Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 30. Melanjutkan Permainan


Luna mengembuskan napas kasar karena harus menjawab dua pertanyaan lain yang diajukan oleh Vinny. Dia benar-benar merasa sudah dicurangi oleh Smilodon tanggung itu.


"Jawabannya simpel, kenapa dia melukis dirinya sendiri? Itu karena dalam keluarga itu hanya dia yang menyukai seni lukis sekaligus bisa melukis. Ah, pasti kamu bertanya-tanya kenapa tidak mengundang pelukis lain saja?" Luna mengangkat satu alis sambil tersenyum miring.


"Itu karena beliau tidak menyukai lukisan lain selain karyanya. Dalam mansion keluarga itu terdapat banyak lukisan hasil karyanya. Memang ada beberapa lukisan terkenal lain yang dia beli untuj membantu sebuah instansi dari kebangkrutan." Luna kembali teringat akan lukisan yang menggantung hampir di setiap dinding rumah Vlad.


"Sebenarnya Nyonya Rose membubuhkan inisial di setiap lukisannya. Tapi, jarang ada yang menyadarinya."


"Benarkah? Aku ingin tahu seperti apa tanda yang dibubuhkan oleh beliau di atas kanvas." Vinny tersenyum penuh ejekan.


"Sebuah mahkota di sudut atas bagian kanan. Dulunya dia adalah salah satu putri kerajaan Zac pada zaman Victoria. Nyonya Rose dianggap sebagai pembawa sial oleh keluarga kerajaan, sehingga diasingkan, dan tinggal di kota Flor yang dulunya adalah hutan belantara."


"Bagaimana kamu bisa tahu sedetail itu? Apa Nyonya Rosella menceritakan kehidupan masa lalunya kepadamu?"


"Tidak, aku ini hebat! Jadi, bisa mengetahui apa pun yang ingin aku ketahui." Luna mengangkat dagu sombong.


"Jadi, dia menggunakan cermin ketika proses melukis diri sendiri. Itu alasan kenapa terdapat bingkai pada lukisannya. Dia ingin merasa sedang melihat dirinya dari dalam cermin ketika menatap lukisan itu," lanjut Luna lagi.


Setelah Luna selesai menjawab pertanyaan yang dia berikan, Vinny membuang napas kasar. Dia sedang mempersiapkan diri untuk mendapatkan hukuman dari Catz. Pemimpinnya itu adalah lelaki yang sangat keji, dan tidak memiliki rasa kasihan sedikit pun.


Jika orang yang diutus untuk bertugas menghadang gagal dalam misi, maka akan ada hukuman berat yang harus mereka jalani. Terkadang mereka akan dikurung di dalam sebuah ruangan yang berisi banyak buah lemon, padahal kucing sepertu mereka akan terganggu dengan aroma menyengat dari buah tersebut. Selain itu Catz menyiksa mereka dengan berendam di dalam air es, dan yang paling parah mereka akan dipaksa satu ruangan dengan puluhan ular.


"Baiklah, segera lanjutkan perjalanan! Semoga kalian beruntung!" seru Vinny seraya mengibaskan tangan untuk mengusir Luna dan rombongannya.


Luna pun melompat seraya mengepalkan tangan ke udara. Dia kembali ke dalam mobil, dan memberitahu bahwa sudah berhasil menjawab pertanyaan Vinny. Dia juga menjelaskan lagi jawaban yang sudah dikatakan kepada Vinny.


"Bagaimana bisa kamu mengetahui semuanya sedetail itu?" tanya Valko penasaran.


"Karena mimpi dan beberapa analisis sebenarnya." Luna tersenyum lebar, kemudian menyandarkan tubuh pada kepala kursi.


"Kalau begitu, kenapa tidak memimpikan cara mengubah wujudku menjadi manusia seutuhnya?"


Seakan ada bohlam yang menyala di kepala Luna. Ucapan Valko pasti akan segera dia lakukan. Ya, Luna akan memanfaatkan kelebihannya untuk mencari tahu cara mematahkan kutukan Valko.


"Baiklah, ayo kita lanjutkan!" Berto kembali melajukan mobil.


Setelah sampai di titik ketiga, seorang lelaki bertubuh besar sudah menunggu mereka. Kali ini Valko yang turun. Dia beranggapan bahwa harus beradu kekuatan dengan lelaki tersebut.


"Hai, teman sepermainan!" sapa lelaki berwujud setengah kucing itu.


"Dorito?" Valko mengangkat kedua alisnya.


Bagaimana dia tidak terkejut melihat Dorito ada di hadapannya? Dia adalah salah satu teman kerja yang motornya sering dipinjam oleh Valko, sebelum dia membawa kuda besi milik sang ayah ke kota.


"Terkejut? Aku pandai 'kan menyembunyikan identitas?" Dorito tersenyum miring sambil bersedekap.


"Sesuai keahlianku, kali ini kita akan bermain petak umpet. Kamu harus menemukanku dalam waktu kurang dari 30 menit!"


Meski keberatan, Valko tidak bisa protes. Dia harus mematuhi aturan main yang dibuat para Smilodon itu. Valko hanya mengangguk, tanpa mengomentari persyaratan dari permainan itu.


Valko pun segera balik kanan, lalu menutup mata dengan kedua telapak tangan. Dia pun mulai berhitung. Begitu selesai menyebut angka satu sampai sepuluh, Valko membuka mata.


Dia memperhatikan sekeliling. Suasana di pemukiman itu terasa sangat sunyi. Hanya terdengar embusan angin dan suara dedaunan yang saling bergesek. Valko mulai memejamkan mata, dan mengendus aroma tubuh Dorito untuk menemukannya.


"Mudah sekali ditemukan!" ujar Valko kemudian berlari ke arah salah satu rumah.


Valko membuka pintu rumah tersebut secara perlahan. Alangkah terkejutnya Valko ketika masuk ke dalamnya. Rumah itu mengingatkannya tentang masa kecil dulu.


Letak furnitur, suasana rumah, dan aroma makanan yang sering dibuat mendiang ibunya menguar memenuhi ruangan tersebut. Ya, Valko mencium aroma burrito yang membuat air liurnya meleleh.


Bayangan gurihnya isian burrito yang berpadu dengan empuknya tortila gandum membuat Valko berulang kali menelan ludah. Terlebih lagi, sejak tadi pagi dia belum makan apa pun.


Sesaat lelaki tersebut lupa akan tujuan utamanya datang ke sana. Aroma burrito itu mengaburkan penciuman Valko dari aroma tubuh Dorito. Akan tetapi, sesaat kemudian Valko kembali teringat tujuannya.


"Sial! Hampir saja!" Valko menepuk dahi kemudian mulai memejamkan mata.


Hidung lelaki tampan itu mulai kembang kempis, berusaha mengendus keberadaan Dorito. Tak lama kemudian dia kembali membuka mata. Sebuah senyum seringai terukir di bibir Valko.


"Ketemu!" seru Valko.


Valko langsung berlari ke sebuah bilik kamar yang ada di bagian belakang rumah itu. Dia mendobrak pintu kamar tersebut, dan kini tampak pemandangan yang membuat kakinya terasa lemas.


Dorito sedang sekarat di ujung tali yang mengikat lehernya. Kakinya terus bergerak karena ikatan tambang yang semakin mencekik. Mata lekaki itu melotot. Kedua tangannya memegang tali yang kini melingkar pada lehernya itu.


"Astaga, Dori!"


Valko langsung menarik kursi dan mencoba untuk menurunkan Piko dari langit-langit rumah. Ketika sedang mencoba melepaskan tali tersebut, tiba-tiba tubuh Dorito kembali terdiam. Lelaki itu terbelalak dengan lidah menjulur.


"Dori ...," panggil Valko sambil menepuk pipi Dorito.


Namun, semuanya terlambat. Dorito sudah kehilangan nyawa. Valko mengusap wajah kasar karena melihat orang yang selama ini dekat dan baik kepadanya mati dengan cara mengenaskan.


Tatapan Valko kini tertuju pada saku kemeja Dorito. Di dalam saku tersebut terdapat sebuah lipatan kertas. Valko mengambil kertas tersebut, kemudian membaca tulisan yang ada di dalamnya.


...----------------...


Valko,


Aku minta maaf karena selama ini sudah menipumu. Maaf karena sudah berpura-pura baik di depanmu. Padahal sebenarnya aku diminta untuk mengawasimu sejak lama. Aku rasa apa yang keputusanku hari ini dapat menebus kesalahanku selama ini.


Paman Catz akan menyerang kalian setelah ini. Siapkan kekuatan kalian. Kalian memiliki kelebihan masing-masing. Meski kalah jumlah, aku yakin kalian akan menang. Mereka sudah mengetahui Luna adalah titisan Dewi Arthemis. Berhati-hatilah!


...----------------...


Haii, sambil nunggu karya ini update, mampir juga yaa ke novel seru milik sahabat Chika ❤