
Sepanjang perjalanan menuju bukit Arcoíris, Luna dan yang lain terlihat begitu senang. Valko, Luna, dan Diego menaiki mobil pick-up yang dipinjam dari Jacob. Sementara Clavio, Azura, dan si kembar Micko Micky naik mobil milik Azura.
Pemandangan langit senja mengakhiri perjalanan mereka hari itu. Semilir angin membawa aroma bunga yang tertanam di puncak bukit Arcoíris, tercium oleh indra penciuman Luna dan yang lain.
Mereka semua mendaki bukit itu penuh suka cita. Saling bergurau, melemparkan canda, seraya menikmati senja. Setelah sampai di puncak bukit, para pria mendirikan tenda, sedangkan para perempuan menyiapkan makan malam.
"Kita makan apa malam ini?" tanya Micky dengan mata berbinar.
"Kita adakan pesta barbeque sederhana. Aku membawa sosis, sayuran, dan beberapa potong daging."
"Ah, serunya!"
"Micky, bisa ambilkan aku arang?" tanya Azura yang sedang sibuk membuat api dengan alat pembakaran.
"Baik!" Micky bergegas menuju kotak persediaan yang tadi mereka bawa.
Setelah mendapat apa yang dibutuhkan Azura, gadis kecil itu kembali mendekati Azura. Menyerahkan beberapa potong arang, dan memasukkannya ke tungku pembakaran. Luna yang sudah selesai memotong sayuran, serta daging pun mulai menusukkan bahan barbeque pada stik besi.
Tiga perempuan beda usia itu pun mulai membakar potongan sayur serta daging di atas api. Aroma gurih dari bawang bombai serta saus barbeque yang dioles ke atas bahan pun begitu menggoda.
"Akhirnya selesai!" seru Valko setelah selesai memasang tenda.
Lelaki itu pun bergegas mendekati para perempuan untuk memberikan bantuan. Setelah semua makanan siap, mereka duduk mengitari api unggun kecil yang dibuat oleh Diego. Mereka semua mulai menyantap barbeque sambil bercanda.
"Kenyangnya!" seru Micko seraya mengusap perut bulatnya.
"Bagaimana kalau kita adakan sebuah permainan?" tanya Azura.
"Boleh!" seru Luna, yang sedari tadi menggambar sketsa untuk lukisan selanjutnya.
"Kita main truth or dare!" usul Clavio.
"Bagaimana cara bermainnya, Kak?" tanya Micky.
"Kita gunakan botol air mineral ini untuk mengundi. Siapa yang terpilih harus memilih untuk menjawab jujur pertanyaan dari anggota lain dengan jujur, atau memilih diam dan menerima tantangan sebagai gantinya," jelas Clavio.
"Boleh!"
Diego memilih untuk sedikit menjauh dari para pemuda itu. Dia membakar lintingan tembakau, seraya menatap bintang yang berkerlip di angkasa. Berharap angin menyampaikan rindu kepada sang ibu dan juga mendiang kakaknya.
"Kak, lihatlah Luna. Dia tumbuh begitu cantik dan bahagia. Kau harus berterima kasih kepadaku. Aku menghabiskan banyak waktu mudaku untuk membantu ibu merawat gadis yang hobi membangkang itu." Diego tersenyum kecut, kemudian kembali menghisap rokoknya.
Di sisi lain, kini giliran Clavio yang harus menjawab pertanyaan. Pangkal botol yang diputar mengarah pada Diego. Alhasil, tatapan tajam keduanya saling bertemu.
"Ayo, ajukan pertanyaanmu, Sayang!" pinta Luna sambil menyentuh lengan Valko.
Mata Valko tak lepas dari Clavio. Dia ingin sekali menanyakan sesuatu mengenai perasaannya terhadap Luna. Lelaki tampan super pencemburu itu sangat yakin kalau Clavio menyimpan rasa untuk Luna. Jadi, dia ingin memastikannya hati ini juga.
"Apa kamu menyukai Luna?"
Mendengar pertanyaan dari Valko membuat Calvio terdiam. Dia melirik Luna yang kini sedang sibuk mendaratkan cubitan pada lengan Valko sambil terus mengumpat kepada sang kekasih.
"Aku malas menjawabnya. Berikan saja tantanganmu."
"Sayangnya aku tidak memiliki tantangan." Valko tersenyum miring, tatapannya tak lepas dari Clavio.
Lelaki tampan itu tidak menghiraukan Luna yang semakin ribut dan terus mencubit lengan berototnya. Dia masih setia menunggu jawaban dari Clavio. Melihat suasana yang mulai tidak nyaman, akhirnya Azura menengahi.
"Tidak! Dia harus menjawab pertanyaanku." Valko tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
Clavio pun menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia menatap Luna sekali lagi. Ketika tatapan keduanya berserobok, Luna memilih untuk membuang wajah.
"Iya, aku menyukainya." Clavio tak melepaskan tatapannya dari Luna.
"Sejak kapan?" tanya Valko lagi.
"Bukankah kamu hanya diizinkan untuk mengajukan pertanyaan sekali saja dalam permainan ini?" Clavio tersenyum miring kemudian meraih botol dan memutarnya.
Botol itu terus berputar, dan dalam hitungan detik berhenti. Kali ini giliran Luna yang harus menjawab, dan Azura yang memberinya pertanyaan. Azura terlihat berpikir sembari mengusap dagu. Mata gadis itu melebar, ketika menemukan pertanyaan apa yang akan dia ajukan kepada Luna.
"Sampai detik ini, hal apa yang sangat membuatmu bersedih?"
Luna tertegun. Dia kembali teringat akan mimpinya beberapa hari lalu. Mendadak timbul kaca-kaca pada netra gadis cantik itu.
Melihat perubahan ekspresi Luna membuat Clavio mencubit lengan sang kakak. Azura pun mengaduh seraya melemparkan tatapan tajam kepada sang adik.
"Kakak nih, merusak mood orang saja!" gerutu Clavio.
"Aku nggak ngerti maksudmu, Vio! Aduh sakit sekali!" Azura terus mengaduh sambil mengusap lengan atasnya untuk mengurangi rasa sakit yang mendera.
"Lihat Luna terlihat sedih sekarang, Bodoh!" seru Clavio setengah berbisik.
Tatapan Azura pun kembali ke arah Luna. Dia baru sadar bahwa apa yang dikatakan Clavio benar adanya. Gadis itu pun menepuk bibirnya sendiri berulang kali.
"Maaf, Luna. Aku ganti saja pertanyaannya."
"Nggak pa-pa, Kak. Aku akan menjawabnya." Luna memaksakan senyuman agar semua terlihat baik-baik saja.
"Hal yang membuatku bersedih adalah ... ketika akan berpisah dengan banyak orang, setelah semua kebersamaan menyenangkan yang kita lalui."
"Semoga itu tidak akan pernah terjadi, ya?" Azura berusaha menghibur Luna.
"Kak, perpisahan itu adalah salah satu hal yang tidak bisa kita hindari. Setiap pertemuan, pasti akan menyisakan perpisahan. Entah apa alasannya." Luna kembali tersenyum. Mata gadis itu menerawang menatap mega yang kini gelap bertabur bintang.
Suasana mendadak sedih. Semua yang ada di sana pun merenung. Mereka seakan membenarkan ucapan Luna. Bayangan pertemuan dan perpisahan dengan orang-orang tercinta kembali melintas di pikiran semua yang ada di sana.
Azura dan Clavio teringat bagaimana harus berpisah dengan kedua orang tua mereka. Hal yang sama pun terjadi pada bocah kembar Micky dan Micko. Valko sendiri teringat perpisahannya dengan sang ibu yang sudah lama meninggal.
"Kalian kenapa?" tanya Diego yang tiba-tiba datang tanpa tahu apa yang terjadi.
Mendadak semua orang yang mengitari api unggun menunduk. Mereka mengusap air mata yang meleleh secara diam-diam. Bahkan Valko berpura-pura sedang menguap agar mendapatkan alibi yang tepat untuk menghapus bulir air mata yang menggenang di pelupuk mata.
"Sudah malam, cepat tidur! Biar aku yang jaga malam ini!" perintah Diego.
Semua yang ada di sana pun langsung masuk ke tenda dengan patuh. Mereka mulai bergelung dalam kantung tidur hangat dan memejamkan mata. Memulihkan energi untuk kembali menyambut hari esok.
...----------------...
Dikit lagi tamat si Luna 😭😭😭
Sambil nunggu karya ini update, mampir juga ke karya teman Chika yg satu ini yuk❤❤❤