Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 29. Sebuah Sketsa


Azura dan Clavio kembali masuk ke mobil. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya. Azura mendengus kesal lalu bersedekap. Berto menahan tawa karena melihat sikap putri kesayangannya itu.


Azura adalah orang paling sabar yang Berto kenal. Hari ini, bocah ingusan bernama Micky dan Micko itu bisa membangunkan sisi gelap dari seorang Azura. Sungguh luar biasa!


Azura yang menyadari kalau sang ayah sedang menertawakannya pun menatap kesal pada Berto. Dia menyipitkan mata lalu mengangkat dagu sekilas.


"Ayah puas?"


"Hahaha, habisnya kesabaranmu bisa patah hanya karena dua bocah itu! Di mana stok sabarmu yang berlimpah itu?" Berto terbahak-bahak seraya menyeka air mata yang keluar karena tawa.


"Kak Azura bodoh! Mudah ditipu!" ejek Clavio sambil tergelak.


Sontak Luna dan Valko yang sejak tadi berusaha menahan tawa pun, akhirnya pertahanan mereka jebol. Semua yang ada di mobil menertawakan sikap Azura. Setelah lelah tertawa, mereka baru menyadari bahwa hari semakin sore.


"Wah, ayo cepat kita melanjutkan perjalanan! Aku khawatir jika bermalam di sini kita tidak akan aman!" ajak Valko.


"Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan!" Berto pun segera melajukan lagi mobilnya.


Setelah kembali melaju sejauh 10 kilometer, mereka kembali dihadang oleh seorang pemuda cantik dengan sebuah buku di tangannya. Dia berwujud seperti bangsa Smilodon pada umumnya. Memiliki wajah, telinga, dan ekor layaknya kucing. Namun berjalan tegak dan tinggi badan yang sama seperti manusia.


"Biar aku saja yang turun." Luna langsung membuka pintu mobil dan berjalan menghampiri pemuda cantik itu.


"Sore, Kakak!" sapa gadis berambut ikal itu.


"Hai, aku Luna."


"Aku Vinny, mau bermain teka-teki denganku?" tanya Vinny tanpa basa-basi.


"Teka-teki? Aku suka!" Mata Luna berbinar mendengar kalau dirinya akan memecahkan sebuah teka-teki.


"Baiklah!"


Vinny berjalan mendekat. Dia mulai membuka buku dalam dekapannya lembar demi lembar. Ketika sudah sampai di bagian yang diinginkan, Vinny menghentikan gerakan jarinya. Dia akhirnya menunjukkan sebuah sketsa kepada Luna.


Dalam sketsa tersebut, terdapat gambar seorang wanita anggun yang sedang tersenyum. Perempuan itu memiliki kulit pucat, dan rambut yang digerai hingga bahu. Gaun jaman Victoria membalut tubuh rampingnya. Luna mengerutkan dahi ketika melihat sketsa gadis tersebut.


"Ini adalah sketsa dari sebuah lukisan yang pernah aku lihat. Jadi, pertanyaannya adalah ...." Vinny tersenyum miring seraya menaikkan satu alisnya.


"Siapa orang yang melukis, dan siapa yang dilukis oleh orang tersebut? Lalu, apa alasannya membuat lukisan ini?"


"Astaga! Bagaimana aku bisa tahu? Kecuali lukisan Mahakarya pelukis terkenal aku tahu! Mona Lisa karya Leonardo da Vinci, The Starry Night milik Vincent van Gogh, Creation of Adam hasil coretan kuas Michelangelo. Aku tahu siapa pelukisnya!" Dada Luna kembang kempis mengetahui keabsurdan teka-teki yang dibuat oleh Vinny.


"Kalau lukisan yang ini, aku rasa hanya kamu, serta pelukisnya sendiri, serta Tuhan yang tahu itu lukisan siapa!"


"Pikirkan baik-baik! Aku beri kamu waktu satu jam untuk memikirkan jawaban!" Vinny melemparkan buku sketsa itu ke arah Luna dan gadis itu menangkapnya dengan sigap.


Vinny tiba-tiba berubah wujud menjadi kucing berbulu oranye dan berlari ke atap rumah. Luna mendengus kesal. Dia membawa buku tersebut kembali ke mobil.


"Bagaimana?" tanya Valko penasaran.


"Nih!" Luna melempar buku tersebut ke pangkuan sang kekasih.


"Apa ini?"


"Aku diminta untuk menebak siapa pelukisnya, siapa yang dilukis, dan alasan kenapa lukisan itu bisa tercipta." Luna mengabsen pertanyaan dari Vinny dengan jemarinya.


"Dasar aneh! Mana kita tahu! Kecuali kalau lukisan ini adalah hasil karya orang terkenal! Lukisan orang terkenal pun tidak semua orang awam tahu! Aneh!" seru Azura.


"Mereka benar-benar licik!" Berto kembali memukul roda kemudi.


"Aku mau tidur! Tolong bangunkan aku tiga puluh menit lagi!" pinta Luna.


"Eh, gimana sih kamu, Luna? Bukannya memikirkan jawaban, malah mau tidur?" tanya Valko setengah kesal.


"Ck! Kamu nggak ngerti, Val! Pokoknya lakukan saja apa yang aku bilang tadi!"


Luna tidak peduli lagi dengan Valko yang kini terdiam sambil menggaruk kepala. Dia mulai memejamkan mata, lalu memfokuskan pikiran. Dalam hitungan detik, Luna pun berpindah ke alam mimpi.


Sementara menunggu Luna yang terlelap, Valko, Azura, serta Berto meneliti sketsa itu secara bergantian. Mereka mengamati setiap goresan pensil yang terukir di atas kertas. Namun, tetap saja mereka tidak ada yang paham karena bukan penikmat seni lukis.


Lima belas menit kemudian, tiba-tiba Luna tersentak. Mata gadis itu terbuka lebar dan langsung duduk tegap. Tanpa berkata-kata, dia mengambil buku sketsa dalam genggaman Valko, dan keluar dari mobil.


"Hei, tunggu!" seru Valko.


Luna langsung berlari ke jalanan tempat dia dan Vinny tadi bertemu. Gadis itu meneriakkan nama Vinny berulang kali. Tak lama kemudian, Vinny yang masih menjelma menjadi seekor kucing melompat ke depan Luna. Dalam satu kedipan mata, dia kembali berubah wujud menjadi manusia setengah kucing.


"Bagaimana, Kak? Sudah tahu jawabannya?" tanya Vinny sambil tersenyum sinis.


"Lukisan ini karya Nyonya Rosella, istri Tuan Vlad! Salah satu bangsawan kaya di Flor. Mereka adalah pasangan vampir yang disegani oleh klan non-human lainnya!"


Vinny terbelalak. Dia tidak menyangka Luna bisa menyadari hal itu dengan mudah. Namun, dia kembali tersenyum lebar. Masih ada dua teka-teki lain mengenai siapa orang yang ada dalam lukisan, dan alasan kenapa Rosella membuat lukisan tersebut.


"Pertanyaan selanjutnya? Apa kamu sudah menemukan jawabannya?"


"Yang ada dalam lukisan itu adalah dirinya sendiri!" seru Luna penuh keyakinan.


Mendengar jawaban Luna, sontak membuat Vinny tertawa terbahak-bahak. Sudut mata gadis itu sampai basah karena jawaban yang disampaikan Luna.


"Bagaimana bisa, seseorang melukis dirinya sendiri? Kamu ini ada-ada saja!" Vinny menggelengkan kepala seakan meremehkan kemampuan analisis Luna.


"Aku menjawabnya bukan tanpa sebab." Luna tersenyum miring, kemudian membuka sketsa dari lukisan Rosella tersebut.


"Bingkai ini. Ini bukanlah bingkai foto biasa. Ini adalah cermin yang dipasang di ruang keluarga Tuan Vlad!" Luna menunjuk gambar bingkai yang ada dalam sketsa.


"Bagaimana bisa kamu tahu kalau itu cermin yang ada di dalam rumah Tuan Vlad?"


"Aku pernah tinggal di sana beberapa waktu. Jadi, aku tahu dan hafal betul letak furnitur yang ada di dalam mansion!"


"Jangan-jangan, kamu adalah gadis titisan Arthemis yang sempat akan bertunangan dengan Draco!" tebak Vinny seraya menunjuk wajah Luna.


"Bingo!"


Vinny berdecap kesal. Dia mengentakkan kaki ke atas batu bata sambil bersedekap. Gadis itu mulai kesal, karena jika gagal mencegah rombongan itu keluar, akan mendapat hukuman dari Catz.


"Masih ada satu lagi yang belum terjawab! Mengapa dia melukis dirinya sendiri? Dan bagaimana caranya dia melakukan itu?"


"Curang! Itu namanya dua pertanyaan lagi! Cih, licik sekali!"


"Sudah, jangan banyak ngomong! Jawab saja!"


"Itu karena ...."


...****************...


Hallooo, sambil nunggu Luna update baca juga karya keren sahabat Chika yaaa❤