Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 38. Pendant of Arthemis


Valko terbelalak karena tidak mendapati kalung Luna menggantung pada lehernya. Dia menelan ludah kasar. Lelaki tampan tersebut berusaha mengingat lagi di mana terakhir kali dia menggunakan kalung tersebut.


Ingatan itu pun hinggap lagi pada kepala Valko. Terakhir kali dia memakai kalung tersebut adalah semalam, sebelum lelaki itu berubah menjadi Dire Wolf. Tadi malam dia kembali dalam wujud manusia ketika berada di hutan larangan.


"Jangan-jangan ...." Ucapan Valko menggantung di udara.


"Kenapa, Val?"


"Sepertinya kalung itu terlepas di hutan larangan!" seru Valko.


"Bagaimana bisa mirip seperti mimpiku? Bedanya di mimpiku tadi, aku yang melemparkan kalung tersebut ke Hutan Larangan."


"Nanti aku akan mencarinya ke sana."


"Tidak!" cegah Luna.


Gadis itu menatap Valko dengan tatapan yang sulit di artikan. Bibir Luna sedikit gemetar, dan matanya kembali berkaca-kaca.


"Kamu kenapa?"


"Aku harus ikut! Aku memiliki firasat buruk jika kamu masuk ke hutan itu sendirian!"


"Hey, kamu jangan khawatir, Luna. Aku sudah terbiasa sendiri ketika keluar masuk hutan bagian selatan." Valko merangkum wajah sang kekasih, tetapi Luna menepis kasar lengan lelaki itu.


"Aku justru lebih khawatir kalau kamu ikut. Apa kamu tidak ingat ketika tergigit ular di sana?" Melihat sikap sang kekasih yang sedang labil, membuat Valko tersenyum kecut.


"Alu tidak peduli! Pokoknya aku harus ikut ke sana. Titik!" seru Luna.


Valko tidak bisa berkutik lagi. Dia akhirnya menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Mau tidak mau, Valko harus menyetujui keinginan sang kekasih. Mereka pun melanjutkan perjalanan dalam diam, bergelung dengan hati dan pikiran masing-masing.


Setelah sampai di rumah Luna. Valko berpamitan kepada Diego. Luna pun langsung masuk ke kamar untuk beristirahat. Barulah keesokan harinya, gadis itu menceritakan semua yang dia alami kepada sang paman.


Diego menyesap kopi, lalu mengembuskan napas kasar. Matanya menerawang mengingat banyak kejadian tidak menyenangkan yang menimpa Luna.


"Luna, apa kamu tidak menyadari hal ini?" Valko meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas meja.


"Apa, Paman?"


"Sejak kamu bertemu dengan Valko, kamu mengalami banyak hal aneh yang berbahaya. Aku khawatir kamu akan berakhir sia-sia jika terus bersama lelaki setengah serigala itu."


"Paman ini ngomong apa? Aku baik-baik saja. Lihat sekarang, tubuhku tumbuh dengan sehat dan bahagia. Paman tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak berdasar."


"Luna, aku begini bukan karena apa. Aku sangat menyayangimu layaknya anak kandung. Jadi, aku harap ...." Ucapan Diego berhenti karena mendengar sebuah ketukan.


Luna beranjak dari kursi, kemudian melangkah ke arah pintu. Sesuai janjinya semalam, Valko sudah datang lengkap dengan peralatan berburunya. Luna tersenyum lembut, dan meminta Valko untuk masuk.


Tanpa ragu, Valko melangkah memasuki rumah sang kekasih. Ketika matanya bertemu dengan tatapan tajam milik Diego, dia mengangguk penuh hormat. Diego hanya membuang pandangan, lalu meraih gelas kopi dan menyesap isinya perlahan.


"Tunggu di sini sebentar, aku akan mengambil perlengkapan menggambar dan stok makanan untuk kita." Luna beringsut dan setengah berlari menaiki satu per satu anak tangga."


Valko dan Diego menatap Luna sampai masuk ke kamarnya. Usai tubuh ramping hadis itu tertelan di balik pintu, Diego mulai membuka pembicaraan dengan Valko. Lelaki paruh baya itu melemparkan tatapan tajam untuk mengintimidasi Valko.


"Aku tahu niat kalian terus mendekati Luna! Niat busuk kalian itu akan membahayakan keponakanku! Hentikan semua sebelum Sang Dewi murka!" ancam Diego.


"Busuk sekali hati kalian! Memanfaatkan kebaikan dan ketulusan keponakanku dengan embel-embel cinta!" geram Diego.


"Paman, memangnya Anda tahu apa tentang cinta?"


"Cinta adalah sesuatu yang terkadang membuat kita mendadak goblok!"


"Paman, percayalah. Luna kan baik-baik saka bersamaku. Aku tulus mencintai Luna. Awalnya aku mendekati Luna karena tahu dia adalah titisan Sang Dewi. Namun, seiring berjalannya waktu, semua menjadi terasa berbeda."


Valko menatap langit-langit rumah. Ingatannya seakan terlempar ketika pertama kali bertemu dengan kekasihnya itu.


***


"Kamu harus menemukan gadis suci titisan Dewi Arthemis!" ujar Berta kala itu.


"Memangnya kenapa, Nek?"


"Dia adalah gadis yang bisa mematahkan kutukan itu. Dia memiliki Liontin Arthemis, dan darah murni yang mengalir di tubuhnya itu membuat gadis tersebut terlihat istimewa."


"Lalu bagaimana aku bisa menemukannya?"


"Ketika bulan purnama, gadis tersebut akan bersinar terang. Wajahnya akan mengalihkan siapa pun yang menatap. Dia memiliki bola mata hazel, tapi akan memancarkan sinar terang ketika bulan purnama datang."


Valko termenung sejenak. Tiba-tiba matanya membulat sempurna. Dia bati ingat kalau hari ini adalah malam bulan purnama. Valko pun berpamitan kepada Berta, dan berlari ke tengah hutan sebelum bulan purnama datang.


Tepat saat bulan berada di atas kepala Valko, dia merasakan panas pada sekujur tubuh. Lelaki tersebut melempar kaosnya asal dan menikmati setiap rasa sakit yang mendera.


Tubuh Valko mulai gemetar. Seluruh uratnya keluar. Gigi taring perlahan muncul dan bulu-bulu putih panjang keluar dari pori-porinya. Setelah menahan sakit selama proses transformasi selama tiga puluh menit, akhirnya Valko berhasil berubah seutuhnya menjadi sosok Dire Wolf. Dia pun melolong sebagai tanda kalau dialah yang berkuasa di hutan itu.


Tak lama kemudian, Valko mencium aroma aneh yang memasuki Hutan La Eterno. Dia menajamkan penciuman dan terus mengikuti sumber aroma tersebut. Setelah berjalan hingga ke tengah hutan, Valko menemukan sosok Luna yang kini sedang bersandar pada pohon yang sudah tumbang.


Siapa gadis ini? tanya Valko dalam hati.


Di antara kesadarannya yang timbul tenggelam, dia mengikuti gadis itu. Ketika detik di mana sisi liarnya kembali muncul, serigala raksasa itu pun berjalan mendekat ke arah Luna. Dia menggeram keras.


"Bolehkan aku mengganti nyawaku dengan ini?" Luna menarik kasar liontin yang melingkar pada leher dan menyodorkannya kepada Valko.


Pupil mata serigala raksasa itu pun melebar. Baru beberapa waktu lalu Berta memberitahunya tentang Liontin Arthemis, kini di depan mata dia melihat benda itu disodorkan kepadanya.


Valko menatap sekilas liontin tersebut, kemudian menatap Luna yang sedang menggigil ketakutan. Sebuah kejutan lain membuat kesadaran Valko kembali. Dia melihat wajah Luna sangat bersinar dan terlihat cantik di bawah sinar bulan purnama.


'Dia orangnya! Dia adalah gadis suci titisan Dewi Arthemis!'


Valko pun mengambil liontin tersebut, kemudian berjalan menjauh. Namun, dia tetap mengawasi Luna dari jarak jauh. Tatapannya terus memantau setiap langkah kaki gadis tersebut. Sampai akhirnya Valko mengetahui di mana Luna sebenarnya tinggal.


Oh, jadi di sini? Aku harus terus mendekatinya dan mendapatkan hati gadis tersebut!


...----------------...


Sambil nunggu karya ini update, mampir juga ke sini yukk! Karya salah satu sahabat Chika.