Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 24. Azura Kembali Datang


"Tolong! Lepaskan aku!" teriak Luna dalam mimpi.


Kenapa harus serigala lagi!


Luna terus mengumpat dalam hati. Dia terus meronta berusaha lepas dari kungkungan serigala abu-abu tersebut. Tak lama kemudian, gadis cantik itu melihat celah di antara kaki sang serigala.


Luna pun segera berguling ke samping. Detik itu juga Luna kembali ke alam nyata. Tubuh rampingnya kini tersungkur di atas lantai, karena terjatuh dari atas ranjang.


Keringat dingin mengucur membasahi dahi Luna. Mimpi buruk itu benar-benar terasa begitu nyata. Badannya terasa begitu lelah karena mimpi tersebut. Gadis bermata hazel itu pun segera bangkit dari lantai dan meregangkan ototnya yang kaku.


Saat menatap keluar jendela, matahari sudah sepenuhnya terbenam. Langit berubah menjadi hitam, dan berhiaskan bulan serta bintang yang berkerlip. Dia pun segera bersiap dan berangkat ke tempat kerja.


***


Keesokan harinya ketika selesai bekerja, Luna melihat Azura sedang menunggunya di taman depan toko. Azura beranjak dari kursi, kemudian berjalan ke arah Luna. Sebuah senyum terukir di bibir tipisnya.


"Apa kabar?" tanya Azura basa-basi.


"Kenapa?" Luna tetap berjalan tanpa mau berhenti untuk sekedar mendengarkan Azura.


"Bagaimana tentang permohonanku kemarin?" Azura berjalan cepat untuk mengimbangi langkah kaki Luna. Badannya sedikit membungkuk, dan menoleh ke arah gadis di sampingnya untuk melihat ekspresi Luna.


"Maaf, aku tidak bisa," jawab Luna langsung pada intinya.


"Aku mohon bantulah kami. Hanya kamu satu-satunya harapan kami!" Azura menarik lengan mantel yang dipakai Luna.


Luna memutar bola mata, dan akhirnya menghentikan langkah. Luna menatap tajam ke arah Azura seraya melipat lengan di depan dada.


"Aku sudah bilang, bukan? Kalau aku ini tidak pernah menyembuhkan seseorang!"


"Tapi, keluarga Vlad? Mereka sekarang bisa hidup tanpa mengisap darah manusia berkat dirimu!" Azura menatap Luna penuh harap.


Akhirnya Luna membuang napas kasar. "Aku juga tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi! Berhentilah mengejarku!"


Azura menghentikan langkah. Dia menatap nanar punggung Luna yang mulai menjauh. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca.


"Hanya ini yang dapat aku lakukan untuk Clavio. Kami sudah datang ke pelayanan medis, tetapi memang kelainan mental bawaan tidak dapat disembuhkan.


Luna berdecap kesal, lalu menghentikan langkahnya. Dia tidak tega mendengar suara Azura yang mulai bergetar karena tangis yang ditahan. "jadi, apa kamu tahu apa yang harus aku lakukan untukmu, agar adikmu itu bisa sembuh?"


"Aku juga tidak tahu, tapi ... maukah kamu ikut denganku ke rumah? Siapa tahu setelah ini, kamu jadi tahu apa yang bisa kamu lakukan untuk penyembuhan Clavio."


"Baiklah, tapi jika aku tidak menemukan caranya, jangan pernah menemuiku lagi. Aku sangat terganggu!"


Mata Azura kini berubah ceria. Dia setengah berlari menghampiri Luna, lalu menggandeng tangan tangan gadis itu, dan mengajaknya masuk ke mobil. Azura mulai mengendarai mobil menuju kompleks perumahan suku Guildayi.


Lima belas menit kemudian, mobil Azura berhenti di sebuah rumah bergaya modern minimalis dua lantai. Rumah tersebut berada di sebuah kompleks perumahan paling mewah di Kota Flor. Luna membuka pintu mobil dan melangkah keluar.


"Ayo, masuk!" ajak Azura.


Keduanya pun masuk dan disambut oleh Berto. Lelaki paruh baya itu tersenyum lebar dan mempersilakan Luna duduk. Azura beranjak dari ruang tamu dan menyiapkan minuman untuk Luna.


"Saya Berto, ayah Azura dan Clavio."


"Iya, Tuan. Saya Luna." Luna mengangguk sambil tersenyum lembut.


"Maaf sudah merepotkan dan mengganggu waktumu. Saya dan Zura minta bantuan."


"Tuan, sejujurnya saya tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan seseorang." Luna yang sudah paham dengan arah pembicaraan Berto pun memotong kalimat lelaki tersebut.


"Ah, baiklah. Maaf jika terlalu memaksamu," sesal Berto, lalu mengalihkan pandangan.


Tak lama kemudian Azura keluar dengan membawa minuman dan beberapa camilan. Perempuan itu pun memindahkan tiga gelas jus jeruk dan beberapa toples kue kering ke atas meja.


"Silakan di minum, Luna."


Ketika sedang asyik mengunyah biskuit itu, tiba-tiba Luna melihat sesuatu dari ekor mata. Seseorang sedang mengintipnya dari celah pintu sebuah ruangan lain di rumah itu. Azura yang menyadari bahwa Luna merasa tidak nyaman pun segera mengikuti pandangan gadis itu.


Ternyata Clavio sedang berada di kamar sang ayah dan mengintip mereka dari balik pintu. Azura tersenyum lembut, lalu beranjak dari kursi. Dia melangkah ke kamar sang ayah.


"Vio, mau ketemu kakak?"


"Kakak?"


"Iya." Azura menoleh ke arah Luna dan menunjuk gadis itu dengan telunjuknya.


"Namanya Kakak Luna. Mau main sama dia?"


Clavio mengangguk perlahan, kemudian menggandeng lengan sang kakak. Luna tersenyum geli melihat tingkah Vio yang lebih mirip batita itu. Sesampainya di ruang tamu, Clavio menunduk malu dan duduk di samping sang ayah.


"Clavio, kenalkan. Namaku Luna." Luna mengulurkan tangan.


Calvio perlahan menyambut uluran tangan gadis itu. Dia masih menunduk malu. Kakinya naik turun, sehingga tungkai kaki lelaki tersebut beradu dengan lantai dan menimbulkan suara.


"Clavio senang bertemu dengan Luna?" tanya Azura.


Clavio menunduk malu. Dia menyembunyikan senyum di balik boneka beruang coklat dalam pelukannya. Begitu melihat boneka itu, Luna terbelalak. Dia teringat akan mimpinya kemarin sore.


"Kak Zura, dia mendatangiku dalam mimpi!" seru Luna seraya menunjuk Clavio.


"Ya? Maksudmu?" Dahi Azura berkerut mendengar ucapan Luna.


"Aku bertemu Clavio dalam mimpiku semalam." Luna bergidik ngeri karena teringat mimpinya tadi malam.


"Dia berubah menjadi serigala abu-abu dan mengejarku!"


"Hei, tenanglah. Kami memang keturunan manusia serigala, tetapi kami tidak pernah berubah wujud menjadi makhluk itu jika tidak terancam." Berto berusaha menenangkan gadis di hadapannya itu.


Azura pun mulai menceritakan sedikit tentang Suku Guildayi. Mereka memang mengakui bahwa kerabat dekat Suku Canis. Akan tetapi, menurut gadis itu soal batas pekarangan yang diceritakan Valko adalah sebuah kesalahpahaman.


"Jadi, sebenarnya bukan kami yang menggeser batas itu. Kami memiliki musuh besar, yaitu Smilodon. Mereka ada manusia kucing yang sengaja mengadu bangsa kami karena tidak suka dengan perdamaian di antara kami."


"Benarkah?"


Azura mengangguk mantap, dan kembali menceritakan tentang masa lalu kelam antara Suku Canis dan Guildayi. Gadis itu mengatakan bahwa tak lama setelah Suku Canis mengasingkan diri, mereka diserang oleh bangsa Smilodon. Beruntungnya, mereka berhasil mengalahkan kucing besar tersebut.


"Jadi begitu," ucap Luna seraya mengangguk-angguk.


"Kakak," panggil Vio.


"Ya?" Luna pun menoleh ke arah Clavio.


"Temani aku main, ya?" pinta Clavio.


"Baiklah! Tapi, sebentar saja ya? Aku harus pulang karena ada urusan lain."


Clavio mengangguk mantap. Mata lelaki tampan itu pun berbinar cerah. Dia pun segera beranjak dari kursi dan menarik lengan Luna. Dia mengajak gadis itu bermain di taman belakang rumah.


Tak terasa waktu sudah berganti siang. Sinar terik matahari berhasil membuat kulit Luna memerah. Dia pun membujuk Clavio untuk masuk dan main di dalam rumah. Ternyata Clavio begitu patuh terhadap Luna.


Ketika baru sampai ambang pintu dapur, Clavio menguap lebar, hingga sudut matanya mengeluarkan air. Sesekali dia mengucek mata.


"Kamu mengantuk? Mau tidur?" tanya Luna.


Clavio mengangguk cepat. Azura yang sejak tadi mengawasi dua pemuda itu bermain langsung mengulurkan tangan, berniat mengajak Vio untuk masuk ke kamarnya. Namun, di luar dugaan, Clavio justru menolak uluran tangan Azura.


"Aku mau sama Kak Luna!"