valko yang kini dipenuhi lebam pada wajahnya. Dua orang laki-laki itu sama-sama kecewa dengan sikap Luna.


Valko kecewa karena Luna mengabaikannya, sedangkan Draco kecewa karena gadis itu hanya menganggapnya majikan saja. Valko mendapatkan hati sang kekasih, tetapi tidak bisa bersama setiap waktu. Draco bisa bersama Luna setiap waktu, tetapi tidak dapat memiliki gadis itu.


***


Sejak pertemuan di Hoja, hubungan Luna dan Valko tidak begitu baik. Luna enggan menghubungi Valko terlebih dahulu karena gengsinya yang besar, sedangkan Valko tidak mau menghubungi Luna karena masih kecewa dengan sikap sang kekasih.


Hari itu, sepulang kuliah Luna dijemput oleh sopir pribadi keluarga Vlad. Dia sempat terkejut, karena biasanya Draco yang selalu menjemputnya. Terlebih lagi, dia dibawa ke sebuah hotel mewah di kawasan perbatasan Flor dan Hoja.


"Maaf, Pak. Kita mau ke mana?"


"Tuan Vlad dan yang lain sudah ada di dalam, Nona." Sang sopir enggan menjawab pertanyaan Luna.


"Silahkan, Nona." Seorang perempuan paruh baya menunduk dan tersenyum ramah.


Luna pun membalasnya dengan senyum lembut. Gadis itu dituntun untuk duduk di depan cermin. Perias tersebut mulai menyapukan make-up ke wajah Luna.


Setelah semua selesai, Luna diminta untuk memakai gaun yang terlihat begitu mewah. Gaun berwarna broken white bertakhta kristal itu membentuk tubuh berisi Luna.


"Wah, Anda terlihat sangat cantik di hari spesial ini, Nona."


"Hari spesial?" Luna mengerutkan dahi.


"Iya, hari ini bukankah Anda akan bertunangan?"


"Bertunangan? Tunggu bertunangan dengan siapa?" Luna terbelalak.


Selama ini, dia tidak pernah mendapatkan kabar dari siapa pun perihal pertunangan. Sang perias pun mulai mengatakan kalau dia akan bertunangan dengan Draco. Detik itu juga Lina langsung beranjak dari kursi dan melangkah keluar ruangan tersebut.


Perempuan itu menghubungi Draco dan meminta lelaki tersebut untuk menemuinya. Tak lama kemudian Draco setengah berlari ke arahnya. Lelaki itu sudah rapi dalam setelan tuksedo.


"Tuan, apa maksudnya semua ini?" tanya Luna tanpa basa-basi.


"Apa maksudmu, Luna?"


"Tuan, Anda tidak usah berpura-pura! Apa maksud dari pertunangan ini?"


Draco mengusap wajah kasar. Dia akhirnya menceritakan semua yang terjadi. Mulai dari perjanjian Diego dengan sang ayah, hingga fakta bahwa Luna ternyata adalah titisan Arthemis.


"Awalnya kami ingin menjadikanmu seperti Clara. Untuk itu, kami meminta Paman Diego untuk menyerahkan dirimu dengan dalih menikahimu."


"Kalian benar-benar kejam!" geram Luna.


"Tapi, kami mengurungkan niat karena hanya dengan berada di dekatmu saja, kaum kami bisa memiliki energi lebih banyak dan tidak perlu lagi mengisap darah manusia."


"Jadi, kalian ingin memanfaatkan tubuhku demi kepentingan pribadi?"


"Bukankah keluarga Vlad sudah membantu Nyonya Martha untuk berobat?"


"Dan aku sudah membalas budi dengan bekerja selama 24 jam dalam 7 hari untukmu! Apa itu kurang? Aku sudah menghabiskan sisa waktuku untukmu! Bahkan sampai membuat hubunganku dengan Valko renggang! Apa itu tidak cukup?" Rahang Luna mengeras seketika.


Dadanya naik turun menahan gejolak amarah yang kini mendera. Gadis itu pun segera berlari menjauh sambil mencoba menghubungi Valko. Draco pun mengejar Luna, dan beberapa petugas keamanan gedung ikut mengejar gadis itu. Di tengah aksi kejar-kejaran itu, Valko mengangkat panggilannya.


"Ada apa?"


"Tolong aku! Aku mau ditunangkan dengan Tuan Muda Draco!"


...****************...


Mampir juga yukk ke karya salah satu sahabat Chika ❤