
Kepulan asap kini masih membumbung tinggi di langit hutan La Eterno. Garis cakrawala mulai terlihat terang, pertanda fajar menjelang. Valko masih terduduk lemas di depan meja persembahan.
Lelaki tampan itu menatap nanar abu hasil pembakaran sandalwood yang bercampur dengan abu yang berasal dari tubuh Luna. Air mata lelaki itu telah mengering. Tatapannya kosong, karena kehilangan sosok wanita yang sangat dia cintai.
"Val, kamu tidak tidur semalaman. Istirahatlah," ucap Alarick sambil membawakan mantel milik sang putra.
"Ayah, apa benar manusia tidak hanya mengalami satu kali kehidupan?"
"Jika Sang Pencipta memberi kesempatan, maka kehidupan ke-dua di dunia ini bisa saja terjadi." Alarick ikut menatap sisa pembakaran ritual semalam.
"Luna meninggalkan ini untukmu." Ayah Valko menyerahkan kertas kepada sang putra.
Selain itu, dia juga menyerahkan sebuah kotak yang diikat dengan pita berwarna merah muda. Valko menerima surat itu dengan tangan gemetar. Lelaki tampan tersebut mulai membuka lipatan kertas, dan membaca dalam hati, setiap kalimat yang tertulis di sana.
...----------------
...
Untuk Valko tercinta,
Sedih rasanya harus menuliskan kata demi kata di atas lembaran kertas ini. Mimpi terakhirku ketika kita berada di bukit Arcoíris menjadi nyata. Di dalam mimpi itu, ternyata bukanlah serigala putih yang digunakan untuk persembahan.
Langit dan hutan La Eterno meminta diriku untuk ikut menjaga hutan ini bersama dengan arwah penjaga lainnya. Val, ini bukan salahmu. Semua terjadi atas kehendak Sang Pencipta.
Terima kasih sudah memberikanku sekelumit kisah yang begitu berharga sepanjang hidup. Aku dilahirkan dalam kesepian, tetapi mati dalam keadaan yang bisaa dibilang memiliki banyak teman. Aku rasa akan banyak air mata menetes karena merasa kehilangan diriku. Hehe.
Maaf, karena tidak mengatakan semuanya dari awal. Mimpi itu datang terlalu mendadak. Ketika semua yang dibutuhkan untuk ritual terkumpul. Aku tidak mau pengorbanan kita semua sia-sia.
Banyak sekali darah, peluh, dan air mata yang tertuang demi terselenggaranya ritual ini. Semoga kamu bahagia dengan kehidupan barumu, Val.
Oh ya, aku minta satu hal kepadamu. Tolong kumpulkan lukisanku kepada Profesor Abraham. Sampaikan rasa penyesalanku karena telah membuatnya kecewa, sekaligus ucapkan rasa terima kasihku karena beliau sudah bersedia membantuku selama menempuh pendidikan di universitas.
Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan. Val, aku sangat mencintaimu. Meski ragaku tak lagi di sisimu, bukankah hati serta cintaku selalu bersamamu?
Dari gadis kecintaanmu, Luna.
...----------------
...
Rasa sesak kini memenuhi dada Valko. Tangisnya tertahan, semakin mengimpit sanubari. Valko berulang kali memukul dada, berharap beban kesedihan yang bersemayam di sana turut keluar.
"Luna! Hadis kecintaanku! Kapan kita bisa bertemu lagi!" Valko terus terisak, tetapi air matanya kali ini tidak mau lagi mengalir.
Rasa sedih pun merayap di hati Alarick. Dia berulang kali mengusap bulir air mata yang mengalir membasahi pipi. Berusaha meneguhkan hati untuk menguatkan hati lain yang mendadak rapuh.
Beberapa hari kemudian ....
Valko mengendarai mobil Jacob membelah jalanan Kota Flor. Dia hendak mengantarkan tugas yang dikerjakan Luna dan menyerahkannya kepada Abraham. Ketika sampai di universitas, dia langsung menuju ruangan sang Kepala Fakultas Seni tersebut.
"Masuk!" seru Abraham ketika Valko mengetuk pintu.
"Saya kemari untuk ...." Ucapan Valko berhenti karena Abraham memotongnya.
"Aku sudah tahu semuanya."
"Ya?"
Abraham beranjak dari sofa, kemudian berjalan ke arah jendela ruangannya. Matanya menatap ke langit luas seraya melipat lengan di depan dada.
"Aku sengaja memintanya untuk melukiskan semua itu."
"Sudah kuduga! Apa maksud Anda melakukan ini semua!" teriak Valko seraya menggebrak meja.
"Aku adalah jelmaan dari Dewa Zeus. Aku memegang kendali atas apa yang terjadi di langit. Dan aku adalah ayah dari Luna."
Mendengar ucapan Abraham semakin membuat Valko naik pitam. Dia langsung menghampiri Abraham dan mencengkeram kerah kemeja lelaki itu. Tak elak tatapan keduanya saling beradu.
Valko menatap Abraham dengan tatapan bengis penuh kebencian, sedangkan Abraham sebaliknya. Dia menatap datar kepada kekasih putrinya itu. Rahang Valko mengeras seketika. Dia ingin sekali menghujani lelaki di depannya ini dengan pukulan.
Namun, Valko kembali teringat akan pesan Luna. Dia harus menahan emosi agar tidak melukai orang lain. Valko akhirnya meredam emosi dengan mengembuskan napas kasar, berharap amarahnya ikut terhempas dari hati.
"Setahuku orang tua Luna sudah meninggal." Valko melepaskan kerah kemeja Abraham secara kasar.
"Aku tidak pernah mati. Aku serta ibu Luna mengalami kecelakaan ketika perjalanan ke rumah sakit. Aku selamat, karena memang aku memiliki kekuatan lebih daripada ibunya yang hanya manusia biasa."
"Lalu apa sebenarnya tujuan Anda terus bersembunyi dan pada akhirnya memberikan tugas ini kepada Luna sebelum ritual itu? Kenapa Anda tidak mencegah ritual itu terjadi? Se-andainya saja Anda mencegahnya, pasti sekarang Luna masih hidup!" cecar Valko penuh amarah.
"Aku tidak pernah sembunyi dari siapa pun. Hanya saja aku tidak pernah mengungkapkan jati diriku." Abraham tersenyum sekilas, kemudian kembali melemparkan pandangan ke luar jendela.
"Mengenai lukisan itu, sebenarnya permintaan dari Sang Penguasa Hidup. Beliau ingin mengabadikan kisah menyesakkan kalian dalam sebuah lukisan, dan tangan Luna terpilih untuk mengabadikan momen ini."
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan pikiran kalian para Dewa!"
"Kembalilah, kamu akan menemukan sosok Luna yang lain. Sepertinya Sang Pencipta mengabulkan doa terakhir putriku sebelum terlahab oleh api."
Valko menatap kesal Abraham sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kesal. Dia keluar dari sana, lalu membanting pintu kasar. Dia membawa rasa kecewanya pulang.
Sesampainya di rumah, Valko membongkar kotak yang masih teronggok di sudut kamar. Hatinya sedikit ragu ketika hendak menarik pita berwarna merah muda itu. Akhirnya karena penasaran, Valko pun membuka kotak tersebut.
Di dalamnya ternyata berisi buku sketsa serta gelang yang pernah Valko berikan kepada Luna. Lelaki tampan itu tersenyum getir. Dia membuka lembar demi lembar buku itu.
"Dasar," ucap Valko lirih seraya tersenyum kecut.
Buku sketsa itu ternyata dipenuhi dengan wajahnya. Luna selalu menggambar wajah lelaki tampan itu setiap kali bertemu. Setiap sketsa yang ada di sana menyimpan kisah awal pertemuan keduanya sampai malam terakhir ketika Luna melukis meja persembahan.
Air mata itu pun kembali berderai, keluar dari pelupuk mata Valko. Dadanya kembali terasa sesak. Tenggorokan lelaki itu seakan diimpit oleh batu besar sehingga isak tangisnya tertahan. Setelah selesai mengenang perjalanan cintanya bersama Luna, Valko kembali menutup buku sketsa tersebut.
"Luna and The Dire Wolf." Valko mengeja tulisan yang ditulis dengan huruf indah pada sampul buku tersebut. Valko pun memeluk buku itu, untuk mengobati rasa rindunya kepada sang pemilik buku.