Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 46. Ingin Melakukan Hal Menyenangkan


Luna menghirup napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia mulai menarik sudut bibirnya ke atas, hingga terciptalah sebuah senyum penuh keterpaksaan. Valko masih menatapnya intens, menanti kalimat yang akan keluar dari bibir Luna.


"Val, aku ...." Luna menghentikan ucapannya sejenak.


Gadis itu menunduk, menatap ujung sepatunya. Sedetik kemudian, Luna mengangkat kembali wajahnya. Dia menatap Valko penuh keseriusan.


"Kamu kenapa, Sayang?" Valko merangkum wajah mungil sang kekasih, lalu menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.


"Aku mau melakukan banyak hal menyenangkan sambil mengerjakan tugas dari Profesor Abraham." Luna tersenyum lebar, dan tubuh mungilnya itu kini berpindah ke pelukan Valko.


"Dasar, hanya ingin mengucapkan hal seperti itu, kenapa terlihat sangat serius?" Valko mengusap lembut rambut Luna, mengecup lehernya, dan menghirup aroma tubuh gadis cantik itu.


"Mari kita bersenang-senang sambil mengerjakan tugas! Aku akan menemanimu sepanjang waktu. Semoga tugas yang diberikan oleh Profesor Abraham, dapat terselesaikan dengan baik." Valko melepaskan pelukannya, lalu menatap Luna seraya mengepalkan jemari untuk memberi semangat.


"Aku harap begitu." Luna mati-matian menahan air mata agar tidak menetes membasahi pipi. Bayangan mengenai mimpi terakhirnya semalam sungguh membuatnya ketakutan.


***


Hari pun berganti, tiga minggu lagi adalah bulan purnama selanjutnya. Artinya, Luna harus segera menyelesaikan semua tugasnya sebelum ritual dimulai. Dia harus membantu Valko menyiapkan semuanya agar ritual berjalan dengan baik.


Hari itu, Luna baru saja menyelesaikan tugas pertamanya, yaitu tugas melukis benda bercahaya. Gadis itu memutuskan untuk melukis kalung Arthemis yang sedang bersinar ketika memantulkan cahaya bulan.


Setiap goresan cat dan kuas di atas kanvas tersebut, terlihat begitu nyata. Gradasi warna yang ada membuat kalung tersebut seakan benar-benar sedang bersinar. Luna memang berbakat dalam bidang ini. Semua obyek yang dia lukis, pasti sangat mirip dan terlihat begitu hidup.


"Akhirnya selesai juga!" Luna meregangkan ototnya yang kaku seraya menguap lebar.


"Karya yang mengagumkan!" ujar Diego yang kini sedang berdiri di belakang gadis itu seraya menyesap secangkir kopi.


"Wah, Paman! Sejak kapan paman ada di sini?" Luna meletakkan kuas ke atas palet warna, kemudian bertopang dagu menatap Diego yang kini sudah duduk di atas sofa.


"Sudah sejak tadi. Jemarimu memang ahli sekali dalam menggoreskan kuas ke atas kanvas! Sangat mirip dengan mendiang ayahmu," puji Diego lagi.


Luna pun berjalan mendekat ke arah diego, dan ikut mendaratkan bokongnya ke atas sofa. Perempuan itu melemparkan tatapannya ke arah sang paman sambil tersenyum tipis.


"Ada apa?" tanya Diego sambil meletakkan cangkir kopi ke atas meja.


"Aku ingin meminta ijin kepada Paman, untuk kembali ke bukit Arcoíris. Aku akan ke sana bersama Valko untuk beberapa hari ke depan. Aku ingin menyelesaikan tugas dari Profesor Abraham."


"Apa tugas itu tidak bisa dikerjakan di rumah saja?"


"Tidak bisa, Paman. Aku diminta untuk melukis tanaman langka, dan aku hanya bisa menemukan tanaman itu di sana," jelas Luna.


Diego mengembuskan napas kasar. Rasa sayangnya kepada Luna lebih besar dibanding rasa khawatirnya saat ini. Sejujurnya, Diego merasa kalau ada perubahan aneh yang terjadi pada Luna.


Gadis yang biasanya ceria itu, terlihat sedikit murung beberapa hari terakhir. Dia terlihat sering melamun ketika menggambar sketsa atau melakukan kegiatan lain. Hal itu terjadi, sejak Luna pulang mencari kayu serta beberapa tumbuhan lain bersama Valko.


"Baiklah, tapi kamu harus berjanji untuk segera kembali jika sudah menyelesaikan lukisan itu! Fokuslah mengerjakan tugas, kurangi bermain, dan melakukan hal tidak jelas!"


Setelah mendapatkan ijin dari Diego, Luna langsung berkemas. Dia menyiapkan beberapa perlengkapan untuk menginap di bukit Arcoíris. Gadis itu berencana untuk berkemah.


Setelah selesai berkemas, Luna meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar. Gadis itu segera menghubungi Valko dan memberitahukan mengenai rencana kemah dadakan yang dia inginkan.


"Boleh! Aku akan menjemputmu besok pagi! Aku akan meminjam lagi mobil paman Jacob!" ujar Valko melalui sambungan telepon.


"Kita akan menginap di sana beberapa hari. Aku akan bawa bahan makanan, dan kamu siapkan alat masaknya, oke?"


"Oke! Aku akan meminjam tenda juga! Wah, rasanya aku juga sudah lama tidak berkemah! Apa kita perlu mengajak yang lain?" tanya Valko dengan nada bicara girang.


"Iya! Ajak Azura, Clavio, Micky, dan Micko! Pasti akan sangat menyenangkan!" seru Luna dengan mata berbinar.


Membayangkan kebersamaan mereka saja sudah membuat hati Luna berbunga-bunga. Seumur hidup, baru kali ini dia memiliki banyak teman. Dia merasa sangat beruntung di penghujung waktu yang dia punya.


Luna berniat untuk meninggalkan kenangan terindah bagi orang-orang yang sangat dia cintai. Sedetik kemudian, Luna teringat Diego. Dia berdeham beberapa kali sebelum mengajukan pertanyaan kepada Valko.


"Val, apa boleh aku mengajak Paman Diego? Kasihan kalau dia di rumah sendirian. Pasti sangat sepi."


"Kalau beliau mau, aku rasa tidak masalah! Aku akan membawa tenda ekstra untuk Paman Diego!"


"Baiklah, aku akan menanyakannya dulu kepada paman. Aku akan menghubungimu nanti. Oke?"


Obrolan mereka pun terputus. Luna melempar asal ponsel ke atas kasur, kemudian bergegas keluar kamar. Dia menuruni satu per satu anak tangga dan menghampiri Diego yang sedang merokok di teras rumah.


"Paman," panggil Luna seraya mendekati sang paman.


Dia menarik kursi, kemudian mendaratkan bokong ke atasnya. Diego pun mematikan api yang menyala pada lintingan tembakau, kemudian memusatkan perhatian kepada keponakan satu-satunya itu.


"Ada apa? Kelihatannya ada sesuatu yang membuatmu begitu bahagia?" tanya Diego penasaran.


"Begini, Paman. Besok 'kan aku akan berkemah di bukit Arcoíris bersama Valko dan beberapa teman." Luna menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.


"Lalu?"


"Apa Paman bersedia untuk ikut serta?"


Diego terdiam. Lelaki paruh baya itu memikirkan banyak hal kali ini. Dia sebenarnya ingin ikut serta karena akhir-akhir ini merasa bosan dengan kegiatan monoton. Akan tetapi, jika dia ikut berkemah, Diego khawatir akan mengganggu kesenangan Luna dan teman-temannya.


"Apa Pak Tua ini nantinya tidak akan mengganggu kesenangan kalian para pemuda?"


"Siapa bilang? Justru jika ada Paman bersama kami, kami akan merasa lebih aman. Paman kan bisa melindungi kami dari binatang buas sepanjang perjalanan ke sana!" Luna menggerakkan lengannya sealan sedang memegang senjata api laras panjang.


"Baiklah, aku akan ikut! Kalau begitu, akan bersiap-siap dulu!" Diego pun segera beranjak dari kursi dan masuk ke kamarnya.


Luna tersenyum tipis. Dia beranjak menuju kamar, dan bersiap untuk tidur agar energinya kembali penuh untuk perjalanan besok.