
Semilir angin di Hutan La Eterno menerpa dedaunan, sehingga menimbulkan suara daun yang bergesek satu sama lain. Valko tengah termenung di kamarnya sambil menatap puncak pepohonan pinus dari balik jendela.
Lelaki itu tengah dilanda rindu kepada sang kekasih. Hubungannya dalam tahap yang sangat memprihatinkan kali ini. Valko tidak sanggup jika terus begini. Dia sangat merindukan kebersamaan dengan Luna.
Saat sedang sibuk mengenang masa lalu saat bersama sang kekasih, tiba-tiba ponselnya berdering. Valko tersenyum lebar saat mengetahui bahwa Luna yang menghubunginya. Valko segera menggeser tombol hijau ke atas.
Dia bersiap untuk menyapa sang kekasih dengan suara penuh cintanya. Namun, kebahagiaannya sirna seketika saat mendengar ucapan Luna dari ujung telepon.
"Tolong aku! Aku mau ditunangkan dengan Draco!"
"Apa? Kamu bicaralah yang tenang!" pinta Valko.
"Aku dipaksa menikah dengan Draco! Paman Diego ternyata sudah membohongiku! Dia melakukan perjanjian dengan sekumpulan iblis itu!" Terdengar isak tangis mulai lolos dari bibir Luna.
"Kamu sekarang di mana? Aku akan ke sana!"
"Aku ada di ...."
Luna memberitahukan kepada Valko, di mana dia berada sekarang. Setelah sambungan telepon tertutup, Valko bergegas turun dari kamar. Dia meminta ijin kepada sang ayah untuk memakai motor kebanggaan yang sudah lama tidak dipakai Alarick.
"Kamu mau ke mana?" tanya Alarick penasaran.
Tidak biasanya Valko meminjam motornya. Dia bahkan memilih jalan kaki untuk keluar dari hutan ini setiap harinya. Namun, kali ini Valko terlihat begitu cemas dan terburu-buru.
"Kamu kenapa, Val?"
"Luna diminta untuk menikahi putra pertama Vlad, Yah!"
"Vlad?" Alarick terbelalak.
Sudah menjadi sebuah rahasia umum bagi warga Suku Canis. Keluarga Vlad merupakan salah satu ras vampir terkuat di negeri ini. Untuk itulah para tetua suku melarang mereka berhadapan dengan Vlad.
"Val, kamu tahu, 'kan siapa itu keluarga Vlad."
"Tahu, Yah. Tapi, aku tidak bisa begini! Aku tidak mau kalau sampai Luna benar-benar menikah dengan Draco!"
"Baiklah, mari kita adakan kesepakatan dengan mereka!"
"Ya?"
Alarick pun mulai membeberkan rencananya kepada Valko. Setelah berdiskusi lumayan lama, akhirnya Valko menyetujui ide dari sang ayah. Demi keamanan mereka, Alarick membawa serta beberapa warga suku Canis yang kompeten di bidang negosiasi dan bela diri.
Setelah semua siap, mereka semua berjalan menuju hutan larangan. Di tempat itu terdapat sebuah sumur tua yang lubangnya sudah tertutup oleh tanaman liar. Beberapa warga membersihkan sumur itu, dan setelah lubangnya terlihat Alarick maju.
Dia mulai mengucapkan mantra. Tak lama kemudian secercah cahaya putih keluar dari dalam sumur. Alarick memerintahkan Valko untuk masuk lebih dulu.
"Masuklah, sambil membayangkan keberadaan Luna."
"Baik, Ayah!" Valko langsung memejamkan mata, kemudian terjun ke dalam sumur.
Setelah itu, Alarick memerintahkan hal yang sama kepada semua orang yang ikut serta. Mereka diminta untuk membayangkan wajah teman yang sebelumnya masuk ke dalam sumur. Alarick pun masuk paling akhir.
Di hotel Jazmin, Luna kini kembali duduk di ruangan tempat tadi ia dirias. Gadis itu gagal kabur dari kejaran Valko dan petugas keamanan. Saat ini Luna sedang bersitegang dengan sang paman. Dia tidak terima dengan sikap sang paman yang telah membuat perjanjian tanpa persetujuan darinya.
"Aku tidak tahu kalau niat mereka seperti ini, Luna."
"Lalu aku harus bagaimana, Paman? Aku tidak mau dibelenggu seumur hidup bersama makhluk pengisap darah itu!" Luna terus berteriak sambil menatap tajam sang paman.
"Entahlah, itu perjanjian berdarah. Jika mengingkarinya, aku akan ...."
Diego menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia kembali teringat dengan isi perjanjian tersebut. Lelaki itu menyangka bahwa semua akan berjalan normal.
"Mati." Bahu Diego merosot dan kepala lelaki tersebut tertunduk lesu.
"Astaga, Paman! Bagaimana bisa jadi seperti ini?" Kini Luna terduduk lemas pada kursi empuk di bawahnya.
"Luna, aku yakin kamu mau menikah dengan Tuan Draco karena dia tampan. Dia juga anak yang baik. Seiring berjalannya waktu, aku yakin kalau kamu akan jatuh cinta kepadanya. Jadi, aku menyetujui semua itu."
Diego kembali teringat bagaimana Vlad menunjukkan foto putra semata wayangnya itu. Draco memiliki paras tampan, dan juga terlihat baik serta sederhana. Jadi, Diego yakin bahwa Luna pasti akan segera mencintai lelaki tersebut.
Namun, keyakinan Diego runtuh hari ini juga. Terlebih lagi kepada keluarga Vlad. Mereka adalah makhluk pengisap darah abadi yang bisa saja menyerang Luna kapan saja.
"Paman, sebenarnya aku sudah memiliki kekasih."
"Siapa orangnya? Kenapa aku tidak pernah tahu?"
"Valko, putra pertama kepala Suku Canis."
"Apa! Bukankah aku sudah bilang untuk menjauhinya? Mereka sama saja dengan keluarga Vlad!"
Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu. Rosella tersenyum datar sambil mengulurkan tangan, mengajak Luna untuk segera masuk ke ballroom. Luna terpaksa mengikuti Rosella. Dia tidak memiliki pilihan lain.
Langkah keduanya berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu setinggi dua meter. Saat pintu itu terbuka, mata Luna mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya yang masuk.
Ruangan itu terlihat sangat bersinar. Langit-langitnya dihiasi dengan kristal yang menjuntai. Kiri dan kanan sepanjang jalan menuju panggung pertunangan, dihiasi dengan beraneka macam bunga berwarna putih.
"Tenanglah, Sayang. Kamu akan selalu baik-baik saja dan aman bersama kami." Rosella tersenyum miring seraya melirik calon menantunya itu.
Luna tidak lagi memperhatikan ucapan Rosella. Dia mengamati isi ruangan tersebut satu per satu. Ada sebuah harapan yang tiba-tiba terpikir olehnya.
Val, apa kamu tidak datang? Apa kamu rela pertunangan ini terjadi?
Tak lama kemudian, dari arah pintu masuk muncul sebuah portal berbentuk oval dengan cahaya yang mengelilingi. Kemudian, Valko keluar dari sana disusul dengan beberapa orang lain dan juga Alarick.
Luna terbelalak. Dia tidak menyangka Valko akan datang ke hotel tersebut dengan cara yang ajaib. Vlad pun melangkah maju menghampiri mereka. Dia tersenyum ramah, dan mempersilakan rombongan itu masuk.
"Mari, silakan! Nikmati hidangan yang kami sajikan."
Alarick membalasnya dengan senyuman kemudian melangkah menyambut uluran tangan Vlad. "Sebenarnya kami ke sini karena ingin membawa Luna pulang."
"Maksud Anda apa?" Vlad masih berusaha mengukir senyum di bibirnya.
"Biarkan Luna ikut pulang bersama kami. Sebagai gantinya kami akan memberi kalian gadis lain untuk dinikahi Tuan Muda Draco."
"Apa kalian menghina kami?" Vlad memicingkan mata.
"Minta kami menukar Luna dengan gadis biasa? Kalian sedang mengejek kami? Luna adalah titisan Dewi Artemis. Dia bisa menjadi sumber kekuatan bagi bangsa kami, dengan hanya hidup berdampingan bersama." Vlad melirik ke arah Luna.
"Energi Luna lama-lama akan meredup jika kalian terus menjadikannya sumber energi." Alarick mencoba untuk mengingatkan Vlad mengenai dampak buruk yang akan di alami Luna jika mereka nekat melakukan hal itu.
"Paling tidak, dia akan tetap hidup lama. Daripada bersama dengan sekumpulan serigala. Mereka akan menerkam dan mengoyak tubuhnya, sehingga berakhir mengenaskan." Vlad menyipitkan mata kemudian tersenyum miring.
Tiba-tiba Alarick menggeram. Diikuti dengan orang-orang yang dia bawa. Begitu pula dengan Valko. Perlahan tubuh mereka berubah menjadi sekawanan serigala. Luna terbelalak mendapati kenyataan lain dari suku Canis.
Gadis itu baru menyadari bahwa apa yang dikatakan sang paman benar adanya. Mereka semua sama seperti Valko. Makhluk jadi-jadian yang terlihat sangat mengerikan ketika marah.
...****************...
Holaaa sambil nunggu karya ini update, mampir ke novel bestie Chika juga Yukkk 😍