Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 44. Catz yang Keji Kembali


"Kenapa Micky? Tenanglah." Luna merangkum wajah mungil gadis kecil itu.


"Paman Catz pulang mendadak, Kak!" seru Micky dengan mata berkaca-kaca.


"Astaga! Bagaimana bisa?" Valko menepuk dahi setelah mendengar berita dari Micky.


"Kami juga tidak tahu, Kak. Paman mengetahui semuanya. Bahkan dia tahu kalau kami mengizinkan kalian melewati pemukiman Smilodon dengan cuma-cuma." Mulai terdengar isak tangis yang lolos dari bibir Micko.


"Lalu Paman Catz di mana sekarang?" Luna menatap Micko penuh tanya.


"Dia sedang menghukum orang dewasa yang lain! Mereka semua ada di sana!" Micko menunjuk ke arah tanah lapang yang ada di tengah pemukiman warga.


Valko pun bergegas mendatangi tempat yang ditunjukkan oleh Micko. Luna, dan dua bocah itu juga mengekor di belakang lelaki tersebut. Setelah sampai di tanah lapang itu, Valko berteriak, menyerukan nama Catz.


"Catz! Hentikan!" teriak Valko.


Catz yang awalnya menyiksa anggota suku Smilodon dengan menurunkan hujan di atas kepala mereka pun menoleh. Dia mendekati Valko, Luna, Micky, serta Micko sambil menatap tajam keempat orang tersebut.


"Dasar Bajingan kecil!" umpat Catz seraya menatap geram Micky dan Micko.


Catz berjalan cepat ke arah mereka berempat, kemudian hendak menarik lengan dua bocah kembar itu. Akan tetapi, Luna mendekap keduanya erat. Valko pun pasang badan, supaya Catz tidak bisa mendekat.


"Lepaskan mereka semua!" seru Valko sambil menatap ratusan warga suku Smilodon yang masih menggigil akibat sihir hujan yang dilakukan oleh Catz.


"Mereka adalah pembangkang! Mereka harus mendapatkan hukuman!" geram Catz.


"Apa yang kamu lakukan adalah hukuman yang sangat keji, Paman! Lihat mereka semua menggigil kedinginan!" geram Valko.


Luna pun berlari ke arah kerumunan sembari menggandeng Micky dan Micko. Catz awalnya hendak menghadang keduanya. Namun, Valko menahan lengan lelaki tersebut.


"Lepaskan aku!"


"Tidak akan! Sepertinya aku harus mengakhiri kebengisanmu, Paman. Sudah berapa nyawa yang hilang sia-sia karenamu?" Valko menatap tajam Catz dengan rahang yang mengeras.


"Kamu pikir, kamu bisa mengalahkanku, ha?"


Valko melepaskan cengkeraman tangan, sehingga kini Catz lebih leluasa untuk bertransformasi ke wujud Smilodon asli. Dalam hitungan detik, tubuh lelaki paruh baya itu berubah menjadi sosok kucing raksasa berwarna hitam.


Taring Catz terlihat begitu runcing, dan keluar dari mulut. Sorot matanya terlihat penuh kebencian. Valko pun turun berubah menjadi serigala putih dengan ukuran normal.


Valko menggiring Catz agar menjauh dari pemukiman. Mereka berlari menuju pepohonan lebat hutan Gato. Valko terus memberikan serangan kepada Catz.


Lelaki berwujud serigala itu mulai menggigit dan menerkam Catz secara brutal. Gejolak amarahnya tidak dapat terbendung lagi. Tak ubahnya dengan Catz. Dia mengeluarkan kuku kakinya yang sangat tajam untuk menyakar tubuh Valko.


Di lain sisi, Luna masih kebingungan untuk menghentikan sihir hujan. Sebagian besar warga mulai hipotermia. Kesadaran mereka menurun. Micko dan Micky terlihat sangat kalut dan panik.


"Bagaimana ini?" Luna menatap ratusan warga dengan wajah yang mulai pucat. Kulit mereka berkerut, dengan tubuh menggigil hebat. Detik itu juga Luna teringat akan bubuk peri yang diberikan Daphne.


Luna berpikir keras agar bisa mengucapkan permohonan sekali, tetapi memiliki efek jangka panjang. Sebuah ide brilian pun muncul di kepala Luna.


Gadis itu menuangkan bubuk itu ke telapak tangan. Memejamkan mata sejenak dan berdoa dalam hati. Tak lama kemudian Luna meniup bubuk yang lebih mirip serpihan emas itu.


Namun, hujan tidak berhenti. Luna menelan ludah kasar. Gadis itu menarik napas panjang, dan mengembuskannya perlahan.


"Dengan penuh kerendahan hati, aku mohon kepadamu wahai penguasa langit ...." Luna menatap langit yang awan gelapnya ada di atas kepala suku Canis yang dihukum.


"Aku mohon hentikan hujan-Mu, untuk mengakhiri hukuman Paman Catz yang tidak berdasar itu. Kasihanilah mereka yang tidak bersalah ini."


"Segeralah ganti baju. Pasti kalian sangat kedinginan. Selanjutnya kita bantu Valko menghentikan Paman Catz."


Para warga pun dengan patuh mengikuti apa yang diucapkan Luna. Mereka masuk ke rumah masing-masing, sedangkan Luna mengikuti Micko dan Micky masuk ke rumahnya.


Ketiganya berhenti di sebuah rumah kecil dengan cat tembok berwarna biru muda. Luna dipersilakan untuk duduk. Micko menemani Luna, sedangkan Micky masuk ke dapur. Agaknya bocah kecil itu hendak membuatkan minuman untuk Luna.


"Kalian tinggal sendirian?"


"Iya, Kak. Orang tua kami dibunuh oleh Paman Catz karena menentang perintahnya satu tahun lalu." Micko menunduk dengan jemari yang saling bertautan dan meremas.


"Menentang perintah apa?"


"Kami kurang tahu, tapi yang aku ingat paman menyebutkan kalimat culik titisan Dewi Arthemis."


Kedua alis Luna terangkat. Kini bola mata gadis itu membulat sempurna. Ternyata kedua orang tua Micky dan Micko tidak ingin menculiknya. Artinya, secara tidak langsung mereka telah melindungi Luna dari niat jahat Catz.


"Kak, ini tehnya." Micky meletakkan secangkir teh ke atas meja.


Luna tersenyum lembut, kemudian meraih cangkir tersebut dan menyesapnya perlahan. Cairan bening berwarna kehijauan itu berhasil membuat perasaan Luna menjadi lebih tenang.


"Setelah ini, apa kalian mau ikut tinggal denganku? Aku tinggal di Hutan La Eterno."


"Itu ...." Micky dan Micko saling melemparkan tatapan.


"Kalau boleh, bisakah antar kami ke rumah Kak Azura? Kami ingin tinggal bersamanya."


Luna tersenyum tipis, kemudian membelai lembut pipi Micky. "Kalau boleh tahu apa alasannya?"


Micky tersenyum konyol, memperlihatkan deretan gigi susunya yang baru tanggal satu. Micko mengangguk, memberi persetujuan kepada Micky untuk mengungkapkan apa alasan di balik keinginan mereka ingin tinggal bersama Azura.


"Maaf sebelumnya, Kak. Bukannya kami tidak suka tinggal dengan Kakak. Tapi, sejujurnya ... kami bosan tinggal di hutan! Kami ingin hidup di kota, bersekolah, dan bermain di tempat ramai." Micky tertunduk lesu, dengan jemari yang meremas rok yang dia pakai.


"Pasti sangat kesepian ya tinggal di sini? Tidak memiliki teman bermain." Luna menyentuh dagu Micky sehingga tatapan keduanya kini bertemu.


"Baiklah, aku akan mengantar kalian berdua ke tempat Kak Azura!"


"Benarkah?" tanya Micky dan Micko serempak.


Luna mengangguk mantap seraya tersenyum. Dua bocah kembar di hadapannya itu pun kini bersorak riang. Di tengah kebahagiaan mereka, tiba-tiba pintu rumah terbuka.


Tatapan tiga orang tersebut beralih ke ambang pintu. Sebuah bayangan tinggi terlihat mulai memasuki rumah. Begitu tubuh orang yang masuk diterpa sinar lampu, Luna terbelalak.


"Valko!" teriak Luna.


Gadis itu menghampiri tubuh Valko yang kini berlumuran darah. Dada Luna terasa begitu sesak melihat kondisi Valko yang sedang sekarat. Terdapat banyak luka cakaran di sekujur tubuh sang kekasih.


"Val ... sadar, Val!" teriak Luna dengan suara bergetar.


"Val, kamu kuat! Ayo bertahan! Sedikit lagi kamu bisa menjadi manusia seutuhnya!" Air mata Luna mulai meleleh membasahi pipi. Tubuhnya berguncang hebat karena tangis yang pecah.


"Maaf," ucap Valko lemah.


Lelaki dalam dekapan Luna itu pun mendadak kehilangan napas. Tubuhnya lemas tak berdaya. Detak jantungnya berhenti. Tangis Luna pun semakin menjadi.


Kesedihan gadis itu menukar kepada Micky dan Micko. Kedua bocah itu saling berpelukan dan ikut menangis histeris. Langit pun ikut menurunkan tangis karena kematian Valko.