Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 51. Melanjutkan Tugas


"Jadi begitu ceritanya. Maaf, ya, karena sudah membuat kalian sangat khawatir? Aku tidak menyangka kalau imbasnya sejauh ini." Luna tertunduk lesu seraya meremas jemarinya.


"Lain kali jangan begini lagi, Sayang. Aku benar-benar hampir gila karena mengetahui dirimu menghilang." Valko memeluk tubuh Luna, lalu mengecup puncak kepalanya.


"Misalkan aku benar-benar menghilang dari dunia ini. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Luna.


"Sebelum hal itu terjadi, maka aku akan mencegahnya mati-matian agar kamu tidak menghilang! Dengan cara apa pun, akan aku lakukan agar kamu tetap berada di sisiku."


Luna mendorong pelan dada Valko, berusaha melepaskan diri dari pelukan sang kekasih. Dia merangkum wajah Valko, kemudian menatap intens manik mata biru milik lelaki tampan tersebut.


"Val, kita tidak bisa melawan apa yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta. Kita ini seperti aktor yang hanya diperbolehkan memerankan apa yang sudah menjadi alur-Nya."


Ketika keduanya saling menatap intens, terdengar suara deham yang dibuat-buat oleh Clavio. Lelaki itu bahkan sengaja terbatuk-batuk untuk mencuri perhatian Valko dan Luna.


"Kamu kenapa, Vio? Tersedak katak?" tanya Azura diikuti gelak tawa semua orang yang ada di sana.


"Enak aja! Itu dua insan manusia luar biasa yang sedang dimabuk asmara! Melakukan adegan tak senonoh di depan mataku yang masih suci dan masih bisa melihat alam surgawi ini!" Clavio mengibaskan telapak tangan di depan mata, seakan ingin mengusir bayangan kemesraan Valko dan Luna.


"Iri? Bilang, Bos!" seru Valko.


Tawa mereka semua kembali pecah. Hari itu, mereka memutuskan untuk sarapan di tepi danau sambil menemani Ariel di tempat tersebut. Micky dan Micko begitu antusias bisa melihat sosok siren secara langsung.


Makhluk yang biasa dianggap hanya mitos itu, kini sedang bermain air bersama keduanya. Sedangkan Luna tengah sibuk melukis tanaman langka yang diinginkan Profesor Abraham.


Gadis itu sesekali tersenyum lebar ketika melihat si kembar Micko dan Micky yang takut air digoda oleh Ariel. Valko sedari tadi menemani Luna, menatap ciptakan Tuhan yang begitu indah itu.


Ya, Valko sedang sibuk mengagumi kecantikan pujaan hatinya itu. Kecantikan yang seakan tak termakan waktu. Kecantikan yang terbentuk dari murni dan tulusnya hati seorang Luna.


"Tunggu!" Valko mengerutkan dahi ketika menyadari keanehan pada lukisan Luna.


"Kenapa, Val?" tanya Luna ringan seraya terus mengulaskan kuas ke atas kanvas.


"Ternyata kamu selama ini tidak sedang melukis Padang Bunga Bukit Arcoíris?"


Luna menoleh ke arah Valko. Gadis itu menggeleng, kemudian tersenyum tipis. Kini tatapan Luna kembali fokus pada kanvas yang ada di hadapannya itu.


"Aku sedang melukis tanaman langka, Val. Sesuai dengan tugas yang diberikan oleh Profesor."


Valko mengamati lekat lukisan yang sedang diselesaikan oleh Luna. Luna menggambar pohon Sandalwood. Akan tetapi, pohon itu memiliki daun pappermint, selain itu terdapat bunga lavendel serta mawar yang bermekaran di antara dedaunan.


Setelah berpikir lumayan lama, barulah Valko menyadari bahwa Luna sedang melukis tumbuhan yang hendak dibuat minyak esensial untuk ritual. Valko terdiam, kemudian duduk bersimpuh di samping sang kekasih.


"Luna, tugas Profesor Abraham sangat aneh!"


"Hm? Aneh kenapa?" tanya Luna seraya tersenyum tipis.


"Kenapa dia seakan tahu mengenai ritual ini, ya?"


Luna menghentikan gerakan tangannya. Gadis cantik itu pun meletakkan kuas ke atas palet warna. Kini Luna memfokuskan tatapannya kepada Valko.


"Bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu?" tanya Luna.


"Ah, itu ... lukisanmu itu selalu berhubungan dengan syarat untuk melakukan ritual!" Valko mengusap tengkuk kemudian membuang wajah sekilas.


"Mungkin kebetulan saja." Luna tersenyum lembut, dan mulai melukis lagi.


Setelah percakapan itu, keduanya memilih untuk saling diam. Valko diam agar lukisan Luna cepat selesai, dan sang kekasih pun diam karena sedang fokus dengan lukisan yang dia buat. Tak lama berselang, Luna pun menyelesaikan lukisannya.


"Akhirnya selesai juga!" seru Luna seraya meregangkan ototnya.


Mendengar Luna telah selesai melukis, semua yang ada di sana pun mendekat. Diego dan lainnya sama terkejutnya seperti Valko tadi. Isi pikiran mereka ternyata sama. Mereka mengira Luna akan melukis hamparan padang bunga di bukit Arcoíris. Namun, ternyata salah.


"Aku tidak pernah memikirkan kalau pohon seperti ini ada," gumam Diego seraya mengusap dagu.


"Coba Paman bayangkan kalau ada! Pasti seru!" Luna berbinar seraya tersenyum lebar.


"Aku rasa tukang parfum, tidak akan kesulitan lagi. Dia tidak perlu menanam banyak tanaman untuk menghasilkan berbagai macam aroma parfum. Cukup menanam pohon ini saja!" ujar Azura.


"Pohon dengan Aroma Kehidupan!" seru Luna.


Hari itu mereka pun menghabiskan waktu hingga senja menjelang, lalu menginap lagi satu malam karena keinginan Ariel. Keesokan hatinya mereka bertujuh pun kembali pulang ke rumah masing-masing.


***


"Val, bisa temani aku?" tanya Luna ketika bersama Valko menyusuri sungai yang ada di hutan La Eterno.


"Ke mana?" tanya Valko penasaran.


Keduanya pun menghentikan langkah. Luna dan Valko kini berdiri saling berhadapan. Dia menatap sendu manik mata biru sang kekasih.


"Ke kediaman keluarga Vlad. Aku ingin belajar sesuatu dari Nyonya Rosella."


Mendengar nama vampir yang sempat membuatnya kesal itu membuat perasaan Valko memburuk. Dia membuang muka, berusaha mengacuhkan keinginan sang kekasih.


"Ayolah, Val. Aku ingin tahu bagaimana Nyonya Rose melukis wajahnya sendiri."


"Lalu?"


"Aku ingin melukis wajahku sendiri untuk tugas gadis dengan senyuman."


"Apa tidak ada cara lain selain belajar kepada Nyonya Rosella?"


Luna menggeleng. Dia berniat mempelajari teknik melukis perempuan tersebut. Valko akhirnya membuang napas kasar. Dia menyetujui permintaan sang kekasih dengan berat hati.


Hari itu juga, mereka pun berangkat ke Kota Flor dengan mengendarai sepeda motor. Sepanjang perjalanan, Luna terus memeluk erat pinggang Valko. Dia menyandarkan kepala pada punggung sang kekasih.


Sesekali rasa kantuk menyerang karena terpaan angin pada wajah cantiknya. Setiap Luna tertidur, Valko akan menghentikan laju motornya, dan menunggu gadis cantiknya itu bangun kembali.


Perjalanan pun menjadi lebih lama. Keduanya sampai di mansion keluarga Vlad ketika hari telah berubah menjadi gelap. Valko dan Luna pun melangkah masuk, dan mulai menekan bel rumah besar itu.


"Silakan, Nona, Tuan. Nyonya Rose sudah menunggu," sapa seorang pelayan kepada Valko dan Luna.


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam mansion, mengikuti pelayan tersebut menuju meja makan. Setelah sampai di meja makan, pelayan berparas tampan itu hendak menarik kursi untuk Luna. Namun, dicegah oleh Valko.


"Biar aku saja," ucap Valko dengan nada sedingin es.


"Baik, Tuan. Selamat menikmati makan malam Anda."


Luna mengangguk sekilas seraya tersenyum tipis. Dia pun segera duduk ke atas kursi disusul dengan Valko. Mereka berdua menikmati hidangan yang disajikan, dalam diam. Hanya terdengar denting alat makan dengan piring.


"Maaf, membuat kalian menunggu lama," ucap Rose di tengah keheningan itu.


"Nyonya!" Luna meletakkan alat makannya, kemudian berdiri, dan menghampiri mantan calon ibu mertuanya itu.


"Hai, Sayang. Apa kabar?" Rose memberikan Luna sebuah pelukan hangat.


"Baik, Nyonya. Maaf purnama kemarin aku tidak bisa datang ke mansion karena membantu orang lain dengan jiwa yang tersesat," jelas Luna.


"Benarkah? Bisa ceritakan pengalaman hari itu kepadaku?" tanya Rose.


Keduanya pun berjalan menjauh dari ruang makan, dan menuju ruang keluarga. Luna mulai menceritakan, bagaimana dia membantu Clavio kembali layaknya lelaki normal pada umumnya.


"Kamu memang gadis berhati mulia, Luna!" Rose menggenggam jemari gadis itu serasa tersenyum lembut.


"Terima kasih, Nyonya." Luna tersenyum lebar.


"Kali ini aku datang untuk meminta bantuanmu, Nyonya," ucap Luna ragu.


"Bantuan apa?"


"Aku ingin belajar melukis bersama Anda!"