Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 26. Bukit Arcoíris


Luna menatap Clavio serius. Lelaki tampan itu kembali meminta tolong untuk membawanya kembali ke dalam tubuh. Luna memperhatikan setiap detail yang diucapkan Clavio.


"Jadi, aku harus memindahkan bunga baby blue eyes dari sana ke rumahmu?"


"Iya, lakukan itu sebelum bulan purnama. Setelahnya, mandikan aku dengan kelopak bunga tersebut ketika bulan purnama datang. Setelah itu, jiwa sejatiku akan kembali masuk ke raga yang seharusnya."


Clavio terus menjelaskan langkah apa yang harus dilakukan Luna dan bagaimana cara untuk menemukan bukit tersebut. Setelah lelaki itu selesai mengatakan semuanya, tiba-tiba hujan lebat turun, dan Luna terbangun dari mimpinya.


"Luna! Kamu itu digaji buat kerja! Bukan buat tidur!" seru Emma, manajer toko tempat Luna bekerja.


"Maaf, Bu. Saya ketiduran." Luna bangkit dari kursi di gudang, lalu mengusap wajahnya yang basah karena air yang dipercikkan oleh Emma.


"Bisa-bisanya, mencatat persediaan produk malah ketiduran." Emma melipat lengan di depan dada seraya tersenyum miring.


"Sekarang kamu tata pajangan makanan di rak! Sebentar lagi aku harus pulang!" perintah Emma penuh amarah.


Luna langsung beranjak pergi dan menuju rak makanan ringan, sambil membawa beberapa buah kardus berisi makanan ringan keluar gudang. Gadis cantik itu mulai membuka kotak karton tersebut, dan menata isinya satu per satu ke dalam rak.


Luna kembali teringat akan mimpi yang baru saja dia alami. Dia berusaha menggali ingatannya lagi mengenai apa saja yang diucapkan Clavio, sambil mencatatnya ke atas kertas.


***


Keesokan harinya, Valko menemui Luna yang sudah menghubunginya sejak pagi. Dia pun segera memutar tuas gas motor untuk menemui sang kekasih. Tak membutuhkan waktu lama untuk menemui Luna yang baru saja selesai kuliah siang itu.


Valko menghentikan motor, tepat di depan Luna yang sedang menunggu di depan gerbang kampus. Gadis itu tersenyum lembut, lalu mendekati Valko.


"Ke sini, aku pakaikan!" Valko melambaikan tangan agar Luna mendekat.


Lelaki itu pun segera memasangkan helm pada kepala Luna, dan menguncinya. Setelah selesai, Luna pun naik ke motor sang kekasih. Luna segera menceritakan semua hal yang dia mimpikan semalam.


"Gila! Dia sampai menemuimu dalam mimpi?" Valko terbelalak usai mendengar cerita dari sang kekasih.


"Iya, tapi kamu tahu, Val? Setiap mimpi yang datang dalam tidurku rata-rata adalah sebuah firasat atau pun hal yang benar-benar terjadi."


"Masa?" Valko memajukan bibir bawahnya untuk mengejek sang kekasih.


"Dih, nggak percaya! Aku udah beberapa kali loh mengalaminya. Mulai dari ketika kamu diculik dan dipaksa pulang oleh ayahmu, sampai terakhir aku bermimpi bertemu Clavio dalam mimpi! Semuanya jadi kenyataan!"


"Baiklah, lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Sekarang, antarkan aku ke rumah Azura. Aku ingin memberitahukan hal ini kepada mereka. Mau 'kan, kamu membantuku, Val?"


Valko membuang napas kasar. Dia tidak bisa menolak keinginan kekasihnya itu. Akhirnya lelaki tampan tersebut mengangguk.


Setelah berkendara selama lima belas menit, keduanya pun tiba di rumah Azura. Luna langsung menekan bel rumah, dan disambut oleh senyuman Clavio. Melihat sosok lelaki di hadapannya membuat Valko meradang.


Oh, jadi dia orangnya! Si bayi besar yang menyebalkan itu? Kalau tidak bersikap layaknya bocah, pasti sudah kupukul dia!


Valko menatap sinis ke arah Calvio yang kini sedang menggandeng jemari Luna, seraya bergelayut manja pada lengan kekasihnya itu. Dada Valko bergemuruh hebat. Namun, sebisa mungkin dia menekan amarahnya.


"Luna!" seru Azura, kemudian menghampiri Luna dan memberinya pelukan.


"Kakak, nggak boleh peluk-peluk Kak Luna! Cuma Vio yang boleh!" protes Clavio sambil menarik lengan Azura.


Dih, yang ada kamu, tuh! Gandeng-gandeng pacar aku seenak jidat!


Valko terus menggerutu dalam hati karena melihat tingkah Clavio yang terlihat memuakkan. Lelaki berjiwa batita itu terus menempel kepada Luna layaknya prangko. Bahkan dia tidak sungkan menjulurkan lidah ketika Valko menatapnya tajam.


"Jadi, aku semalaman memimpikan ini ...."


"Aku sepertinya tahu di mana bukit itu berada." Azura melipat lengan sambil mengerutkan dahi, berusaha mengingat keberadaan tempat yang dimaksud oleh Luna.


"Di mana?" tanya Luna dan Berto bersamaan.


"Bukit Arcoíris! Di sana terdapat banyak padang bunga! Bukankah kita ke sana ketika Clavio berusia empat tahun, Yah?"


"Benar! Beberapa hari sebelum ibunya meninggal." Berto tertunduk lesu, karena kembali teringat kenangan buruk itu.


"Apa kalian tahu, kalau Clavio merupakan saksi kunci dari pembunuhan Nyonya Berto?"


Berto dan Azura pun menggeleng bersamaan. Luna mengambil napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Gadis itu mulai mengatakan kebenaran yang dia tahu.


"Clavio mengatakan bahwa sebenarnya ibunya dibunuh oleh Paman Catz. Apa kalian tahu, dia siapa?"


Mendengar nama itu di sebut, sontak membuat Valko serta Berto terbelalak. Nama itu adalah satu nama yang paling mereka benci. Pemimpin dari bangsa Smilodon yang terkenal dengan kekejiannya.


"Jadi, dia yang sudah membunuh Aurora? Aku akan segera menghabisinya!" seru Berto.


Lelaki itu pun beranjak dari kursi. Dadanya naik turun karena gelombang amarah yang membuncah memenuhi dada. Valko pun segera menahan lelaki tersebut, agar tidak berbuat nekad.


"Paman, itu masa lalu. Yang penting sekarang kesembuhan Clavio. Kita harus segera ke bukit Arcoíris!"


"Benar, tiga hari lagi bulan purnama! Kita harus bergegas!" seru Luna.


Mereka pun segera berkemas dan memasukkan semua keperluan ke dalam mobil. Berto melajukan mobil sekencang yang dia bisa. Sepanjang perjalanan, mereka memikirkan cara agar mudah melewati kawasan Gato tempat bangsa Smilodon tinggal.


"Bagaimana ini? Apa kita akan bisa menghadapinya dengan mudah? Mereka kucing raksasa yang lumayan kuat," ucap Azura ragu.


"Entahlah." Luna tertunduk lesu karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.


"Aku akan meminta bantuan ayah untuk mengawal kita."


Ucapan Valko sontak membuat wajah Luna serta Azura berbinar. Lelaki tersebut langsung meraih gawainya dan menghubungi sang ayah untuk mengirimkan bantuan.


"Iya, Yah. Hanya untuk berjaga, kalau mereka menyerang tiba-tiba. Aku akan menghubungimu lagi jika terjadi serangan darurat."


Alarick pun mengatakan akan datang melalui portal di sumur tua jika hal buruk terjadi pada Valko dan yang lain. Sambungan telepon pun berhenti.


Setelah melajukan mobil selama satu jam, mereka pun memasuki hutan Gato. Hutan yang didominasi oleh pepohonan tinggi berdaun lebar itu, terlihat sangat sunyi. Banyak lumut yang tumbuh pada batang pohon berdiameter lebar, sehingga menambah suasana lembab di dalam hutan.


"Apa tidak terlalu aneh?" tanya Luna dengan suara lirih.


"Aneh kenapa?" timpal Valko.


"Hutan ini terlalu sunyi jika memang bangsa Smilodon tinggal di dalamnya."


Valko pun mulai mengamati sekitar. Dia membuka sedikit kaca mobil dan mulai mengendus aroma yang menguar di sana. Lelaki tersebut memejamkan mata untuk memfokuskan indra penciumannya. Sesaat kemudian dia terbelalak.


"Satu meter di depan kita, bersiaplah!"


...****************...


Halooo, mampir ke sini juga, yuk! Karya keren dari sahabat author Chika ❤❤❤