Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 31. Akhir Ujian Berujung Duka


Valko menatap nanar mayat Dorito. Dia menutup mata sang sahabat dengan mengusapnya. Valko pun keluar dari rumah tersebut dengan perasaan kacau. Dia meremas kuat kertas yang ada dalam genggaman.


"Dorito, aku akan pastikan bisa keluar dari sini dengan selamat! Aku tidak tahu kenapa kamu nekat melakukan hal ini. Tapi, akan aku pastikan kalau pengorbananmu tidak akan sia-sia!"


Valko melangkah gontai ke mobil, dan membuka pintu tersebut. Berto, Azura, dan Luna terlihat panik ketika melihat Valko yang lesu dan sedih.


"Apa yang terjadi? Kita berhasil, 'kan kali ini?" tanya Azura.


"Paman, bersiaplah. Setelah ini akan ada pertempuran dengan para Smilodon keji itu. Perang antar klan akan pecah hari ini."


"Apa maksudmu?" Berto menautkan kedua alisnya.


"Aku akan menghubungi ayah dan meminta bantuan. Kita kalah jumlah jika melawan Smilodon sialan itu di sini!" Valko mulai mengirimkan pesan kepada Alarick melalui ponselnya.


"Ayo, kita jalan sekarang!" seru Valko.


Rahang lelaki itu mengeras. Jemarinya mengepal kuat menahan gejolak amarah yang menggempur hati. Valko ingin tahu, alasan Dorito sampai mengakhiri hidup dalam permainan itu.


Setelah sampai di titik 10 kilometer berikutnya, tampak Catz bersama beberapa bangsa Smilodon lainnya. Mereka berjajar membentuk pagar betis, dengan Catz berada di depan barisan. Kali ini Azura, Berto, Valko, dan Luna turun. Clavio diminta untuk tetap tinggal di mobil demi keamanan.


Mereka melangkah bersamaan, lalu berhenti tepat di hadapan Catz dan juga yang lainnya. Tatapan dua belah pihak tersebut saling beradu. Tajam, seakan hendak menguliti lawan masing-masing.


"Aku terkejut, kalian ternyata begitu cerdas hingga bisa lolos di ketiga permainan sebelumnya. Tapi, mari kita lihat ...." Catz tersenyum miring, lalu maju mendekati Valko.


Jarak lelaki setengah kucing itu, kini tinggal sejengkal dengan Valko. Dia mendekatkan bibir ke telinga Valko dan mulai membisikkan sesuatu.


"Apa kalian semua bisa selamat di pertempuran yang sesungguhnya?" Catz mengangkat tangannya yang ternyata sudah memegang sebuah pistol, lalu menarik pelatuknya.


Terdengarlah suara letusan senjata api yang membumbung di langit Hutan Gato. Catz kembali ke barisannya kemudian bersiap untuk menyerang rombongan Valko.


Begitu juga dengan rombongan Valko, mereka mulai memasang kuda-kuda dan memilih target yang akan mereka hajar. Begitu bangsa Smilodon melangkah maju, rombongan Valko pun ikut setengah berlari.


Mereka saling baku hantam. Pukulan keras, serangan belati, dan desing peluru mewarnai pertarungan mereka. Entah bagaimana para Smilodon itu tahu, senjata apa saja yang dibawa oleh Valko dan yang lain.


Luna hanya bisa menghindar karena sama sekali tidak bisa bela diri. Gadis itu mengandalkan kelincahannya untuk menghindar dari serangan. Dia melompat ke sana kemari layaknya bola bekel yang memantul di atas lantai.


"Luna, awas!" teriak Valko ketika melihat seseorang hendak menebaskan senjatanya kepada Luna.


Valko segera menendang lelaki tersebut, hingga tubuhnya terpental dan bertumbukan dengan pohon oak. Keduanya kini bertarung bersama. Luna menjadi umpan, dan Valko akan menyerang siapa pun yang hendak menyakiti kekasihnya itu.


Di lain sisi, Azura sedang menyerang lawannya dengan sepasang pisau belati dalam genggaman. Dia menikam semua yang menyerang dengan sekali gerakan. Korban pun berjatuhan karena Azura sudah mengoleskan racun pada belati tersebut.


"Rasakan! Kalian yang licik patut mendapatkannya! Aku akan memusnahkan klan keji kalian!" seru Azura sambil terus menikam musuhnya.


Darah terpercik ke wajah gadis cantik itu. Dia terus melompat, berlari, dan menerjang para musuh. Korban mulai berjatuhan. Pemukiman bangsa Smilodon kini menjadi arena pertempuran antara dua klan beda jenis.


"Dasar licik! Bedebah! Bagaimana bisa kalian menyerang kami berempat dengan mengerahkan semua penduduk Smilodon!" seru Berto seraya mengacungkan pistol ke arah Catz.


Catz kini mengangkat kedua tangan karena Berto berhasil menjatuhkan senjata api lawannya tersebut. Catz tersenyum licik. Sepertinya ada rencana lain di balik penyerangan ini.


"Lihat, tempat ini seperti lautan darah! Biarkan kami melintas sesuai janji!"


Lelaki paruh baya itu pun akhirnya ambruk ke atas tanah. Pistolnya terlempar dan berhasil ditangkap oleh Catz. Manusia setengah kucing itu menginjak kepala Berto dan menodongkan pistol ke arahnya.


"Ucapkan selamat tinggal pada dunia!" seru Catz kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Dasar Brengsek!" teriak Berto.


Dalam hitungan detik, akhirnya terdengar suara tembakan. Catz menembak kepala Berto, dan pertempuran itu berhenti. Azura, Valko, serta Azura langsung menoleh ke arah Berto yang sudah terkapar dengan kepala berlubang.


"Ayah!" teriak Azura lalu berlari ke arah Berto.


Luna dan Valko pun segera berlari mengikuti Azura. Azura menangis histeris sambil memangku kepala ayahnya yang sudah berlumuran darah. Air mata gadis itu tak terbendung lagi. Dadanya terasa begitu sesak.


Perjuangan mereka terasa sia-sia detik itu juga. Luna memeluk tubuh Azura dari belakang, dan mencoba untuk menenangkan gadis tersebut. Valko yang geram, langsung menghampiri Catz dan menghujani lelaki tersebut dengan tinju.


"Hahaha! Kali ini rombongan kalian ada yang mati! Artinya harus ada satu orang yang menjadi sandera dan tinggal di sini sementara waktu!"


"Bukankah kaum Smilodon lebih banyaknyang mati? Dasar Biadap! Seharusnya kami tetap menjadi pemenangnya" Valko mendaratkan pukulan terakhirnya pada rahang kiri Catz.


Dua orang Smilodon menghampiri Luna dan mencekal lengan gadis itu. Luna terus berontak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan dua orang tersebut. Valko menggeram.


"Lepaskan Luna!" teriak Valko dengan nada penuh amarah.


Valko menatap nyalang dua orang lelaki yang menahan Luna. Namun, dua orang itu tidak menggubrisnya. Valko segera beranjak meninggalkan Catz, dan hendak berlari mendekati mereka.


Akan tetapi, dua Smilodon lainnya menahannya. Valko terus berteriak frustrasi. Kekuatannya sudah habis karena sejak tadi melawan puluhan Smilodon yang menyerang.


"Lepaskan Luna!"


Semua orang yang ada di tempat itu, kini menoleh ke arah sumber suara. Di sana Alarick dan beberapa suku Canis sudah berdiri lengkap dengan sebuah tombak pada masing-masing genggaman tangan. Catz mulai bangkit dari tanah, kemudian menatap tajam Alarick.


"Hebat juga kalian! Bisa menembus perisai kami dengan portal kuno milik kalian!"


"Lepaskan Luna dan Valko. Sebagai gantinya, kami akan menemani kalian bermain sepuas hatimu!" Alarick menatap serius ke arah Catz.


"Selain itu, kami sudah membawa dua karung catnip dari hutan La Eterno!"


Dua orang suku Canis maju ke depan dan menurunkan dua karung besar catnip ke atas tanah. Semua Smilodon yang tersisa seakan terhipnotis karena aroma dari tanaman liar yang hanya bisa dijumpai di Hutan La Eterno itu.


"Kamu pikir, bangsa kami semudah itu?" Catz tersenyum miring seraya melipat lengan di depan dada.


Pimpinan dari para Smilodon itu pun mendekati Alarick. Dia menepuk bahu sambil tersenyum miring. Tatapan keduanya saling beradu, berusaha mengintimidasi satu sama lain.


...----------------...


Mampir juga ke karya keren sahabat Chika yaa~