Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 48. Tangisan Tengah Malam


Lirih terdengar suara tangis yang terbawa angin, membuat Luna kembali terjaga. Di samping kanan dan kirinya, Azura serta Micky masih terlelap. Gadis itu mengucek mata, seraya menajamkan pendengaran.


Luna pun mengintip dari jendela tenda, untuk mengetahui keadaan sekitar. Di luar terasa lengang. Hanya terlihat beraneka bunga yang bergoyang diterpa angin malam. Api unggun pun sudah padam.


Diego sudah tidak lagi berjaga di luar tenda. Agaknya semua orang kelelahan karena perjalanan panjang hari ini. Luna perlahan keluar dari tenda untuk mencari sumber suara itu.


"Suara siapa?" gumam Luna.


Suara tangis itu terdengar sangat lirih dan menyayat hati. Luna terus melangkah, melewati padang bunga. Setelah sampai di ujung padang bunga tersebut, ternyata ada sebuah danau yang sangat indah.


Danau tersebut di penuhi oleh tumbuhan teratai yang sangat wangi. Semakin mendekat ke arah danau dengan air yang jernih itu, suara tangisan semakin terdengar jelas.


"Siapa di sana?" tanya Luna ketika melihat seseorang tengah duduk di tepi danau.


Tangis orang tersebut berhenti. Dia menoleh ke arah Luna. Berkat bantuan cahaya bulan yang temaram, Luna dapat mengetahui bahwa makhluk itu berwujud manusia berjenis kelamin perempuan.


"Kamu siapa? Ada yang bisa aku bantu?"


Luna masih tidak mendapatkan jawaban. Tiba-tiba saja perempuan itu masuk ke dalam air danau. Dia mengangkat tangan dan melambai, seakan meminta pertolongan.


"Apa kamu tidak bisa berenang?" Luna pun segera berlari ke tepi danau.


Namun, ketika sudah sampai di tepian danau tersebut, gadis itu menghilang. Dia tenggelam. Luna masih berusaha mencarinya dengan masuk ke dalam danau dan menyelam.


Tak lama kemudian, terlihat sosok perempuan yang tadi dia kira tenggelam. Luna mempercepat gerakan berenangnya, lalu meraih lengan perempuan itu. Sedetik kemudian, barulah Luna menyadari bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan fatal.


Makhluk di hadapannya itu ternyata adalah manusia setengah ikan. Dia memiliki badan manusia, tetapi bagian pinggang ke bawah memiliki badan layaknya ikan. Orang-orang biasa menyebutnya Siren atau Putri Duyung.


Terlambat sudah untuk kembali ke permukaan. Kaki Luna kini terikat oleh tumbuhan bawah air. Perempuan di depannya itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi yang lebih mirip gergaji.


Di sisi lain, Valko yang juga tidak bisa tidur pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari tenda. Dia melirik ke arah tenda para wanita secara sekilas. Berharap Luna juga keluar detik itu juga.


Setelah menunggu lumayan lama, ternyata sang pujaan hati tak kunjung keluar. Akhirnya Valko memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Luna. Terdengar denting ponsel Luna.


"Sepertinya dia belum tidur?" Valko tersenyum lembut seraya melirik tenda Luna yang terlihat sedikit terang karena secercah sinar yabg berasal dari layar ponsel.


Valko pun menunggu sang kekasih keluar tenda. Lelaki itu memutuskan untuk melalukan panggilan suara agar kekasihnya keluar. Namun, alangkah terkejutnya Valko ketika Azura yang menjawab panggilannya.


"Val, ada apa?" tanya Azura dengan suara serak khas bangun tidur.


"Zura? Bisakah kamu memberikan ponsel ini kepada Luna?"


"Luna? Bukankah dia ada di sana bersama kamu?"


"Untuk apa aku memintanya keluar jika memang kami sedang bersama?" Valko mengusap wajah kasar.


Mendengar ucapan Valko, Azura pun langsung mematikan sambungan telepon. Dia segera keluar dari tenda, untuk memastikan bahwa kekasih sahabatnya itu sedang tidak bercanda.


"Di mana Luna?" tanya Valko panik ketika Azura menghampirinya.


"Aku tidak tahu! Bukankah kamu bersama dia?"


"Kamu lihat sendiri, 'kan? Aku di sini sendirian!"


"Astaga, ke mana dia!"


Keributan kecil mereka pun akhirnya terdengar oleh Diego. Lelaki paruh baya tersebut ikut keluar dari tenda untuk mengetahui alasan dua orang pemuda di depan tendanya berdebat.


"Paman, Luna tidak ada di mana pun!" seru Azura.


"Bagaimana bisa? Mungkin dia sedang berjalan-jalan untuk mencari inspirasi?"


"Aku akan mencoba melacaknya. Azura, kamu tetaplah di sini. Aku dan Paman akan mencarinya." Valko mulai mengendus aroma tubuh Luna.


Lelaki itu berkonsentrasi penuh, dan memusatkan kekuatan pada pada indra penciuman. Dia serta Diego melintasi padang bunga, dan berhenti di sekitar danau. Valko mengerutkan dahi karena aroma Luna menghilang di sekitar danau itu.


"Luna!" teriak Diego memanggil nama sang keponakan.


"Luna, kamu di mana?" Valko pun ikut meneriakkan nama sang kekasih.


Keduanya sampai mengelilingi danau yang ada di bukit tersebut. Namun, sosok Luna tidak berhasil ditemukan. Pada satu titik di tepi danau tersebut, aroma Luna tercium sangat kuat. Akhirnya Valko menyadari satu hal. Mata terbelalak, ketika dugaan yang melintas di pikirannya.


"Paman, aroma tubuh Luna sangat kuat di titik ini. Sepertinya dia masuk ke air."


"Apa setelah masuk ke air, dan dia kembali lagi ke daratan aroma tubuhnya menghilang?" tanya Diego.


"Tidak, Paman. Sepertinya dia tenggelam."


"Tidak mungkin! Luna sangat pandai berenang! Dia tidak mungkin tenggelam!" sanggah Diego.


"Tapi dengan cuaca sedingin ini, bisa saja kakinya mengalami kram, Paman."


Diego mendekat ke tepi danau yang tadi ditunjuk oleh Valko. Dia ingin memastikan apakah ada tanda kalau Luna terpeleset atau tidak. Setelah diteliti lagi, ternyata tidak ada bekas kalau Luna terpeleset dan menyebabkan tubuhnya masuk ke danau.


"Aneh! Tanah di sekitar sini tidak ada jejak sepatu. Tidak mungkin jika Luna terpeleset."


Valko mengusap wajah kasar. Dia berpikir sangat keras untuk memecahkan misteri hilangnya sang kekasih. Akhirnya lelaki itu pun memutuskan untuk menyelam dan mencari keberadaan Luna di sana.


"Aku akan menyelam, dan mencarinya ke dasar danau, Paman. Aku tidak bisa membiarkan hal buruk terjadi pada Luna!"


"Tunggu sebentar, apa kamu yakin bisa bernapas lama di dalam air?" tanya Diego untuk memastikan kemampuan Valko dalam menyelam.


"Aku bisa bertahan paling lama lima belas menit di dalam air, Paman."


"Kalau begitu, mari kita bergantian!"


Valko mengangguk tanda setuju. Dia pun melepaskan sepatu boot serta mantelnya. Kini lelaki tampan itu hanya memakai kaos tipis lengan pendek serta celana jeans.


Valko menarik napas panjang, sebelum menyelam. Setelah dirasa cukup memenuhi paru-paru dengan oksigen, Valko segera masuk ke dalam air. Dinginnya air danau Arcoíris di tengah musim gugur tak menyurutkan niatnya untuk menyelam lebih dalam.


Lelaki tampan itu melihat di dasar danau terdapat banyak tumbuhan air yang bergerak seiring dengan pergerakan air. Beberapa ikan kecil berenang ke sana ke mari mencari makan. Pemandangan bawah air ini pasti akan Valko nikmati jika saja tidak sedang panik mencari keberadaan Luna.


Setelah menyelam hampir lima belas menit, Valko tidak menemukan hasil. Dia kembali naik ke permukaan. Diego yang melihat Valko muncul, pun segera bersiap untuk menyelam. Dia melucuti pakaian dan menyisakan kaos serta sebuah celana pendek. Diego langsung masuk ke air dan menghampiri Valko yang masih mengambang di permukaan danau.


"Aku sudah menyelam hingga sepuluh meter ke bawah, dan tidak menemukan apa pun, Paman."


"Baiklah, aku akan mencarinya lagi." Diego bersiap mengambil napas panjang, dan hendak menenggelamkan kepala ke dalam air. Namun, tepat sesaat sebelum menyelam, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari tepi danau.


"Kalian sedang apa? Bukankah di sana dingin?"


Mendengar suara yang sangat akrab di telinga, membuat Valko serta Diego menoleh. Benar saja, Luna kini sedang berdiri tegap di tepi danau tepat aroma tubuhnya tercium kuat.


"Luna!" seru Diego dan Valko bersamaan.