
"Di mana dia sekarang?" tanya Berto.
"Dia Ada di Hutan La Eterno, Ayah. Tadi ketika aku menghadiri undangan pertunangan dari Tuan Vlad, ada keributan dalam pesta."
"Lalu?"
"Tuan Vlad mengatakan bahwa calon tunangan Draco adalah titisan Dewi Arthemis, Yah!"
Berto perlahan melepaskan jemarinya dari jemari sang putra. Dia beranjak dari kursi, kemudian mendekati Azura. Mereka pun memilih untuk membicarakan hal tersebut di ruang keluarga.
"Bagaimana? Coba jelaskan."
"Gadis itu bernama Luna, kekasih dari putra kepala suku Canis, Yah."
"Musuh lama kita?" Berto terbelalak.
"Iya, jadi ... apa rencana Ayah?"
"Kamu temui Luna, dan minta bantuannya secara baik-baik. Aku yakin dia adalah gadis baik. Pasti dia mau menolong kita."
"Baiklah, Yah. Aku akan segera menemuinya."
Tak menunggu lebih lama lagi Azura menemui Luna saat dia sudah kembali ke Flor. Azura mendatangi asrama Luna. Gadis itu menunggu Luna di halaman gedung. Benar saja, setelah menunggu selama sepuluh menit, gadis yang Azura tunggu keluar.
Luna sedang memakai pakaian kasual dengan ransel kecil dan beberapa buku dalam pelukan. Dia hendak pergi kuliah siang itu. Azura pun langsung menghampiri Luna.
"Luna!" teriak Azura sambil setengah berlari.
Mendengar namanya dipanggil Luna pun menghentikan langkah. Dia menajamkan penglihatan untuk mengetahui siapa orang yang sudah memanggilnya. Luna berpikir lumayan lama, tetapi tidak bisa mengenali orang itu.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Luna setelah Azura berada di depannya.
"Saya Azura Guildayi." Azura mengulurkan tangan seraya tersenyum lebar.
"Ah, Luna Garcia." Luna pun menyambut uluran tangan Azura.
"Apa hari ini kamu free? Aku ingin bicara suatu hal penting denganmu."
Luna mengerutkan dahi. Bagaimana bisa orang yang baru menemuinya memiliki hal penting untuk dibahas?
"Setelah pulang kuliah aku ada waktu senggang sekitar 4 jam. Setelahnya aku harus berangkat kerja."
"Aku hanya membutuhkan waktu 30 menit sampai satu jam saja."
"Baiklah, aku berangkat kuliah dulu."
***
Jam menunjukkan pukul 16:00, ketika Luna dan Azura sedang duduk di sebuah kafe dekat kampus. Semburat jingga berpadu dengan gumpalan awan dan mega yang berwarna biru, menciptakan lukisan yang begitu memanjakan mata.
Luna mulai membuka pembicaraan, dan menanyakan maksud dari Azura menemuinya. Azura terlihat sedikit sungkan. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Begini, aku salah satu tamu undangan yang menghadiri pertunanganmu dengan Tuan Draco."
"Ah, maafkan atas kekacauan yang terjadi. Pasti kamu sangat ketakutan melihat insiden tersebut." Luna menunduk sekilas kemudian kembali menatap Azura.
"Tidak, bukan itu yang menjadi masalah." Azura menelan ludah kasar kemudian meraih jemari Luna.
Luna tersentak, dan berusaha menarik tangannya dari genggaman Azura. Setelah tangan gadis itu terlepas, kini justru tercipta suasana canggung. Banyak dugaan buruk yang kini terlintas di pikiran Luna.
"Maaf, aku lancang. Tapi ... bisakah kamu membantuku? Aku tak sengaja mendengar Tuan Vlad mengatakan bahwa kamu adalah titisan Dewi Bulan."
"Ah, aku juga tidak tahu. Berita itu benar atau tidak. Jadi, apa yang bisa kulakukan untukmu?"
"Aku memiliki seorang adik laki-laki yang meng9dap kelainan mental sejak lahir. Dia adalah satu-satunya harapan keluarga kami." Mata Azura menerawang memandang langit-langit kafe dengan dekorasi ala galaksi itu.
"Ayah memang memiliki seorang putra, tapi tidak memenuhi persyaratan untuk menjadi seorang pemimpin. Pikirannya seperti anak-anak berusia lima tahun. Padahal Clavio sudah berusia 20 tahun."
"Langsung saja pada intinya, Kak. Jika memang aku benar adalah titisan Dewi Bulan, apa yang bisa aku lakukan untukmu?"
"Kamu bisa mengobati Vio, dan menjadikan dia seperti lelaki normal seumurannya. Melepaskannya dari belenggu kelainan mental itu."
Luna terdiam. Dia bahkan tidak memiliki kemampuan untuk menyembuhkan orang lain seperti yang dikatakan oleh Azura. Luna merasa bahwa dirinya hanya manusia biasa saja yang tidak memiliki kelebihan apa pun.
"Maaf, Kak Zura. Tapi, aku tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan seseorang dari penyakit. Aku ini hanya gadis biasa yang sedang menempuh pendidikan di Institut Seni."
"Aku yakin kamu bisa melakukannya! Hanya saja, kami belum menyadari hal ini!" Azura kembali meraih jemari tangannya, dan menatap gadis itu penuh harap.
"Aku mohon bantulah aku." Mata Azura berkaca-kaca. Dia melepaskan jemari dari tang Luna, lalu saling menautkan jari-jarinya.
"Maaf, bukannya aku tidak mau membantu. Tapi, aku tidak tahu caranya."
"Bagaimana kalau kamu temui Vio dulu. Mungkin setelah itu, ada keajaiban sehingga kamu tahu bagaimana menyembuhkan adikku."
"Aku ...."
Belum sempat Luna melanjutkan kalimatnya, Valko tiba-tiba datang. Lelaki itu langsung menghampiri meja keduanya dan menatap tajam ke arah Azura. Jelas terlihat pancaran rasa tidak suka terhadap gadis itu.
"Ayo, kita pulang, Luna!" ajak Valko sembari menarik paksa lengan Luna.
"Tunggu sebentar!" cegah Azura.
"Ada apa lagi? Kalian itu suku paling serakah! Jangan pernah mendekati Luna lagi untuk kepentingan pribadi kalian!" seru Valko kemudian berjalan seraya menggandeng tangan Luna.
Ketika sudah sampai luar kafe, Luna langsung mengibaskan lengannya hingga genggaman tangan Valko terlepas. Dia menatap tajam Valko seraya melipat lengan di depan dada.
"Val, kamu itu kenapa?" tanya Luna kesal.
"Kenapa apanya? Dia itu gadis dari suku Guildayi, musuh lama suku Canis!"
"Lalu, jika dia musuh bebuyutan keluargamu, apa aku juga harus menjadi musuh mereka?" tanya Luna sambil tersenyum miring.
"Begini, bukan itu maksudku. Aku hanya tidak ingin kamu dimanfaatkan oleh mereka. Mereka adalah suku yang serakah."
Valko mulai menjelaskan maksud ucapannya kepada Luna. Keduanya berjalan santai menuju asrama. Dari penjelasan Valko, barulah dia tahu bahwa suku Canis dan Guildayi awalnya merupakan kerabat dekat.
"Dulu nenek moyang kami adalah kakak beradik. Ya, bisa dibilang suku kami adalah adik dari suku Guildayi. Suatu ketika ada sebuah perselisihan mengenai batas pekarangan."
"Lalu kalian bertengkar hanya karena batas tersebut?"
"Ya, tapi ini bukan masalah tanah pekarangannya, Luna. Ini mengenai hak masing-masing. Mereka mengambil sesuatu yang bukan haknya."
"Lalu, bagaimana bisa akhirnya kalian sampai di Hutan La Eterno?"
"Kami memilih untuk melepaskan semua hak, dan menyingkir untuk menghindari perselisihan."
"Ah, begitukah?"
"Jadi, aku ingatkan sekali lagi. Jangan pernah mau dimanfaatkan oleh mereka. Jika satu keinginan mereka terpenuhi, maka mereka akan meminta hal lain, dan itu akan terus berulang."
Tak terasa, mereka sudah sampai di asrama. Valko pun segera berpamitan. Luna pun segera masuk ke asrama untuk beristirahat, tiga jam lagi dia harus berangkat ke tempat kerja.
Ketika baru terpejam. Sebuah mimpi aneh mampir dalam tidur Luna. Dia seperti sedang berjalan di sebuah perumahan elite. Seorang lelaki tampan menghampirinya sambil menangis sesenggukan. Lelaki itu membawa boneka beruang coklat dan permen gulali.
"Tolong aku!" Pinta lelaku tersebut.
Akan tetapi, sosok tampan dan manis itu tiba-tiba berubah menjadi serigala dengan bulu berwarna abu-abu. Luna terbelalak, sampai dia tersungkur di atas tanah.
"Pergi!" teriak Luna.