
"Dia ada di sini, Pak Tua! Kamu jangan berbohong!" Valko meraih kerah baju kurcaci tersebut.
"Tenanglah, dia ada di dalam. Lepaskan aku," ucap kurcaci itu dengan suara lirih karena takut kalau sampai terdengar Clavio.
"Lepaskan Tuan Kurcaci itu, Val." Luna menarik lengan Valko agar sang kekasih melepaskan cengkeraman tangannya.
"Maaf, karena sudah berbohong. Dia tadi merengek dan memintaku untuk menyembunyikannya. Dia kesal kepada kalian karena sudah meninggalkannya di mobil sendirian." Rudolf menjelaskan semua yang telah terjadi dengan napas terbatas karena tercekik oleh cengkeraman tangan Valko.
Perlahan Valko menurunkan tubuh kecil kurcaci itu. Dia membuang napas kasar sambil mengusap wajah. Kurcaci itu bernama Rudolf, merapikan pakaiannya sang berantakan.
"Dia sedang tidur, masuklah perlahan." Rudolf membuka lebar pintu rumahnya.
Luna menutup mulutnya untuk menahan tawa agar tidak pecah. Dia melihat Clavio sedang berbaring di atas ranjang dengan ukuran separuh dari tinggi tubuhnya. Kini kaki jenjang lelaki tersebut tertekuk dengan telapak kaki menempel pada lantai.
Lebih lucunya lagi, bayi besar itu sekarang terlelap sambil memeluk boneka beruang dan mengisap jempol. Valko menepuk dahi melihat tingkah konyol Clavio yang tidak pantas dilakukan oleh lelaki sebayanya.
"Aku akan menyeretnya lagi ke mobil!" Valko langsung mengangkat tubuh besar Clavio dan menaikkannya ke punggung.
"Kami pamit dulu, Tuan. Maaf kalau kehadiran Clavio mengganggu waktu Anda." Luna menunduk penuh hormat kemudian tersenyum lebar.
"Iya, hati-hati di jalan. Ah, karena kamu gadis yang sopan dan baik hati, terimalah hadiah dariku." Rudolf mengeluarkan sebuah botol bening berisi cairan berwarna merah muda.
"Apa itu, Tuan?" tanya Luna sambil meraih botol tersebut dari Rudolf.
"Itu adalah Love Poison. Ramuan ajaib untuk memikat lawan jenis."
"Ah, aku tidak memerlukan ramuan ini, Tuan." Luna tersenyum geli mendengar penjelasan dari Rudolf.
"Selain untuk memikat, ramuan ini juga bisa digunakan untuk mengetahui siapa cinta sejati kita. Simpanlah! Kamu akan membutuhkannya suatu saat nanti.
Akhirnya Luna memasukkan botol kecil itu ke dalam saku mantelnya, lalu berpamitan lagi kepada Rudolf. Dia pun beranjak dari rumah kecil itu dan berjalan mengekor di belakang Valko.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini mereka melewati hutan Gato dengan aman dan tanpa drama. Perjalanan pulang mereka sangat mulus.
Sesampainya di rumah Clavio, Luna langsung menanam bunga yang dia bawa dari bukit Arcoíris. Luna, Valko, dan Azura berbincang sebentar mengenai ritual yang akan mereka lakukan besok lusa.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan besok lusa saat bulan purnama?" tanya Azura.
"Aku akan memandikan Cio di bawah cahaya bulan dengan kelopak bunga baby blue eyes. Lalu ...." Belum sempat Luna menyelesaikan kalimatnya, Valko menggebrak meja yang ada di depannya.
"Aku nggak setuju!" teriak Valko.
Luna memutar bola mata karena tahu apa yang ada di pikiran kekasihnya itu. Namun, di saat yang bersamaan dia juga tertawa dalam hati. Luna menarik lembut lengan kekasihnya itu.
Valko pun kembali duduk dengan patuh. Dadanya masih kembang kempis menahan gejolak di dalam dada. Mata lelaki itu terus melotot seakan hampir copot. Gawatnya bulu-bulu halus mulai tumbuh pada lengannya.
"Hei, Sayang. Kontrol emosimu. Lihat aku." Luna merangkum wajah Valko lalu tersenyum lembut.
Kini tatapan Luna dan Valko saling beradu. Melihat tatapan lembut sang kekasih membuat hati Valko kembali tenang. Seiring dengan amarahnya yang mereda, bulu yang tadi muncul pun kembali memendek.
"Mandi di sini bukan mandi yang kamu pikirkan. Kamu tahu 'kan kalau aku ini keturunan Dewi Arthemis?"
Valko mengangguk pelan dan Luna mulai menggenggam jemari sang kekasih. Dia tersenyum lembut dan mengusap pelan pipi Valko dengan ibu jarinya.
"Aku hanya akan berdoa kepada Sang Dewi. Ketika cahaya bulan berpendar seutuhnya di malam bulan purnama, otomatis sinarnyalah yang akan memandikan tubuh Valko."
"Jadi bukan mandi yang sebenarnya maksudmu?"
Luna menggeleng seraya tersenyum geli. Valko akhirnya menelan kegelisahannya. Dia membuang napas lega dan mengusap dada berulang kali.
"Hei, aku kan dari dulu sudah bilang. Kamu itu seperti medan magnet bagiku, Val. Sejak pertemuan pertama kita, kamu berhasil terus menarik hatiku untuk selalu melihat dan berjalan ke arahmu."
Lelaki itu mulai mendekatkan bibirnya pada bibir sang kekasih, dan mendaratkannya sekilas. Ketika hendak kembali melancarkan cumbuan itu, terdengar deheman dari Azura.
Keduanya pun menoleh ke arah gadis itu. Luna tersenyum kecut sambil mengusap leher berulang kali, sedangkan Valko masih tetap berusaha bersikap tak acuh. Mereka sampai tak menyadari kalau Azura masih ada di dalam ruangan yang sama karena kabut cinta telah menyamarkan kakak dari Clavio itu.
"Kalian ini! Silakan lakukan semaumu, tapi jangan di hadapanku! Nggak sopan!" gerutu Azura.
Gadis itu langsung beranjak dari sofa dan masuk ke kamarnya. Setelah pintu kamar Azura tertutup, Valko dan Luna terkekeh karena teringat kekonyolan mereka.
"Kamu tuh, main cium saja! Lihat Kak Zura ngambek!"
"Aku terlalu terpesona dengan kelembutan dan kecantikanmu, Sayang!" Valko terkekeh sambil mengacak rambut sang kekasih.
"Jadi, yang tadi mau dilanjutkan atau tidak?" Valko tersenyum miring.
Kini Luna bertindak agresif. Dia naik ke atas pangkuan Valko, dan mulai menghisap bibir lelaki kesayangannya itu penuh cinta. Valko pun membalas setiap sentuhan bibir Luna dengan kelembutan yang sama.
Cinta keduanya mengalir dan bermuara pada hati masing-masing. Rasa nyaman ketika bersama selalu tercipta di antara keduanya. Rasa ingin saling memiliki dan melengkapi memperkuat hubungan dua makhluk berbeda jenis itu.
***
Malam yang dinanti pun tiba. Luna sengaja menginap di rumah Azura beberapa hari untuk memastikan semua aman sampai hari ini tiba. Dia sudah menyiapkan sebuah meja panjang di taman belakang rumah sejak tadi pagi.
Sekarang Azura sedang membujuk Clavio agar mau berbaring di atas meja yang sudah disiapkan. Membutuhkan lebih banyak tenaga ekstra, serta hati seluas samudera untuk menghadapi serta membujuk bayi besar satu itu.
Azura sampai harus mengejar Clavio ke sana ke mari. Menuruti semua permintaannya agar mau berbaring di atas meja. Setelah persiapan selesai, akhirnya Luna yang turun tangan untuk membujuk Clavio.
"Vio! Kemarilah!" panggil Luna sambil melambaikan tangan.
Clavio pun segera berlari ke arah Luna dengan patuh, layaknya anak anjing yang menghampiri majikannya. Dia memeluk tubuh ramping Luna dan mendaratkan ciuman pada pipi gadis tersebut.
Azura pun mendekati sang adik, karena menyadari bahwa Luna tidak nyaman dengan sikap Clavio. Dia menarik lembut lengan Clavio sambil melemparkan tatapan tajam pada lelaki itu karena stok kesabaran yang mulai habis.
"Vio, dengarkan aku." Luna menatap intens manik mata lelaki di hadapannya itu.
"Iya, Kakak," jawab Clavio antusias.
"Kamu berbaring di sini sebentar saja. Kita bermain peran! Kamu menjadi pangeran tidur yang nanti akan diselamatkan seorang putri tangguh, dan ...." Ucapan Luna dipotong oleh Clavio.
"Kakak jadi putri itu? Lalu menciummu agar aku terbangun? Mauuu!"
Luna tersenyum kecut, sedangkan Azura menepuk dahinya. Mereka benar-benar dibuat kewalahan karena sikap Clavio yang sungguh tidak normal. Akhirnya Luna mengangguk agar urusan bujuk-membujuk ini cepat selesai.
Akhirnya Clavio naik ke atas meja dengan senang hati. Dia mulai merebahkan diri di atas meja. Luna serta Azura menaburkan beberapa kelopak bunga baby blue eyes ke sekitar tubuh Clavio. Terakhir, mereka meminta lelaki tersebut untuk menggenggam buket bunga baby blue eyes.
"Bunga ini berfungsi sebagai tempat tinggal baru untuk jiwa yang kini bersemayam di tubuh Clavio, Kak. Dia harus mendapat tubuh baru agar tidak menjadi jiwa tanpa arah. Setelah ini tolong rawat tangkai bunga setiap hari. Dia tidak akan layu sampai kapan pun, asal Kakak merawatnya dengan baik."
"Baiklah," timpal Azura.
Luna pun mulai memejamkan mata. Dia mulai mengucapkan permohonan di bawah sinar bulan yang berbentuk bulat sempurna. Suasana begitu hening malam itu.
Angin semilir menerpa semua makhluk yang ada di luar rumah. Aroma semerbak dari bunga baby blue eyes menenangkan jiwa-jiwa yang menghirupnya. Pancaran sinar bulan mulai turun dan menerpa kulit Clavio.
Namun, di tengah keheningan itu tiba-tiba Clavio bangkit dari pembaringan. Matanya terbuka lebar dan napasnya terlihat tak beraturan. Luna berdecap kesal karena hal tersebut.
"Ada apa lagi, Vio?"
"Aku ...."