Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 33. Daphne or Karina


Ayo, keluarkan akting terbaikmu! Dasar Dark Elf sialan!


Valko terus mengumpat dalam hati. Dia tahu kalau Daphe yang sekarang mereka lihat bukanlah Daphne yabg sesungguhnya. Ia adalah peri jahat yang menyamar. Makhluk itu sebenarnya adalah dark elf bernama Karina.


"Tidak bisa! Aku susah payah menjaga bunga-bunga ini agar tetap tumbuh dengan baik. Semudah itu kamu bilang minta?"


Luna mengerutkan dahi melihat sikap buruk peri cantik di hadapannya ini. Aneh saja, bagaimana bisa peri-peri yang terkenal baik bersikap begitu pamrih? Luna menarik napas panjang, lalu mengembuskannya kasar.


"Lalu, apa kamu ingin bertukar sesuatu denganku?" tanya Luna.


"Bisakah aku meminta gelang itu?" Daphne melirik gelang yang melingkar pada lengan Luna.


Luna sontak melirik gelang pemberian sang kekasih. Dia lalu menoleh ke arah Valko yang sejak tadi mematung, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Luna mengangkat sedikit dagu untuk mendapat persetujuan dari Valko.


Valko tidak merespons. Dia hanya terus menatap tajam ke arah Daphne. Luna yang paham dengan sikap Valko, akhirnya bernegosiasi dengan peri cantik itu.


"Bisakah aku menukarnya dengan benda lain?"


"Aku tidak mau! Aku mau gelang itu! Gelang langka milik suku Canis!" Mata Daphne berkilat dengan jemari yang saling bertautan ketika menatap gelang tersebut.


"Kalau aku tidak mau memberikannya, apa yang akan terjadi?" Luna tersenyum miring sambil menutup gelang itu dengan telapak tangannya.


"Kalian akan mati!"


Detik itu juga Luna baru memahami kenapa Valko hanya diam sejak tadi sambil menahan emosi. Dia melangkah mendekati peri cantik itu. Luna melipat lengan di depan dada sambil memiringkan kepala.


"Kamu bukanlah Daphne! Setahuku elf bernama Daphne merupakan peri yang sangat anggun dan baik hati. Siapa kamu sebenarnya?" Valko kini buka suara, dia tersenyum miring, dan menyipitkan mata.


"Dasar, Brengsek!" umpan Daphne.


Bahu peri cantik itu mulai bergetar. Tak lama kemudian urat sekitar wajahnya berubah menjadi biru kehitaman. Wajah yang awalnya cantik bersih itu, kini menjelma menjadi wajah antagonis dengan warna kelopak mata serta bibir hitam.


Luna terbelalak. Dia mundur beberapa langkah, hendak berlari ke arah Valko. Akan tetapi, Karina terbang ke arahnya. Peri jahat itu mencekit leher Luna dan mengangkat tubuh gadis itu ke udara.


"Lepaskan Luna!" geram Valko.


Sama halnya dengan Karina yang kembali ke wujud semula, Valko juga begitu. Perlahan dia menjelma menjadi serigala karena tidak dapat lagi mengontrol amarah. Lelaki itu melompat ke arah Karina dan menerkamnya.


Luna terlepas dari cengkeraman peri jahat tersebut, dan jatuh di antara hamparan bunga baby blue eyes. Gadis cantik itu terbatuk-batuk dan berusaha meredakan tenggorokan yang terasa tercekat dengan menghirup oksigen secara rakus.


Di lain sisi, Valko terus mengejar Karina yang berusaha terbang. Namun, usaha dark elf tersebut gagal. Sayapnya terkoyak karena terkaman Valko.


Setelah amarah Valko sedikit mereda, perlahan dia kembali ke wujud manusia. Dia mendekati Karina yang kini tersungkur di atas jalanan setapak di antara bunga Tulip.


"Pergi! Sebelum aku membunuhmu!" ancam Valko sambil mencengkeram rahang Karina.


Lelaki tersebut melepaskan tangannya dari wajah Karina. Peri jahat itu pun segera berlari dan menghilang dalam satu kedipan mata. Valko langsung berlari menghampiri Luna dan membantu kekasihnya itu berdiri.


"Kamu baik-baik saja? Mana yang sakit?"


"Aku baik-baik saja, Val. Bagaimana ini? Apa kita harus meminta ijin sungguhan kepada peri Daphne?"


"Sepertinya begitu." Valko mengusap tengkuk sambil tersenyum kecut.


"Lalu bagaimana cara menemukannya?" Luna tertunduk lesu menatap ujung kakinya yang terbungkus sepatu.


Baru saja Luna menyelesaikan pertanyaannya, tiba-tiba muncul secercah cahaya yang turun dari langit. Cahaya itu berpendar, dan perlahan berubah menjadi sosok kecil bersayap.


"Siapa kalian?"


Valko dan Luna sontak menoleh ke arah sumber suara. Melihat siapa yang datang ke area penjagaannya, Daphne pun terbelalak.


"Valko!" seru Daphne sambil mengepakkan sayapnya semakin cepat untuk mendekati Valko.


"Daphne!" seru Valko.


Luna mengerutkan dahi. Dia tidak menyangka kalau kekasihnya dan juga Daphne saling mengenal. Gadis itu menatap Valko dan juga peri mungil itu secata bergantian.


"Ah, jangan heran. Kami memang bersahabat sejak dulu! Perkenalkan, aku Daphne." Makhluk kecil seukuran ibu jari itu terus mengepakkan sayap dan menunduk sekilas sambil menarik sedikit gaunnya ke atas.


"Benarkah? Kamu bersahabat dengan makhluk pemarah ini?" Luna menuding Valko dengan telunjuk, dan Valko melemparkan tatapan tajam ke arah sang kekasih.


"Iya, ceritanya panjang. Jadi, ada yang bisa kubantu?"


"Begini, aku ingin membantu seorang kerabat. Jiwanya tersesat dan tidak bisa kembali ke tubuh karena sebuah trauma masa kecil." Valko mulai menjelaskan sedikit tentang apa yang menimpa Clavio.


"Baiklah, ambil sebanyak yang kalian mau."


Kini Luna dan Valko saling menatap dan melemparkan senyum. Akhirnya perjuangan mereka tidak sia-sia dan dapat membawa pulang bunga tersebut untuk ritual penyembuhan Clavio.


Setelah mengambil beberapa tangkai bunga beserta akarnya, Luna dan Valko berpamitan. Daphne melambaikan tangan untuk mengantar kepergian sepasang kekasih tersebut. Akan tetapi, ketika mereka hampir sampai di dekat mobil, Daphne menghentikannya.


"Ada apa?" Valko menautkan kedua alis sambil mengangkat kedua bahunya.


"Ini!" Daphne terbang mendekati Luna, dan memberikan sebuah kantong kecil kepada gadis tersebut.


"Apa ini?" tanya Luna sambil menatap bungkusan sebesar kantong teh celup itu.


"Ini bubuk peri ajaib. Selalu bawa ia di dalam kantongmu. Ketika dalam keadaan darurat, tuangkan pada telapak tangan, dan tiuplah sambil mengucapkan keinginan dalam hati. Maka, keinginanmu akan terkabul."


"Terima kasih," ucap Luna sambil menyodorkan jari kelingking ke arah Daphne. Peri kecil itu meraihnya, dan mereka pun bersalaman.


"Hati-hati di jalan! Semoga kalian bahagia!" seru Daphne sambil terus melambaikan tangan ke udara.


Ketika sampai mobil, mereka berdua dibuat panik karena Clavio tidak ada di dalamnya. Boneka beruang lelaki itu pun sudah tidak ada di dalam sana.


"Astaga! Ke mana Vio!" pekik Luna dengan wajah panik.


Keduanya mulai meneriakkan nama Clavio. Mereka kembali mengitari daerah sekitar lembah. Luna sempat berpikir untuk menggunakan serbuk ajaib yang didapat dari Daphne. Akan tetapi, Valko mencegahnya.


Lelaki tersebut mulai mengendus aroma tubuh Clavio. Bau susu yang menempel di tubuh Clavio tercium kuat oleh hidung Valko. Dia terus berjalan sesuai dengan arah sumber aroma tubuh Clavio berasal.


"Di sana!" Valko menunjuk sebuah rumah kecil yang ada di lembah Bukit Arcoíris.


Rumah itu terbuat dari kayu. Rumah itu memiliki atap yang sangat rendah. Tingginya hanya satu jengkal di atas tubuh Valko. Di sekitar rumah itu terdapat tumpukan kayu yang sudah di belah menjadi beberapa bagian.


"Kamu yakin dia ada di sini?"


"Iya, aroma Clavio tercium semakin kuat." Valko masih mengendus udara dengan teliti.


Luna pun segera mengetuk pintu tersebut. Tak lama kemudian, keluarlah seorang lelaki bertubuh pendek. Wajahnya ditumbuhi janggut dan kumis yang sudah memutih. Sebuah kacamata kecil berlensa bulat menggantung pada pangkal hidungnya.


"Permisi, Tuan. Apa Anda mengenal lelaki ini?" Luna menyodorkan ponsel yang terdapat foto Clavio.


Lelaki tua itu menyipitkan mata. Alisnya kini saling bertautan. Dia berulang kali membetulkan letak bingkai kacamata yang sesekali merosot.


"Aku tidak tahu, pergilah!"


"Anda jangan berbohong! Sudah jelas aku mencium aroma tubuh Clavio sangat kuat di sekitar rumah Anda!"


Lelaki bertubuh pendek itu menelan ludah kasar. Dia ingin mengungkap keberadaan Clavio. Akan tetapi, dia memiliki sebuah janji untuk menyembunyikan Clavio sampai waktu yang ditentukan.


...----------------...


Halooo, sambil nunggu novel ini update, mampir juga ke karya sahabat Chika, yuk! 🤗🤗🤗