
Keduanya pun berjalan menjauh dari ruang makan, dan menuju ruang keluarga. Luna mulai menceritakan, bagaimana dia membantu Clavio untuk menjadi lelaki normal pada umumnya.
"Kamu memang gadis berhati mulia, Luna!" Rose menggenggam jemari gadis itu seraya tersenyum lembut.
"Kali ini aku datang untuk meminta bantuanmu, Nyonya."
"Bantuan apa?" Rosella mengangkat kedua alis, hingga matanya terbuka lebar.
"Aku ingin belajar melukis bersama Anda!"
"Tunggu, bukankah kamu sudah sangat mahir dalam melukis?" Rosella mengerutkan dahi ketika mendengar permintaan Luna.
"Lukisan di lorong itu ...." Luna mengingat lagi lukisan Rosella yang sedang menatap cermin.
"Lukisan yang mana?"
"Lukisan yang menunjukkan bahwa Anda sedang bercermin, Nyonya. Aku ingin membuat lukisan seperti itu juga."
"Boleh, kita mulai besok. Bagaimana kalau kita melukis di taman belakang? Aku akan menyuruh pelayanku untuk meletakkan cermin di sana." Tanpa bertanya lebih banyak lagi, Rosella langsung menyetujui permintaan Luna.
Luna mengangguk seraya tersenyum lebar, dan malam itu pun Valko serta Luna menginap di mansion Vlad. Sisa waktu tinggal sebentar lagi, untuk bisa menyelesaikan tugas dari Abraham. Jadi, Luna harus segera menyelesaikan semuanya tepat waktu.
Keesokan harinya, Luna yang baru selesai mandi dikejutkan oleh ketukan pada pintu kamarnya. Dia masih memakai kimono handuk ketika membukakan pintu kamar. Di luar ruangan itu, sudah ada dua orang pelayan yang membawa sebuah gaun pesta, serta sebuah kotak yang tampak seperti koper. Namun, ukurannya lebih kecil.
"Nona, Nyonya Rose meminta kami untuk merias Anda. Jadi, izinkan kami berdua melakukannya."
Luna terdiam sejenak. Sebenarnya dia hanya ingin melukis penampakan dirinya dalam penampilan seadanya. Namun, gadis itu tidak ingin membuat Rosella tersinggung.
Akhirnya Luna mengizinkan dua pelayan itu masuk, dan merias wajahnya. Dia juga diminta untuk memakai gaun pesta berwarna merah darah berbahan sutra. Rambut gadis itu hanya dirapikan dan dibiarkan tergerai. Sebuah tiara bertakhta berlian mengiasi puncak kepala Luna.
"Anda benar-benar cantik layaknya putri dalam negeri dongeng, Nona," puji salah seorang pelayan dengan mata berbinar.
"Baiklah, kami turun dulu. Nyonya sudah menunggu Anda di taman belakang," ucap pelayan lainnya.
Luna mengangguk sekilas, kemudian menatap pantulan dirinya dari dalam cermin. "Benarkah ini aku?"
Luna mengamati setiap detail wajah yang kini tertutup oleh make-up. Kelopak mata berwarna membuat wajahnya terlihat jauh lebih segar. Bibir tipis gadis itu pun semakin menggoda karena pewarna bibir yang disapukan di atasnya.
Tanpa Luna sadari, sepasang mata telah menatapnya kagum di ambang pintu kamar. Valko sedang berdiri di sana dengan tatapan penuh kekaguman. Ini adalah kedua kalinya Valko melihat Luna terlihat anggun dalam balutan gaun pesta.
"Kamu sangat cantik, Sayang."
Perlahan Valko mulai mendekati Luna. Dia memeluk pinggang ramping sang kekasih dari belakang, lalu mendaratkan sebuah kecupan pada leher gadis itu. Luna sedikit menggeliat geli karena ulah Valko.
Luna kini memutar tubuh, dan mengalungkan lengan pada leher sang kekasih. Tatapan keduanya pun beradu. Secara alamiah, wajah keduanya semakin mendekat. Mengikis jarak yang memisahkan mereka.
Bibir dua insan itu pun bertemu. Saling mencecap manisnya rasa cinta yang hadir dalam sanubari. Kali ini hasrat keduanya menggebu. Valko semakin buas mencumbu sang kekasih.
Dua tubuh makhluk beda jenis itu kini sudah berpindah ke atas ranjang. Deru napas keduanya saling beradu. Tangan jahil Valko pun mulai menjelajahi setiap jengkal tubuh sang kekasih.
Gadis itu mendorong pelan dada sang kekasih, kemudian tersenyum. Dia mengusap lembut pipi Valko. Napas keduanya masih memburu karena hasrat yang tak terbendung.
"Sayang, kita lanjutkan kapan-kapan lagu. Aku sudah ditunggu oleh Nyonya Rose." Luna terkekeh dan mulai beranjak dari ranjang.
Gadis itu kembali merapikan gaun yang sudah berantakan, memakai kembali tiara ke atas kepala, dan memulas ulang lipstiknya. Valko tersenyum kecut karena harus menahan gejolak cintanya sampai Luna menyelesaikan lukisannya.
Valko akhirnya menggandeng lengan sang kekasih, dan mengantarnya menuju taman belakang kediaman keluarga Valko. Sesampainya di sana, ternyata bukan hanya Rosella saja yang menunggu. Ada Vlad, Draco, beberapa pelayan, dan kerabat dekat keluarga tersebut.
"Luna, kemarilah!" Rosella melambaikan tangan, lalu menepuk sebuah kursi yang memang sudah disiapkan untuknya.
Luna pun melepaskan tautan tangannya dari Valko. Dia melangkah pelan ke arah Rosella yang tersenyum lebar. Luna menunduk sekilas kemudian mendaratkan bokong ke atas kursi.
"Sebenarnya, melukis wajah sendiri adalah salah satu hal yang unik. Bisa dikatakan mudah, tapi juga susah." Rosella mulai menjelaskan mengenai lukisan yang hendak dibuat oleh Luna.
Perbincangan itu terus berlanjut, seraya Kuna menggambar sketsa wajahnya di atas kertas. Dia memperhatikan setiap detail dari wajahnya sendiri agar nantinya terlihat hidup dan nyata ketika dituangkan ke dalam bentuk lukisan.
Sketsa itu pun baru selesai ketika jam makan siang tiba. Luna dan Rosella menghentikan kegiatannya untuk sekedar mengisi perut. Setelah selesai makan dan beristirahat sejenak. Gadis itu kembali lagi ke taman.
Namun, kali ini hanya Valko dan Rose yang ikut bersamanya. Draco serta Vlad memilih untuk bercengkrama dengan kerabat mereka di ruang keluarga. Ada dua pelayan yang bersiap misalkan mereka membutuhkan sesuatu.
Luna mulai menggoreskan kuas ke atas kanvas. Mewarnai kanvas kosong itu dengan warna dasar hijau, sesuai dengan apa yang terpantul pada cermin di hadapannya. Dia juga melukis bunga-bunga serta gazebo yang ada di belakangnya, termasuk siluet kecil Valko yang sedang fokus menatapnya ketika dia melukis.
Luna terkekeh ketika melukis sosok Valko yang terlihat kecil karena hukum perspektif yang berlaku. Gadis itu melukis Valko secara diam-diam. Dia ingin memberikan kejutan kepada Valko. Luna menyelesaikan latar belakang lukisan itu ketika langit berubah jingga.
"Aku rasa cukup sampai hari ini. Kita lanjutkan besok saja. Bagaimana?" tawar Rosella.
"Baik, Nyonya."
Kegiatan melukis diri sendiri itu berlangsung hingga tiga hari, dan ini adalah hari terakhir. Lukisan Luna sudah 90 persen jadi. Tinggal menyempurnakan gradasi warna dan menambahkan beberapa detail.
"Luar biasa!" seru Rosella ketika melihat lukisan yang hampir selesai itu.
"Aku memang sangat berbakat, 'kan?" tanya Luna dengan nada sedikit sombong.
Rosella melirik Luna sekilas dengan tatapan tak suka yang dibuat-buat, lalu tersenyum lebar sedetik kemudian. Dia terus menatap lukisan yang masih setia dikerjakan oleh gadis itu.
Pada pertengahan hari, lukisan itu pun selesai. Luna segera membereskan semua peralatan melukis, dan bersiap untuk berkemas. Dia ingin pulang dan beristirahat sambil menunggu bulan purnama datang.
"Nyonya, terima kasih atas bantuan Anda beberapa hari ini. Aku tidak bisa mengungkapkan lagi rasa terima kasihku ini dengan kata-kata." Luna tersenyum lebar ketika berpamitan kepada Rosella.
"Sama-sama, justru aku yang bangga bisa menemanimu melukis. Aku seperti bukan sedang mengajarimu! Kehadiranku di sini seperti sedang menaburkan garam ke dalam lautan!" ujar Rosella dengan wajah sedih.
"Ah, Nyonya. Berkat Anda aku dapat menyelesaikan lukisan ini dengan baik!" Luna memberikan pelukan perpisahannya kepada perempuan itu. Sedetik kemudian, Luna melepaskan pelukannya, naik ke atas motor.
"Baiklah, aku dan Valko pulang dulu." Luna melambaikan tangan dan Valko mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang.