Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 35. Jiwanya Telah Kembali


"Ada apa lagi, Vio?" Luna memutar bola mata kesal.


"Aku ...." Clavio tertunduk dengan paha yang semakin dirapatkan.


"Aku ... mau pipis. Tunggu sebentar!" Clavio langsung turun dari meja dan berlari masuk ke rumah.


"Ya Tuhan! Adik siapa sih dia!" gerutu Luna sambil menggeleng.


Azura hanya menggeleng mendengar komentar dari Luna. Mereka pun akhirnya berbincang ringan sambil menunggu Clavio kembali. Tak lama kemudian, Clavio datang dengan langkah tenang. Tanpa diminta, lelaki itu pun segera berbaring di atas meja.


Luna mulai memfokuskan pikirannya. Gadis cantik itu kembali mengucapkan doa yang sama. Meminta Tuhan menurunkan keajaiban-Nya. Berharap apa yang sudah dia lakukan sejauh ini berhasil.


"Kabulkanlah, dan turunkanlah keajaiban-Mu." Luna menutup doanya dengan kalimat tersebut.


Perlahan Luna membuka mata. Dia melihat cahaya berwarna keemasan keluar dari tubuh Clavio, lalu masuk ke dalam buket bunga dalam dekapan lelaki tersebut


Tak lama kemudian, turun cahaya lain berwarna biru terang yang berasal dari langit masuk ke tubuh Clavio. Cahaya itu berpendar tak jauh dari tubuh lelaki tersebut. Perlahan jemari Clavio bergerak dan cahaya itu meredup seakan terisap oleh tubuhnya.


"Aku rasa sudah selesai." Luna menatap Azura yang sedari tadi terbelalak karena melihat kejadian luar biasa tersebut.


"Lalu selanjutnya bagaimana?" tanya Azura.


"Ambil buket bunga itu, dan segera masukkan ke dalam vas bunga. Ingatlah untuk terus mengganti airnya setiap hari."


"Baik." Tanpa menunggu lagi, Azura segera mengambil bunga tersebut dan membawanya masuk ke rumah.


Luna memutuskan untuk tetap berada di luar bersama Clavio. Menunggu lelaki itu membuka mata dengan sendirinya. Dia balik badan, dan menatap langit cerah di atasnya.


Bintang berkerlip seakan menari bersama bulan dengan cahaya merah padamnya. Dia tersenyum lembut teringat pertemuan pertamanya dengan Valko. Melihat bagaimana indahnya bulu putih lelaki itu bersinar di bawah sinar rembulan.


"Siapa kamu?"


Suara bariton di balik punggung, membuat Luna menoleh. Dia tersenyum lebar, lalu melangkah mendekat ke arah Clavio yang kini sedang duduk di atas meja.


"Kamu sudah bangun, Vio?"


"Siapa kamu?" Clavio menajamkan penglihatannya dan bersikap waspada karena kehadiran Luna yang asing bagi lelaki tersebut.


"Aku Kak Luna," ucap Luna seraya menyentuh dadanya sendiri.


"Kak, kamu bilang?" Clavio tersenyum miring kemudian melangkah mendekati Luna.


Luna hanya menatap Clavio seraya mengerutkan dahi. Ketika jarak keduanya tinggal selangkah, lelaki tersebut menghentikan gerakan kakinya. Dia menatap Luna penuh selidik.


"Bocah sepertimu meminta aku untuk memanggilku, Kakak? Jangan mimpi!" ujar Clavio angkuh.


Detik itu juga ada perasaan sesal yang bercokol di hati Luna. Dia menyesal sudah membantu lelaki di hadapannya itu untuk kembali normal. Luna justru berharap Clavio si bayi besar kini hadir lagi. Ternyata sifat asli lelaki di hadapannya ini arogan.


"Aku pulang kalau begitu," pamit Luna dan mulai melangkahkan kaki ke arah rumah.


Akan tetapi, ketika baru saja melewati Clavio satu langkah, tangannya ditahan oleh lelaki tersebut. Mau tak mau Luna harus menghentikan langkah. Dia mengerutkan dahi ketika menatap Clavio.


"Kenapa?" tanya Luna ketus.


"Tinggal di sini sementara waktu!" perintah Clavio.


"Nggak!" tegas Luna sambil berusaha menarik lengan agar terlepas dari cengkeraman tangannya.


"Aku tidak suka penolakan!" Clavio langsung menarik kasar lengan Luna dan mengajaknya masuk ke rumah.


Azura yang baru selesai meletakkan bunga baby blue eyes di kamarnya, terkesiap melihat kelakuan dia orang di depannya. Dia setengah berlari mendekati Clavio yang masih terus menarik lengan Luna.


"Vio! Kamu kenapa?" tanya Azura.


"Aku ingin menginterogasi gadis ini, Kak!" Clavio menghentikan langkah kemudian melirik kesal ke arah Luna.


"Dia masuk ke rumah ini tanpa ijin! Jangan-jangan dia mau mencuri?" tuduh Clavio.


Luna terbelalak dan mulutnya menganga lebar. Rasa kesalnya kini memuncak hingga ubun-ubun karena tingkah Clavio tang begitu menyebalkan. Jauh lebih menyebalkan saat dia menjadi bayi besar.


"Vio, dia itu teman Kakak! Dia orang yang sudah membantu jiwamu kembali ke dalam tubuh!" jelas Azura setengah emosi.


"Aku nggak ngerti sama ucapan Kak Zura?" Clavio melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Luna, dan kini melipat lengan di depan dada.


"Nanti akan Kakak jelaskan perlahan. Ayo kita duduk dulu."


Azura pun melangkah menuju ruang tengah, diikuti oleh Luna dan Clavio yang saling melemparkan tatapan tajam. Mereka akhirnya duduk di ruang tengah dan mulai berbincang. Azura mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


"Sebelum Kakak menjelaskan semuanya kepadamu, boleh aku bertanya?"


"Boleh, Kak. Apa?"


"Apa ingatan terakhirmu sebelum bangun tadi?"


Clavio terdiam. Dia kembali menyelami ingatan yang sudah lama teronggok di dasar memori otak. Setelah menemukan apa yang dia cari, Clavio terbelalak.


Lelaki tersebut menatap sang kakak dengan ekspresi campur aduk. Ada rasa sedih, marah, dan kecewa di dalamnya. Azura kembali menanyakan apa yang masih diingat oleh Clavio terakhir kali.


"Ibu, ditembak oleh Paman Catz ketika melewati Hutan Gato." Clavio tertunduk lesu karena ingatan buruk itulah yang pertama muncul ke permukaan.


"Setelah itu, apa lagi yang kamu ingat, Vio?" desak Azura.


Clavio menggeleng, karena memang setelahnya lelaki itu pingsan karena terjatuh ke jurang yang ada di hutan tersebut. Kala itu, Azura dan juga Berto sedang mencari bantuan karena mobil mereka mendadak macet. Mereka meninggalkan keduanya di Hutan Gato tempat tinggal bangsa Smilodon.


Entah apa faktor pemicunya, sehingga membuat Catz menembakkan peluru ke tubuh ibu Clavio. Azura berusaha mengajak sang adik menggali lagi ingatannya. Sebuah dendam kini terpatri kiat di hatinya.


Azura tidak terima kedua orang tuanya mati di ujung senapan Catz. Dia berencana melakukan balas dendam kepada pimpinan dari kaum Smilodon itu. Terlebih lagi ketika mengetahui bahwa Catz adalah pimpinan yang sangat kejam.


Azura mengetahui semua kejahatan yang dilakukan lelaki itu terhadap bangsa Smilodon lain, dari Micky dan Micko. Mereka menemui Azura ketika hendak membawa pulang jenazah sang ayah. Keduanya meminta tolong agar membawa mereka ikut serta, tetapi Azura tidak bisa. Dia berjanji untuk datang lagi lain waktu dan membawa mereka pulang ke rumah.


"Lalu, siapa gadis ini?" Clavio kembali menanyakan identitas Luna.


"Setelah kejadian penembakan ibu, apa yang kamu ingat?" Azura berusaha menggiring sang adik untuk terus mengingat masa lalunya.


"Aku pingsan karena jatuh ke jurang. Dan baru bangun sekarang." Clavio menceritakan apa yang ada dalam ingatannya.


"Dia adalah perempuan yang membatumu bangun dari tidur panjang. Namanya Luna, titisan Dewi Arthemis. "


"Apa maksud Kakak? Aku nggak ngerti." Clavio mengerutkan dahi.


"Setelah kejadian terakhir dalam ingatanmu itu, kamu koma selama tiga hari. Setelah bangun dari koma, kamu tumbuh layaknya anak lain. Tubuhmu pun berkembang layaknya anak lainnya. Tapi ...." Azura menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


"Tingkah lakumu tetap seperti balita, walaulun usiamu terus bertambah,dan tubuhmu terus tumbuh. Sampai beberapa jam lalu. Luna yang membantumu kembali, Vio."


"Benarkah?"


"Iya."


Ada rasa bersalah dalam hati Clavio terhadap Luna. Namun, lelaki yang ternyata memiliki ego setinggi langit itu enggan meminta maaf atau pun mengucapkan terima kasih kepada Luna. Dia memilih untuk membuang muka, dan beranjak dari kursi.


"Aku lelah. Mau tidur!" Clavio pun melangkah menjauh, dan meniti satu per satu anak tangga untuk masuk ke kamarnya.


...----------------...


Sambil nunggu karya ini update, mampir juga ke karya sahabat Chika yang satu ini yuk!