Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 49. Mana yang Asli?


Mendengar suara yang sangat akrab di telinga, membuat Valko serta Diego menoleh. Benar saja, Luna kini sedang berdiri tegap di tepi danau. Tempat di mana aroma tubuhnya tercium kuat.


"Luna!" seru Diego dan Valko bersamaan.


Dua lelaki beda usia itu segera berenang ke tepian. Luna mengulurkan tangan untuk membantu Valko dan Diego naik ke atas permukaan.


"Kamu dari mana saja? Kami mencarimu sampai mengelilingi danau bahkan menyelam!" gerutu Valko.


"Ah, aku tadi mengelilingi danau untuk mencari suara tangisan. Aku bahkan sempat tercebur dan melihat siren yang berniat jahat kepadaku. Untungnya aku berhasil kabur!"


"Kalau begitu, ayo kita segera kembali ke tenda. Aku sudah kedinginan!" Diego mulai bersin-bersin.


Luna langsung menyelimutkan mantel tebal milik sang paman ke tubuh lelaki paruh baya itu. Mereka bertiga pun kembali ke tenda agar segera bisa berganti pakaian, dan menghangatkan badan.


Sesampainya di tenda, Azura serta Clavio terlihat begitu terkejut saat melihat Luna, Diego, dan Valko kembali. Kakak beradik itu saling melemparkan tatapan aneh, kemudian menatap Luna seraya mengerutkan dahi.


"Kalian kenapa?" tanya Valko kebingungan.


"Ka-kalian sebaiknya ganti baju dulu. Baru kami jelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Azura terlihat sangat berhati-hati ketika mengucapkan kalimat tersebut.


"Kamu kenapa? Aneh sekali?" gerutu Valko sembari berjalan memasuki tenda.


Diego pun mengikuti Valko masuk ke tenda, sedangkan Luna memilih untuk tetap di luar. Dia menatap heran dua temannya itu.


"Aku ingin masuk, dulu. Di luar udara sangat dingin."


"Jangan!" cegah Azura dan Clavio bersamaan.


"Ka-kalian kenapa?" tanya Luna seraya menautkan kedua alis.


"Nggak pa-pa. Tunggu sebentar di luar. Oke?" pinta Clavio.


Akhirnya Luna menuruti ucapan Azura serta Clavio. Dia duduk di depan api unggun yang sepertinya baru dinyalakan oleh mereka. Dia mendekatkan telapak tangan pada kobaran api agar tubuhnya hangat. Tak lama kemudian, Valko serta Diego keluar dari tenda.


Mereka berlima kini duduk mengitari api unggun. Clavio dan Azura daling sikut seakan hendak menyampaikan sesuatu yang darurat, tetapi ragu. Akhirnya Valko pun angkat bicara.


"Kalian kenapa?" tanya Valko dengan nada tinggi.


"Ah, itu ...." Azura menelan kembali ucapannya.


Azura dan Clavio saling menatap, kemudian mengangguk bersamaan. Azura pun menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Dia mulai berbicara dengan suara yang sangat pelan, seakan takut kalau membangunkan seseorang.


"Bagaimana bisa kalian menemukan Luna?" tanya Azura ragu.


"Entahlah, dia tiba-tiba muncul dan memanggil kami yang sedang berada di tengah danau." Valko menjelaskan kronologi munculnya Luna secara tiba-tiba.


"Ah, aku juga heran kenapa mereka ada di tengah danau. Jadi aku memanggil mereka. Aku juga baru saja keluar dari air ketika mereka berdua ada di tengah danau." Luna juga mengungkapkan alibinya.


Azura dan Clavio kembali saling melemparkan tatapan. Masih ada raut wajah ragu terukir pada muka keduanya. Clavio pun mencondongkan tubuhnya ke arah sang kakak kemudian membisikkan sesuatu di telinga perempuan itu.


"Bagaimana ini?"


"Aku juga tidak tahu. Mari kita tes Luna dengan beberapa pertanyaan."


"Baiklah, biar aku yang memberikannya pertanyaan," usul Clavio.


Clavio berdeham beberapa kali kemudian menatap serius Luna. Dia pun segera melemparkan pertanyaan untuk gadis di hadapannya itu.


"Berapa tanggal lahirmu?"


"Apa kamu gila, Vio?" Luna tersenyum miring seraya melipat lengan di depan saja.


"Aku lahir pada tanggal 20 Desember 19 tahun lalu!"


"Benarkah jawabannya, Paman?"


Diego mengerutkan dahi, sebelum akhirnya mengangguk. Kakak beradik itu kembali mengembuskan napas kasar. Valko semakin curiga dengan tingkah Azura dan Clavio.


Akhirnya dia beranjak dari tanah, dan menggertak dua kakak beradik itu. "Sebenarnya apa yang terjadi!"


"Sabar dulu, Val. Kami akan menjelaskannya setelah Luna menjawab satu pertanyaan lagi."


Valko akhirnya kembali mendaratkan bokongnya ke atas tanah yang ditumbuhi oleh rerumputan. Dia menyimak lagi permainan tanya jawab yang sedang berlangsung itu. Kini giliran Azura yang mengajukan pertanyaan.


"Di mana kita pertama kali bertemu, Luna?"


"Aku tidak ingat pasti. Tapi, kamu menemuiku sepulang kerja paruh waktu di pusat Kota Flor."


"Sial, semuanya jadi semakin sulit untuk dibedakan!" umpat Clavio.


Mendengar Clavio mengumpat sontak membuat Valko kembali berdiri. Dia mendekati Clavio lalu mencengkeram bagian depan mantelnya. Tatapan keduanya pun beradu. Rahang Valko mengeras karena merasa dipermainkan oleh kakak beradik tersebut.


"Aku tidak suka mendengarkan omong kosong! Cepat katakan apa yang kalian maksud!" bentak Valko.


"Val, tolong lepaskan cengkeraman tanganmu dari Clavio!"


Mereka semua pun menoleh ke arah sumber suara. Alangkah terkejutnya Diego serta Valko, ketika mendapati Luna baru saja keluar dari tenda. Lelaki beda usia itu pun saling melemparkan tatapan heran.


"Luna ada dua?" Valko menggaruk kepala.


"Siapa kamu!" Luna berwajah sama itu saling menunjuk satu sama lain dengan ekspresi yang sama.


Keduanya sama-sama terkejut. Tiga orang lain yang ada di sana pun akhirnya menatap dua gadis dengan wajah yang sama itu secara bergantian. Bahkan suara keduanya sangat mirip.


"Sebentar, aku akan mencoba untuk mengendusnya." Valko mengerutkan hidung berusaha mengetahui aroma Luna yang asli.


"Sial!" umpat Valko tak lama kemudian.


"Kenapa?" tanya Diego setengah berbisik.


"Aroma keduanya berbaur. Sama persis. Tapi aku menemukan kejanggalan. Ada aroma bunga teratai yang tercium."


"Teratai?" Diego mengusap dagu dengan kedua alis yang saling bertautan.


"Danau itu! Danau yang ada di ujung padang bunga! Di sana terdapat banyak bunga teratai! Pasti salah satu di antara mereka adalah makhluk yang menghuni danau tersebut!" tebak Diego.


"Benar juga! Kita sekarang harus memikirkan cara untuk menemukan Luna yang asli." Valko mengusap dagunya lagi berusaha memikirkan jalan lain agar kebusukan siren itu terbongkar.


"Tanda lahir!" Diego bertepuk tangan sekali kemudian menatap kedua gadis yang berwajah mirip itu.


"Keponakanku memiliki tanda lahir di punggung kirinya. Tanda lahirnya berbentuk bulan sabit! Jadi, barang siapa di antara kalian yang memilikinya, pasti adalah Luna yang asli!"


Dua gadis itu tersenyum lebar. Kemudian mulai melemparkan tatapan tajam satu sama lain. Azura pun meminta dua perempuan itu masuk ke tenda. Dia akan memeriksa tubuh dua wanita tersebut.


"Ayo, kalian ikutlah denganku!"


Dua gadis yang sama-sama mengaku sebagai Luna itu pun berjalan mengekor di belakang Azura. Setelah sampai di dalam tenda, Azura meminta keduanya membuka mantel, serta baju secara bersamaan. Setelah mengecek tanda lahir yang ada di punggung mereka, Azura semakin pusing.


Dua gadis di hadapannya itu memiliki tanda lahir yang sama persis. Seketika kepala Azura berputar. Dia bingung harus bagaimana lagi. Akhirnya Azura berjalan gontai keluar dari tenda.


"Mereka memiliki tanda lahir yang sama persis!" seru Azura di hadapan Clavio, Valko, dan Diego.