Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 28. Permainan Paman Catz


"Beberapa orangku akan menanti kalian di titik tertentu. Setiap 10 kilometer, kalian akan diberi teka-teki atau permainan. Kalian harus menjawab semuanya dengan benar, atau memenangkan permainan jika mau terus melintas." Catz menjelaskan syarat agar rombongan Valko dapat keluar dari Hutan Gato dengan selamat.


"Apa yang terjadi jika kami salah menjawab?"


"Kalian harus menyerahkan salah satu anggota dari rombongan untuk tinggal di sini sebagai sandera. Kalian boleh membawanya pulang setelah kembali melewati hutan ini."


"Baiklah, aku setuju!"


"Bagus! Aku sudah lama tidak melakukan permainan ini karena jarang ada yang mau lewat jalan pintas ini!" Catz tertawa terbahak-bahak seraya bertepuk tangan.


Valko kembali melangkah masuk ke mobil. Dia menceritakan semua persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa melewati kawasan tersebut. Mendengar penuturan Valko, membuat Berto naik pitam. Lelaki itu memukul roda kemudi seraya mengumpat berulang kali.


"Ayah, tenanglah. Kita pasti bisa menjawab teka-teki dan memenangkannya!" seru Azura optimis.


"Ayo, Paman! Kita harus segera sampai!" Valko meminta Berto kembali melajukan mobil.


Setelah melewati 10 kilometer pertama, mereka dihadang oleh sepasang anak-anak yang terlihat sangat mirip. Valko sempat mengerutkan dahi melihat lawannya kali ini. Namun, ketika mereka berdua bergerak dengan lincah, Valko terbelalak.


"Siapa yang akan bermain?" tanya Luna sambil mengedarkan pandangan.


"Aku akan menemani Clavio bermain bersama mereka." Azura menggandeng lengan sang adik dan langsung keluar dari mobil.


Keduanya melangkah mendekati sepasang anak kembar yang kini melompat ke sana ke mari. Setelah melihat Azura dan Clavio mendekat, mereka berhenti.


"Hai, Kakak Cantik! Hai, Kakak Tampan! Mau bermain dengan kami?" tanya mereka bersamaan.


Azura menatap keduanya waspada. Dia hanya mengangguk kemudian kembali memperhatikan gerak-gerik dua bocah kembar di depannya itu.


"Perkenalkan, namaku Micky!" Gadis kecil berpakaian serba merah muda itu menyentuh kedua pipi dengan telunjuk.


"Namaku Micko!" Si bocah laki-laki berpakaian hijau di depan mereka memberikan hormat sekilas seraya tersenyum lebar.


"Senang bisa bertemu dengan kalian! Perkenalkan, aku Azura, dan dia Clavio."


"Kita mau main apa, teman-teman?" tanya Clavio sambil melompat kecil dan bertepuk tangan.


Melihat tingkah Clavio yang tidak wajar, membuat Micky dan Micko terdiam. Keduanya saling menatap dan mencoba memahami keadaan. Tak lama kemudian, keduanya tertawa terpingkal-pingkal.


"Lucu sekali! Kelakuan Kakak Tampan itu seperti bayi!" ujar Micko sambil menunjuk Clavio.


Azura memutar bola mata malas. Dia melipat lengan di depan dada, lalu mengembuskan napas kasar. Gadis itu menunggu tawa keduanya reda dengan perasaan kesal.


"Sudah? Jadi, kita akan bermain apa?" tanya Azura setelah dua bocah yang ada di depannya itu sedikit lebih tenang.


Micko mengeluarkan sebuah bola dari saku celananya. Dia menunjukkan bola itu kepada Azura dan juga Clavio. Sebuah senyum jahil terbit di bibir bocah laki-laki tersebut.


"Aku dan Micky akan bermain tangkap bola. Tugas kalian hanya memotong permainan kami, dengan merebut bola ketika sedang melayang di udara." Micko melemparkan bola yang dia genggam ke atas, lalu menangkapnya lagi.


"Oke! Ayo kita mulai!"


"Baiklah! Micky, cepat ambil posisi!" perintah Micko.


Micky langsung berjalan ke depan Micko, dan mengambil jarak sekitar lima meter. Dia pun berhenti, lalu bersiap memasang kuda-kuda. Micko mulai melempar bola dalam genggaman itu ke arah Micky.


Bocah perempuan itu pun menangkapnya dengan cekatan. Azura mulai memasang kuda-kuda, bersiap untuk melompat, dan merebut bola tersebut. Dia berlari ke sana ke mari. Akan tetapi, bola itu seakan hanya mau menempel pada telapak tangan Micky dan Micko.


Gadis itu melirik Clavio yang sedari tadi hanya melihat keduanya saling melempar bola, sambil bertepuk tangan. Sungguh, kali ini Azura merasa kepayahan. Se-andainya Clavio tidak seperti sekarang, pasti mereka berdua bisa bekerja sama dengan baik.


'Gerakan mereka semakin cepat dan sangat lincah. Bagaimana bisa aku mengambilnya kalau begini?'


Bola mata Azura mengikuti gerakan bola yang sangat cepat itu. Gadis itu hanya bisa melihat bayangan benda bulat itu secara samar. Kepalanya mulai terasa pusing, dan perut gadis itu mulai mual.


"Bagaimana ini?" tanya Luna yang masih duduk di dalam mobil bersama Valko dan Berto.


"Gerakannya sangat cepat!" seru Berto dengan mata terbelalak.


"Aku harap Azura menyadari hal ini."


Mendengar ucapan Valko membuat Luna dan Berto saling menatapnya. Keduanya sama-sama mengerutkan dahi, menunggu penjelasan dari lelaki tampan tersebut.


"Ah, coba kalian perhatikan baik-baik gerakan mereka! Ada yang janggal!" Valko menunjuk dua bocah yang kini masih saling melempar bola.


Kini tatapan Berto dan Luna beralih pada Micky dan Micko. Mata keduanya melebar setelah mengetahui apa yang dimaksud Valko. Mereka semua hanya bisa berharap Azura segera menyadari hal itu.


Sementara Azura masih memperhatikan gerakan dua bocah di hadapannya, Clavio justru asyik bermain dengan seekor anak kucing yang mendekat. Dia tertawa dan berbicara pada kucing kecil tersebut.


"Hahaha ... lihat mereka memiliki dua bola! Kak Zura gimana, sih?"


"Dua bola?" gumam Azura.


Gadis cantik itu awalnya mengerutkan dahi. Akan tetapi, sedetik kemudian pupil matanya melebar. Dia menyadari satu hal janggal karena ucapan Clavio.


Azura langsung melompat ke atas pepohonan. Gadis itu menyipitkan mata, berusaha meneliti apa yang sebenarnya terjadi. Setelah diamati, ternyata benar. Micky dan Micko memiliki satu buah bola pada masing-masing lengannya.


Bola tersebut diikat menggunakan tali elastis yang transparan, sehingga bisa kembali ke dalam genggaman ketika dilontarkan ke udara. Micky memegang bola dengan tali, sedangkan Micko memegang bola tanpa tali. Jadi, keduanya sebenarnya sedang tidak mengoper bola. Mereka hanya sedang berpura-pura bermain lempar tangkap.


"Sialan! Aku ditipu oleh dua bocah tengik itu!" gerutu Azura.


Akhirnya Azura melompat ke bawah setelah Micky kembali melemparkan bola. Azura pun akhirnya berhasil menangkap bola tersebut. Gadis itu menarik kasar benda bulat tersebut, sehingga Micky ikut tertarik. Kini tubuh gadis kecil itu berada dalam dekapan Azura.


"Bagaimana? Masih mau bermain denganku?" Azura menodongkan belati yang selalu dia simpan dalam sepatu bot ke leher Micky.


"Kak, jangan! Aku mohon lepaskan kakakku!" Micko menangkupkan kedua telapak tangan dengan wajah ketakutan.


"Tidak! Sebelum kalian menyatakan kekalahan, dan mengizinkan kami semua untuk melanjutkan perjalanan!"


"Baik, Kak! Untuk permainan ini kami mengaku kalah! Kakak silakan melanjutkan perjalanan!"


Azura pun melepaskan Micky. Gadis setengah kucing itu terlihat menggigil ketakutan. Setelah terlepas dari dekapan Azura, dia langsung berlari ke arah sang adik. Micko pun mencoba untuk menenangkan kakak kembarnya itu.


"Permainan ini sangat menyenangkan! Aku penasaran permainan seperti apa lagi yang harus kami hadapi!" Azura menatap tajam bocah serupa itu, kemudian menggandeng Clavio masuk ke mobil.


...****************...


Halooo, sambil nunggu karya ini update mampir juga ke karya ini ya ...