Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 36. Petunjuk


Luna dan Azura dibuat melongo melihat sikap Clavio yang berubah 180 derajat. Clavio yang super manis dan manja, kini berubah menjadi sosok lelaki yang sedikit angkuh dan menyebalkan.


"Astaga! Benarkah dia adikku? Kenapa aku jadi rindu Clavio yang manis itu?" gumam Azura seraya menatap pintu kamar sang adik yang sudah tertutup.


"Sudahlah, semoga dia tidak menimbulkan masalah lain dengan sikapnya yang sekarang, Kak,” timpal Luna.


"Iya, benar, Istirahatlah. Besok aku antar kamu berangkat ke kampus."


Luna mengangguk kemudian masuk ke kamar. Gadis itu perlahan melangkah menuju ranjang, lalu langsung merebahkan tubuh di atasnya. Rasa lelah dan kantuk berat mendera tubuh gadis itu. Dia mulai memejamkan mata, dan berpindah ke alam mimpi.


Kali ini mimpi yang dia harapkan pun datang. Mimpi yang berisi petunjuk mengenai cara melepaskan kutukan sang kekasih. Dalam mimpi tersebut, Luna melihat bulan bersinar begitu terang.


Gadis itu berjalan di tengah lebatnya pepohonan pinus hutan La Eterno. Angin dingin menerpa permukaan kulit dan membelai helai rambut coklat ikalnya. Setiap dia melangkah, seperti ada jejak langkah lain di sekitarnya.


"Valko!" teriak Luna ketika melihat sekelebat bayangan yang sangat mirip dengan sang kekasih.


"Valko!" panggilnya lagi.


Akan tetapi, bayangan hitam itu hanya mengintip dari balik pohon, kemudian kembali bersembunyi. Luna terus mengejar bayangan itu dengan cepat. Sampai akhirnya bayangan itu menghilang di balik pintu rumah Valko.


Luna menelan ludah kasar. Entah mengapa dia merasa sangat takut dalam mimpi itu. Luna mulai mengangkat lengan dan mengetuk pintu rumah tersebut. Setelah mencoba mengetuk benda itu berulang kali dan tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Luna memutar tuas pintu perlahan.


"Tidak dikunci?" Luna mengerutkan dahi dan membuka pintu di depannya itu.


Ketika pintu terbuka yang terlihat bukanlah bagian dalam rumah Valko, melainkan alun-alun perumahan suku Canis. Luna menggaruk kepala karena melihat situasi aneh tersebut.


"Valko," panggil Luna lagi.


Masih belum ada sahutan dari sang kekasih. Alun-alun tersebut di penuhi oleh suku Canis yang sudah berusia dewasa. Mereka semua sedang berdiri mengitari sesuatu di tengah tanah lapang tersebut.


Tak lama kemudian, Valko muncul dengan mata sembab. Dia sedang menggenggam kalung yang pernah Luna berikan sebagai imbalan agar lelaki itu membiarkannya hidup, ketika bertemu pertama kali dalam wujud Dire Wolf.


"Valko!" Luna kembali memanggil sang kekasih. Kali ini nadanya tinggi karena ada rasa kesal, akibat merasa diabaikan.


Luna setengah berlari di belakang Valko dan meneriakkan namanya. Namun, tidak membuahkan hasil. Sang kekasih sama sekali tidak mendengarnya. Luna pun membuang napas kasar. Dia memutuskan untuk mengikuti alur cerita dari mimpi tersebut. Baru kali ini dia hanya bisa menjadi penonton dalam mimpinya sendiri.


Tak lama kemudian, seorang tetua suku Canis menyiapkan sebuah botol berisi cairan dengan warna merah muda. Dia menyiramkan cairan tersebut ke atas kayu cendana yang sudah di tata mengitari sebuah tiang pancang. Seekor serigala yang diikat pada tiang terlihat pasrah sambil menitikkan air mata.


"Maaf," ucap Valko lirih.


Tak lama kemudian, Valko menyulut kayu-kayu itu, hingga sang serigala terbakar. Anehnya, ketika api melahap tubuh serigala berbulu putih itu, tubuh Luna terasa seperti ikut terbakar.


"Panas!" teriak Luna sambil terduduk dengan keringat yang mengucur deras.


Napas gadis cantik itu tersengal-sengal. Keringat pun mengucur membasahi sekujur tubuh Luna. Luna mengusap wajah kasar kemudian melirik jam yang menempel pada dinding kamar.


"Sudah pagi ternyata." Luna langsung turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mengemasi barang, dia menemui Azura yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Perempuan itu hanya menyiapkan roti isi ikan tuna untuk sarapan. Luna membuka lemari es, lalu menuangkan susu ke dalam gelas.


"Pagi, Kak Zura."


"Pagi, sudah berkemas?"


"Sudah," jawab Luna setelah meneguk susunya.


"Mobil saja, Kak. Aku harus bergegas karena ada kuliah pagi hari ini."


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan bersiap." Azura melepas celemek, kemudian masuk ke kamarnya.


Lima belas menit kemudian, Azura keluar dengan membawa kunci mobil. Ketika mereka berdua hendak keluar dari rumah, tiba-tiba Clavio berteriak memanggil nama sang kakak.


"Ada apa?" Azura memutar bola mata malas.


"Aku ikut!" Clavio masuk lagi ke kamar, dan keluar dengan mantel tebal membalut tubuh tegapnya.


Azura terbelalak melihat penampilan Clavio saat ini. Dia terlihat begitu tampan, meskipun potongan rambutnya terlihat aneh. Entah kapan Clavio mengganti gaya rambutnya. Kini rambut yang biasanya terlihat rapi itu jadi mengembang bagian atasnya layaknya permen kapas.


Selain itu, di dalam mantel panjang berwarna cokelat muda itu terdapat dalaman kaos polos berwarna hitam, yang dipadukan dengan celana kasual berwarna senada. Dia tampil layaknya sedang menghadapi musim dingin.


"Vio, apa kamu tidak akan kepanasan memakai pakaian seperti itu?" tanya Azura keheranan.


"Ayolah, aku nyaman dengan pakaian ini." Clavio kembali berjalan ke luar rumah, sedangkan Azura yang masih heran dengan sikap sang adik hanya bisa menatap punggung lelaki tersebut sambil menggeleng berulang kali.


Di sisi lain, Luna yang tadi tidak memedulikan panggilan Clavio, kini sudah duduk di dalam mobil. Gadis itu tengah mengecek surel yang masuk ke ponselnya. Setelah membalas semua surat elektronik tersebut, Luna kembali menatap lurus ke depan.


Alangkah terkejutnya Luna saat melihat Clavio berpenampilan normal, bukan lagi seperti anak-anak. Dia terbelalak dan sempat terkekeh karena sudah terbiasa melihat lelaki tersebut berpenampilan manis ala balita. Namun, kini dipaksa menyaksikan penampilan anak muda jaman sekarang.


"Kenapa tertawa?" tanya Clavio dengan tatapan tajam.


"Itu, rambutmu kenapa seperti habis kesetrum?" Luna menutup mulut agar tawanya tidak pecah.


"Kenapa? Model rambut ini sedang tren! Sudah jangan cerewet! Namanya model rambut cepmek! Cepak mekar!" Clavio menyugar rambut sambil berpose layaknya model lalu kembali melemparkan tatapan tajam ke arah Luna.


"Kamu pindah ke belakang!" usir Clavio.


Luna berdecap kesal sebelum akhirnya pindah ke kursi belakang. Tak lama kemudian Azura masuk ke mobil, dan mulai melajukannya untuk membelah jalanan Kota Flor. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat Luna menganyam pendidikan itu.


"Kak, aku turun dulu. Terima kasih," ucap Luna sambil mengecup pipi Azura.


"Iya, sama-sama. Terima kasih juga karena beberapa hari ini sudah ikut berjuang menyembuhkan jiwa tersesat adikku yang sialan ini!" Azura melirik kesal ke arah Clavio yang kini sudah tertidur pulas dengan bibir terbuka lebar.


"Sama-sama, Kak." Luna terkekeh kemudian melambaikan tangan dan keluar dari mobil.


Gadis itu berdiri sejenak, sambil memperhatikan mobil Azura menjauh. Setelah kendaraan beroda empat itu menghilang dari pandangan, Luna langsung masuk ke kampus. Dia berjalan cepat ke arah ruangan Kepala Fakultas Seni.


Gadis itu hendak meminta maaf karena terpaksa bolos kuliah kemarin. Luna menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia mengetuk pintu, dan masuk ketika Abraham sudah mengizinkannya.


"Pagi, Pak. Saya ...." Ucapan Luna menggantung di udara karena Abraham menggebrak meja di depannya.


"Untuk apa kamu ke sini?"


...----------------...


Sambil nunggu karya ini up, mampir juga yukk ke karya sahabat Chika di bawah ini ❤❤❤