
"Kamu pikir kami akan menyetujuinya? Menukar Luna dengan dua karung catnip? Jangan mengejek!" Rahang Catz mengeras.
"Lalu, apa yang kamu inginkan?"
"Luna bisa menjauhkan kami dari candu sialan itu seumur hidup. Jadi, menurutmu apa yang kami inginkan?" Catz menarik satu alisnya ke atas sembari tersenyum miring.
Alarick mengembuskan napas kasar dan berkata, "Baiklah, kami akan mengirimkan pasokan catnip seumur hidup kepada Smilodon di sini. Sampai generasi ketiga setelah kamu. Bagaimana?"
Catz mengulurkan tangan sambil tersenyum miring. Alarick pun menyambutnya. Akhirnya mereka membuat kesepakatan itu agar Luna bebas dan mereka bisa melanjutkan perjalanan.
"Azura, kamu mau ikut dengan kami atau bagaimana?" Luna mendekati Azura yang masih terduduk lesu sambil memangku sang ayah.
"Aku mau pulang, dan segera mengurus jenazah ayahku. Bisakah kalian membantuku untuk melanjutkan perjalanan? Bawa mobilku, dan pastikan kalian baik-baik saja sampai pulang nanti." Azura menyeka air mata sambil menatap Luna penuh harap.
"Baiklah kalau begitu, kami akan langsung melanjutkan perjalanan."
Luna menatap Valko dan lelaki itu mengangguk. Keduanya pun berjalan beriringan menuju mobil. Di dalam mobil itu Clavio sedang tertidur pulas. Valko tersenyum kecut mendapati kenyataan di depannya.
"Benar-benar seperti bayi! Aku kok jadi kesal, ya!" Valko menatap sinis Clavio yang kini meringkuk sambil memeluk boneka beruang kesayangannya.
Dia berpikir Clavio benar-benar menjadi beban bagi mereka. Hanya tersenyum dan bertepuk tangan tanpa beban ketika yang lain bertaruh nyawa. Bertubuh lelaki dewasa, tetapi memiliki jiwa balita sehingga membuat Valko merasa sangat kesal.
"Sudahlah, ayo kita lanjutkan perjalanan! Lihat langit sudah mulai gelap. Kita harus kembali lagi ke sini besok pagi!" ajak Luna.
Valko pun langsung tancap gas, kembali membelah hutan Gato. Satu jam kemudian, mereka berhasil keluar dari hutan tersebut. Jalanan menuju Bukit Arcoíris terhitung mulus.
Luna memutuskan untuk membuka sedikit kaca mobil, agar ada udara luar yang masuk. Kini kawasan dengan padang bunga beraneka warna pun terlihat. Dari kejauhan, bukit tersebut memang sangat mirip pelangi.
Beraneka warna bunga moss rose, tulip, lavender, blanket flower, dan baby blue eyes memenuhi bukit tersebut secara berkelompok. Mereka seakan ditanam dan dikelompokkan sesuai warna. Aroma semerbak terbawa angin dan sampai pada indra penciuman Luna.
"Wangi," gumam Luna seraya memejamkan mata.
Valko memutuskan untuk memarkirkan mobil di lembah bukit. Dia ingin mengajak Luna menapaki bukit sambil menikmati keindahan tempat itu berduaan. Lelaki tersebut ingin menghabiskan banyak waktu bersama Luna, setelah hari berat ini.
Valko membukakan pintu mobil untuk Luna, lalu menggandeng, dan menautkan jemarinya dengan jari lentik sang kekasih. Keduanya berjalan membelah jalan setapak yang dibuat di antara hamparan bunga-bunga tersebut.
"Hari ini terasa begitu berat, bukan?" tanya Valko sambil menatap hamparan luas padang bunga di hadapannya.
"Iya, sangat berat. Aku rasa setelah ini, kita tinggal menemukan kebahagiaan." Luna tersenyum lembut.
Rambut ikal kecokelatan gadis itu bergerak karena tertiup angin. Valko menatapnya penuh cinta. Pesona Luna memang sudah merenggut segenap cinta yang dia miliki.
Langkah keduanya berhenti setelah sampai di hamparan bunga baby blue eyes. Bunga dengan warna kelopak biru itu terlihat sangat cantik di bawah terpaan sinar bulan.
"Cantik," gumam Luna.
Gadis itu tak berhenti memuji keindahan bunga yang ada di padang itu. Sampai dia tidak sadar, bahwa dirinya jauh lebih cantik dari ratusan ribu tangkai bunga yang ada di sana.
"Kamu jauh lebih cantik." Valko menatap lembut Luna yang masih sibuk mengagumi hamparan bunga berwarna biru itu.
Luna melepaskan tautan tangannya dari jemari Valko, kemudian mendekati kumpulan bunga tersebut. Bunga baby blue eyes, tinggi batangnya hanya mencapai 15 hingga 30 cm saja. Bunga cantik itu terdiri dari lima kelopak berbentuk cangkir, dan biasanya terdapat garis-garis dan bintik-bintik seperti pembuluh darah pada permukaan daunnya.
Luna memetik satu tangkai bunga tersebut. Lalu menghirupnya dalam-dalam, aroma menenangkan pun menguar dari tumbuhan cantik itu. Wangi bunga baby blue eyes berhasil menenangkan hati Luna, dan membuatnya melupakan kejadian menyedihkan hari ini.
"Siapa kalian?"
"Val, apa kamu mendengarnya"
"Itu, di depanmu!"
"Di mana?" Luna menatap lurus ke depan, tetapi dia hanya melihat hamparan bunga yang sangat banyak.
"Bukan di sana, kamu memandang terlalu jauh! Lihat itu, di kelopak bunga yang kamu petik!" Valko menunjuk bunga yang kini ada dalam genggaman Luna.
Luna langsung memfokuskan pandangannya pada setangkai bunga baby blue eyes yang dia genggam. Gadis itu mulai menyipitkan mata, berusaha untuk mencari sosok yang sedari tadi terdengar begitu cerewet.
"Hei, aku di sini!"
Luna kini berhasil melihat sosok kecil bercahaya yang sedang bersedekap di atas kelopak bunga. Makhluk itu terlihat sangat kecil seukuran dengan kunang-kunang. Suara yang keluar dari bibirnya terlihat seperti dengung lebah di telinga Luna.
"Kunang-kunang? Bisa bicara? Bisa secerewet ini?" Mata Luna membulat sempurna.
Makhluk kecil itu tiba-tiba terbang. Dalam hitungan detik, tubuh super kecilnya diselubungi oleh cahaya berwarna biru muda. Tak lama setelahnya, sosok kecil itu berubah ukuran.
Dia berubah menjadi seukuran wanita dewasa. Peri tersebut memiliki paras yang cantik. Gaunnya menjuntai sampai tanah dengan belahan tinggi, hingga memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih. Ia juga memiliki sepasang sayap transparan dengan kerlip yang menyala.
"Elf?" Luna terbelalak sambil menutup mulut yang menganga.
"Siapa kalian?" Suara peri cantik itu terdengar merdu layaknya nyanyian ninabobo yang dinyanyikan para ibu untuk anaknya, teduh dan menenangkan.
"Saya Luna, dan dia Valko. Wah, aku baru kali ini melihat elf! Rasanya seperti mimpi!" Mata Luna masih membulat sempurna, berulang kali dia menepuk pipi untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya itu nyata.
"Aku Daphne, peri yang menjaga padang bunga di sini! Luna, kamu sudah melakukan sebuah kesalahan!" Daphne menyipitkan mata terlihat tidak suka.
"Maaf, aku salah apa?" Bahu Luna merosot, begitu juga dengan kedua ujung alisnya.
"Kamu memetik bunga itu tanpa ijin!" Daphe menunjuk tangkai bunga yang kini berada dalam genggaman Luna.
Mata Luna ikut memandang setangkai bunga baby blue eyes yang kini mulai layu. Tatapannya beralih lagi pada Daphne yang kini melipat lengan di depan dada.
"Aku ... minta maaf. Aku terlalu terpesona sehingga ingin memilikinya untuk diriku sendiri," sesal Luna dengan kepala tertunduk dalam.
Terdengar hela napas dari makhluk dengan daun telinga runcing itu. Luna mengangkat kepala perlahan, dan menatap sedih peri cantik di hadapannya.
"Baiklah, karena kamu tulis dengan ucapanmu. Aku akan memaafkan kamu." Daphne mengambil posisi seperti hendak kembali ke ukuran semula.
"Tunggu Daphne!" cegah Luna.
Daphne pun menghentikan gerakannya. Dia kini kembali menatap Luna seraya mengerutkan dahi. "Ada apa?"
"Bolehkan aku meminta beberapa tangkai lagi untuk membantu seorang teman?"
Raut wajah Daphne yang tadi sudah berubah tenang, kini peri cantik itu kembali memasang ekspresi tidak suka. Dia melipat lengan di depan dada sambil menajamkan tatapan ke arah Luna. Di sisi lain, Valko yang sejak tadi mengepalkan tangan karena melihat sosok peri menyebalkan itu, memilih untuk tetap diam.
...----------------...
Sambil nunggu karya ini update, melipir ke sini dulu, yuk!