Luna And The Dire Wolf

Luna And The Dire Wolf
Bab 53. Lukisan Terakhir


Hari pun berganti, tak terasa besok adalah malam bulan purnama. Luna meminta izin kepada Diego untuk menginap di kediaman Valko. Hari ini semua warga suku Canis sedang sibuk mempersiapkan beberapa pernak-pernik untuk ritual.


Meja persembahan mulai di tata. Di atasnya terdapat beberapa buah-buahan, lilin, serta botol-botol berisi minyak yang nantinya akan dipakai Valko ketika membersihkan diri.


Selain itu, di sana terdapat sebuah gaun putih dan juga topeng serigala. Luna tersenyum kecut ketika menatap dua benda tersebut. Alarick mendekati gadis itu seraya menatap pemandangan super sibuk di depannya.


"Apa kamu yakin akan melakukan ini?" tanya Alarick dengan tatapan lurus ke depan.


"Iya, Paman. Aku yakin."


Sebuah helaan napas kasar kini keluar dari bibir Alarick. Dia mengalihkan pandangan kepada Luna. Alarick menatap nanar gadis yang rela berkorban demi putranya itu.


Alarick sudah mencoba menghalangi Luna berulang kali. Akan tetapi, gadis itu begitu memiliki pendirian yang kuat. Dia tetap ingin ritual berlangsung.


"Paman, bolehkah meja persembahan itu kulukis? Aku mendapatkan tugas untuk menggambar sebuah meja persembahan. Tugas terakhir yang belum aku kerjakan." Luna menatap ke arah meja yang sudah ditata di area tanah lapang tengah pemukiman suku Canis.


"Tentu saja boleh. Lakukan apa pun yang kamu inginkan."


Luna tersenyum lebar. Gadis itu mulai mempersiapkan alat lukisnya. Seperti biasa, Luna menggambar sketsa dulu sebelum mulai menggerakkan kuas ke atas kanvas.


Langit biru kini berubah menjadi jingga. Valko yang baru saja selesai membantu persiapan ritual pun menghampiri Luna yang mulai melukis benda yang terbuat dari kayu itu.


"Sayang, istirahatlah dulu. Besok akan menjadi hari yang begitu melelahkan. Kamu membutuhkan banyak energi untuk melakukan ritual persembahan besok." Valko memeluk Luna dari belakang.


Lelaki itu tidak peduli lagi bahwa tindakannya itu bisa mengganggu Luna ketika menorehkan kuas ke atas kanvas. Valko hanya ingin dekat dengan Luna. Menikmati setiap detik terakhir bersama, sebelum Luna kembali lagi ke Kota Flor untuk kuliah.


"Val, mungkin ini akan menjadi lukisan terakhirku. Setelah ini, aku harap kamu hidup dengan baik. Jaga terus suku Canis dari segala ancaman." Luna meletakkan kuasnya, kemudian memutar tubuhnya, sehingga kini dirinya berhadapan dengan Valko.


"Val, apa kamu sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ritual ini?" tanya Luna.


"Aku akan menjadi manusia seutuhnya, tanpa ada drama transformasi ke dalam wujud Dire Wolf atau serigala berukuran kecil seperti yang lain."


"Tidak hanya itu, Val. Kamu tetap memiliki kekuatan yang dimiliki oleh Dire Wolf. Untuk itulah, leluhurmu tetap memintamu untuk menjaga hutan La Eterno."


Valko terbahak-bahak mendengar pesan dari Luna. Sudut mata lelaki itu perlahan basah karena air mata. Valko duduk bersimpuh di depan sang kekasih, kemudian merangkum wajah cantik Luna.


"Kamu ini, kenapa gaya bicaramu seperti nenek-nenek?"


Luna memajukan bibir. Dia menekuk muka seraya melipat lengan di depan dada. Valko yang semakin gemas dengan mode merajuk sang kekasih pun segera mendaratkan sebuah cubitan pada pipi Luna.


"Lepas, Val! Sakit!" ujar Luna.


Valko pun melepaskan cubitannya. Dia kembali merangkum wajah sang kekasih, lalu menghujaninya dengan ciuman. Sebagai penutup, Valko membawa tubuh Luna ke dalam pelukan.


"Setelah ini kamu juga akan fokus menyelesaikan pendidikan. Aku akan menunggumu sampai kapan pun, sampai kamu benar-benar siap untuk menjalani kehidupan pernikahan bersamaku. Menghabiskan sisa umur bersama." Valko melepaskan pelukan kemudian menatap manik mata hazel milik Luna.


"Berburu rusa, kelinci hutan, dan beberapa hewan buas lain bersama. Melukis pemandangan sekitar bersama. Serta melakukan apa pun berdua."


Luna tersenyum lembut, kemudian mendaratkan ciuman pada bibir sang kekasih. Valko pun membalas ciuman Luna penuh cinta. Setelah itu keduanya kembali berpelukan.


Semoga kita bisa bertemu lagi, Val.


Luna melepaskan pelukannya, dan pun kembali fokus menyelesaikan lukisannya. Valko setia menemani sang kekasih hingga lukisan itu selesai.


Valko diminta untuk membersihkan diri sebelum melakukan ritual tengah malam nanti. Aroma mawar, lavendel, sandalwood, serta pappermint bersatu menciptakan sebuah aroma yang begitu kuat dan unik. Aroma itu kini melekat di tubuh Valko.


Selain Valko, Luna juga sedang bersiap sambil menunggu langit berubah malam. Gadis itu didandani layaknya pengantin. Luna memakai gaun putih yang sudah disiapkan sejak kemarin. Kepalanya diberi rangkaian bunga lavendel yang dibentuk seperti tiara.


Tepat ketika bulan purnama bersinar terang, Luna keluar menuju alun-alun. Di sana sudah dipadati oleh warga suku Canis yang memutari area pembakaran. Luna berdiri di tengah kayu yang sudah ditata sedemikian rupa untuk menyalakan api unggun.


"Luna, kamu yakin?" tanya Alarick sekali lagi.


Luna mengangguk mantap. Namun, kali ini matanya basah karena air mata. Bayangan perpisahan menyakitkan dengan Valko jelas terlihat di pelupuk mata.


"Sebentar lagi Valko akan keluar. Aku tidak yakin dia mau melanjutkan ritual ini. Terlebih lagi ketika tahu kalau kamu akan mengorbankan diri untuk menjadi umpan dan melepaskan arwah Dire Wolf yang bersemayam pada tubuh Valko."


"Paman, itulah fungsi dari topeng ini!" Luna mulai memasang topeng serigala pada wajahnya.


"Paman, jangan lupa berikan surat yang sudah kutulis kepada Valko." Air mata Luna kini mengalir deras membasahi pipi.


Tak lama kemudian, Valko berjalan mendekat ke arah meja persembahan. Dia mengucapkan mantra yang sudah diajarkan oleh para tetua. Setelah itu, Valko memutari tumpukan kayu sandalwood sambil menuangkan minyak esensial yang sama digunakan untuk mandi.


Setelah selesai, lelaki itu meraih obor yang sudah disodorkan oleh Alarick. Dia menutup ritual itu dengan melemparkan obor tersebut pada tumpukan kayu. Setelah api berkobar besar, barulah Valko menyadari ada sebuah kejanggalan.


Dia harus menghadapi kenyataan bahwa ternyata Luna adalah orang yang dibakar untuk mengeluarkan arwah Dire Wolf dari tubuhnya. Bukan serigala putih seperti yang dia tahu. Valko terbelalak seketika.


"Luna! Itu kamu, kan?"


Luna diam tak menjawab. Tangisnya pecah dibalik topeng yang menutupi wajah. Air matanya bercucuran membasahi muka. Dada gadis itu terasa begitu sesak seakan ada air yang memenuhi hingga pangkal tenggorokan.


Isak tangis mulai lolos dari bibirnya. Ternyata berpisah dengan Valko lebih menyakitkan, daripada harus menghadapi kenyataan bahwa ajalnya sudah berada di depan mata. Di detik terakhir sebelum api menyentuh kulit putihnya, Luna mengucapkan sebuah permintaan.


Gadis itu berharap Tuhan memberinya kesempatan satu kali lagi untuk bisa bertemu dengan Valko di kehidupan selanjutnya. Begitu Luna selesai mengucapkan permintaan dalam hati, api mulai menyambar gaun yang membalut tubuhnya.


Kain itu pun meleleh, membuat kobaran api semakin besar. Luna menjerit kesakitan karena api yang mulai menyentuh kulitnya. Tangis terakhirnya terdengar seperti nyanyian malam yang menyayat hati.


Seiring dengan terbakarnya tubuh gadis itu, sebuah cahaya putih terang keluar dari tubuh Valko. Cahaya tersebut melesat masuk ke dalam kalung yang dipakai oleh Luna. Valko terus berontak, berusaha untuk ikut masuk ke dalam lautan api.


"Kalian tega sekali mengorbankan Luna! Kalian biadab! Luna! Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu!" Valko terus berteriak dengan derai air mata.


Sepanjang hidup, baru kali ini dia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Rasa sakit melihat orang terkasihnya harus menjadi korban demi dirinya.


"Aku rela menjadi sosok Dire Wolf seumur hidup asalkan tetap bersamamu! Aku tinggal mengasingkan diri ketika bulan purnama tiba, agar tidak menakutimu atau melukai tubuhmu!" teriak Valko di tengah isak tangis.


Namun, semua sudah terlambat. Kini raga Luna sudah meleleh bercampur dengan abu hasil pembakaran batang sandalwood. Langit pun ikut berduka. Hujan turun tepat setelah tubuh Luna habis terbakar.


Warga Canis yang menyaksikan kejadian itu pun menangis sejadi-jadinya. Sepanjang sejarah, baru kali ini mereka mengorbankan seorang gadis untuk ritual persembahan Dire Wolf. Tangis pilu kini menggema di langit Hutan La Eterno dan juga kediaman Diego.


Lelaki paruh baya itu pun menangis sesenggukan karena harus merelakan keponakannya. Dia tidak dapat mencegah Luna yang keras kepala. Terlebih lagi, dia baru mengetahui bahwa Luna hendak pergi ke pemukiman suku Canis untuk menjadi persembahan bagi sang penguasa hutan.


[Paman, paling tidak sekarang arwahku masih menemanimu sepanjang waktu, selama kamu tinggal di hutan La Eterno.]


Tulis Luna dalam surat yang dia tinggalkan kepada sang paman.