Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 39. Mencari Kalung Arthemis


"Val!" Luna memanggil Valko yang sedari tadi terlihat melamun.


Ini sudah kali ketiga dia memanggil nama sang kekasih, tetapi baru ada respons. Valko mengerjap berulang kali kemudian menatap Luna gugup.


"Kamu baik-baik saja?"


"Ah, iya."


"Ayo berangkat! Aku sudah siap." Luna berjalan keluar terlebih dahulu setelah berpamitan kepada Diego.


Valko pun ikut berpamitan, lalu membuntuti sang kekasih keluar rumah. Mereka berjalan beriringan sambil terus bertukar cerita.


"Lalu bagaimana kita bisa menemukan kalung itu di hutan seluas ini?" Valko terlihat berpikir keras.


"Ah, aku membawa ini!" Luna mengeluarkan sebuah alat pendeteksi logam berbentuk kecil.


Namun, setelah dibongkar, alat tersebut menjadi lebih panjang. Luna pun segera mengarahkannya pada tanah yang dia pijak. Untuk memastikan bahwa alat tersebut berfungsi dengan baik, Luna mengetesnya dengan melempar uang logam ke depan sejauh lima meter.


Gadis tersebut mulai mendeteksi keberadaan uang itu dengan alat pendeteksi logam tersebut. Setelah yakin bahwa alat itu bekerja dengan baik, Luna dan Valko mulai berjalan membelah hutan pinus tersebut.


"Bagaimana, Val? Kita langsung masuk saja ke Hutan Larangan, atau mau mencari di sekitar sini dulu?"


"Menurutmu bagaimana? Kalau aku sangat yakin bahwa kalung tersebut jatuh di Hutan Larangan bagian selatan." Luna masih fokus pada suara alat yang dia pegang.


"Baiklah, kita langsung ke sana!"


Keduanya pun bergegas menuju Hutan Larangan Selatan. Luna fokus dengan alat pelacak logam, sedangkan Valko bersiaga kalau ada bahaya yang mendekat.


Setelah berjalan hampir setengah hari di dalam hutan, keduanya memutuskan untuk berhenti sejenak dan beristirahat. Luna mengeluarkan air minum dan beberapa potong roti.


"Makanlah dulu, Val."


Valko meraih roti yang diberikan Luna dan mulai menggigitnya sedikit demi sedikit. Keduanya makan dalam diam sembari memikirkan jalan tercepat untuk menemukan kalung tersebut.


"Astaga! Aku baru ingat!" seru Luna tiba-tiba.


Valko yang terkejut langsung terbatuk-batuk karena tersedak. Luna dengan sigap menyodorkan air mineral , lalu menepuk lembut punggung sang kekasih.


"Kamu pelan-pelan kalau makan!" Luna masih terus menepuk punggung Valko sambil terus mengomel.


"Ka-mu itu yang bi-kin kaget!" gerutu Valko di antara batuk.


"Kaget kenapa?"


Valko meneguk lagi air minumnya, kemudian mengatur napas. Setelah itu, dia mulai menjelaskan maksud dari ucapannya.


"Kamu tadi teriak. Memangnya apa yang kamu ingat sampai berteriak begitu?"


"Ah, itu ...." Luna terkekeh sambil menggaruk kepalanya.


"Aku baru ingat kalau sebenarnya kalung itu selalu bersinar terang ketika memantulkan cahaya bulan. Jadi, kita bisa menemukannya dengan mudah ketika bulan mulai bersinar terang."


"Astaga! Kenapa tidak bilang dari tadi?" Valko menepuk dahi sambil menghela napas.


"Maaf, Val. Aku lupa," ucap Luna seraya tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Kalau begitu kita tunggu sampai hari berganti gelap dulu baru mencarinya?"


Luna mengangguk mantap penuh percaya diri. Sedetik kemudian Valko teringat mengenai tugas dari Abraham. Dia pun menanyakan hal tersebut kepada Luna.


"Tugasnya terasa sedikit aneh." Luna mengusap dagu sambil mengingat lagi tugas yang di berikan Sang Profesor.


"Maksudmu?" Valko mengerutkan dahi dan menatap Luna penuh tanya.


"Profesor Abraham memintaku untuk melukis beberapa obyek."


"Apa saja?"


"Sesuatu yang bersinar, tanaman langka, meja persembahan, dan gadis yang tersenyum." Luna mengabsen satu per satu tugas yang diberikan oleh Abraham kepadanya dengan jari-jari lentiknya.


"Tunggu!" Valko terbelalak setelah mendengar penjelasan dari sang kekasih.


"Ketika mendengar kata bersinar, aku tertuju pada cahaya bulan. Ya, walau sebenarnya dia tidak benar-benar bersinar. Bulan 'kan cuma memantulkan lagi cahaya matahari?" Luna tersenyum kecut teringat fakta yang paling tidak dia sukai itu.


"Cahaya bulan memang semu, tapi berkat ia ... kita bisa berjalan di tengah malam tanpa senter atau lentera," timpal Valko seraya menatap Luna penuh cinta.


Luna tersipu malu, lalu membuang pandangannya. Gadis itu menatap kumpulan pohon pinus yang seakan sedang berbaris rapi menyaksikan kedua insan tersebut bercengkerama.


"Luna," panggil Valko sembari meraih jemari sang kekasih lalu menciumnya penuh kelembutan.


Luna kini kembali menatap Valko dengan tatapan yang sama. Penuh cinta serta ketulusan. Jantungnya berpacu lebih kencang, sehingga membuat dada gadis itu berdebar tak beraturan.


"Aku sangat mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu, Val." Kali ini Luna berinisiatif untuk mendekatkan wajah kepada sang kekasih.


Bibir keduanya pun saling bersatu. Bertukar rasa penuh cinta dan kelembutan. Menyatukan segenap cinta yang dimiliki untuk mengisi bahan bakar, sehingga bisa kembali berjuang bersama dalam tujuan utama mereka. Menjadikan Valko manusia seutuhnya, dan bisa hidup bersama selamanya.


...****************...


Langit telah menjadi gelap. Matahari pun sudah berganti dengan bulan. Semilir angin dingin menerpa pucuk pohon pinus sehingga membuatnya bergoyang ke kiri dan kanan. Suara serangga serta hewan malam lainnya terdengar bersahutan menciptakan sebuah melodi yang memanjakan indra pendengaran.


Luna masih terlelap di dalam pelukan Valko. Perjalanan hari itu membuat gadis bermata hazel tersebut kelelahan. Dia langsung terlelap setelah menghabiskan beberapa potong roti dan juga coklat dingin kesukaannya.


Valko masih terjaga sejak tadi. Berjaga dari bahaya yang mungkin saja mengintai mereka di dalam hutan larangan tersebut. Tak lama kemudian, Luna mulai menggeliat dan kembali ke alam nyata.


"Malam, Sayang," sapa Valko sembari tersenyum lebar.


"Eh, malam?" Luna langsung terduduk lalu mengedarkan pandangan ke sekitar, dan berakhir dengan menatap wajah tampan sang kekasih yang sedang tersenyum.


"Apa aku tidur selelap itu, sampai tidak tahu kalau hari sudah berganti malam?"


"Menurutmu?" Valko terkekeh.


"Astaga! Kalau begitu ayo kita bergegas melanjutkan pencarian! Aku rasa kepingan teka-teki selanjutnya baru akan terbuka setelah kalung itu ditemukan!" ujar Luna penuh keyakinan.


"Baiklah, ayo!"


Keduanya pun kembali beranjak dari atas tanah yang tertutup dedaunan. Mereka melanjutkan perjalanan, dan masuk semakin dalam ke hutan tersebut. Setelah berjalan sejauh satu kilometer, Luna menangkap sesuatu yang menakjubkan.


Cahaya bulan bersinar terang dan membuat garis lurus ke sebuah tempat dengan sinarnya. Mata Luna membulat sempurna. Dia pun menunjuk apa yang dia lihat itu dan memberitahukannya kepada Valko.


"Val, lihat di sana!" seru Luna dengan telunjuk yang mengarah ke sumber cahaya.


Valko pun mengikuti arah jemari Luna. Dia ikut terbelalak setelah melihat keajaiban tersebut. Luna pun setengah berlari untuk menemukan benda yang dia duga sedang menyerap energi bulan tersebut.


Gadis itu yakin, cahaya bulan sedang menyinari kalungnya yang telah hilang. Napas Luna terus memburu bersahutan dengan derap langkah yang menginjak dedaunan.


"Luna!" panggil Valko.


Luna menoleh sekilas sambil terus berlari. Dia kembali menatap cahaya yang kini masih bersinar terang di hadapannya itu.


"Berhenti sebentar!" perintah Valko.


Luna pun terpaksa menghentikan langkah kakinya. Dia balik badan, dan menatap sang kekasih penuh tanya.


"Kenapa?"


"Tinggalkan semua barang bawaan itu, dan naiklah ke punggungku. Aku akan menggendongmu dan berlari sekencang angin."


Luna pun menuruti ucapan Valko. Dia meletakkan tas ransel ke atas tanah. Setelah itu, Valko berjongkok, dan Luna mulai naik ke punggung sang kekasih.


Usai memastikan Luna berpegangan erat, Valko langsung berdiri. Dia mengambil ancang-ancang untuk berlari. Tatapan lelaki itu kini fokus ke arah cahaya.


"Apa kamu siap?" tanya Valko, dan dijawab dengan anggukan oleh Luna.


...****************...


Mampir juga ke karya sahabat Chika, yuk! Dijamin ceritanya bikin baper abis 😭😭😭