
Dua gadis di hadapannya itu memiliki tanda lahir yang sama persis. Seketika kepala Azura berputar. Dia bingung harus bagaimana lagi. Akhirnya Azura berjalan gontai keluar dari tenda.
"Bagaimana?" tanya Diego antusias.
Tiga lelaki yang sudah menantikan jawaban Azura pun menatap gadis itu penuh harap. Namun, ketiganya harus menelan kekecewaan karena pernyataan yang diucapkan Azura selanjutnya.
"Mereka memiliki tanda lahir yang sama persis!" seru Azura di hadapan Clavio, Valko, dan Diego.
Valko menepuk dahi, sedangkan Clavio dan Diego saling tatap. Paman dari Luna tersebut mengacak rambut frustrasi.
"Hanya itu yang aku tahu tentang Luna, selebihnya entahlah. Minta dia melukis atau apa pun itu. Terserah kalian!" usul Diego.
"Ah, ide bagus! Sekarang, bisa lukis padang bunga bukit Arcoíris ini secepat mungkin?" tantang Valko seraya menyapukan lengan ke udara.
"Tentu saja!" jawab Luna beda orang, satu rupa itu serempak.
Azura menyodorkan dua buah kanvas kecil serta cat warna dan kuas untuk melukis. Salah satu dari Luna mengerutkan dahi. Dia terlihat bingung harus memulai dari mana.
"Bisa aku meminta pensil?" tanya gadis itu.
"Dan selembar kertas. Kertas apa saja," imbuhnya lagi.
"Baiklah, tunggu sebentar." Azura pun kembali masuk ke tenda, kemudian keluar dengan secarik kertas dan juga sebuah pensil.
"Terima kasih," ucap Luna ketika menerima kertas dan pensil tersebut.
Keduanya pun mulai melukis. Bedanya satu dari mereka menggambar sketsa terlebih dahulu, sedangkan yang lain langsung menorehkan sapuan cat minyak ke atas kanvas. Dari sini sebenarnya Valko dan Diego sebenarnya sudah mengetahui siapa Luna yang asli.
Akan tetapi, mereka berdua memilih untuk diam. Mengikuti alur yang sedang dibuat oleh makhluk yang menyerupai Luna. Keduanya melukis hingga matahari mulai terbit.
Cahaya sang surya mulai mengintip di balik cakrawala, ketika Luna menyelesaikan lukisannya. Tentu saja yang selesai terlebih dahulu adalah Luna yang melukis tanpa sketsa. Gadis itu tersenyum puas menatap hasil karyanya.
Setiap goresan kuas dan cat minyak yang tertuang di atas kanvas benar-benar membuat siapa pun yang melihat terpesona. Hamparan padang bunga bukit Arcoíris justru lebih indah dipandang melalui lukisan yang dibuat oleh Luna.
"Luar biasa!" puji Azura ketika melihat lukisan yang baru saja selesai itu.
"Sudah selesai?" tanya Valko.
Lelaki itu pun langsung berjalan ke arah Luna. Dia menatap lekat lukisan yang dibuat oleh kekasihnya itu. Valko terbelalak seketika. Luna seakan telah memindahkan padang bunga di hadapan mereka ke dalam kanvas. Semua terlihat sangat nyata.
"Aku tidak bisa berkata-kata lagi!"
"Aku memang hebat, 'kan?" Luna mengangkat dagu kemudian tersenyum sombong.
"Sungguh lihai sekali ya, kamu ...." Sebuah senyum mengembang di bibir Valko.
"Bohongnya!" lanjut lelaki tampan itu.
Luna yang awalnya hendak memberi Valko pelukan pun mematung. Raut wajahnya mendadak berubah. Perlahan sebagian kulit pipinya berubah menjadi sisik. Gigi putih bersih itu berubah menjadi gigi runcing mirip gergaji.
"Sialan! Bagaimana bisa kamu tahu!" geram siren yang menyerupai Luna.
"Sebenarnya aku sudah tahu sejak kemunculanmu semalam di tepi danau, dan menyapa kami." Valko tersenyum miring seraya memicingkan mata.
"Aneh saja, bagaimana bisa ... orang yang baru keluar dari air, tubuhnya hanya basah sedikit bahkan hampir kering?"
Kini Valko berjalan ke arah Luna yang asli. Dia memegang bahu sang kekasih, menatapnya sekilas, seraya tersenyum lembut.
"Kekasihku ini selalu membuat sketsa sebelum benar-benar melukiskannya di atas kanvas. Mau seburu-buru apa pun, Luna-ku akan tetap melakukan hal ini." Valko menatap lembut kekasihnya itu sambil terus tersenyum
"Kalian sekumpulan manusia menjijikkan!" teriak siren tersebut.
"Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kamu yang menjijikkan? Kamu adalah makhluk yang tega mencelakai manusia demi kepentinganmu!" seru Azura penuh kebencian.
"Tahu apa kamu tentang aku?" Rahang siren itu mengeras, bulir air mata mulai turun membasahi pipi.
"Aku menjadi seperti ini, karena ulah manusia menjijikkan seperti kalian!" teriak siren itu dengan tubuh bergetar.
"Dulu aku juga sama seperti kalian! Tapi karena ulah beberapa orang yang iri, aku dibuang ke danau yang dingin itu. Sepi, sendiri, kedinginan, dan tidak ada seorang pun yang tahu!"
Tangis siren itu pun kembali pecah. Dia mulai menceritakan sepenggal kisah masa lalunya. Dia memperkenalkan diri sebagai Ariel.
Berdasarkan cerita yang dia ungkapkan, dulu Ariel merupakan putri salah satu konglomerat di Kota Flor. Namun, pesaing bisnis sang ayah serta beberapa perempuan bangsawan yang iri dengan kecantikannya menyewa jasa penyihir hitam.
Ariel diracuni, lalu dibuang ke danau. Dia dibiarkan hidup abadi dan sendiri dalam bentuk setengah ikan. Untuk itulah dia menangis setiap tengah malam.
Rasa sepi yang begitu menyayat hati, seakan menciptakan sebuah melodi yang ingin selalu dia ungkapkan. Hingga terciptalah nyanyian malam yang terdengar begitu menyedihkan itu.
"Dan semua ini, sengaja kami lakukan untuk menjahili kalian!" seru Luna sambil tersenyum konyol.
"Apa maksudmu, Luna?" Clavio mengerutkan dahi dan menajamkan tatapannya kepada Luna.
Lelaki itu sedikit tidak terima dengan pernyataan yang dibuat oleh gadis cantik yang sempat mencuri hatinya itu. Luna menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ingatannya kembali tertarik ketika masuk ke dalam danau Arcoíris.
"Jadi sebenarnya ...." Luna pun menceritakan asal mula ide gilanya ini.
***
Luna terus berontak. Dia terus menggerakkan kaki sekuat tenaga agar bisa terlepas dari tanaman air yang ada di dasar danau Arcoíris. Tanaman yang berbentuk seperti rumput itu mengikatnya begitu kuat, sehingga menimbulkan rasa nyeri luar biasa.
Di depannya kini sudah ada seekor siren yang memandangnya dengan tatapan penuh kebencian. Luna pun akhirnya melakukan komunikasi dengan bahasa kalbu. Dia mengirimkan telepati melalui tatapan mata, berharap makhluk di hadapannya ini mengerti apa yang ingin dia ucapkan.
"Hai, aku Luna. Siapa namanu?"
Makhluk itu masih terdiam belum menjawab. Namun, tak lama kemudian terdengar suara yang sangat lirih di telinga Luna.
"Ariel, apa kamu bisa mendengarku? Apa kita bisa menjadi teman?"
Wajah Ariel yang awalnya terlihat marah dan tidak suka, kini tampak begitu bersahabat. Perlahan gigi runcingnya itu kembali ke penampakan gigi normal pada umumnya. Wajahnya yang penuh sisik dan terlihat aneh pun menjelma menjadi sosok perempuan yang sangat cantik.
"Kenapa kamu menangis? Kamu bisa menceritakan semuanya padaku. Tapi, tolong lepaskan aku. Ayo kita naik ke darat dan berbagi kisah bersama sambil menatap indahnya langit malam."
Ariel mengangguk. Tak lama kemudian ikatan rumput danau itu mengendur, dan Luna pun dapat berenang bebas kembali ke permukaan. Dua gadis berbeda fisik itu pun mulai berbagi cerita.
Ariel menceritakan kisah panjangnya yang kelam hingga bisa berubah menjadi siren, sedangkan Luna menceritakan banyak hal mengenai kehidupannya. Dari sinilah tercetus ide, agar Ariel menjelma menyerupai dirinya.
Luna ingin menunjukkan kepada Ariel bahwa masih ada banyak manusia dengan hati yang sangat baik di dunia ini. Selain itu, Luna ingin mengetahui seberapa jauhkah sahabat dan orang yang dia cintai mengenal dirinya.